Jodoh Instan

Jodoh Instan
Mencari Cincin


__ADS_3

"Voren, Velan, bagaimana jika kalian segera mencari cincin kawin setelah makan malam ini? Kalian tentu tidak perlu membuang-buang waktu yang ada," usul Vega.


Apa? Cincin kawin? Velan bertanya-tanya dalam hati.


"Mumpung kau ada waktu, Voren, kau kan sangat sibuk sekali," kata Vega.


Velan mencuri pandang lagi ke arah Voren. Terlihat pria itu juga mengarahkan pandangannya lagi ke arah Velan. Hal itu membuat Velan kembali salah tingkah.


"Baiklah, tidak masalah," jawab Voren.


Vega tersenyum puas, menurutnya inilah waktu yang tepat untuk membuat dua orang yang tak pernah saling mengenal itu untuk saling mengakrabkan diri. Terlebih keduanya akan segera menikah dan menjadi suami istri yang sah.


"Baiklah, kalau begitu, Mama pergi dulu untuk mengurus hal lain yang diperlukan dalam pernikahan kalian," kata Vega.


"Baik, Ma," Voren mengecup punggung tangan Vega.


Velan juga melakukan hal yang sama sebelum Vega pergi meninggalkan mereka.


...~...


Velan tak henti-hentinya mengarahkan pandangannya pada pria yang akan menjadi suaminya ini. Dalam hatinya ia masih belum bisa memercayai bahwa pria berparas blasteran surgawi ini berjalan di sampingnya untuk menuju ke toko perhiasan yang berada di pusat perbelanjaan ternama. Tujuan mereka tentu saja untuk menemukan cincin kawin. Velan tentu saja hanya lebih banyak diam karena ia benar-benar merasa canggung dengan pria yang baru saja ditemuinya ini.


Mereka segera memasuki toko perhiasan mewah yang pramuniaganya saja mengenakan setelan jas dan di luar toko dua orang petugas keamanan berjaga ketat.


"Maaf, apa kau tidak masalah jika cincinnya tidak dipesan? Masalahnya pernikahan kita begitu mendadak," kata Voren.


Voren menatap ke arah Velan yang nampak masih terbengong-bengong sendiri.


"Nona Velan?" Doni segera menyadarkan Velan yang masih terhipnotis ketampanan Voren.


Doni sadar, memang tak pernah ada wanita yang sanggup untuk menolak pesona ketampanan paripurna yang dimiliki oleh Tuan Voren.


Para pramuniaga baik pria maupun wanita juga begitu terhipnotis dengan ketampanan Voren.


"Ah, iya, maaf, tidak apa-apa," kata Velan tergagap.


"Bisa tolong keluarkan cincin kawin yang pas di jari saya?" kata Voren pada pramuniaga sambil menunjukkan jemarinya yang panjang.


Di mata Velan, jemari Voren sungguhlah indah, jemari yang nampak bak pahatan sempurna, membuat Velan seakan sedang mengagumi karya seni bernilai tinggi dalam acara pameran seni.


"Baik, Tuan," jawab pramuniaga segera mengeluarkan koleksi cincin kawin.


Velan sungguh silau melihat kerlip berlian yang terpancar dari cincin bernilai fantastis yang saat ini berada di hadapannya. Voren terlihat mencoba satu per satu cincin yang akan ia kenakan di jari manis kanannya.


Dua pramuniaga yang melayani Voren tentulah mengabaikan Velan.


"Sudah ketemu cincin yang pas?" tanya Voren ke arah Velan.


Velan lagi-lagi terkesiap.

__ADS_1


"Be-belum, semuanya bagus," kata Velan.


Voren terlihat mengamati deretan cincin di depan Velan. Ia mengambil satu buah cincin yang paling mewah di antara semua cincin yang ada.


"Sepertinya cincin ini cocok untukmu," Voren meraih tangan Velan dan mencoba menyematkannya di jari manis kiri Velan.


Velan merasa ada aliran listrik yang menyambar tubuhnya saat tangannya menyentuh tangan Voren. Inikah yang namanya sambaran cinta dari pemilik senyum sejuta volt?


Jantung Velan kembali meronta-ronta dengan hebat lantaran saat ini mereka kembali saling menatap satu sama lain. 


Mampus, kalau begini terus aku bisa mati! Batin Velan nampak menyembunyikan kegelisahannya.


"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Voren ke arah Velan.


"I-iya, aku suka," jawab Velan tanpa sekali pun teralih dari Voren.


Aku sukanya kamu, Mas, batin Velan menjerit histeris.


"Pilihan Anda memang luar biasa, Tuan, ini cincin termahal yang ada di toko ini," kata pramuniaga itu terlihat antusias.


"Tidak masalah, ada rupa ada harga, bukankah begitu?" Voren kembali tersenyum ke arah Velan.


"A-apa tidak apa-apa?" tanya Velan ragu-ragu.


"Cincin yang bagus tentu sangat cocok untuk orang yang istimewa," jawab Voren.


