
Pak Bimo, izinkan saya untuk berbincang dengan Tuan Alren Lazaro," kata Voren kepada Pak Bimo.
Pak Bimo dengan wajahnya yang sekaku kayu mengerutkan keningnya. Setelah upaya Doni untuk memohon kepada Pak Bimo agar meminta waktu Tuan Alren tidak membuahkan hasil, akhirnya Voren turun tangan sendiri untuk memohon kepada sekretaris ayahnya begitu rapat berakhir.
"Pak Bimbim, lima menit, paling lama sepuluh menit, berikan saya waktu untuk bicara dengan Tuan Alren Lazaro sebagai ayah dan anak," kata Voren.
Doni mengerutkan keningnya mendengar Tuan Voren bahkan mengganti nama Pak Bimo dengan sebutan Bimbim yang terdengar menggelikan.
Pak Bimo mendelik gusar, "Anda bisa bicara di rumah, Tuan Voren."
"Pak Bimbim, saya bahkan tidak pernah tahu kapan jadwal ayah saya pulang ke rumah! Tiga kali puasa tiga kali lebaran, saya tak pernah menjumpai ayah saya di rumah!" kata Voren.
"Ayolah, Pak Bim! Saya ini juga begitu sibuk," kata Voren mendesak Pak Bimo.
Pak Bimo terpaksa membuka tablet pintarnya untuk mengecek jadwal atasannya itu.
"Ada apa, Pak Bimo?" tanya Tuan Alren yang keluar dari ruang rapat bersama anggota dewan komisaris.
Alren melemparkan tatapannya ke arah Voren.
"Tuan Alren, Tuan Voren ingin berbincang dengan Anda secara pribadi," jawab Pak Bimo.
"Benar, Tuan Alren, sungguh sebuah kehormatan bagi saya jika Anda mengabulkan keinginan saya ini," kata Voren sambil menunduk.
Alren menghela napasnya.
"Baiklah, ke ruangan saya sekarang," kata pria paruh baya itu sambil melangkah pergi.
...~...
Voren segera duduk di sofa, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang sebentar lagi diharapkannya akan menjadi ruangan kerjanya.
"Pak Bimo, silakan tunggu di luar," perintah Alren.
__ADS_1
Pak Bimo mengerti, ia hanya mengangguk memberi kode kepada Doni untuk meninggalkan ayah dan anak yang memerlukan privasi dalam pembicaraan empat mata mereka.
"Papa," kata Voren.
Alren menatap skeptis ke arah Voren.
"Papa, maafkan aku karena beberapa waktu yang lalu tidak menghadiri rapat dan aku juga tidak memenuhi panggilan Papa," kata Voren.
"Aku sungguh tidak bermaksud untuk mengabaikan panggilan Papa, sungguh Papa, aku hanya...," Voren menghentikan ucapannya karena Alren melambaikan tangan dengan gerakan seakan ia sedang menghalau seekor lalat.
"Voren, langsung ke intinya saja! Aku tidak punya waktu hanya untuk mendengarkan alasan yang jelas sekali hanya akan membuatmu beralasan makin banyak!" kata Alren.
"Baik Papa, aku mengerti!" kata Voren.
Voren menarik napasnya sebelum melontarkan apa yang harus disampaikannya.
"Papa, aku tidak mengerti, mengapa Papa menganggap bahwa aku masih belum pantas untuk menjadi Presiden Direktur! Papa, aku bahkan bekerja hampir selama dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan! Aku benar-benar mendedikasikan waktu yang kumiliki hanya untuk bekerja, Papa, lantas di mana kurangku sehingga menurut pandangan pribadi Papa, Daren masih lebih baik daripada aku?!" kata Voren.
"Voren, harusnya kau bisa menjawab pertanyaanmu itu sendiri!" kata Alren.
"Papa! Bagaimana bisa Papa melemparkan kembali pertanyaan itu padaku?" tanya Voren berusaha untuk menahan emosinya.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, apa kau benar-benar sudah merasa pantas untuk menjadi Presiden Direktur dengan kemampuanmu yang masih prematur itu?!" kata Alren dengan tatapan yang begitu mengintimidasi anak bungsunya itu.
Voren berusaha mengulas senyumnya, namun seperti biasa, dalam hati ia mengumpat dan memaki pria yang menjadi ayahnya ini.
