Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E53


__ADS_3

Voren segera keluar dari mobilnya dan melemparkan kunci mobil kepada pelayan yang menyambut kedatangan Voren di kediaman utama. Voren berpapasan dengan Daren yang baru tiba bersama Ibunya.


"Selamat malam, Tante Darla, Daren," Voren menyapa mereka.


"Selamat malam, Voren," sapa Daren sambil mengulas senyumnya.


"Kau hanya datang sendiri, Voren?" tanya Darla.


"Oh, istriku menyusul," jawab Voren.


"Kenapa kalian tidak datang bersama?" tanya Darla.


"Yah, aku rasa istriku lebih senang datang bersama dengan Daren," jawab Voren sambil mengulas senyum ramah.


Raut wajah Darla semakin masam mendengar Voren yang jelas sedang memprovokasi mereka. Voren masih mengulas senyum saat ia meninggalkan Darla yang melotot sinis ke arah Daren.


"Voren," Vega langsung menyambut kedatangan Voren.


"Mama," Voren membalas pelukan Vega dengan lembut.


Renata dan Renava menghampiri Voren dengan tatapan skeptis. Mereka berdua tentu saja sangat terkejut mendengar isu perselingkuhan yang dilakukan oleh adik ipar mereka dengan seorang pria yang tak lain adalah Daren.


"Voren, kau tidak datang bersama adik ipar?" tanya Renata.


"Istriku akan menyusul, Nata," jawab Voren.


"Ya ampun, Voren, aku benar-benar sangat terkejut saat mendengar kabar bahwa adik ipar melakukan perselingkuhan dengan Daren," kata Renava.


"Ya, aku juga tidak habis pikir mengapa istriku sampai berselingkuh dariku, Nava," sahut Voren.


"Yah, aku rasa, aku mengerti mengapa adik ipar sampai berselingkuh darimu!" kata Renata sambil mengulas senyum sinis.


"Ya, adik ipar pasti merasa tidak nyaman saat bersama orang sepertimu, makanya sampai mencari kenyamanan bersama pria lain," Renava menimpali.


"Nata, Nava, kalian bahkan para lajang yang tidak mengerti bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga, sehingga lebih baik kalian jangan asal berkomentar!" tukas Voren sambil mengulas senyumnya.


"Apa kau bilang?!" Renata dan Renava berseru serempak.

__ADS_1


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Voren.


"Voren, sudah hentikan!" Vega menengahi.


Renata dan Renava jelas merasa tersinggung karena adik laki-laki mereka menyenggol masalah status perkawinan. Renata dan Renava tentu saja tidak ingin terus melajang namun mereka bisa apa karena ayah mereka tidak mau mereka menikah dengan pria sembarangan.


"Hai, Daren," sapa Renava begitu melihat kehadiran Daren bersama Tante Darla.


Kedua wanita itu segera menghampiri Daren dan Tante Darla yang memasuki ruang keluarga.


"Voren, kau tidak boleh bicara seperti itu dengan kakak-kakakmu! Segeralah minta maaf kepada mereka," tukas Vega.


"Mama! Untuk apa aku minta maaf kepada mereka?! Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?!" gerutu Voren.


Vega menghela napasnya, yah, Voren kadang bicara seenak mulutnya saja, wajar jika hubungannya dengan kedua kakaknya kurang baik.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kenapa kau tidak datang bersama istrimu?" tanya Vega.


"Mama, lebih mudah menggembala seratus ekor sapi ke kandang daripada mengajak istriku datang kemari!" sahut Voren.


"Astaga, Voren! Bagaimana bisa kau menyamakan istrimu dengan sapi?!" keluh Vega.


"Ya, baiklah, terserah kau saja, Voren!" keluh Vega.


"Bersiaplah, sebentar Papamu akan datang!"


...~...


Pria paruh baya berpenampilan dingin dan kaku itu segera duduk di kursinya. Menatap wajah-wajah yang terlihat begitu tegang di belakang meja makan. Alren Lazaro mengamati satu per satu wajah anggota keluarganya yang nampak bungkam seribu bahasa. Vega duduk di samping Voren yang berhadapan langsung dengan Daren dan Darla. Sementara Renata dan Renava memilih untuk duduk sejajar dengan Daren. Keduanya ingin melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Voren saat harus berhadapan langsung dengan ayah mereka.


