Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E03


__ADS_3

Ketegangan jelas tercipta antara Velan dan Doni. Velan melemparkan tatapan penuh intimidasi pada Doni. Keduanya seakan saling menodongkan pedang panjang ke leher masing-masing.


Doni jelas bisa melihat amarah yang meletup-letup dari tatapan mata Nona Velan yang menatapnya dengan penuh rasa kesal dan kebencian yang harus ditutupinya dengan baik.


Doni mengulas senyum ramahnya, Nona Velan jelas bukan wanita yang bodoh dan bisa dibodohi. Hingga kini Doni pun masih bertanya-tanya, bagaimana Nona Velan bisa mengetahui tentang Soraya?


Sungguh wanita yang tidak terduga.


"Kalau menurut saya, dana kompensasi yang diberikan Tuan Voren merupakan bentuk kemurahan hati beliau pada Anda. Anda sudah pernah menjadi istri dari seorang pria hebat seperti Tuan Voren. Jika Anda mendapatkan jodoh dan menikah lagi dengan orang lain, belum tentu Anda bisa mendapatkan pria sempurna seperti Tuan Voren," kata Doni memberi pembelaan pada Tuan Voren karena merasa Nona Velan merendahkan atasannya itu.


"Wah Pak Doni, harga diri saya begitu terluka mendengar perkataan Anda! Anda mengatakan hal seperti itu seakan saya ini nantinya akan jadi janda yang tidak laku saja!" Velan tertawa nyinyir.


"Nona Velan, maaf, tapi menurut saya pribadi, sungguh Anda benar-benar wanita yang beruntung karena pernah menikah dengan pria sebaik Tuan Voren," kata Doni.


"Pak Doni, sebaik-baiknya laki-laki di muka bumi ini adalah laki-laki yang menghargai istrinya dan tidak melakukan perselingkuhan dengan wanita lain," lanjut Velan.


"Istriku!" terdengar suara Voren menyela perdebatan antara Doni dan Velan.


Voren yang sedari tadi mendengarkan perdebatan antara asistennya dengan calon mantan istrinya dari depan pintu kamar tentu saja merasa harus meluruskan perdebatan tersebut.


"Berapa kali harus kukatakan padamu, aku tidak melakukan perselingkuhan! Aku mencintai Soraya selama lima belas tahun, dan sudah sewajarnya aku memperjuangkan cintaku! Betapa setianya aku menunggu Soraya! Dan menurutku, justru kehadiranmulah yang mendadak, bagaikan jelangkung!" kata Voren.


"Haha," Velan tertawa dengan tawanya yang dibuat-buat. "Lima belas tahun? Kau mencintai Soraya atau kredit rumah?!"


Doni tercengang karena Nona Velan begitu berani terang-terangan mengejek Tuan Voren.


"Istriku, tak pantas kau menertawaiku seperti itu! Sungguh tidak sopan!" tandas Voren.


"Maaf, aku hanya merasa lucu saja, seorang peselingkuh sepertimu mengaku setia!" Velan tergelak lagi.


Nona Velan, tolong berhenti tertawa! Jangan jadikan Tuan Voren sebagai bahan candaan Anda, Doni memohon dalam hati.

__ADS_1


"Ehem," Voren berdeham menutupi rasa kesalnya.


"Tuan Voren, sepertinya sungguh tidak sopan juga Anda masih memanggil saya sebagai istri, sedangkan kita sudah akan bercerai! Nanti calon istri baru Anda cemburu jika Anda masih memanggil saya sebagai istri!" Velan berhenti tertawa.


"Jadi kapan kita akan bercerai?" Velan melemparkan tatapannya pada Voren.


Velan melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya menantang.


"Anda pasti sudah tidak sabar untuk menggelar resepsi pernikahan Anda dan Soraya! Tenang saja, saya akan berbesar hati untuk datang ke acara resepsi pernikahan kalian jika Anda mengundang saya!" kata Velan.


"Saya juga tidak akan sungkan untuk menyumbangkan satu-dua lagu sebagai hadiah! Katakan pada saya, kapan pesta pernikahan kalian, sehingga saya bisa menyiapkan lagu yang tepat dari sekarang," Velan mengulas senyum dinginnya.


