
Gedung Emperor Grup di pagi hari nampak dipenuhi karyawan yang memulai aktivitas di perusahaan raksasa tersebut. Emperor Grup merupakan perusahaan besar yang mengelola multibidang. Mulai dari sektor pertambangan, perkebunan, perikanan dan kelautan hingga pangan dan obat-obatan.
Keluarga Lazaro merupakan pemegang saham utama pada perusahaan tersebut. Saat ini posisi presiden direktur dipegang langsung oleh Alren Lazaro yang tak lain adalah ayah kandung dari Voren Lazaro. Pria berusia lebih dari enam puluh tahun itu merasa sudah waktunya untuk memasuki masa pensiun dan memilih untuk menjadi dewan komisaris saja. Oleh karena itu dibutuhkan pengganti Alren untuk mengisi posisi presiden direktur.
Banyak kandidat yang bersaing untuk memperebutkan posisi sebagai presiden direktur. Mulai dari perwakilan para pemegang saham hingga pemegang saham itu sendiri.
Voren menjadi salah satu kandidat yang harus bersaing untuk merebutkan tampuk kekuasaan itu. Hanya saja jalan yang harus ditempuh oleh Voren tidaklah mudah lantaran adanya seorang kandidat lain yang dianggap jauh lebih kompeten dibandingkan dengan Voren.
Adalah Daren Won, seorang pria tampan yang menjadi idola semua karyawan wanita di Emperor Grup. Pria tampan, lajang, dan cemerlang yang menjabat sebagai direktur operasional yang sangat diakui sepak terjangnya.
"Selamat pagi, Pak Daren," sapa para pegawai menyambut kehadiran pria tampan itu.
"Selamat pagi," sapa Daren sambil mengulas senyum yang membuat siapapun pasti berdebar.
"Selamat pagi, Pak Daren," sapa Dinar, sekretaris Daren.
"Selamat pagi, Dinar," sapa Daren.
Daren segera menuju ke area lift, matanya menangkap sosok Voren yang nampak menatap ke arahnya. Voren terlihat mengamati penampilan Daren dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Selamat pagi, Voren," sapa Daren.
"Daren, kenapa kau jarang memakai dasi?" tanya Voren dengan tatapan skeptis.
Daren mengulas senyumnya menatap Voren yang memang selalu memerhatikan penampilannya.
"Apa kau ingin memamerkan jejak cinta yang kutinggalkan?" tanya Voren dengan nada mengejek, namun bagi yang mendengarnya lebih terdengar seperti nada menggoda.
"Haha," Daren tertawa mendengar ejekan Voren.
"Doni, dasi," kata Voren.
Doni dengan sigap mengambil dasi cadangan yang selalu ada di tas kerja Voren. Voren langsung mengalungkan dasi ke leher Daren.
"Daren, aku rasa aku sudah meminjamkan lebih dari satu lusin dasi untukmu," kata Voren.
"Benarkah sudah sebanyak itu?" tanya Daren keheranan.
"Huum," sahut Voren.
Daren mengulas senyumnya, ia tidak ingat karena ia bahkan tidak menghitung sudah berapa kali Voren memasangkan dasi untuknya.
"Daren, kau pasti tahu, hari ini ada rapat penting dengan dewan komisaris," kata Voren sambil memasangkan dasi untuk Daren.
__ADS_1
"Ya, aku tahu, apa kau sudah mempersiapkan diri?" tanya Daren sambil menatap lurus Voren.
"Tentu saja, aku siap kapan saja untuk mengisi kursi presiden direktur," jawab Voren sambil tersenyum.
"Berdoalah yang banyak, semoga dewan direksi bisa mempertimbangkan untuk memilihmu," kata Daren sambil tersenyum.
Voren masih tersenyum, menarik simpul dasi dengan kencang, Daren tersentak kaget. Voren jelas sengaja melakukannya lantaran merasa kesal dengan perkataan Daren.
"Selesai," kata Voren.
"Terima kasih, Voren," Daren melonggarkan ikatan dasi yang begitu kencang, membuat lehernya seakan tercekik.
Voren, Doni, Daren, dan Dinar segera memasuki lift.
Terlihat para karyawan berkasak-kusuk heboh begitu pintu lift tertutup.
"Lihat, pagi ini Tuan Voren dan Pak Daren nampak senantiasa mesra," kata mereka.
"Hush, cukup tahu saja!" sahut yang lain.
...~...
"Oh ya, ngomong-ngomong, selamat atas pernikahanmu Voren, maaf aku tidak datang karena masih ada urusan di luar kota," kata Daren.
"Haha," Daren tertawa lagi.
"Pernikahanmu begitu mendadak, makanya aku belum mempersiapkan kado untukmu," kata Daren.
"Kalau begitu berikan saja kursi presiden direktur sebagai kado pernikahanku!" kata Voren.
"Haha," Daren tertawa lagi.
"Tuan, kita sudah sampai," kata Doni begitu lift terhenti di lantai tujuannya.
