
Dinar benar-benar tidak menyangka bahwa malam ini benar-benar menjadi malam paling mengerikan seumur hidupnya. Makan malam romantis bersama Marco, kekasihnya yang baru dikencaninya selama tiga bulan itu harus berakhir dengan tragis.
Dinar benar-benar tidak menyangka bahwa Marco ternyata adalah pria yang sangat menyebalkan. Padahal saat masa pendekatan dulu, Marco adalah sosok pria yang begitu santun, lembut, dan selalu menjadi pendengar yang baik.
Namun semua itu ternyata hanya tipu muslihat pria itu saja. Jelas sekali Marco hanya menginginkan kecantikan dan kemolekan tubuh Dinar. Yah, kebanyakan pria yang berkencan dengan Dinar memang selalu memuji betapa cantik dan seksinya Dinar. Walau sebenarnya mereka tidak sepenuhnya salah karena memang Dinar dianugerahi tubuh aduhai yang membuat semua wanita pasti iri. Tubuh langsing dan dada besar yang membuat semua orang berpikir bahwa Dinar melakukan operasi silikon. Padahal semua itu adalah anugerah yang selama ini memang sangat Dinar jaga keindahannya dengan menerapkan pola makan, dan olah tubuh yang tepat.
Dinar sungguh tak menyangka Doni tiba-tiba menyelamatkannya dari situasi yang benar-benar sangat mengerikan. Doni bahkan membayar tagihan makan malam Dinar, karena Marco, laki-laki pengecut itu, pergi begitu saja.
Doni dan Dinar pun segera keluar dari restoran tersebut.
"Doni, aku sungguh berterima kasih karena kau sudah membantuku, sungguh tak kuduga kita bisa bertemu di sini," kata Dinar.
"Tidak masalah, Dinar, lagipula aku hanya kebetulan kemari untuk membeli makan malam Tuan Voren," Doni menjelaskan.
"Oh begitu, sungguh, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika kau tidak menyelamatkanku, Doni! Marco sungguh pria pecundang yang tidak tahu diri," geram Dinar.
Doni memandangi Dinar yang nampak menggigil menahan amarahnya. Dinar yang diliputi kemarahan pun langsung meneteskan air mata.
"Hiks, laki-laki pecundang itu! Bedebah sialan!" Dinar mulai menangis.
Doni terkejut karena Dinar yang tiba-tiba saja menangis. Semua orang yang kebetulan melihat mereka langsung menatap skeptis.
"Wanita itu menangis pasti gara-gara pria itu!"
"Pria yang kejam sekali!"
Doni menggaruk kepalanya, ia menoleh ke sekeliling dan menemukan sebuah kafe yang lokasinya tidak jauh dari restoran ini.
"Dinar, mari kita berbincang di kafe itu," ajak Doni.
Keduanya segera menuju ke kafe dan duduk di salah satu meja yang kosong. Doni menyerahkan selembar sapu tangan dan menyerahkannya pada Dinar.
Baru kali ini Doni melihat Dinar yang selama ini selalu terlihat tangguh saat ini benar-benar begitu rapuh.
Seorang pelayan mengantar pesanan Doni, yakni dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih," kata Doni pada pelayan yang menatapnya skeptis.
__ADS_1
"Ini bukan gara-gara saya," kata Doni tanpa suara.
"Dinar, diminum dulu tehnya," kata Doni pada Dinar.
Dinar menyeruput teh hangat, lalu mengatur napasnya yang terengah-engah karena menangis sesenggukan.
"Terima kasih, Doni! Aku ini kalau sangat marah ya begini, aku pasti menangis seperti ini, hiks," Dinar menangis sesenggukan.
"Ya, menangis memang lebih baik karena kau akan merasa lebih lega," kata Doni sebelum menyeruput teh hangatnya.
"Aku benar-benar menyesal karena bersedia berkencan dengan pria itu! Rasanya aku membuang-buang waktu dan perasaanku untuk meladeninya," keluh Dinar.
Doni mengulas senyumnya.
