
Atmosfer penuh ketegangan jelas bisa dirasakan oleh Doni begitu pria itu menghampiri meja berisi pasangan suami istri yang terlihat jelas tengah bersitegang.
Velan jelas merasa sakit hati karena Ibu Daren yang memperlakukannya secara semena-mena dan menuduh Velan dengan tuduhan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Velan.
"Cepat jawab aku Voren Lazaro! Apa yang sudah kau lakukan pada Daren hingga Ibunya menuduhku telah berkomplot denganmu untuk menghancurkan Daren?!" kata Velan.
Voren melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Istriku, aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi! Asal kau tahu, aku datang kemari karena melihatmu pergi bersama para pria itu! Aku pikir kau dijemput oleh orang-orang suruhan Daren untuk sekedar makan siang romantis! Aku sungguh terkejut karena ternyata kau justru menemui Tante Darla," Voren mencoba menjelaskan kepada Velan.
Velan mendelik gusar, ia bahkan sudah tidak percaya apapun yang keluar dari mulut pria pendusta ini.
"Tunggu, tunggu!" kata Voren seakan menyadari sesuatu. "Apa Tante Darla akhirnya mengetahui hubunganmu dengan Daren?" tanya Voren.
"Oh wah, kalian benar-benar sudah melangkah begitu serius seperti ini?! Wah, pantas saja Tante Darla sampai memperlakukanmu seperti ini istriku! Haha," Voren tertawa mengejek.
"Voren Lazaro! Apakah kau pikir saat ini aku sedang mengadakan pertunjukan komedi tunggal?!" sergah Velan.
"Aku bahkan tidak mengerti mengapa Ibu Daren sampai menganggap bahwa aku berkomplot denganmu untuk menghancurkan Daren! Yang benar saja?! Aku bahkan tidak merasa melakukan sesuatu yang salah!" lanjut Velan.
Voren mengulas senyumnya sambil melemparkan tatapan ke arah Doni.
"Istriku, bagaimana kau bisa merasa tidak bersalah? Kau jelas sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal karena sudah berkencan dengan Daren sedangkan saat ini statusmu masih istri sahku secara hukum yang berlaku!" Voren menjelaskan pemikirannya.
"A-apa?!" Velan terperangah.
Voren menghela nafas berat sambil menyugar rambutnya.
"Istriku, bukankah dari awal aku sudah mengatakan padamu agar kau mengakhiri hubunganmu dengan Daren sebelum semua orang tahu terlebih Tante Darla! Tante Darla bahkan akan melaporkan hal ini kepada papaku! Kau tahu apa artinya itu?" tanya Voren ke arah Velan.
Velan menegang melihat ekspresi Voren yang berubah menjadi serius. Ponsel pribadi Voren bergetar, ia segera mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya.
Nama Ibunya tertera pada layar datar dan ia segera menjawabnya.
"Mama," sahut Voren.
Velan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa situasi jadi memburuk seperti ini. Ia dan Daren hanya berpura-pura berkencan, namun mengapa dampaknya jadi serius seperti ini?
Oh tidak! Apa yang sudah kulakukan?! Batin Velan bergelut.
"Baik, aku mengerti Mama," kata Voren sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
"Ada apa Tuan?" tanya Doni menyadari perubahan ekspresi atasannya.
"Doni, sepertinya situasi benar-benar sangat kacau! Isu perselingkuhan istriku dengan Daren sudah terdengar ke semua pihak!" Voren memijat pelipisnya.
"Ini benar-benar sangat gawat Tuan!" Doni menghela nafas berat.
"Daren kehilangan dukungan dari Wier Trade, membuat para pemegang saham yang tadinya memberi dukungan kepadaku pada akhirnya berbalik arah berkat Tante Darla!" lanjut Voren.
"Sepertinya Nyonya Darla tidak mau hanya Tuan Daren saja yang kehilangan pendukung, sehingga membuat anda juga kehilangan pendukung agar impas," komentar Doni.
"Ahaha!" Voren tertawa kesal. "Lihatlah istriku! Akibat kau terlalu mementingkan hasratmu bersama Daren, kekacauan ini harus terjadi!"
"Apa?!" sergah Velan. "Huh, yang benar saja! Bagaimana kau bisa menyalahkanku?"
"Istriku, masa iya, aku meyalahkan rumput yang bergoyang?!" tanya Voren. "Yang berselingkuh dengan Daren kan kau, tapi aku harus terkena imbasnya!"
"Tunggu! Aku tidak berselingkuh dengan Daren! Aku tidak melakukan perselingkuhan!" sergah Velan.
