
"Haha," Desi tertawa di tengah suasana penuh ketegangan yang tercipta di tengah-tengah mereka.
"Aduh Mila, Oman, terima kasih sekali kalian begitu perhatian padaku! Aku bukannya tidak mau menikah! Hanya saja menurutku, menikah itu harus dilakukan saat kau memang sudah siap, bukan karena desakan usia atau pun omongan semua orang!" kata Desi seraya tertawa.
"Benar kata Lita, jodoh tak akan ke mana," Desi melemparkan pandangannya ke arah Lita.
"Ya, jodoh setiap orang itu kan beda-beda! Ada yang ketemunya cepat, ada juga yang lambat! Toh, yang penting bahagia," Lita menimpali.
"Tak usah buru-buru, contoh nyatanya Velan! Berkat kesabarannya, dia bisa dapat suami yang luar biasa tampan dan kaya raya!" kata Desi.
"Aku sungguh bersyukur! Untung saja dulu kau menolakku, Oman, sehingga aku bisa dapat suami yang benar-benar istimewa!" sahut Velan seraya tertawa.
"Benar juga ya, kalau dulu Oman tidak menolak Velan, mungkin sekarang kalian tidak menikah, loh," Desi masih tertawa dengan maksud membalas ejekan Mila dan Oman.
"Haha, ya, ampun teman-teman, itu sudah lama sekali dan sudah jadi masa lalu! Bukankah yang terpenting adalah sekarang dan masa depan?" Oman menimpali.
"Haha, iya, benar," Mila ikut tertawa,namun dalam hati ia mengumpat habis-habisan.
"Oh ya, Velan, suamimu kenapa tidak mendampingimu? Tadi di salon, suamimu tidak menemanimu, sekarang pun begitu! Kau itu padahal masih pengantin baru! Harusnya kan benar-benar tak terpisahkan!" kata Mila yang kini beralih pada Velan.
"Iya, aku dan Mila yang sudah menikah selama hampir sepuluh tahun saja, kami masih menjadi pasangan yang tak terpisahkan," Oman berkoar-koar heboh.
"Aku sungguh curiga, jangan-jangan kau ini hanya istri simpanan saja ya, Velan?" tanya Mila seraya tertawa. "Jangan-jangan suamimu sibuk di akhir pekan bersama istrinya yang lain! Yah, tapi, kalau melihatmu yang seperti ini, kau tidak cocok sih jadi istri simpanan! Kau sudah terlalu tua!"
"Mila, kamu ada masalah apa sih? Kenapa begitu julid terhadapku?" sergah Velan.
"Hah? Aku julid padamu?" Mila balik bertanya.
"Bukannya justru kamu ya Velan, yang julid padaku karena pada akhirnya aku yang mendapatkan Oman dan bukannya kamu?!" Mila mengulas senyum penuh kemenangan.
"Haha! Aduh, Mila! Aku bahkan sudah punya suami yang lebih segalanya dari Oman!" Velan tertawa.
"Haha! Suamimu lebih segalanya dari Oman, tapi lihat, dia tidak ada di sini untuk mendampingimu!" tandas Mila.
"Mila, bilang saja kau iri padaku! Iri karena aku bisa mendapatkan suami yang begitu luar biasa! Sementara kau hanya menikah dengan Oman yang biasa-biasa saja!" Velan mengejek Mila.
"Asal kau tahu ya Mila! Tolak ukur keberhasilan seorang wanita adalah dengan menikahi pria yang tampan, mapan, dan dermawan! Dan aku menjadi salah satu wanita paling beruntung yang ada di muka bumi ini karena sudah menikahi pria sempurna seperti suamiku!" Velan benar-benar memuja suaminya setinggi langit.
Mila berusaha menyembunyikan rasa kesalnya, ia harus bisa membalas Velan yang jelas sekali telah melukai harga dirinya. Sebagai seorang wanita yang tidak berhasil mendapatkan pria sempurna jelas sekali membuat Mila menjadi berang. Lagi-lagi ia mempertanyakan mengapa Velan bisa bernasib begitu mujur lantaran bisa mendapatkan suami yang begitu sempurna, idaman semua wanita!
__ADS_1
"Velan, Velan!" kata Mila seraya terkekeh. "Kau jangan lupa, Oman yang biasa-biasa ini dulu justru kau puja-puja! Kau bahkan pernah mengatakan bahwa kau tidak bisa hidup tanpa Oman!"
Velan mengulas senyumnya, ia sungguh menyesal karena dulu pernah mencurahkan semua isi hatinya kepada Mila. Ternyata Mila justru menikamnya dari belakang.
Lihat saja nanti kalau suamiku datang! Apa kamu masih punya muka untuk membanggakan Oman yang tidak bisa dibanggakan itu?! Pikir Velan.
Cepatlah datang, Suamiku! Kumohon cepatlah datang! Velan memohon dalam hatinya.
Tiba-tiba saja kehebohan terjadi, semua mata tertuju pada sosok berkilauan yang memasuki ballroom dengan penampilannya yang begitu memikat. Tubuh tinggi, tegap, dan atletis yang dibalut dengan setelan jas hitam. Ketampanan yang membuat decak kagum terlontar, dengan senyuman yang terulas, benar-benar menyita perhatian.