"Dinar, kau tidak boleh menyesali semua yang telah terjadi! Cukup dijadikan pembelajaran agar ke depannya kau tidak lagi salah dalam mengambil keputusan! Karena pengalaman adalah guru yang terbaik," ucap Doni sambil menatap lurus ke arah Dinar.
"Doni, kau mengutip semua kata-kata bijak itu dari buku apa?! Kau benar-benar telihat seperti pertapa tua dari gunung," Dinar terkekeh.
"Dinar, aku bahkan sudah lebih dulu dan lebih banyak menghirup oksigen daripada kau! Aku rasa aku sudah bekerja di Emperor Grup dan kau mungkin masih duduk di bangku sekolah," kata Doni.
"Haha," Dinar tertawa. "'Ya, ampun, kau benar-benar sudah setua itu ya, Doni?"
"Aku pikir kau seumur saja denganku," jawab Dinar.
"Empat tahun lagi, usiaku sudah menginjak kepala empat," Doni terkekeh.
"Serius? Kok tidak kelihatan ya?" tanya Dinar terperangah.
Doni tersenyum, ia benar-benar beruntung karena memiliki tampang yang awet muda.
"Apa kau kelihatan awet muda karena belum kunjung menikah ya?" tanya Dinar.
"Tidak ada hubungannya orang yang belum menikah dengan awet muda! Semua tentu kembali ke pola hidup dan tentunya faktor genetik," jawab Doni.
"Haha," Dinar tertawa lagi.
"Sepertinya perasaanmu sudah jauh lebih baik, Dinar," kata Doni.
__ADS_1
"Hmm, ya, aku sudah merasa jauh lebih lega!" sahut Dinar.
Doni kembali tersenyum ramah.
"Doni, terima kasih sudah berusaha menghiburku," kata Dinar.
"Dinar, aku tidak bermaksud untuk menghiburmu karena aku bukan pria penghibur! Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai bentuk simpatiku padamu!" kata Doni.
"Haha," Dinar tertawa lagi.
"Dinar, aku berikan saran untukmu, sungguh aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu! Sebaiknya kau jangan asal sembarang berkencan dengan pria! Memang sih kata orang tiga bulan pertama itu adalah masa-masa paling manis dari sebuah hubungan!" kata Doni.
"Pria yang baik adalah pria yang memberimu dukungan bukannya justru menjatuhkanmu! Pria yang baik pasti akan menerimamu apa adanya, menerima segala kelebihan dan kekuranganmu! Tidak menjadikan kekuranganmu sebagai masalah, namun justru sama-sama memperbaikinya!" lanjut Doni.
Dinar terpana mendengar perkataan Doni. Jujur saja, baru kali ini Dinar berbincang cukup serius dengan Doni. Mengingat saat di kantor mereka jarang bisa bertemu dan berbincang.
"Jadi, menurutmu, apakah kau pria yang baik?" tanya Dinar.
Doni tidak langsung menjawabnya. Ia hanya mengulas senyumnya.
"Aku merasa aku bukanlah pria yang baik, karena standar seseorang disebut baik tentulah berbeda-beda! Hanya saja, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk diriku sendiri dan orang lain," jawab Doni diplomatis.
Dinar lagi-lagi terpana mendengar perkataan Doni. Namun semua perkataan pria itu sungguh ada benarnya. Kebaikan tentu menjadi hal yang relatif. Baik di mata Dinar, belum tentu sama dengan orang lain.
"Baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu, aku harus menemui Tuan Voren untuk mengantarkan makan malam beliau," kata Doni.
"Ya ampun Doni, kau benar-benar sangat loyal pada Tuan Voren ya," kata Dinar.
"Dinar, ini sudah menjadi tugasku sebagai asisten pribadi Tuan Voren," jawab Doni.
"Wah, kalau menjadi asisten pribadi begitu, berarti jam kerjamu dua puluh empat jam ya?" tanya Dinar.
"Begitulah," jawab Doni.
"Kalau begitu, selamat bekerja," kata Dinar.
"Terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu," kata Doni bergegas pergi meninggalkan kafe.
__ADS_1
Dinar menatap kosong cangkir tehnya. Merasakan perasaan aneh yang menjalar dan menghangatkan hatinya.
...*****...