Jodoh Instan

Jodoh Instan
Bonus Ch 11


__ADS_3

Seorang pria melangkah menuju ke sebuah balkon. Menatap langit senja dengan cahaya keemasan yang berkilau indah. Duduk dengan gerakan anggun yang memukau semua mata.


Seorang pelayan mengantarkan secangkir teh dalam cangkir porselen berwarna putih tanpa motif bersama dengan satu piring berisi kudapan sebagai camilan pendamping minum teh.


Pria itu mengambil sepotong kue kering, menghirup aroma kue kering yang menggugah seleranya.


Satu gigitan kecil menciptakan ekspresi pada pria itu, membuatnya mengulas senyum menawan yang memperlihatkan kedua lesung pipinya yang dalam.


"Saat Anda ingin menyantap camilan manis namun Anda cemas dengan kandungan gula, kukis sehat inilah solusinya. Terbuat dari bahan-bahan berkualitas, bebas gluten, rendah gula, serta kaya akan serat dan manfaat untuk hidup yang lebih sehat!"


Kata-kata pria itu menggema ke seluruh ruangan yang kini sesak dipenuhi orang-orang berjejalan memborong semua kemasan kue kering yang terpajang di etalase pada sebuah toko kue.


Para wartawan pun segera melakukan wawancara dengan pemilik langsung toko kue yang baru saja meresmikan pembukaan gerai ke-50 hanya dalam waktu satu tahun.


"Jadi, Nyonya Velan, apa yang memotivasi Anda untuk membuka usaha kuliner sehat hingga akhirnya sukses besar di pasaran?" salah seorang wartawan.


"Saya termotivasi untuk tetap bisa menyajikan hidangan enak dan sehat untuk siapa pun terutama bagi orang-orang yang sedang menjalani diet. Menurut saya tujuan utama dari diet sendiri adalah menjaga kesehatan, mendapatkan berat badan ideal adalah bonus, begitulah kata suami saya," jawab Velan dengan mantap.


"Apa yang dikatakan oleh istri saya adalah kebenaran. Saya secara pribadi sudah menjalani diet rendah gula dan rendah garam dalam satu dekade terakhir, dan saya sungguh membuktikan sendiri hasilnya. Saya merasa lebih bugar dan prima bahkan di usia hampir kepala empat," Voren menambahkan.


"Wah, sungguh iri," sahut salah satu wartawan menimpali.


"Oleh sebab itu, produk dari Vels True Love merupakan produk rahasia awet muda yang saya bagikan untuk orang-orang yang ingin hidup lebih sehat dan produktif mulai kini hingga nanti," lanjut Voren.


"Wah, Tuan dan Nyonya sungguh luar biasa," puji para wartawan.


Doni dengan sigap memberi kode kepada wartawan bahwa jadwal wawancara sudah hampir selesai.


"Baiklah, terima kasih atas waktu Anda, semoga Tuan dan Nyonya semakin sukses di masa yang akan datang."


Para wartawan bersalaman dan berfoto bersama dengan Velan dan juga Voren. Tak henti-hentinya mereka memuji visual Voren yang jauh lebih tampan dari yang terlihat di iklan.


...~...


"Tuan, ini kiriman dari majalah bisnis edisi terbaru," Doni menyerahkan sebuah majalah pada Voren.


Voren mengerutkan alisnya, memandangi wajahnya yang menjadi sampul majalah tersebut, seketika ia melihat ekspresi mencebik dari Velan yang saat ini ikut memandangi sampul majalah tersebut.


"Istriku, sungguh aku sudah mengatakan pada mereka jangan terlalu disunting secara berlebihan!" tukas Voren.


"Suamiku, aku bahkan belum mengatakan apa-apa," kata Velan.


Voren menyeringai, ia sungguh takut jika Velan ngambek lagi seperti saat pihak editorial majalah langsung memutuskan foto Voren yang akan mereka tampilkan tanpa persetujuan dari Velan.