"Voren, jangan kau kira aku tidak pernah mengawasi perkembanganmu! Jangan kau pikir dengan mendompleng nama besarku lantas kau bisa bersikap seenaknya! Kau juga jangan merasa istimewa hanya karena kau adalah satu-satunya anak laki-laki yang kumiliki! Kau masih harus lebih banyak lagi belajar, Voren!" cecar Alren.
"Lihat pada dirimu, pencapaian apa saja yang sudah kau raih?! Asal kau tahu, aku sudah menyelamatkan Emperor Grup yang saat itu berada di ambang kehancuran ketika aku berusia dua puluh satu tahun! Saat seusiamu, aku bahkan sudah berhasil membuat Emperor Grup berkembang pesat! Sedangkan yang kau lakukan saat ini hanyalah memetik hasil kerja kerasku!" Alren masih melanjutkan cecarannya kepada Voren.
Voren menyunggingkan senyuman yang lebih terlihat sebagai seringaian.
"Papa, apa Papa menyebutkan semua prestasi Papa karena Papa bermaksud memamerkannya padaku?" tanya Voren.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud memamerkan prestasiku padamu, Voren! Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya!" jawab Alren.
"Aku benar-benar heran padamu, Voren, aku bahkan tidak melihat seperempat kemampuanku ada padamu! Apa kau tahu, aku bahkan selalu bertanya-tanya, apa kau benar-benar putraku?" kata Alren.
"Kalau Papa begitu ragu, apakah aku adalah anak Papa, aku pun ragu, apakah aku adalah anak Papa," kata Voren.
"Voren!" hardik Alren.
"Papa tidak pernah berpihak padaku! Apa karena aku adalah anak yang tidak bisa memenuhi ekspektasi Papa yang terlalu tinggi?! Sekeras apa pun usahaku, sama sekali tidak ada hasilnya di mata Papa, benar begitu kan?!" Voren masih mengulas senyumnya.
"Voren! Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan padamu demi kebaikanmu!" tandas Alren.
"Demi kebaikanku atau demi ego Papa?!" tanya Voren lagi.
"Voren!" Alren berusaha menahan amarahnya.
"Papa bahkan terang-terangan mengungkapkan bahwa Papa lebih berpihak kepada Daren! Apa Papa tahu, perkataan Papa sungguh melukai harga diriku! Papa membuat martabatku terjun bebas di depan orang-orang itu! Papa sama saja mempermalukanku!" kata Voren.
"Papa, aku bahkan selalu menjunjung tinggi nama baik Papa, nama baik keluarga Lazaro! Tapi inikah yang Papa berikan padaku sebagai balasannya?!" lanjut Voren.
Ayah dan anak itu masih saling menatap tajam. Alren tentu harus mengendalikan emosi, jelas sekali anak bungsunya ini memprovokasi untuk memancing kemarahannya. Alren tentu saja harus menjadi sosok yang bijaksana dan tegas dalam mempimpin perusahaan. Ia tentu tidak mau perusahaan yang menjadi hasil jerih payahnya jatuh pada tangan yang salah lantaran tidak adanya kompetensi yang istimewa.
"Voren, aku sungguh merasa sangsi apa kau pantas untuk menggantikan posisiku! Entah apa yang sudah kau pelajari selama ini! Ataukah kau sama sekali tidak mempelajari apa pun! Ah ya, bukankah kau memang payah dalam belajar! Dan entah sampai kapan aku harus memaklumi kepayahanmu itu!" kata Alren dengan nada mengejek.
Voren memutar bola matanya, ia benar-benar tidak terima mendapat ejekan seperti itu dari ayahnya.
"Ya, terus saja Papa merendahkanku seperti itu! Tapi lihat saja Papa, aku sungguh akan membuktikan bahwa anak payah sepertiku, anak yang tidak mendapat dukungan dari orang tuanya sendiri, akan, ah sudahlah, aku tidak perlu menyebutkannya! Lihat saja nanti, Papa!" kata Voren segera beranjak dari kursinya.
"Papa, jaga kesehatan Papa! Aku tidak mau menggantikan posisi Papa hanya karena Papa sudah sekarat," Voren menundukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan kerja Alren.
Anak itu, beraninya dia menyumpahiku seperti itu! Dasar anak tidak tahu diri! Batin Alren yang rasanya hendak melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah Voren.
...~...
__ADS_1