Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bonus Ch 09


__ADS_3

Tring..


Seorang wanita dengan cepat mengeluarkan kue dari oven. Aroma semerbak cokelat bercampur harumnya vanila dari kue yang sudah matang pun mengudara. Ia kemudian dengan cekatan menyusun kue kering di atas cooling rack.


Wanita itu lalu menghampiri seorang pria yang saat ini sedang sibuk melelehkan cokelat hitam dalam mangkuk kaca. Di bawah wadah kaca tersebut terdapat air mendidih yang direbus dalam sebuah panci. Dengan perlahan, pria itu mengaduk-aduk potongan cokelat yang mulai meleleh.


"Apa cokelatnya sudah siap?" tanya si wanita.


"Hampir," sahutnya singkat.


Pria itu masih berkonsentrasi penuh, jangan sampai cokelat yang dilelehkannya gosong seperti saat ia mengikuti kelas baking seminggu yang lalu.


"Sepertinya cokelatnya sudah siap," si pria kemudian menyerahkan mangkuk kaca berisi lelehan cokelat kepada wanita itu.


Wanita itu pun mengambil satu potong kue kering dan mencelupkan satu sisi kue kering ke dalam lelehan cokelat lalu meletakkan kembali di atas cooling rack. Kemudian mengulangi langkah-langkah tadi ke seluruh kue kering yang ia buat.


Wanita itu mengambil satu potong kue kering berlapis cokelat dan menyuapkannya pada pria yang sudah menunggu untuk mencicipi kue kering itu.


Pria itu mengunyah lambat-lambat, memasang ekspresi seakan ia adalah juri kejam dalam acara kompetisi memasak di televisi.


"Bagaimana Anda terpikir untuk membuat kue kering yang tidak manis, namun teksturnya sangat renyah?" tanya si pria.


"Ini resep lama yang kukembangkan demi suamiku yang melakukan diet gula dan garam. Kue kering ini juga bebas gluten karena terbuat dari tepung singkong dan tidak menggunakan telur, jadi lebih sehat untuk disantap sebagai camilan tengah malam," jawab wanita itu.


Pria itu mengulas senyumnya kepada wanita di hadapannya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun pria itu meminta kepada si wanita untuk dibuatkan camilan.


"Resep lama yang kau kembangkan? Apa sebelumnya kau pernah membuatnya?" tanya pria itu.


"Ya, aku pernah membuatnya, tapi aku rasa saat itu gagal," jawab wanita itu.


"Hmm, tapi sekarang sudah sukses! Pasti karena aku berhasil melelehkan cokelat ini!"


"Aku rasa aku berhasil karena mengikuti kelas baking!" sahut wanita itu.


Pria itu mengulas senyumnya, mengambil satu potong kue kering lagi.


"Aku tahu cara agar kue ini terasa manis," pria itu meletakkan kue kering di mulutnya lalu mencium bibir wanita di hadapannya.


Mereka menikmati kue kering sambil berciuman seperti yang akhir-akhir ini kerap mereka lakukan.


"Uhuk, Voren," wanita itu terbatuk-batuk lantaran tersedak remahan kue kering.


Voren dengan sigap mengambil air minum. Velan segera menandaskan isi gelas.


"Kalau mau makan, makan saja, jangan sambil berciuman!" sungut Velan.


Voren terkekeh.


"Hmm, masalahnya bibirmu sungguh manis," Voren kembali merengkuh bibir Velan.


Voren menatap Velan lekat-lekat, mereka kembali berciuman seakan mereka belum pernah melakukannya. Velan bahkan sudah berbaring di atas meja makan, seakan ia sudah siap untuk menjadi santapan tengah malam Voren.

__ADS_1


"Istriku, kita pindah ke kamar ya," ajak Voren.


Velan mengerutkan keningnya sambil membuka kaus yang melekat di tubuh Voren.


"Kenapa?" tanya Velan.


Voren mengulas senyum, membiarkan jemari Velan bermain-main di otot dadanya. Sementara Voren pun sibuk melepas baju terusan yang dikenakan Velan.


"Hmm, aku takut kau kurang nyaman, di kamar jauh lebih nyaman," jawab Voren.


"Aku ingin melakukannya di sini," kata Velan sambil menurunkan ritsleting celana Voren.


"Yakin?" tanya Voren.


"Sangat yakin," jawab Velan sambil mengalungkan tangannya ke leher Voren.


Voren mengecup lembut kening Velan. Velan memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Voren yang kini bergerak menyusuri setiap senti wajahnya. Bibir Velan menjadi favoritnya, pria itu memperdalam ciumannya, Velan meremas rambut Voren yang tebal dan lembut.


Dalam enam bulan ini, hubungan mereka benar-benar mengalami peningkatan yang begitu pesat. Mereka jarang bertengkar lagi karena sudah saling menerima satu sama lain. Mereka baru menyadari bahwa bercinta jauh lebih menyenangkan daripada bertengkar.


Menjerit karena terpuaskan jauh lebih membahagiakan daripada menjerit melampiaskan kemarahan. Berada di atas tempat tidur untuk saling meluapkan perasaan cinta lebih membahagiakan daripada selalu bertengkar seperti waktu-waktu yang lalu.