"Ah, ya, kau tidak berselingkuh dengan Daren, karena kau dan Daren saling mencintai dan saling menginginkan!" ejek Voren.
Velan memutar bola matanya, sepertinya ia harus bicara dengan Daren dan meluruskan kesalahpahaman ini.
"Baik Tuan, saya akan pesan makanan," sahut Doni.
"Istriku, lebih baik kita makan dulu, nanti kita lanjutkan kembali pembicaraan kita," kata Voren.
"Kau makan saja sendiri! Aku mau pergi," kata Velan sambil beranjak dari kursinya.
"Istriku!" Voren mencegah kepergian Velan.
"Apa?!" sergah Velan dengan nada menantang.
"Kau mau pergi kemana? Bukankah sudah kukatakan, kita akan tetap melanjutkan pembicaraan setelah makan!" tandas Voren.
"Aku mau pergi!" sahut Velan.
"Apa kau mau menemui Daren?" tanya Voren.
Velan menatap sinis ke arah Voren.
"Apapun yang kulakukan dan siapapun yang kutemui, aku rasa itu bukan urusanmu, Voren Lazaro!" sahut Velan.
__ADS_1
"Apa?!" Voren terperangah mendengar perkataan Velan. "Istriku! Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu di tengah permasalahan yang timbul sebagai dampak dari kisah romantismu dengan Daren! Kisah romantis yang terang-terangan kau lakukan di depan kedua mataku yang saat ini benar-benar sedang menimbulkan masalah besar dalam hidupku!" tutur Voren sambil menahan rasa kesalnya.
"Huh! Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa lebih baik kita tidak perlu mencampuri urusan masing-masing! Aku bahkan tidak peduli dengan masalah yang terjadi padamu! Aku tidak peduli!" sergah Velan.
Velan segera pergi dari hadapan Voren.
"Istriku! Berhenti! Kubilang berhenti! Atau kau akan menyesal!" cegah Voren dengan nada mengancam.
Velan tidak peduli, ia tetap melangkah pergi meninggalkan pria itu.
Voren mendengus gusar, ia mengepalkan tangannya dan meninju udara dengan perasaan kesal yang semakin menjadi di setiap detiknya..
Velan segera mengambil ponselnya dan segera mengirimkan pesan untuk Daren. Saat ini yang menjadi masalah bagi Velan adalah masalah yang timbul untuk Daren.
Tuan, bisakah kita bicara? Ada beberapa hal yang sepertinya harus kita bicarakan.
Velan menunggu balasan dari Daren dengan gelisah.
***
Daren membuka sebuah pesan yang muncul di layar ponselnya. Daren langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya karena saat ini Ibunya sedang duduk di hadapannya.
Darla langsung datang menemui Daren di kantor pria itu.
"Daren, Ibu sungguh tidak tahu, dari sekian banyak wanita, mengapa kau justru memilih untuk berhubungan dengan istri Voren!" kata Darla.
Daren menghela nafas berat dan memilih untuk diam.
"Daren, apa kau tahu, Ibu sampai berpikir, jangan-jangan kau memang sedang dijebak oleh Voren dengan menggunakan istrinya sebagai umpan!" lanjut Darla.
"Voren menyuruh istrinya untuk mendekatimu, membuatmu terpedaya hingga akhirnya seperti ini! Nama baikmu rusak akibat isu perselingkuhan, kau kehilangan dukungan, dan juga kesempatan untuk mendapatkan kursi presiden direktur!" Darla masih menuturkan analisisnya.
Daren masih diam dan mendengarkan. Dalam hatinya saat ini jelas muncul keraguan dan kebimbangan yang amatlah besar. Entah mengapa ia merasa penuturan Ibunya sungguh masuk akal.
Wanita itu menemui Daren, menangis, hingga memohon bantuan Daren untuk menjadi kekasih pura-puranya. Hingga akhirnya Voren mengungkap identitasnya sebagai suami dari Velan.
"Daren, kau tenang saja, Ibu tidak akan membiarkanmu terpuruk sendirian! Ibu juga akan melakukan hal yang sama kepada Voren! Ibu sudah melaporkan masalah ini kepada Alren! Kita akan lihat, bagaimana tanggapan Alren bahwa anak dan menantunya sudah menjebakmu seperti ini," Darla mengulas senyumnya pada Daren.
Darla mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah pesan yang muncul di layar ponselnya.
"Lihat, Alren langsung meresponnya, oleh karena itu bersiaplah untuk menemui beliau," kata Darla.
__ADS_1