"Nona Velan, ini draf dari Majalah E sebelum mereka merilis edisi terbaru mereka," Doni menyerahkan amplop untuk Velan.


Velan membuka isi amplop dan memandangi foto-foto yang hendak dipilihnya untuk sampul majalah tersebut.


"Wah, foto-foto mereka bagus sekali, aku bingung memilih yang mana," puji Velan.


"Istriku, aku rasa mereka harus memotret ulang, kau benar-benar terlihat luar biasa cantik!" protes Voren.


"Semua orang bahkan selalu memuji ketampananmu. Apa kau sungguh ingin menampilkan imej-ku sebagai istri yang buruk rupa?" celetuk Velan.


"Tidak, Istriku, maksudku, cantikmu hanya milikku!" Voren langsung merangkul Velan dengan gemas.


"Dan ini laporan penjualan minggu kedua dari semua gerai," Doni menyerahkan tablet pintarnya pada Velan.


"Wah, sepertinya ada kenaikan lima persen dari minggu lalu," komentar Velan.


"Benar, Nona," sahut Doni.


"Istriku, aku sungguh tidak menyangka, kau ternyata pandai berbisnis seperti ini," kata Voren.


"Suamiku, semua ini berkat bantuanmu dan juga Doni yang sudah bekerja keras untuk mewujudkan segalanya," sahut Velan.


Doni mengulas senyumnya, ia benar-benar merasa bangga karena kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang luar biasa. Pasangan suami istri yang memutuskan merintis bisnis, mengembangkan bersama, hingga meraih kesuksesan jelas sangat membanggakan. Siapa yang bisa menduga bahwa Tuan Voren justru sukses menggeluti bisnis kuliner bersama Nona Velan?


Bekerja sambil berkencan, itulah yang memotivasi Voren ketika merintis bisnis kuliner bersama Velan. Hingga akhirnya mereka benar-benar menjadi rekan yang solid.


"Satu hal lagi, Nona Velan, ada tamu untuk Anda."


"Doni, bukankah di jadwalku sudah tidak ada tamu lagi?" tanya Velan.


Doni saling bertukar pandang dengan Tuan Voren yang mengulas senyum misterius.


"Benar, Nona, tapi tamu ini adalah tamu penting untuk Anda," sahut Doni.


"'Velan!" seru Yoyok dan Tomi.


Kedua pria itu langsung menghambur masuk. Velan belum selesai dari keterkejutannya karena melihat kedua kakaknya yang tiba-tiba datang.


Mata Velan tertuju pada sosok pria paruh baya berjalan dengan sebuah tongkat dan wanita paruh baya yang ikut memasuki ruang kerja Velan.


"Ibu! Bapak!" seru Velan langsung menghambur ke arah kedua orang tuanya.


Pak Totok, bapak Velan berhasil sembuh dari penyakit stroke yang dideritanya selama beberapa tahun berkat pengobatan terbaik yang diterima oleh beliau.


Voren mengulas senyumnya, menghampiri kedua orang tua Velan yang menangis haru bersama Velan dan kedua kakak Velan.


Begitu pun dengan Vega yang baru saja tiba bersama kedua kakak Voren, mereka langsung disambut hangat oleh Velan dan keluarganya.


...~...


Dari barisan bangku VIP, Velan menjadi salah satu dari sekian banyak penonton yang bertepuk tangan heboh menyaksikan penampilan dari grup band yang digawangi oleh kedua kakak laki-laki Velan. Vow Band yang saat ini tengah mengadakan pertunjukan konser promosi album perdana mereka.


Velan sungguh terkejut ketika melihat kedua kakaknya mendadak menjadi mega bintang sejak album perdana dari Vow Band rilis di pasaran dan meledak secara tak terduga.


"Kak Taki! Kak Toro!" Velan berseru sambil melambaikan tangannya.


