Jodoh Instan

Jodoh Instan
S2 - E29


__ADS_3

Velan mengawasi pria yang masih menatapnya. Velan jelas harus berhasil melakukan negosiasi ini. Pria di hadapannya ini jelas merupakan pria paling potensial yang bisa ditemukan oleh Velan. Meminta bantuan kepada pria yang benar-benar sempurna untuk menjadi kekasih bayarannya. Pria tampan, mewah, dan berkelas.


"Kenapa Anda meminta bantuan saya, Nona? Kita bahkan tidak saling mengenal," kata pria itu.


Velan menghela napas berat.


"Tuan, jujur saja, suami saya itu orang yang memiliki ketampanan di atas rata-rata seperti Anda ini! Belum lagi tingkat narsisnya yang lebih tepat disebut sebagai megalomania! Jika saya meminta bantuan kepada pria yang dari segi penampilan tidak selevel dengannya, dia pasti akan menjadikan saya sebagai bahan ejekannya seumur hidup saya," Velan mengutarakan alasan yang kiranya bisa diterima akal sehat.


Jika narsis adalah kondisi di mana seseorang mengagumi diri sendiri secara berlebihan, maka megalomania adalah kondisi mengagumi diri sendiri secara berlebihan dan meminta orang lain untuk ikut mengagumi secara masif.


Pria tampan itu mengulas senyumnya.


"Lagipula, bagi saya meminta bantuan kepada orang yang profesional seperti Anda tentu lebih baik daripada meminta bantuan kepada pria-pria amatir! Jika Anda tidak mengenal saya, bukankah kita bisa saling memperkenalkan diri?" lanjut Velan.


Kedua alis pria itu saling bertaut.


"Nama saya Velan," kata Velan akhirnya memperkenalkan diri.


Pria itu menatap Velan dengan saksama, Velan bahkan mengeluarkan kartu tanda penduduk dari dompetnya.


"Kenapa Anda mengeluarkan KTP?" tanya pria itu.


"Bukankah Anda ingin agar kita saling mengenal? Di KTP sudah tertera informasi yang kiranya cukup untuk membuat kita saling mengenal, ada nama lengkap, tempat tanggal lahir, alamat domisili, pekerjaan, golongan darah hingga status perkawinan!" jawab Velan diplomatis.


Pria tampan itu mengulas senyumnya. Sepertinya wanita ini salah mengartikan makna "mengenal" yang dimaksud oleh pria itu.


Pria itu mengambil KTP Velan dan membacanya.


"Status perkawinan Anda masih belum kawin," kata pria itu.


"Tuan, pernikahan saya begitu singkat! Belum sempat saya memperbaharui data, saya sudah akan bercerai!" kata Velan.


"Daripada repot mengganti KTP, apalagi proses pembaharuan KTP elektronik memakan waktu cukup lama, makanya saya belum memperbaharui data kependudukan saya, tapi saya ini warga negara yang baik kok, apa perlu saya lampirkan salinan SKCK dari kepolisian yang masih berlaku?" tanya Velan.


Pria tampan itu berusaha menahan tawa, wanita di hadapannya ini benar-benar sangat unik dalam melakukan negosiasi.


"Tuan, jika menurut Anda ini masih kurang, saya akan melakukan apa saja untuk Anda," kata Velan.

__ADS_1


"Apa saja?" tanya pria itu.


"Apa saja selama tidak melanggar hukum yang berlaku!" jawab Velan dengan cepat.


Pria itu mengangguk lalu kembali mengulas senyum.


"Saya hanya ingin mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan saya, saya akan melakukan apa saja," kata Velan dengan tatapan yang nanar.


"Tuan, saya tidak meminta Anda untuk memutuskan hal ini sekarang, tapi semakin cepat kita menjalin kerja sama, maka akan semakin baik untuk saya!" kata Velan.


"Saya berani jamin, bahwa saya tidak akan merugikan Anda! Saya juga akan melindungi identitas Anda! Menjaga reputasi dan nama baik Anda," lanjut Velan.


Saya mohon, terima permohonan saya ini, Velan membatin karena merasa negosiasi ini berlangsung cukup alot. Apa Velan langsung tembak harga saja?


Tapi kan, Velan tidak tahu, berapa harga pasaran untuk jasa pria ini. Pria ini juga sama sekali tidak menyinggung masalah bayaran.


