
Daren segera turun dari mobil mewah yang dikemudikannya. Salah satu petugas keamanan yang berjaga langsung menyambutnya, membawa mobil Daren menuju ke area parkir khusus yang berada di basement.
Semua mata tertuju pada Daren, tak henti-hentinya semua orang menyapa kehadirannya di lobi perusahaan. Ajeng dan Dian, dua resepsionis cantik itu langsung menyambut kehadiran Daren dengan senyum ramah mereka.
"Selamat pagi, Pak Daren," sapa Ajeng dan Dian.
"Selamat pagi," Daren balas menyapa mereka.
"Selamat pagi, Pak Daren," sapa Dinar yang langsung menyambut kedatangan atasannya.
"Selamat pagi, Dinar," Daren menyapa Dinar.
Di depan lift, dua orang pria terlihat seakan turut menyambut kehadiran Daren.
"Selamat pagi, Tuan Daren," sapa Doni sambil menundukkan kepalanya.
"Selamat pagi, Doni," sapa Daren.
Voren menatap Daren dengan tatapan penuh selidik. Memerhatikan penampilan Daren dari ujung rambut hingga ujung kaki pria itu. Voren mendekat ke arah Daren, lalu menepuk-nepuk dasi yang dikenakan Daren.
"Tumben, kau sudah memasang dasi duluan, Daren," kata Voren.
"Kenapa? Kau kecewa tidak memasang dasi untukku?" tanya Daren.
"Ya, aku merasa dikhianati!" jawab Voren dengan nada yang memelas.
"Haha," Daren tertawa. "Oh ya, Voren, aku sudah menyiapkan semua dasi yang sudah kau pinjamkan, aku akan mengembalikannya padamu," kata Daren usai tertawa.
"Lebih baik dasi itu kuberikan padamu, sebagai hadiah agar kau tidak menangis saat kursi presdir jatuh ke tanganku, Daren," kata Voren sambil mengulas senyumnya.
"Begitu, ya?" Daren balas mengulas senyum ke arah Voren.
Voren masih mempertahankan senyumnya padahal dalam hati ia sudah mengumpat dan memaki-maki lelaki menyebalkan di hadapannya ini.
"Hu-um," jawab Voren.
"Kalau begitu, kita dengar saja, apa hasil evaluasi dari Pak Presdir," kata Daren sambil menepuk lembut kedua bahu Voren.
"Daren, apa kau mau sarapan bersama? Aku sudah memesan cukup banyak makanan yang tidak mungkin kuhabiskan sendiri," kata Voren.
"Maaf Voren, aku sudah sarapan di rumah," kata Daren.
__ADS_1
"Oh wow, aku terkejut, bukannya kau selalu sarapan di kantor, Daren?" tanya Voren keheranan.
"Tidak, aku rasa mulai sekarang aku akan sarapan di rumah saja, sehingga begitu tiba di kantor, aku langsung bekerja tanpa harus membuang waktu untuk sekadar sarapan," jawab Daren.
"Oh begitu," kata Voren.
"Kau sendiri, kenapa memesan sarapan? Apa istrimu tidak menyiapkan sarapan untukmu?" tanya Daren.
"Oh ya ampun, Daren! Mana mungkin aku menyuruh istriku untuk bangun pagi-pagi dan menyiapkan sarapan untukku? Istriku bukan pembantu! Aku bahkan tidak membiarkan tangan indahnya untuk menyentuhku, maksudku, menyentuh selain diriku," jawab Voren sambil tersenyum riang.
"Kau benar-benar sangat mencintai istrimu ya, Voren," Daren menanggapi perkataan Voren.
"Oh tentu saja! Asal kau tahu, aku adalah pria yang sangat memuliakan istri! Yang harus kau tahu, aku sangat bahagia karena sudah menjadi seorang suami yang sempurna untuk istriku!" kata Voren.
"Voren, apa kau sedang pamer karena sudah menikah lebih dulu dariku?" tanya Daren.
"Daren, aku tidak bermaksud pamer, aku hanya memberi inspirasi padamu! Kau itu semakin hari semakin tua, kerutan di wajahmu bahkan sudah mulai terlihat dengan jelas! Tapi kau masih belum menikah juga! Haha!" Voren tertawa mengejek Voren.
Ingin rasanya Doni memuntahkan lambungnya mendengar perkataan-perkataan yang jelas terlontar penuh kebohongan dari mulut Tuan Voren. Pria yang memuliakan istri dari mananya?
Tuan Voren bahkan selalu bertengkar dengan istrinya setiap kali mereka bertemu, Doni membatin.
"Presiden saja selalu didampingi oleh Ibu negara! Masa iya, Presdir Emperor Grup adalah seorang jomblo!" lanjut Voren sambil tetap tertawa.