Sekilas Taki dan Toro membalas lambaian tangan Velan. Para penonton langsung bersorak heboh karena mendapat perhatian dari idola mereka.

__ADS_1


"Taki dan Toro melihat ke arahku! Ya, mereka melihatku!" seru Doni bersorak heboh.


Velan menoleh ke arah Doni yang duduk di belakangnya. Begitulah, Doni diam-diam ternyata menjadi penggemar berat Vow Band.


Doni bahkan datang ke konser dengan memakai kaus putih bertanda tangan besar dari empat anggota Vow Band di sisi depan kausnya. Memamerkan kepada semua orang bahwa ia menjadi orang pertama yang mendapat tanda tangan dari personel Vow Band.


Doni sungguh memuji kepiawaian Tuan Voren ketika memutuskan untuk mendanai Vow Band hingga band tersebut mendapat sambutan yang luar biasa di belantika musik tanah air.


Voren segera merangkul Velan ke sisinya.


"Istriku, kakak-kakakmu sungguh keren," bisik Voren .


"Suamiku, mereka menjadi keren karena kau, kan?" tanya Velan.


"Istriku, aku hanya membantu mereka mewujudkan impian mereka karena aku adalah orang yang sangat menghargai orang-orang yang memiliki impian dan mau memperjuangkan impian mereka," jawab Voren.


"Hmm, begitukah?" tanya Velan.


Voren mengulas senyumnya.


"Lantas, apa impianmu?" tanya Velan.


"Impianku adalah membahagiakanmu, Istriku," jawab Voren.


Velan tersenyum dan langsung memberi Voren sebuah ciuman lembut, membuat mereka mengabaikan sorakan penonton.


...~...


"Istriku, ini es krim-mu," Voren menyodorkan es krim rasa stroberi untuk Velan.


"Terima kasih," jawab Velan.


Voren mengajak Velan meninggalkan konser lebih dulu karena Voren merasa kurang nyaman berada di tengah penonton yang jejeritan begitu histeris.


"Kalau kau mau tenang, nonton saja pertandingan tenis!" sungut Velan ketika Voren mengajaknya pergi.


Oleh sebab itu, Voren membelikan Velan satu cup es krim stroberi agar Velan tidak ngambek berlarut-larut.


Sebuah balon berbentuk kepala hello kitty terbang ke arah Voren, dengan sigap ia menangkap balon tersebut. Seorang bocah perempuan berlari ke arahnya.


"Bayon!" seru bocah kecil si pemilik balon tersebut.


"Ini balonmu," Voren berjongkok menyerahkan balon tersebut pada bocah kecil itu.


"Chika!" seorang wanita berlari ke arah bocah kecil itu.


"Unda," bocah kecil itu memeluk erat ibunya.


"'Ya ampun, Sayang! Jantung Bunda mau lepas rasanya!" wanita muda itu.


"Aduh, saya minta maaf, anak saya merepotkan Anda berdua," wanita muda itu menunduk dalam.


"Tidak, anak Anda tidak merepotkan," sahut Velan.


"Terima kasih, tadi saya baru saja akan membayar balon, tiba-tiba Chika sudah kabur," sahut wanita muda itu.


"Sekali lagi saya minta maaf, dan terima kasih," wanita itu berpamitan.


Velan masih tak melepaskan pandangannya dari bocah bernama Chika yang melambaikan tangan ke arahnya. Velan merasa wajah ibu si anak begitu familiar. Entah mengapa ia seakan pernah bertemu dengan wanita muda berparas cantik itu di suatu tempat beberapa tahun yang lalu.


Oh, ibu hamil itu! Batin Velan bersorak karena mengingat siapa wanita itu. Wanita muda yang tempo hari mengutarakan kesedihannya lantaran mengandung tanpa ada sosok suami. Sang kekasih hanya memberi janji palsu untuk menikahi wanita malang itu.