"Berapa lama?" tanya pria itu setelah terdiam cukup lama.


"Apa?" tanya Velan.


"Berapa lama estimasi waktu yang diperlukan jika saya tertarik untuk membantu Anda?" tanya pria itu.


"Bagaimana dengan mekanismenya?" tanya pria itu lagi.


"Anda cukup menjadi kekasih pura-pura saya! Tidak ada kontak fisik, dan saya jamin tidak akan mengganggu atau pun ikut campur dalam kehidupan pribadi Anda," jawab Velan.


"Bagaimana jika kerja sama kita diketahui oleh suami Anda dan bagaimana jika saya dituntut nantinya?" tanya pria itu.


"Saya berani jamin, semua itu adalah tanggung jawab saya! Anda cukup berpura-pura menjadi kekasih saya saja," jawab Velan.


"Begitu ya, apa Anda bisa memperlihatkan kepada saya bagaimana draf kerja samanya? Segala sesuatu akan lebih aman jika ada hitam di atas putihnya," kata pria itu.


"Saya akan membuatnya, namun saya harus memastikan dulu, apakah Anda bersedia atau tidak," kata Velan.


Pria tampan itu menuangkan teh dari french press ke cangkir, menyeruput perlahan teh chamomile sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela.


Velan benar-benar berharap sangat besar pria ini bersedia membantunya. Velan sungguh tidak tahu harus ke mana lagi untuk meminta bantuan. Pria di hadapannya jelas adalah sosok sempurna dan potensial untuk menjadi kekasih pura-puranya agar perceraiannya dengan Voren benar-benar segera terlaksana.

__ADS_1


Jika harus mencari pria lain, Velan tidak tahu apakah bisa menemukan pria yang sebanding dengan Voren. Menurut Velan, pria di hadapannya inilah satu-satunya harapan Velan.


Pria tampan yang harus dibayarnya mahal. Velan sudah memperhitungkan besaran dana kompensasinya setelah dipotong utang dan membayar pria ini. Anggap saja, semua uang pesangonnya itu digunakan Velan untuk menebus kebebasannya. 


"Baiklah, saya tertarik untuk bekerja sama dengan Anda," kata pria itu pada akhirnya.


"Tuan!" Velan rasanya ingin bersujud mengucapkan rasa syukur kepada pria di hadapannya.


Velan beranjak dari kursinya lalu membungkuk dalam.


"Terima kasih, Tuan, terima kasih!"


Velan kembali duduk di kursi, lalu menatap pria yang saat ini balas menatapnya sambil mengulas senyum.


"Kalau begitu, bolehkah saya tahu, siapa nama Anda?" tanya Velan.


"Daren," jawab pria itu.


"Tuan Daren," kata Velan.


Wah, namanya saja begitu keren, sungguh sesuai dengan orangnya, Velan membatin.


"Bolehkah saya meminta nomor ponsel Anda?" tanya Velan.


Velan dan pria tampan bernama Daren pun bertukar nomor ponsel. Velan mengulas senyum, rasanya ia benar-benar merasa salah satu masalahnya bisa teratasi.


Velan bisa membayangkan saat ia memamerkan Daren di hadapan Voren dan juga Doni. Kedua pria pendusta itu akan terkejut bukan main karena pria idaman lain Velan bukanlah pria botak berperut buncit seperti yang ditudingkan oleh Voren.


"'Nona Velan, apa benar pria luar biasa tampan ini adalah pria idaman lain Anda?!" tanya Doni dengan ekspresi terkejutnya.


"Tampan sekali! Oh Doni, topang aku! Topang aku!" Voren seakan hendak pingsan.


"Bagaimana, Suamiku?" tanya Velan. "Pria idaman lainku ini luar biasa tampan kan? Jangan kau merasa menjadi yang paling tampan!" kata Velan.


"Pria idaman lainku ini yang benar-benar membahagiakanku! Ayo kita cerai sekarang juga! Karena aku ingin segera menikah dengannya! Kau menikah saja dengan Soraya," lanjut Velan.


Velan terkekeh geli membayangkan kejadian itu. Kau salah karena sudah meremehkanku, Voren Lazaro! Haha!

__ADS_1


...~...


__ADS_2