Voren benar-benar harus mati-matian menahan rasa kesal. Wanita ini benar-benar memprovokasi dan memancing kemarahannya.


Mengejek Voren dengan ejekan-ejekan tentang pernikahannya dengan Soraya yang hanya bisa menjadi dongeng.


Nona Velan, tolong tutup mulut Anda! Hentikan omong kosong Anda mengenai pernikahan Tuan Voren dan Soraya! Doni melotot ke arah Nona Velan, berharap telepatinya bisa tersampaikan.


"Ah ya, dia harus tinggal bersama kita, agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi! Dan saya pun juga tidak perlu mencuci pakaian dalam Anda lagi, karena sudah ada Soraya yang akan melakukannya!" lanjut Velan.


"Oh, tapi saya rasa kurang baik tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan ya? Hmm, bagaimana Tuan Voren, lebih baik kita segera bercerai, sehingga Anda bisa segera naik pelaminan dengan Soraya!" kata Velan lagi.


Voren mengulas senyum tentu saja dalam hati ia mengumpat dengan begitu kesalnya.


"Sebegitu inginnya kah kau mendapatkan uang kompensasi perceraian kita?" tanya Voren.


"Ya! Saya ingin mendapat uang kompensasi itu!" jawab Velan dengan tegas.


"Saya berhak mendapatkan uang itu, karena selama kita menikah, saya bahkan tidak pernah mendapatkan hak saya sebagai seorang istri!" lanjut Velan.


"Hak?" Voren mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ya, saya tidak mendapatkan hak saya sebagai seorang istri, saya tidak diberi nafkah lahir, apalagi nafkah batin! Sehingga saya berhak mendapatkan uang kompensasi itu!" Velan menjelaskan.


"Anda bahkan begitu bermurah hati pada Soraya dengan membelikan Soraya kalung dan anting berlian edisi terbatas dari salah satu rumah mode ternama Eropa sebagai hadiah! Saya yang jelas-jelas istri sah Anda, hanya bisa mendapat sakit hati saja!" lanjut Velan.


Doni terperangah mendengar perkataan wanita itu.


Nona Velan bahkan sampai tahu tentang kalung dan anting berlian edisi terbatas yang sudah susah payah dipesan oleh Doni.


Apakah Nona Velan adalah seorang detektif?


Doni hanya bisa mengelus dada melihat Nona Velan yang benar-benar menantang kesabaran Tuan Voren.


"Saya butuh dana kompensasi itu untuk mendapatkan kebahagiaan! Anda bahkan sudah begitu berbahagia dengan wanita idaman Anda yakni Soraya, sehingga saya juga berhak berbahagia dengan pria idaman lain saya kan?!" kata Velan sambil mengulas senyum penuh kemenangan.


"Haha!" Voren tertawa dengan tawa yang dibuat-buat.


"Pria idaman lain? Yang benar saja, apa kau sama sekali tidak pernah bercermin?" tanya Voren.


"Pria gila mana yang tertarik pada wanita sepertimu?! Ah ya, pria itu kalau tidak gila, berselera buruk, dia pasti pria yang tidak normal!" Voren menyeringai ngeri.


"Ahaha!" Velan tertawa dengan tawa yang dibuat-buat.


"Tuan Voren, terus terang saya katakan pada Anda bahwa saya sudah punya pria idaman lain! Saya tidak akan sembunyi-sembunyi seperti yang selama ini Anda lakukan di belakang saya!" kata Velan.


"Jadi, tidak perlu menunda-nunda perceraian kita, karena saya sudah menemukan kebahagiaan saya sendiri!" lanjut Velan.


Velan mengulas senyum penuh kemenangan ke arah Voren yang nampak memasang ekspresi datar. Dalam hati, Velan tentu saja merasa telah melakukan kebodohan dengan mengarang kebohongan tentang adanya pria idaman lain.


Velan hanya berharap dengan provokasinya ini, ia akan mendapatkan dana kompensasi yang bisa digunakannya untuk melunasi utang-utangnya. Hanya cara inilah yang saat ini menjadi satu-satunya harapan Velan. Cara instan untuk mendapatkan uang kaget daripada harus melakukan ritual pesugihan babi ngepet ataupun peternakan tuyul.


...~...

__ADS_1


__ADS_2