Velan terpana karena sosok itu langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya. Mengulas senyuman, memamerkan dua lesung pipi yang begitu memesona.
"Istriku, maaf aku datang terlambat," kata pria itu dengan suaranya yang berat dan dalam.
Diraihnya kedua tangan Velan dan dikecupnya dengan lembut. Sontak pemandangan itu membuat para kaum hawa menjerit histeris.
"Velan! Velan!" Desi mengguncang-guncang bahu Velan.
Velan tersentak kaget karena semua mata memandangnya dengan penuh keheranan. Terlebih Mila yang merasa provokasinya terhadap Velan sama sekali tidak berhasil.
"Aku mau menyapa teman-teman yang lain dulu," Mila beranjak dari kursinya.
"Velan, kau kenapa melamun?" tanya Desi keheranan.
"Itu Mila mengejekmu habis-habisan dan kau malah jadi bengong sendiri! Kau sungguh luar biasa, Velan!" Lita mendelik gusar.
"Suamiku kenapa belum datang juga, ya? Teman-teman, aku mau menghubungi suamiku dulu," Velan beranjak dari kursinya.
Ia keluar dari ballroom untuk menelepon Doni. Bukankah suaminya sudah berjanji akan menyusulnya?
Velan bahkan sudah tidak sabar untuk memamerkan kepada semua orang bahwa Velan sudah menikah dengan seorang pria tampan. Meski pria itu mengaku pada Velan bahwa ia tidak tertarik pada wanita, namun Velan yakin, jika ia berusaha dengan gigih, suatu hari nanti suaminya pasti akan kembali padanya.
...~...
Kecewa, itulah satu kata yang tepat untuk mewakili perasaan Velan saat ini. Acara reuni sudah berakhir dan suaminya benar-benar tidak datang untuk menepati janjinya. Velan merasa ia gagal untuk memamerkan keberhasilannya. Ia bahkan sudah berdandan yang rapi, menyewa gaun, hingga tas bermerek yang kiranya dapat meningkatkan prestisnya.
Berandai-andai suaminya yang luar biasa tampan itu datang dan mengejutkan semua orang. Memesona semua orang dengan ketampanannya yang tiada lawan.
"Teman-teman, kita berpisah di sini ya, aku harus menjemput anak-anakku," kata Lita berpamitan.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Lita," Velan dan Desi mengantar kepergian Lita.
"Velan, ada hal yang harus kita bicarakan berdua," kata Desi pada Velan.
"Oke, kita ke kafe terdekat saja, ya," ajak Velan.
Velan dan Desi segera menuju ke kafe terdekat. Kafe itu nampak ramai dikunjungi pengunjung mengingat sekarang adalah akhir pekan. Keduanya segera duduk di meja yang menghadap langsung ke arah jendela besar dengan pemandangan jalan raya yang begitu ramai.
"Velan, mengenai modal yang kupinjamkan padamu, katanya kau akan segera mengembalikannya dan juga sudah menyiapkan keuntungan selama satu semester kemarin," kata Desi memulai pembicaraannya.
Jantung Velan berdebar kencang mendengar perkataan Desi.
"Aku sedang membutuhkan dana itu, Velan. Bisakah kau menyiapkannya?" tanya Desi.
Desi menatap Velan yang nampak mematung dan kehilangan kata-kata.
"Velan, sebenarnya aku berencana akan menikah dengan pacarku, sehingga aku membutuhkan dana itu untuk sama-sama membiayai pesta pernikahan kami," lanjut Desi.
"Wah, selamat Desi, akhirnya kau akan menikah juga," kata Velan.
"Terima kasih Velan, tapi tolong rahasiakan ini dari siapapun, hanya kau saja yang baru mengetahuinya," kata Desi.
"Loh, memangnya orang tuamu?" tanya Velan.
"Orang tuaku belum mengetahuinya, sungguh aku ingin pernikahanku ini digelar tanpa campur tangan orang tua ataupun keluargaku! Dengan begitu, aku bisa menyelenggarakan pernikahan yang kuinginkan, bukan yang diinginkan keluargaku! Kau pasti tahu betapa rewelnya keluarga besarku terutama bude-budeku!" jawab Desi panjang lebar.
"Ka-kapan kau akan menikah, Desi?" tanya Velan.
"Aku siap menikah kapan saja, tergantung dananya, saat ini aku dan pacarku tengah membuat estimasi untuk membiayai pernikahan kami dan menyesuaikan dengan keuangan kami," jawab Desi.
"Untunglah aku menginvestasikan uangku padamu, Velan, jadi aku bisa punya dana cadangan lebih," kata Desi.
"Bagaimana, Velan, bisakah kau segera menyiapkan dananya?" tanya Desi.
"Ba-baik, Desi," jawab Velan sambil tersenyum kecut.
Mampus! Batin Velan yang seketika menjadi resah dan gelisah lantaran tak tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan dana modal yang dipinjamkan Desi untuknya.
...~...
__ADS_1