Daren mengulas senyumnya.
"Voren, aku berharap kaulah yang akan menjadi saksi pada pernikahanku nanti," kata Daren.
"Oh tentu saja, aku kan pria yang sangat bertakwa kepada Tuhan!" kata Voren.
Daren dan Voren saling melemparkan tatapan yang disertai dengan senyuman.
"Tuan, sebentar lagi rapat direksi akan dimulai," Doni segera menghentikan aksi saling tatap antara dua pria itu.
"Terima kasih sudah mengingatkan Doni," kata Voren.
Voren segera masuk ke dalam lift diikuti Doni.
"Kau tidak ikut, Daren?" tanya Voren.
"Kau duluan saja, Voren," jawab Daren.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Voren.
Doni segera menutup pintu lift yang membawa mereka menghilang dari pandangan Daren.
"Anda tidak ke ruangan kerja dulu, Pak Daren?" tanya Dinar.
"Dinar, kita harus menunggu Pak Presdir yang akan datang sebentar lagi," jawab Daren sambil mengulas senyumnya.
...~...
Suasana penuh ketegangan langsung memenuhi ruang rapat Emperor Grup. Mata Voren menangkap sosok Alren Lazaro yang memasuki ruang rapat bersama Daren.
Alren Lazaro duduk di kursinya. Pak Bimo, sekretaris pria itu berdiri di sisi kanannya dengan wajahnya yang begitu dingin. Alren segera memakai kacamatanya, sudah menjadi kebiasaan pria paruh baya itu memakai kacamata saat bekerja.
Para petinggi perusahaan dan perwakilan dari dewan komisaris turut hadir dalam rapat hasil evaluasi penilaian tahap dua pada pemilihan kursi Presdir Emperor Grup.
"Pada hasil evaluasi tahap pertama, kita sudah mendapatkan dua nama yang menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan posisi saya sebagai Presiden Direktur Emperor Grup. Dua pria muda yang memiliki kompetensi dan dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan," kata Alren membuka rapat penting tersebut.
"Kandidat pertama kita adalah Daren Won, dari Won Corp yang saat ini menduduki posisi sebagai Direktur Operasional. Seperti yang kita ketahui, Direktur Operasional kita ini sudah menunjukkan kepada kita semua hasil kerja yang melampaui ekspektasi, saya secara pribadi sangat terkesan dengan kemampuan dari kandidat pertama kita," kata Alren menjelaskan.
Daren berdiri sambil membungkuk diiringi tepuk tangan yang membahana, kemudian Daren pun duduk kembali di kursinya.
"Kandidat kedua kita adalah Voren Lazaro, dari Emperor Grup yang saat ini memegang posisi sebagai Direktur Keuangan. Seperti yang kita ketahui, departemen keuangan selalu menjadi departemen yang paling sering kali mendapat sorotan dan komplain dari berbagai pihak. Namun memang seperti itulah kenyataannya. Pekerjaan paling krusial dan menuntut seseorang yang harus memiliki kejujuran dan loyalitas yang sangat tinggi," kata Alren.
Voren berdiri dari kursinya dan membungkuk sambil mengulas senyum ke semua orang, kemudian ia duduk kembali setelah tepuk tangan yang membahana itu berakhir secara singkat.
Layar besar di hadapan semua orang memperlihatkan hasil evaluasi kinerja dari dua kandidat yang tengah bersaing untuk memperebutkan kursi Presiden Direktur.
Voren melipat tangannya di depan dada, ia mengepalkan tangan dengan erat melihat hasil evaluasi tersebut. Ia dan Daren memiliki hasil yang seri pada beberapa aspek penilaian, baik secara individual maupun secara tim.
"Kedua kandidat kita merupakan kandidat terbaik dan membuat kita sangat terkesan dengan pencapaian mereka masing-masing! Namun semua itu tentu tak luput dari dukungan dan kesempatan yang telah kita berikan kepada mereka berdua," kata Alren.
"Tuan Alren, lantas bagaimana dengan penilaian Anda secara pribadi terhadap kedua kandidat kita? Di antara mereka pasti ada yang lebih Anda unggulkan secara objektif," salah satu perwakilan dewan komisaris melemparkan pertanyaan pada Alren.
Alren membetulkan letak kacamatanya sambil menyunggingkan senyum ke arah Daren.
"Menurut pandangan pribadi saya, saya lebih mengunggulkan Daren berdasarkan hasil kinerja dan kompetensi yang dimiliki oleh beliau," jawab Alren.
Voren benar-benar merasa tertampar oleh perkataan ayahnya yang jelas sekali mengibarkan bendera perang kepada dirinya.
...~...
__ADS_1