"Ah! Voren!" Velan melenguh ketika gelombang pelepasan kembali menderanya.


"Hmm, Velan, argh!"


Keduanya pun ambruk di atas tempat tidur setelah sebelumnya melakukan petualangan cinta di dapur. Velan memandangi wajah Voren yang tersenyum tulus. Mereka berdua masih saling berpandangan sambil mengatur napas masing-masing.


Jujur saja ia masih begitu grogi setiap kali mereka saling berpandangan dalam jarak yang begitu dekat.


"Apa kau sedang mencari pori-poriku? Kerutan? Bintik hitam? Atau komedo?" tanya Voren seraya terkekeh.


"Haha," Velan tertawa sambil memegangi wajah Voren.


Pria itu benar-benar sangat tampan. Alisnya tebal dan rapi, hidung yang begitu mancung dengan lekukan yang membuat nyamuk pun tergelincir. Voren memiliki struktur rahang yang indah, tegas namun lembut. Bibir pria itu begitu seksi, sekali berciuman dengannya rasanya tidak mau lepas. Belum lagi kulitnya yang begitu putih, mulus, cerah tanpa noda.


"Hmm, aku penasaran pada lesung pipimu, mana yang lebih dalam? Yang kiri ataukah kanan?" tanya Velan.


Voren mengembangkan senyumnya, membiarkan Velan menyentuh kedua lesung pipinya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Voren.


"Hmm, sepertinya keduanya sama-sama dalam," jawab Velan.


"Begitukah? Tapi menurutku, cintaku padamu jauh lebih dalam," Voren menanggapi jawaban Velan.


"Ihh, gombal!" Velan mencubit kedua pipi Voren.


"Serius," kata Voren lalu memburu kembali bibir Velan.


"Voren, hentikan, besok kita harus mengikuti kelas memasak, masih ada kelas melukis dan kelas berdansa yang harus kita hadiri?"

__ADS_1


"Hmm, kita skip saja semua jadwal kelas besok, karena malam ini adalah kelas privat untuk memuaskanmu, Istriku," Voren menyeringai.


"Voreeen," Velan melenguh manja saat pria itu kembali membuainya dalam kenikmatan.


...~...


Voren menghentikan mobil yang dikemudikannya di area parkir yang berada di tepi pantai. Ia segera turun dari mobil lalu mengeluarkan beberapa barang bawaan dari bagasi mobil.


Velan terpana melihat pantai yang begitu sepi, dengan debur ombak yang begitu tenang. Pantai yang mereka datangi berada di luar kota. Jauh dari pemukiman warga karena lokasinya terletak begitu eksklusif.


Hari ini mereka berdua bolos kelas memasak dan memilih untuk pergi kencan. Selama ini mereka berdua memang hanya menghabiskan waktu berdua saja. Mengikuti berbagai kelas privat dan pergi berkencan sudah menjadi agenda harian mereka.


Yah, selama menjadi pengangguran berduit, Voren jelas punya banyak waktu dan uang untuk ia habiskan hanya berdua saja dengan Velan.


Voren segera menggelar tikar, sementara Velan sibuk menyusun bekal makan siang mereka. Kemudian mereka makan siang bersama-sama.


"Istriku, bagaimana jika kita menginap di sini?" tanya Voren.


"Apa? Menginap di sini?" tanya Velan.


"Ya, kita bisa mendirikan tenda, lalu menyalakan api unggun!" sahut Voren antusias.


"Haha, aku rasa, aku sih tidak masalah, tapi bagaimana denganmu? Apa kau bisa tidur nyenyak tanpa tempat tidur yang nyaman?" tanya Velan.


"Istriku, asalkan kau ada di sisiku, aku rasa tidak masalah! Kalau sudah lelah pasti akan tertidur juga! " Voren menyeringai.


"Awas saja kau mengeluh tidak bisa tidur karena banyak nyamuk!" cibir Velan.


"Yah, kalau tidak bisa ya kita cari hotel terdekat saja," Voren segera merebahkan kepalanya di pangkuan Velan.


Velan mengelus rambut Voren yang tebal dan masih dengan warna ungu lembut.


"Voren, mengapa kau belum juga mengembalikan warna rambutmu?" tanya Velan.


"Istriku, rambutku bisa rusak kalau terlalu cepat diganti warna," jawab Voren.


"Lantas kenapa kau mengecat rambutmu kalau kau takut rambutmu rusak?" tanya Velan.


"Aku hanya ingin ganti suasana sekaligus ingin membuatmu terpesona dengan ketampananku ini," Voren terkekeh.


"Hih! Alasan!" Velan mengacak-acak rambut Voren dengan gemas.


Voren segera meraih kembali bibir Velan, keduanya kembali berciuman.


"Nona Velan?" 


Suara sapaan itu membuat Velan langsung melepas ciuman Voren. Mata Velan langsung tertuju pada beberapa pasang mata yang terarah padanya dan juga Voren.


"Tuan Daren!"


...~...

__ADS_1


__ADS_2