"Rupanya dia sudah besar," ceplos Velan.


"Apa maksudmu, Istriku?" tanya Voren.


"Aku pernah bertemu dengan ibu muda itu ketika ke dokter kandungan. Waktu itu, dia sedang hamil sembilan bulan dan sedikit menceritakan kisah hidupnya padaku," jawab Velan.


Voren tertegun lalu mengulas senyumnya.


"Hmm, begitu ya, itu berarti seandainya Love lahir, pasti sudah sebesar anak itu," Voren mengulas senyum getir.


Sorot kesedihan jelas terpancar di matanya. Sudah dua tahun sejak Velan keguguran, Velan belum kunjung kembali hamil. Jauh di dalam lubuk hati Voren, ia tentu sangat menginginkan kehadiran buah hati yang akan menyempurnakan kebahagiaan mereka.


"Istriku, ada yang ingin kuberikan padamu," kata Voren.


Voren merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak mungil berwarna hitam berbahan beludru. Terdapat sepasang cincin dengan ukiran


mengelilingi sisi luar cincin yang terbuat dari emas putih.


"Ini cincin couple?" tanya Velan.


"Ini cincin kawin kita, sejak kita menikah lagi, kita bahkan tidak memakai cincin kawin," jawab Voren.


"Suamiku, menurutku cincin kawin hanya sekadar simbolis," sahut Velan.


"Ya, tapi aku tidak bisa membiarkanmu terlihat seperti wanita lajang," tukas Voren.


Velan mengulas senyumnya, memerhatikan ukiran cincin itu dengan saksama.


"Ini ukiran apa?" tanya Velan.


"Alfabet Rusia," jawab Voren.


"Hah? Alfabet Rusia?" tanya Velan.


Voren mengangguk.


"Suamiku, jangan sok menggunakan bahasa Rusia, kita bukan orang Rusia! Gunakan bahasa yang mudah dimengerti!" tukas Velan.


"Ya, seperti itulah saat dulu kita berbicara, kita selalu bertengkar setiap kali bicara, seakan aku sedang memakai bahasa Rusia saat bicara denganmu. Kita saling tidak mengerti dan tidak bisa mengerti satu sama lain," kata Voren.

__ADS_1


"Oleh sebab itu, aku termotivasi untuk belajar dan mempelajari bahasa yang kau gunakan supaya kita sama-sama saling memahami. Jadi kalau kita bertengkar lagi, kita gunakan saja bahasa Rusia," lanjut Voren.


Velan mengulas senyumnya ke arah Voren. Voren menyodorkan tangannya, meminta Velan untuk menyematkan cincin kawin di jari manis kanannya.


Velan menyematkan cincin tersebut ke jari Voren, mereka berdua saling berpandangan.


"Kalau harus bertengkar denganmu menggunakan bahasa Rusia, aku lebih baik diam, toh aku tidak bisa berbahasa Rusia!" cibir Velan.


"Nah, itulah tujuanku! Aku tidak mau ada pertengkaran lagi, aku maunya hanya percintaan denganmu!" sahut Voren.


"Dasar gombal!" cibir Velan.


"Haha!" Voren tertawa lepas.


"Suamiku, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," Velan mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya.


"Selamat ulang tahun, Suamiku," kata Velan.


"Istriku, aku rasa ini bukan hari ulang tahunku," Voren menyeringai mengambil kotak itu.


Velan mengulas senyumnya ketika Voren membuka  isi kotak kado tersebut.


Voren tercengang melihat foto hitam putih hasil USG milik Velan. Kehamilan Velan sudah menginjak usia kandungan tiga bulan dan selama ini ia tidak menyadari kehamilannya lantaran tidak ada tanda-tanda kehamilan parah seperti kehamilan pertamanya.


"Istriku!" Voren langsung memeluk erat Velan.


"Kita jaga sama-sama bayi kita," kata Velan sambil menangis haru dalam pelukan Voren.