"Baiklah, sampai jumpa di rapat nanti, Daren," Voren mengedipkan sebelah matanya sebelum keluar dari lift.
Daren tertawa lagi, dasar pria itu.
Dinar menyembunyikan senyumnya. Ia memang selalu menaruh curiga pada Voren Lazaro yang sepertinya memang bukan hanya sekadar rekan sekaligus saingan atasannya itu.
...~...
Voren memasuki ruang kerjanya. Ia segera duduk di belakang meja kerja. Dengan kekesalan yang menumpuk, ia menggusur semua benda yang ada di meja kerjanya. Semua dokumen langsung jatuh berserakan di lantai. Doni memutar bola matanya, lagi-lagi ia harus merapikan meja kerja atasannya itu.
__ADS_1
"Kesal! Kesal! Kesal!" geram Voren sambil memukul meja kerjanya.
"Aduduh sakit!" keluhnya sambil mengibaskan kedua tangannya ke udara.
"Kesal sekali aku, Doni! Daren terang-terangan memprovokasiku seperti itu! Dasar laki-laki terkutuk!" geram Voren lagi.
"Bisa-bisanya dia mengatakan hal menggelikan seperti itu! Sungguh rasa percaya diri yang memuakkan! Kursi presiden direktur sudah ditakdirkan untukku, Doni," kata Voren masih meluapkan emosinya.
Doni hanya diam dan mendengarkan atasannya itu mengeluarkan semua unek-unek dalam benaknya. Perebutan kursi presiden direktur memang sangat ketat. Bagi Doni, meski Tuan Voren adalah anak dari Tuan Alren Lazaro, tidak menjamin bahwa Tuan Voren bisa meraih kursi kebesaran tersebut.
"Tuan, Anda jangan lupa kenyataan bahwa Pak Presdir sendiri memiliki kecenderungan lebih berpihak pada Tuan Daren," kata Doni.
"Itulah kenapa aku kesal dengan pria tua bangka itu, Doni! Bisa-bisanya dia lebih berpihak pada Daren! Apa bagusnya sih Daren itu?! Aku bahkan lebih tampan darinya! Dia bahkan tidak punya dua lesung pipi menggemaskan sepertiku!" rutuk Voren.
Doni kembali memutar bola matanya.
Ketampanan dan punya dua lesung pipi menggemaskan tidak cukup untuk membuat Anda menjadi presdir, Tuan Voren, batin Doni.
Doni sendiri menyadari bahwa Daren memang lebih kompeten dibandingkan dengan Tuan Voren. Mereka semua memandang Tuan Voren hanya karena beliau adalah anak dari Tuan Alren Lazaro. Satu-satunya calon penerus tahta keluarga Lazaro. Namun kehadiran Daren tentu menjadi kuda hitam yang tak bisa diremehkan oleh Voren.
Doni memunguti semua dokumen yang berseraķan di lantai, setiap kali meluapkan kekesalannya, Tuan Voren pasti akan menghambur semua benda yang ada di meja kerjanya.
"Tuan, saat ini yang terpenting bagi kita adalah menunjukkan kepada dewan komisaris bahwa Anda lebih layak mengisi posisi kursi presiden direktur, saya pasti akan mendukung Anda, Tuan," kata Doni.
"Ya, aku tahu, Doni, aku tak perlu meragukan loyalitasmu, masalahnya sekarang adalah Daren! Daren yang begitu sempurna itu begitu diagung-agungkan oleh para dewan direksi yang mendukungnya!" keluh Voren.
"Tuan, menurut saya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, dan menurut saya, orang multitalenta macam Tuan Daren pasti ada kekurangannya, kita hanya perlu mencari kekurangan tersebut untuk dijadikan senjata demi menjatuhkan Tuan Daren di mata para dewan komisaris," Doni mengutarakan pendapatnya.
"Apa maksudmu, Doni?" tanya Voren keheranan.
"Maksud saya, kita hanya perlu mencari beberapa kesalahan fatal yang dilakukan oleh Tuan Daren, misalnya dengan memeriksa secara saksama proyek-proyek besar yang digarap oleh beliau. Saya bahkan sudah mulai menemukan beberapa kejanggalan yang menjadi temuan pihak auditor eksternal yang selama ini ternyata dirahasiakan oleh pihak tim sukses Tuan Daren," jawab Doni panjang lebar.
"Wah, wah, apa maksudmu Daren melakukan kampanye hitam, begitu?" tanya Voren.
"Benar Tuan, tim sukses kita sudah diam-diam mengumpulkan bukti-bukti yang kiranya dapat menjadi kelemahan Tuan Daren," jawab Doni lagi.
"Menarik! Sangat menarik!" Voren bertepuk tangan.
"Aku sudah bisa mencium aroma-aroma kemenanganku, Doni," Voren terkekeh.
"Anda tenang saja Tuan, saya akan mengurus penyelidikan tersebut, sekarang Tuan fokus saja pada pekerjaan yang ada," kata Doni.
...~...
__ADS_1