Jodoh Instan

Jodoh Instan
Mencari Solusi


__ADS_3

Taki dan Toro segera menemui utusan perusahaan label rekaman yang berjanji akan membantu mereka untuk tembus ke dapur rekaman. Berkat uang yang mereka pinjam secara paksa dari Velan, mereka yakin impian mereka akan segera terwujud.


"Terima kasih atas kerja sama Anda, Pak Taki, Pak Toro," kata utusan perusahaan label rekaman tersebut langsung menjabat tangan Taki dan Toro bergantian.


"Mohon tunggu informasi selanjutnya, kami akan segera menghubungi kalian," pria itu berpamitan meninggalkan Taki dan Toro.


...~...


Taki dan Toro segera berkumpul di kafe bersama rekan anggota band mereka. Mereka berdua begitu bersemangat saat menceritakan bahwa mereka akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan label rekaman.


"Selamat ya, Taki, kau berhasil membawa bandmu untuk tembus ke dapur rekaman," kata anggota band yang kebetulan berkumpul bersama mereka.


"Oh ya, ngomong-ngomong, apa nama perusahaan label rekaman kalian?" tanya mereka lagi.


"M Label," jawab Toro.


"M Label?" tanya mereka keheranan.


"M Label itu bukankah perusahaan yang menipu Bandnya Ibeng?"


"Iya, M Label juga menipu Bandnya Joe dan beberapa band lain."


"Kalau kau tak percaya, coba saja tanya pada Ibeng dan Joe."


Seketika senyum di wajah Taki dan Toro sirna seakan tersapu gelombang tsunami.


...~...


Velan merasa ia benar-benar depresi saat melihat keempat kakak laki-lakinya nampak diam kehilangan kata-kata. Mereka semua diliputi ketegangan yang benar-benar memuncak.


"Maaf Velan, kami benar-benar bersalah," kata Toro dengan air mata yang menggenang di bola matanya yang besar dan berbinar.


"Vels, maaf," kata Taki yang menunduk.


"Kami benar-benar ditipu oleh perusahaan label rekaman gadungan seperti halnya band lain juga!" kata Toro.


"Tapi untungnya bukan band kami saja yang tertipu, Vels, band lain juga banyak," kata Taki.


Velan benar-benar merasa putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Kedua kakaknya yang membawa lari uangnya itu kini datang kembali dan mengatakan bahwa mereka tertipu label rekaman gadungan.


Bukannya tembus ke dapur rekaman, mereka malah membuat dapur rumah hancur berantakan lantaran Velan melempari mereka dengan piring.


Toro dan Taki berusaha menghindar dari lemparan piring. Tomi dan Yoyok hanya bisa saling berpelukan, mereka ketakutan karena adik bungsu mereka tiba-tiba menggila seperti itu.


"Vels! Hei! Hentikan!" seru Taki.

__ADS_1


"Velan! Velan!" seru Toro.


"Bagaimana kalian bisa mengatakan untung sedangkan kalian tertipu begitu?!" teriak Velan berhenti melemparkan piring ke arah kakaknya.


Sudah lebih dari setengah lusin piring berbahan kaca itu berserakan di lantai dalam keadaan hancur berkeping-keping.


Velan meluapkan kemarahannya dengan cara berteriak histeris. Ia benar-benar merasa hampir gila karena ulah kakak-kakaknya ini.


"Vels, nanti kami akan cari uangnya, akan kami kumpulkan segera!" kata Taki.


"Bagaimana cara kalian mengumpulkannya? Itu bukan uang sedikit! Setiap hari aku mengumpulkan sedikit demi sedikit! Aku bahkan tak pernah menggunakan uang itu untuk kesenanganku sendiri! Aku sampai tidak pernah membeli baju-baju yang bagus, kosmetik, perawatan kulit! Aku juga ingin menjadi seperti wanita lain di luar sana, juga ingin bersenang-senang dengan uang hasil keringatku sendiri! Lah, sekarang kalian rampas uang itu demi impian konyol kalian, dan kini kalian tertipu!" cecar Velan.


"Sebentar lagi kita benar-benar akan diusir dari rumah ini, kita semua akan hidup menggembel di jalan! Selamat, Kak Taki, Kak Toro! Gara-gara impian kalian, kita semua harus hancur seperti ini!" lanjut Velan.


"Velan, pasti ada jalan untuk solusi masalah ini," kata Toro.


"Benar Velan, kita harus berusaha, pasti ada jalan!" kata Yoyok.


"Aku sudah memberi usulan agar Velan menikah dengan pria kaya sebagai solusi untuk masalah ini," kata Tomi.


"Benar, daripada berhutang pada lintah darat!" kata Yoyok.


"Benar juga, ya! Pintar sekali kau, Tomi!" puji Taki yang merasa menemukan angin segar.


"Kalau Velan menikah dengan pria kaya raya, sudah  jelas menyelesaikan masalah tanpa masalah!" sahut Tomi.


Tomi meringis sambil memegangi kepalanya.


"Velan, coba kau pikirkan baik-baik, ini demi kita semua! Lagipula menikah kan ibadah, jadi kau bisa dapat pahala!" kata Toro.


"Begitu ya, kenapa tidak kalian saja yang menikah duluan?!" sindir Velan.


"Velan, mana ada wanita yang mau dengan pria seperti kami! Menikah kan butuh modal!" sahut Yoyok.


