Jodoh Instan

Jodoh Instan
Extra part 5


__ADS_3

Doni hanya bisa melongo melihat rumah mewah bak istana modern yang menjadi tempat tinggal Voren. Voren membawa Doni ke rumahnya karena ada tugas kelompok yang harus mereka kerjakan bersama. Seketika Doni merasa ia menjadi makhluk alien yang baru mendarat ke tempat asing yang begitu memesona.


"Selamat datang, Tuan Voren," Pak Jun pengurus kediaman keluarga Lazaro menyambut kehadiran Voren dan Doni bersama beberapa pelayan yang langsung membungkuk dalam.


"Terima kasih, Pak Jun," balas Voren.


Doni sungguh kaget, rupanya Voren bukan hanya sekadar anak orang kaya biasa seperti anak orang kaya lain pada umumnya. Voren benar-benar seorang tuan muda kaya raya yang biasanya hanya ada di televisi. Entah apa pekerjaan orang tuanya ya sampai Voren bisa kaya luar biasa seperti ini?


Kalau di tempat tinggal Doni ada orang kaya, pasti sudah dicurigai pakai pesugihan babi ngepet atau peternakan tuyul!


Doni diajak Voren untuk memasuki kamar Voren yang lagi-lagi membuat Doni tak kuasa menahan decak kagumnya. Kamar yang ukurannya jauh lebih besar dari rumah Doni. Kamar tersebut dilengkapi dengan fasilitas lengkap dan teranyar di zamannya.


"'Wah, Voren, kau bahkan punya game konsol terbaru yang belum rilis di negara ini," Doni berdecak kagum melihat game konsol yang terpajang di tempat penyimpanan.


"Ya, itu didatangkan langsung dari Amerika," jawab Voren.


"Wah, luar biasa," Doni kembali berdecak kagum.


"Kau mau memainkannya?" tanya Voren.


"Tidak, kita harus mengerjakan tugas lebih dulu," jawab Doni dengan tegas.


Voren mencebik, padahal ia ingin memainkan game konsol tersebut mumpung ada lawan mainnya. Hanya saja Doni berkeras untuk memprioritaskan tugas mereka dulu.


Mereka mengerjakan tugas di halaman kamar Voren yang menghadap langsung ke taman dan kolam renang pribadi.


Doni pun segera menyelesaikan tugasnya dan selesai lebih cepat sementara Voren masih nampak uring-uringan.


"Belum selesai juga?" tanya Doni.


"Doni, kau kan pintar, kau saja yang mengerjakan semuanya ya," kata Voren.


"Voren, ini kan tugas kelompok, harus dikerjakan bersama sesuai dengan porsi masing-masing yang sudah kita tetapkan dan kita sepakati bersama! Aku lebih menghargai jika kau memintaku untuk mengajarimu daripada hanya aku saja yang mengerjakannya sendiri," ucap Doni dengan tegas.


Voren mencebik, Doni bahkan jauh lebih tegas daripada semua guru les privatnya.


"Voren, cepat selesai tugasnya makin cepat juga kita duel itu," Doni menunjuk game konsol yang ada di dalam kamar Voren.


Voren kembali mencebik sambil mengerjakan kembali tugasnya. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Doni sebenarnya sudah tidak sabar untuk bermain game konsol. Namun ia harus sabar menunggu hingga Voren meminta bantuannya.


Ibu Voren memasuki kamar Voren sambil membawa nampan berisi jus jeruk dan sepiring potongan buah segar sebagai camilan. Vega tentu saja terkejut melihat Voren yang nampak serius belajar bersama temannya daripada saat bersama guru-guru les privatnya.


"Voren," sapa Vega.

__ADS_1


"Mama," kata Voren. "Mama, perkenalkan ini Doni, temanku di sekolah."


"Selamat sore, Tante," sapa Doni.


"Selamat sore, Doni. Tumben kau mengajak teman ke rumah, Voren," kata Vega sambil meletakkan nampan berisi camilan tersebut ke atas meja.


"Kami ada tugas sekolah, Mama," kata Voren.


"Oh begitu," kata Vega sambil mengangguk.


"Oh ya, Doni, apa kita bisa berbincang empat mata sebentar?" tanya Vega pada Doni.


