Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E64


__ADS_3

Velan mengaduk-aduk es kopi dalam gelasnya, ia menunggu dengan sabar sambil mendengarkan musik yang mengalun lembut di salah satu kedai kopi yang nampak sepi. Ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela besar, menatap hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu lalang di depan kedai kopi tersebut.


Doni melangkah masuk ke dalam kedai kopi, ia segera menghampiri seorang wanita yang sedang duduk mengisi meja kosong yang berada tepat di samping jendela besar.


"'Maaf saya datang terlambat, karena tadi masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, Nona Velan," kata Doni menjelaskan begitu ia duduk dengan tenang di kursinya.


Doni mengamati ekspresi datar wanita di hadapannya. Sudah sebulan lebih mereka tidak saling bertemu sejak wanita itu memutuskan untukĀ  pergi dari apartemen Tuan Voren. Wanita itu sudah mantap untuk berpisah dari Tuan Voren. Sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.


"Bagaimana kabar Anda, Nona?" tanya Doni.


"Bagaimana menurut penglihatan Anda?" Velan balik bertanya.


"Anda terlihat baik-baik saja," jawab Doni.


Velan menyeruput es kopinya, matanya tertuju pada amplop yang saat ini dikeluarkan oleh Doni dari dalam tas kerja pria itu.


Doni merasa berat saat mengeluarkan amplop tersebut, namun ini sudah menjadi tugasnya.


"Nona Velan, ini dokumen akta perceraian Anda dan Tuan Voren," kata Doni menyodorkan amplop tersebut.


Velan mengambil amplop itu dan memeriksa isinya. Terdapat sebuah akta perceraian dan sebuah amplop putih. Amplop putih itu berisi selembar cek kosong yang sudah ditandatangani oleh Voren.


"Pak Doni, apa maksud cek kosong ini?" tanya Velan.


"Tuan Voren meminta Anda untuk mengisi sendiri besaran nominal yang Anda inginkan sebagai bentuk kompensasi perceraian, Nona," jawab Doni.


"Apa?!" Velan terperangah.


Doni menatap lurus ke arah wanita yang saat ini memasang ekspresi kesal ke arahnya.


"Ini keputusan Tuan Voren, Nona," jawab Doni.


"'Tidak! Aku tidak bisa menerimanya!" tolak Velan.


"Nona Velan, Anda harus menerimanya sebagai bentuk kompensasi berdasarkan surat perjanjian perceraian kalian," kata Doni.


"Jika memang mengacu pada surat perjanjian sebelumnya, nominal yang tertera harusnya sesuai dengan surat perjanjian itu!" tukas Velan.

__ADS_1


"Nona Velan, Tuan Voren mengubah besaran nominal dana kompensasi untuk Anda," kata Doni.


"Apa?! Kenapa dia melakukannya?" tanya Velan.


"Karena bagi Tuan Voren, Anda begitu berharga," jawab Doni.


"Lalu ini," Doni menyodorkan sebuah amplop lain ke arah Velan.


"Ini adalah surat kepemilikan apartemen Tuan Voren yang sudah dibalik nama menjadi nama Anda, ini kunci mobil beserta surat-surat atas nama Anda, juga surat-surat dari satu komplek ruko di pusat kota yang menjadi milik Anda, untuk mengembangkan usaha Anda, Nona Velan," kata Doni menjelaskan.


Velan terperangah mendengar penjelasan Doni. Apa tidak salah pria itu memberikan materi yang begitu berlebihan untuk Velan?


"Pak Doni, saya rasa ini terlalu berlebihan! Saya tidak bisa menerimanya!" sahut Velan.


"Kenapa Anda tidak bersedia menerima kemurahan hati Tuan Voren?" tanya Doni.


Velan menyeruput kembali es kopinya sebelum menjawab pertanyaan dari Doni.


"Saya tidak bisa menerimanya karena saya merasa tidak pantas untuk menerimanya! Lagipula saya tidak ingin terkesan seperti orang yang merampok mantan suaminya," jawab Velan.


"Nona Velan, mengapa Anda bersikeras meminta perceraian? Apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Daren?" tanya Doni.


"Pak Doni, sungguh, keputusan saya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Daren!" kata Velan dengan tegas.


Velan menatap skeptis ke arah Doni.


"Pak Doni, Anda jangan pura-pura lupa! Anda datang menemui saya dengan membawa dokumen pengurusan perceraian dan surat perjanjian pasca perceraian! Saya hanya bersikap sportif dengan memenuhi perjanjian itu!" jawab Velan.


"Tapi Nona, perceraian kalian justru menunjukkan bahwa Anda dan Tuan Daren memang memiliki hubungan!" kata Doni.