"Pasti, itu pasti, Istriku!" sahut Voren yang ikut menangis haru.


"Aku sangat mencintaimu, Suamiku," kata Velan.


"Aku juga sangat mencintaimu, Istriku. Terima kasih sudah hadir dan menyempurnakan hidupku," kata Voren.


Velan mengulas senyumnya memandangi Voren yang juga tersenyum begitu tulus padanya. Velan sungguh tak menduga bahwa hidupnya benar-benar berubah sejak bertemu dengan Voren.


Terlintas dalam benaknya saat-saat ketika ia datang ke paranormal bernama Madam Yue untuk mencarikannya jodoh secara instan. Pria lajang yang tidak hanya sekadar tampan, kaya, dan baik, namun juga pada akhirnya sangat mencintai Velan.


Mungkin Velan memang mendapatkan Voren secara instan, namun tidak untuk cinta pria itu. Butuh perjuangan untuk menghadapi drama yang menguras emosi, air mata, dan kewarasan Velan.


Tidak ada hasil yang instan, semua butuh proses dan perjuangan, terutama cinta.


...~...


Bonus Clip


Seorang wanita paruh baya terlihat ragu-ragu saat memasuki ruang kerja seorang peramal bernama Madam Yue yang tersohor akan kemampuannya dalam melakukan perjodohan gaib.


Wanita paruh baya itu mengeluarkan dua lembar foto dari dalam tas tangannya ke atas meja kerja Madam Yue.


"Madam Yue, anak saya ini berencana untuk menikah dengan pria ini," wanita paruh baya itu menunjuk foto seorang pria berkacamata.


Madam Yue nampak memasang ekspresi datar.


"Bagaimana, Madam Yue, apakah keduanya berjodoh?" tanya wanita itu lagi.


"Kalau dilihat dari mata batin saya, tidak ada energi yang saling tarik menarik di antara keduanya, kalau pun mereka dipaksakan berjodoh melalui perjodohan gaib, saya tidak akan menjamin kebahagiaan mereka," jawab Madam Yue.


"Apa maksud Anda, Madam Yue?" tanya wanita itu lagi.


"Saya hanya melihat kegelapan pada pria ini," jawab Madam Yue.


"Terserah Anda, mau percaya saya atau tidak. Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat," ujar Madam Yue.


Ekspresi wajah wanita paruh baya itu seketika berubah menjadi cemas.


"Bagaimana ini, Madam Yue, mereka bahkan akan melangsungkan pernikahan bulan depan," tukas wanita paruh baya itu sambil menautkan semua jarinya.


"Anda harus membatalkannya, demi kebaikan anak Anda," tukas Madam Yue.


Wanita paruh baya itu menunduk, semua peramal yang sudah ditemuinya mengatakan hal yang sama. Kalau pun salah, tidak mungkin mereka salah berjama'ah seperti ini kan?


Membatalkan pernikahan anak perempuannya dengan pria itu adalah keharusan demi kebaikan anak perempuan kesayangannya.


...~...


Oke pembaca setia...


Terima kasih banyak sudah membaca karya Jodoh Instan sampai di episode ini.


Di episode ini author juga kasih spoiler untuk karya author yang selanjutnya yang berjudul Lelaki Jaminan.


Daripada penasaran, yuk langsung kepo kepo.


Sampai jumpa di lapak selanjutnya..


💜💜💜💜💜


Bonus visual Voren dengan rambut ungunya.



( Source : internet )


Bonus visual Velan yang berbahagia.



( Source : internet )


Ini visualisasi author ya, terserah pembaca mau membayangkan siapa. Mau membayangkan diri sendiri juga monggo. Tetangga sebelah boleh, gebetan, pacar, suami, selingkuhan, berondong simpanan, berondong tua, ayuk ajalah.

__ADS_1


Saranghae borahae 💜💜💜💜💜


__ADS_2