Velan memutar bola matanya, entah mengapa ia merasa jadi tumbal atas perbuatan kakak-kakaknya ini. 


Velan berusaha berpikir jernih, jika memang menikah dengan pria kaya bisa menjadi solusi untuk masalah pelik yang sedang dialaminya, apa salahnya untuk dicoba?


Hanya saja masalahnya, siapa pria kaya yang bersedia menikah dengan Velan?


...~...


Kios kue yang disewa oleh Velan berada di komplek perumahan tempatnya tinggal. Posisi kiosnya berdekatan dengan toko Indomei. Terdapat lima petak kios yang berada di pinggir jalan masuk perumahan tersebut. Kios yang disewa oleh Velan bersebelahan dengan pangkas rambut di sebelah kanan, dan konter pulsa di sebelah kirinya. Ada juga depo air isi ulang dan kios penjual telur yang saling bertetangga. Kios tersebut berukuran seperti peti mati, itulah tanggapan Yoyok dan Tomi saat pertama kali mereka bertandang ke kios tempat Velan membuka lapak.


Di dalam kios ada etalase kaca bersusun empat, tempat Velan menyimpan kue yang sudah dikemasnya. Di bawah etalase tersimpan stok stoples berbahan kertas berwarna cokelat yang menyerupai wadah es krim. Velan sudah melengkapi kiosnya dengan lemari es kecil sebagai tempat penyimpanan bahan-bahan kue. Ia juga menyiapkan oven, kompor gas, hingga peralatan membuat kue lain yang dibutuhkan.

__ADS_1


Sebelum membuka kios sendiri, tentu saja ia mengerjakan semuanya di rumah. Hanya saja, semua kakaknya pasti mencomot kue yang dibuatnya dan itu sungguh mengganggu. Kalau satu atau dua potong, sih, tidak masalah. Mereka pasti minta jatah preman sebanyak satu stoples untuk setiap kali Velan menggarap pesanannya.


Sudah tidak membantu sama sekali, eh malah merugikan. Makanya Velan memilih membuka kios sendiri saja.


Namun, saat ini Velan sungguh berada dalam kesulitan yang begitu besar. Hanya tinggal menghitung hari sebelum akhirnya ia akan menjadi buronan lantaran diburu debt collector. Rumah orang tuanya akan disita dan ia beserta semua kakaknya itu akan menggembel di jalan.


Oh, Tuhan! Apakah tidak ada jalan lain?


Haruskah aku menikah dengan pria kaya seperti yang diusulkan oleh Kak Tomi?


Bagaimana bisa aku mendapatkan pria kaya, sedangkan para pria kaya itu pasti menikahi wanita yang selevel dengan mereka! Yang pastinya cantik luar biasa, putri konglomerat, dan berdarah biru!


Sedangkan aku apa?! Lingkaran di bawah mataku saja yang nampak membiru karena tidak bisa tidur nyenyak memikirkan nasib!


Di saat Velan sedang meratapi nasibnya, terlihat dua orang wanita paruh baya berdiri di depan kios Velan untuk berbincang.


"Lamanya tidak ketemu, Jeng Yun, apa kabar?" tanya wanita paruh baya menyapa teman lamanya itu.


"Iya, lama benar tidak jumpa Bunda, Bunda dari mana?" tanya Jeng Yun pada wanita yang dipanggilnya Bunda.


"Ini, aku tadi mau cari rumahmu, Jeng Yun, lupa aku, mau nitip undangan resepsinya anakku," jawab Bunda.


"Loh, bukannya anaknya Bunda sudah menikah semua?" tanya Jeng Yun.


"Ini sisa satu yang umurnya sudah tiga puluh lima tahun, belum nikah juga, kupikir mati jodoh sudah anakku itu, makanya kubawa ke Madam Yue, eh, dapat jodoh dianya! Orang kaya lagi! Senangnya aku, Jeng Yun," jawab Bunda antusias.


"Madam Yue?" tanya Jeng Yun.


"Iya, Jeng Yun, Madam Yue kan orang pintar master perjodohan! Ih, bagus memang di situ, Jeng Yun, langsung dapat jodoh anakku, bisa request lagi, maunya yang seperti apa!" jawab Bunda.


"He? Masa, Bun?" tanya Jeng Yun.


"Tidak bohong aku! Ini loh anakku bukti nyatanya!" jawab Bunda antusias memamerkan undangan di tangannya.


"Bagusnya ya, di mana Madam Yue itu?" tanya Jeng Yun lagi.


"Itu, di daerah Timur, dekat pasar, tahu sudah semua orang sama Madam Yue!" jawab Bunda.


"Wah, bagus itu, siapa tahu bisa direkomendasikan ke keluarga yang membutuhkan," sahut Jeng Yun.


"Benar, Jeng! Oh ya, Jeng Yun, aku masih harus lanjut untuk keliling antar undangan dulu," Bunda berpamitan.


"Iya Bunda, makasih ya sudah antar undangan," kata Jeng Yun.


Dua wanita paruh baya itu bercipika-cipiki sebelum berpisah,  meninggalkan Velan yang sibuk mencuri dengar obrolan mereka.

__ADS_1


Entah mengapa obrolan kedua wanita itu seakan memberi Velan sebuah solusi atas masalah pelik yang kini tengah menimpanya.


...~...


__ADS_2