"Baiklah, tolong bungkus juga cincin ini," kata Voren pada pramuniaga.


Doni mengawasi Velan yang nampak menyembunyikan ekspresi senangnya sementara Tuan Voren hanya berekspresi datar.


Dua pramuniaga itu nampak merengut ke arah Velan.


"Kok bisa ya, wanita seperti itu akan menikah dengan pria setampan itu?!" rutuk satu pramuniaga kepada temannya.


"Iya, ya, dilihat dari mana pun wanita itu sama sekali tidak terlihat cantik dan mewah, kok mau ya, pria itu menikahinya?!" sahut temannya.


"Aku rasa main dukun itu!" jawab temannya lagi.


Velan yang mendengar obrolan dua pramuniaga itu berusaha untuk tetap bersikap cuek. Sepertinya ia memang harus merahasiakan cara instannya untuk mendapatkan Voren.


Yah, namanya juga usaha! Ini rahasia perusahaan!


...~...


Velan merasa ia benar-benar berada dalam situasi dan kondisi dipenuhi dengan bunga-bunga kebahagiaan yang bermekaran di sekelilingnya. Musim semi sepertinya memang sedang menghampiri Velan setelah beberapa waktu yang lalu badai menghantam dirinya.


Velan sungguh terkejut saat melihat kepulangan orang tuanya dari kampung.


Rupanya Vega juga yang mendatangkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Bapak! Ibu!" seru Velan beserta kakak-kakaknya langsung menyambut kedatangan orang tuanya.


Veny, ibu Velan mendorong kursi roda tempat suaminya duduk menghabiskan hari-harinya. Terlihat raut wajah bahagia dari wajah mereka saat melihat Velan yang akan menikah.


"Ya ampun, Velan, tidak ada angin, tidak ada hujan, tahu-tahu kamu akan menikah," kata ibu langsung memeluk anak perempuan tunggalnya itu.


"Ibu," kata Velan membalas pelukan ibunya.


"Ibu," keempat anak laki-laki Veny juga langsung memeluk erat Veny.


"Kalian ini, lihat adik kalian malah lebih dulu akan menikah!" kata Veny.


Keempat anak laki-laki Veny saling bertukar pandang dengan Velan. Mereka tentu tak akan menceritakan alasan Velan yang memilih menikah sebagai solusi dari masalah yang ditimbulkan oleh Taki dan Toro.


"Ibu, sudah jodohnya Velan itu," kata Tomi.


"Bapak, sudah lebih baik, Pak?" tanya Toro sambil berjongkok di depan bapaknya.


Bapak mereka bernama Totok, pria itu mengalami stroke berat yang membuat tubuh pria itu tidak berfungsi setengah badan. Bapak bahkan tidak bisa bicara karena kondisi mulut beliau yang miring sebelah. Bapak hanya bisa memberi respon melalui kerjapan matanya. 


Velan sungguh senang karena semua keluarganya telah lengkap. Mereka berkumpul untuk menggelar doa bersama. Memohon dan memanjatkan doa agar pernikahan Velan besok berjalan lancar. Tentunya juga mendoakan pernikahan Velan ini agar senantiasa mendapat limpahan berkah dari Tuhan.


Keempat saudara Velan bertugas untuk membagikan undangan lantaran Velan sudah memulai proses pingitan yang mana ia tidak boleh beraktivitas menjelang pernikahannya.


"Loh, kau akhirnya menikah juga ya, Tomi?" tanya tetangga saat Tomi membagikan undangan pernikahan Velan.


"Bukan saya, Tante, tapi adik bungsu saya," jawab Tomi.


"Oh, baru laku, ya?" komentar wanita paruh baya itu.


Tomi mencebik, ia menyadari bahwa di lingkungan tetangganya, hanya ia dan saudara-saudaranya yang belum kunjung menikah. Mereka masih terlalu sibuk untuk menentukan arah dan tujuan hidup, makanya hingga kini masih enggan untuk menikah.


"Tidak masalah, Tante, toh akhirnya dapat yang bagus sekali," kata Tomi menanggapi.


Hal tersebut juga terjadi saat Taki mengundang teman-temannya untuk datang ke resepsi pernikahan Velan.


"Wah, Taki, kau akhirnya menikah ya?!"


"Wanita gila mana yang mau menikah denganmu?!"


"Hei, kalian semua ini tidak bisa membaca, ya?! Itu undangan pernikahan adikku!" sahut Taki dengan rasa bangga yang meluap-luap.


"Habisnya kau datang membawa undangan, kami pikir kau yang akan menikah!" mereka tertawa.


"Datang ya, kita harus sumbang lagu satu album!" sahut Taki lagi.


Bagi Taki, sungguh dengan adanya pernikahan Velan, ia terbebas dari tanggung jawab untuk mengembalikan uang yang ia pinjam dari Velan. Velan toh sudah mendapatkan suami kaya raya yang akan membantu adiknya itu menyelesaikan masalah. Velan dapat suami dan rumah mereka tidak akan disita oleh bank.


...~...

__ADS_1


__ADS_2