
Velan teringat satu hari sebelum hari pernikahannya tepatnya kemarin siang, Velan mendatangi pusat perawatan tubuh kelas premium. Sebagai orang yang tak pernah menjajal tempat mewah macam itu tentu saja datang ke tempat perawatan tubuh tersebut menjadi hal yang baru dalam hidup Velan.
Pusat perawatan tubuh itu benar-benar berbeda dengan tempat-tempat pijat dan lulur harga terjangkau. Dari tempatnya saja sudah begitu mewah. Lobinya bahkan setara dengan lobi hotel berbintang lima.
"Reservasi atas nama Velan," kata Velan saat mendatangi resepsionis berparas ayu dengan kulitnya yang bersih dan terawat.
"Mbak Velan, reservasi untuk paket komplit pengantin ya?" resepsionis itu tersenyum ramah pada Velan.
"Be-benar," jawab Velan ragu-ragu.
Sungguh Velan hanya diminta Bu Vega untuk datang ke pusat perawatan tubuh, ia sama sekali tidak tahu menahu masalah perpaketan tersebut.
"Ini kunci loker pakaian anda, silahkan langsung ke lantai tiga," kata resepsionis itu menyerahkan sebuah kunci kecil untuk Velan.
Velan segera mengganti sepatunya dengan alas kaki yang di siapkan oleh petugas penjaga loker sepatu. Ia segera menaiki tangga menuju ke lantai tiga. Suasana koridor yang begitu temaram, wewangian yang memanjakan hidung, dan lantunan musik lembut mengiringi langkah Velan. Begitu tiba di lantai tiga, seorang wanita muda memandu Velan untuk menuju ke ruangan loker, menyerahkan pakaian ganti untuk Velan lalu mempersilakan Velan mengganti pakaiannya dengan jubah mandi yang telah disiapkan.
Seorang terapis segera menghampiri Velan dan mengajak Velan untuk masuk ke bilik pijat sebagai tahap pertama perawatan tubuhnya. Velan benar-benar merasa ia menjadi wanita yang akan disuguhkan dalam rangka melayani seorang raja. Kulitnya yang nampak seperti sisik naga itu mendadak berkilau usai mendapatkan perawatan tubuh kelas premium. Semua bulu yang ada ditubuhnya pun dipangkas habis-habisan.
"Silahkan duduk di atas kursi ini Mbak," kata terapis pada Velan.
Velan mengerutkan keningnya melihat kursi yang bagian dudukannya bolong, dibawahnya nampak menyala bara api beraroma rempah dalam wadah tembikar kecil.
__ADS_1
"I-ini apa?" tanya Velan.
"Ini namanya ratus ****** Mbak," jawab terapis itu ramah.
"Waduh, diasapi begitu nanti jadi daging asap dong Mbak?!" Velan bergidik ngeri.
"Tidak Mbak, aman ini Mbak! Ayo Mbak, supaya malam pertamanya lancar jaya," kata terapis itu lagi.
Velan menyeringai, ia segera duduk di atas kursi dan membiarkan bagian bawah tubuhnya diasapi macam daging asap.
"Mbak, mohon maaf sebelumnya, sudah pernah berhubungan atau belum?" tanya terapis itu lagi.
"Hah?" Velan keheranan.
Terapis itu tersenyum.
"Saya akan memberi kelas kilat memuaskan pria yang menjadi paket pra pernikahan Mbak," kata terapis itu lagi.
"Se-serius yang seperti itu di pelajari juga Mbak?" tanya Velan.
Terapis itu tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Mbak, logikanya begini, semua orang bisa membuat bakso, resep sama, takaran sama, tapi kenapa rasanya bisa beda? Nah itu biasanya rahasia perusahaan! Oleh karena itu, saya disini bertugas membagi rahasia khusus untuk calon pengantin yang mengambil paket pra pernikahan. Jadi kasarannya ya Mbak, tidak hanya asal dicoblos saja," kata terapis itu terkekeh.
***
Velan mencoba mempraktekan hasil pendidikan kilatnya dalam rahasia memuaskan suami di malam pertama berdasarkan rahasia yang dibagikan oleh terapis yang nampaknya sudah malang melintang di dunia perlendiran.
Velan menerkam leher jenjang suaminya yang memiliki kulit seputih susu dan semulus porselen dari negeri Tirai Bambu. Aroma sabun mewah benar-benar menggoda jiwa manusia yang menggoyahkan keimanan.
Sementara itu Voren menegang mendapat serangan mendadak yang membuat pikirannya tak mampu mengendalikan bagian tubuhnya yang mulai menegang.
"I-istriku jangan!" Voren mendorong Velan menjauh darinya.
Mereka berdua sama-sama jatuh terguling dari kasur ke sisi yang berbeda.
"Aduhh", mereka berdua mengaduh bersamaan.
Voren sungguh tak habis pikir, bagaimana mungkin istrinya menyerangnya seperti itu. Sungguh berbahaya!
Voren segera kembali naik ke kasur, ia melihat Velan yang masih nampak telungkup di atas karpet bulu tebal.
"Istriku, aku minta maaf, tapi aku sungguh tak bisa dan tak biasa disentuh wanita," kata Voren segera kembali merebahkan diri dan menarik selimut tebal itu.
__ADS_1
Sedangkan Velan diam-diam meneteskan air mata lantaran menahan rasa malu atas tindakan brutal yang baru pertama kali ia lakukan seumur hidupnya.