Para pelayan segera menyuguhkan hidangan pembuka di hadapan semua orang yang duduk di belakang meja marmer hitam panjang.


Alren melemparkan pandangannya kepada Voren dan Daren yang duduk saling berhadapan. Kedua pria itu nampak berperang dingin tanpa kata-kata. Bagi Alren, ia jelas harus menindaklanjuti aduan dari Darla mengenai isu perselingkuhan yang kini menimpa Daren. Darla sangat yakin bahwa Voren menjebak Daren dengan mengumpankan istrinya untuk menggoda Daren.


"Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah datang memenuhi panggilanku," kata Alren di sela-sela menikmati hidangan yang menjadi makan malamnya.


"Kalian semua pasti sudah tahu, aku mengundang kalian semua kemari terkait dengan masalah yang saat ini sedang menjadi isu, menyebabkan situasi yang kurang kondusif di tengah keluarga besar kita," Alren melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Voren, kau tidak membawa serta istrimu?" tanya Alren.


"Maaf, Papa, istriku akan menyusul," jawab Voren.


"Huh, apa dia pikir dia adalah ratu hingga semua orang harus menunggu kedatangannya?!" celetuk Darla.


"Wanita yang benar-benar membuat keluarga kita kacau balau seperti ini!" geram Darla.


"Tante Darla, rasanya tidak etis jika Tante menghakimi istriku seperti itu," Voren menimpali.


"Haha! Voren, aku tidak bermaksud untuk menghakimi, hanya saja kenyataannya memang seperti itu kan?!" Darla mulai menyerang Voren.


"Darla, aku rasa tidak baik kau menyudutkan Voren dan istrinya seperti itu! Dalam hal ini Daren tentu juga punya andil yang turut berkontribusi dalam masalah yang terjadi di tengah keluarga besar kita," Vega membela Voren.


"Vega! Daren tentu tidak bersedia berkontribusi dalam menimbulkan masalah ini, jika saja anak dan menantumu tidak menjebak Daren! Sungguh luar biasa sekali kau Voren, saking inginnya mendapatkan kursi presiden direktur secara instan, kau sampai menjebak Daren dengan menggunakan istrimu! Sungguh istri yang sangat berbakti kepada suaminya! Jangan-jangan kau juga menjual istrimu kepada para pemegang saham lain demi mendapat dukungan!" cecar Darla.


"Darla!" sergah Vega.


"Entah bagaimana istrimu yang biasa-biasa itu sampai bisa memperdaya Daren! Apakah dengan pembawaannya yang menyedihkan itu?!" keluh Darla.


"Ibu," Daren menegur ibunya yang terdengar makin keterlaluan.


"Daren!" Darla melotot ke arah Daren.


"Permisi, maaf saya terlambat."


Velan melangkah memasuki ruang makan, semua mata langsung tertuju padanya. Velan menyeret gaun hitamnya yang panjang seakan ia sedang menghadiri acara Met Gala.


Gaun hitam tanpa lengan dengan kerah V yang terlihat pas di tubuh Velan. Rambut Velan ditata dengan cepolan, membuat lehernya yang berhiaskan untaian kalung berlian nampak jenjang.


Lebih dari tiga jam Velan harus berada di salon kecantikan hanya untuk sekadar memenuhi undangan makan malam keluarga sultan.


Voren menegang melihat penampilan Velan yang jelas mencuri perhatian Daren. Daren bahkan tak berkedip saat melihat penampilan Velan yang terlihat begitu memesona.


Sial, kenapa wanita itu terlihat begitu cantik?! Daren sampai meneteskan air liurnya seperti itu! Cih, dasar laki-laki murahan! Voren mengumpat dalam hati.


Bah, sialan! Kenapa juga dia pakai baju seperti itu? Apa dia sengaja memilih pakaian yang sengaja memamerkan kulitnya seperti itu?! Doni, kau sungguh benar-benar keterlaluan! Bukankah aku sudah berpesan untuk mencarikan gaun yang sesuai untuknya?! Kenapa istriku malah memakai pakaian seperti ini?! Geram Voren.

__ADS_1


Harusnya kusuruh saja dia pakai burqa! Pikir Voren yang hanya bisa menelan rasa kesalnya saja.


...~...


__ADS_2