"Huh! Kenapa semua orang begitu heboh mempermasalahkan hubunganku dengan Daren? Sedangkan kalian tidak mempermasalahkan hubungan antara Voren dan Soraya!" sergah Velan.


"Nona Velan, tidak ada yang mempermasalahkan hubungan antara Tuan Voren dan Soraya karena mereka tidak memiliki hubungan romantis seperti yang Anda pikir!" kata Doni.


"Tuan Voren memang mencintai dan menginginkan Soraya, namun beliau harus bertepuk sebelah tangan!" lanjut Doni.


Doni menatap Nona Velan yang terlihat memasang ekspresi datar sambil menyeruput es kopinya.

__ADS_1


"Nona Velan, saya sungguh minta maaf. Seandainya saja, saat itu saya bersikap lebih tegas kepada Tuan Voren, masalah ini pasti tidak akan terjadi," kata Doni.


"Pak Doni, sungguh Anda jangan menyalahkan diri sendiri! Lagipula hal itu sudah berlalu dan tetap tak akan memengaruhi keputusan yang sudah saya buat!" kata Velan.


"Nona Velan, mengapa Anda tidak memberi kesempatan kepada Tuan Voren untuk memulai kembali hubungan kalian demi menyelamatkan pernikahan kalian?" tanya Doni.


Velan mengaduk-aduk es kopinya dengan sedotannya, Doni masih mengawasi wanita yang benar-benar luar biasa keras kepala. Sungguh benar-benar sama persis seperti Tuan Voren.


"Pak Doni, jika saya memberi kesempatan kepada Voren untuk menyelamatkan pernikahan kami, itu artinya saya memberinya kesempatan lagi untuk menyakiti saya kan?" kata Velan.


"Nona Velan, apa maksud Anda?" tanya Doni.


Velan mengulas senyum getir ke arah Doni. Entahlah pria ini pura-pura bodoh, pura-pura tidak tahu, ataukah memang tidak berperasaan.


"Voren pada awalnya bersikeras menceraikan saya demi Soraya, namun kini ia ingin kembali hanya karena Soraya tidak ada di sisinya. Logikanya, itu berarti Voren hanya menjadikan saya sebagai pengisi kekosongan, pelarian, ataukah sekedar pelampiasan saja?!"


"Voren hanya mencintai Soraya, wanita yang sudah dicintainya sejak lama, meski kau mengatakan bahwa Voren hanya bertepuk sebelah tangan, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa Voren hanya mencintai wanita itu! Jika saya hadir hanya sebagai pengisi kekosongan, pelarian, dan pelampiasan yang diberi kebahagiaan, itu artinya kebahagiaan yang saya dapat hanyalah kebahagiaan semu!" lanjut Velan.


"Ketika suatu hari Soraya kembali, apakah itu artinya saya harus menyerahkan kebahagiaan saya kepada Soraya secara sukarela?"


Doni terdiam mendengar cecaran dari Nona Velan. Yah, ini bukan pertama kalinya ia mendengar cecaran dari wanita itu.


"Memangnya siapa yang bisa menjamin bahwa Voren akan memilih saya daripada Soraya? Toh sudah jelas pria itu tetap akan memilih Soraya yang ia cintai daripada saya!"


"Anda pasti akan menolak dengan dalih bahwa Anda tidak ingin mencampuri urusan pribadi atasan Anda ketika saya meminta Anda untuk berpihak kepada saya! Tidak akan ada yang berpihak pada saya jika sudah berurusan dengan Soraya!"


Jika rasa bersalah bisa diukur dengan termometer suhu, saat ini rasa bersalah Doni benar-benar bisa membuat termometer digital itu error.


"Anda jangan hanya memikirkan masalah reputasi Voren, harusnya Anda juga mempertimbangkan bagaimana perasaan saya! Saya ini manusia yang punya hati dan perasaan!" lanjut Velan.


"Baik Nona, saya mengerti," kata Doni. "Tapi Nona, Anda harus menerima kompensasi yang diberikan oleh Tuan Voren! Beliau sungguh ingin agar Anda hidup dengan baik dan berkecukupan!" lanjut Doni.


"Pak Doni, kompensasi yang harusnya saya terima adalah nominal yang tertera pada surat perjanjian perceraian!" kata Velan dengan tegas.


"Semua harus kembali sesuai dengan surat perjanjian perceraian yang sudah kalian berikan kepada saya!"


Doni mengulas senyumnya sambil diam-diam melemparkan pandangan ke arah seseorang yang sedari tadi mencuri dengar dari sisi meja lain. Pria bertopi hitam yang sedari tadi menunduk agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali Doni.

__ADS_1


...~...


__ADS_2