"Mama, kenapa tidak bicara di sini saja?" tanya Voren.


"Mama mau bicara empat mata dengan Doni sebentar saja, Voren," kata Vega.


"Baik, Tante," sahut Doni.


Doni segera mengikuti Vega keluar dari kamar Voren. Vega mengulas senyum ramahnya kepada Doni.


"Doni, selama di sekolah, apa Voren baik-baik saja?" tanya Vega.


"Voren baik-baik saja, Tante," jawab Doni.


"Apakah Voren bisa membaur dengan baik?" tanya Vega yang terlihat begitu cemas.


"Syukurlah kalau begitu! Jujur saja, Tante merasa sangat was-was karena Voren harus pindah dari sekolah khusus ke sekolah umum. Tante cemas sekali jika Voren kurang bisa membaur dengan lingkungan barunya," kata Vega.


"Maaf Tante, kalau saya boleh tahu, apa alasan Voren harus pindah sekolah di tahun ketiganya?" tanya Doni.


Vega mengulas senyumnya, ia bisa melihat sepertinya Doni peduli pada Voren.


"Tante terpaksa memindahkan Voren karena Voren mendapat banyak tekanan yang menurut Tante tidak baik untuk kesehatan mental, Voren!" jawab Vega.


"Doni, Tante minta tolong padamu untuk menjaga Voren di sekolah! Bisa kan?" Vega memohon pada Doni.


Doni tidak tahu harus menjawab apa, namun melihat ibu Voren begitu berharap padanya, Doni hanya bisa mengangguk.


...*****...


"Mama, aku akan mengantar Doni pulang," kata Voren begitu Doni berpamitan pulang.


"Voren, lebih baik minta antar sopir saja," kata Vega.

__ADS_1


"Mama," Voren memelas di hadapan Vega.


"Baiklah," kata Vega.


Voren terkekeh saat mengambil kunci mobil yang diserahkan oleh Vega.


Doni terpana saat Voren mengajaknya untuk memasuki mobil impor mewah berwarna merah itu.


"Voren, kau bisa mengendarai mobil?" tanya Doni keheranan.


"Aku bahkan sudah bisa mengemudi sejak SD kelas 6," sahut Voren seraya terkekeh.


"Ini mobil siapa, Voren?" tanya Doni.


"Ini mobilku, ibuku menghadiahkan mobil ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke tujuh belas," jawab Voren.


Doni hanya bisa menelan ludah. Teman sebangkunya ini benar-benar luar biasa.


"Kenapa? Kau mau mencoba mengendarainya?" tanya Voren.


"Tidak, terima kasih," sahut Doni dengan cepat.


"Tidak apa-apa kalau kau mau, ini lebih seru daripada yang ada di video game!" kata Voren sambil menepuk kemudi.


Begitulah, Doni benar-benar tergoda untuk mencoba mengendarai mobil mewah tersebut. Voren mengajari Doni bagaimana cara mengemudikan mobil. Ibaratnya terkena candu, Doni benar-benar langsung kecanduan begitu ia bisa mengemudikan mobil. Ia bahkan berkeliling kota dengan begitu bangga. Rasanya Doni tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan hanya ingin berkendara sepanjang malam.


Memasuki area tempat tinggal Doni, kehadiran mobil mewah yang dikendarainya tentu memancing perhatian para tetangga. Terlebih saat Doni menghentikan mobil tersebut di depan rumahnya.


Padahal hari sudah malam, namun tetap saja para tetangga kepo dengan kehadiran mobil mewah yang memasuki area perkampungan mereka.


"Voren, terima kasih sudah mengantar," kata Doni sebelum turun dari mobil.


"Aku tidak mengantar, bukannya kau yang mengendarai mobil?" Voren terkekeh.


"Voren, kau benar, mengendarai mobil jauh lebih seru daripada sekadar main game," kata Doni.


Doni segera keluar dari mobil tersebut. Tiba-tiba adik Doni yang bernama Nining berlari ke arah Doni sambil menangis.


"Abang!" seru Nining.


"Ada apa, Ning?" tanya Doni keheranan.


"Bapak Bang, Bapak ditangkap polisi," jawab Nining sambil berbisik.

__ADS_1


"A-apa?!" seru Doni terperanjat.


...******...


__ADS_2