Kultivator Dewa Xiao Wang

Kultivator Dewa Xiao Wang
Ch. 107 ~ Desa Runtuh


__ADS_3

Pasca insiden yang terjadi di Bukit Rumput Harapan, kini tidak ada lagi yang berniat untuk merebut dua pedang Tanpa Tanding dari tangan Xiao Wang.


Bagaimana tidak? Banyak yang menyaksikan langsung bagaimana hebatnya kekuatan yang dikeluarkan oleh Xiao Wang. Dan berita akan aksi Xiao Wang dalam melakukan pembantaian serta menghadapi Shi Yifen dengan cepat menyebar ke seluruh kekaisaran Han. Makanya untuk kembali mengusik Xiao Wang ataupun klan Xiao mereka perlu perhitungan matang.


Selain itu, dalam tiga hari setelah insiden itu, Xiao Wang menjadi sangat terkenal dan bahkan dirinya di cap sebagai Kultivator hebat nomor satu di kekaisaran Han.


Sementara banyak kelompok lain yang berbondong-bondong membangun kerjasama yang baik dengan Klan Xiao, di sisi lain Sekte Tombak Dewa serta sekte Tebing Persik bisa di bilang dua sekte yang mengalami masa penurunan. Akan tetapi Sekte Tebing Persik masih mending dibandingkan dengan Sekte Tombak Dewa.


Bagaimanapun sekte Tebing Persik masih mempertahankan kultivator Ranah Suci serta dua puluh Kultivator ranah Raja dalam insiden itu, berbeda hal dengan sekte Tombak Dewa, mereka kehilangan lima orang ranah Suci sekaligus, belum jumlah yang dibantai Xiao Wang tidaklah sedikit. ini akan begitu memberikan kerugian besar serta efek jangka panjang terhadap Sekte Tombak Dewa.


Yakin dan percaya setelah ini maka sekte besar itu akan langsung turun tingkat menjadi Sekte Menengah, kecuali sekte itu segera mengambil suatu tindakan dan membenah. Akan tetapi itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Lima hari pasca kejadian itu, Xiao Wang telah memulihkan kekuatannya.


Saat ini dia tengah berdiri di balkon bangunan berlantai dua. Pandangannya tertuju pada anggota klan Xiao yang tengah berlatih.


Terlepas dari insiden lima hari lalu, aktivitas klan Xiao kini telah berlangsung seperti biasanya. Bisa di bilang Klan Xiao sekarang tengah naik daun, sekarang banyak orang-orang luar yang hendak bergabung dengan klan Xiao.


Setelah itu, Xiao Wang lantas masuk ke dalam ruangan. Menghampiri seorang pria yang tengah membuat kaligrafi.


"Kakek, aku akan pergi ke Kekaisaran Wei besok!" Xiao Wang langsung mengutarakan apa yang menjadi pikirannya akhir-akhir ini.


"Hmm," Menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke arah Xiao Wang. "Kau baru saja pulih beberapa hari lalu. Alangkah baiknya kau berdiam diri di sini sembari meningkatkan kekuatan mu terlebih dahulu," jawab Xiao Han Ming.


"Ya, meningkatkan kekuatan sembari bertualang di negeri orang juga tidak buruk, bahkan lebih baik!"


Xiao Han Ming terdiam sejenak. Memang dahulu dia juga melakukan hal yang sama dengan apa yang diucapkan oleh Xiao Wang. Bertualang sembari meningkatkan kekuatannya.


"Hmm, aku akan mengizinkan kamu untuk pergi ke Kekaisaran Wei, namun setidaknya kau harus mencapai ranah Langit tahap 3 ke atas."


Mendengar itu, Xiao Wang lantas mengangkat sebelah alisnya. Namun pada akhirnya Xiao Wang tetap setuju dengan itu. "Baiklah Kakek. Setelah aku mencapai ranah Langit tahap 3, aku akan pergi ke Kekaisaran Wei!"

__ADS_1


Setelah perbincangan itu, Xiao Wang lantas pergi dari ruangan itu. Tujuannya kali ini menuju ke kediaman Penatua ke dua puluh Klan Xiao.


Terlepas dari statusnya yang semakin naik dan disegani oleh orang-orang klan, namun Xiao Wang masih memilih untuk tetap bermalam di kediaman Penatua ke dua puluh itu. Meskipun itu tidak lebih baik dari kediaman penatua yang lain.


-


Besoknya Xiao Wang berkumpul bersama dengan Xiao Feng, Xiao Yin, Xiao Ming, Xiao Fu dan Xiao Mei.


"Apakah kalian sudah selesai?" ucap Xiao Feng kepada Xiao Yin, Xiao Ming, Xiao Fu dan Xiao Mei.


"Sudah, guru!" jawab mereka.


Bersama dengan Xiao Wang, mereka lantas meninggalkan tempat itu. Masing-masing dari mereka menggunakan jubah untuk menutupi identitas mereka.


Meninggalkan klan Xiao, mereka berlari dengan kecepatan Ranah ahli tahap 2, mereka menyeimbangkan kecepatan lari Xiao Ming. Tujuannya adalah menuju ujung kekaisaran Han.


Delapan jam perjalanan tanpa henti, mereka akhirnya sampai di sebuah pedesaan. Desa ini sangatlah terbengkalai, meskipun banyak perumahan yang dibangun, tapi sepanjang Xiao Wang dan yang lainnya lihat, tidak satupun bangunan bagus di sana.


Memasuki Desa, mereka berjalan di jalanan sempit. Banyak bangunan lantai dua tapi terbilang rapuh.


Xiao Ming tidak sengaja menabrak satu tiang bangunan. Tiang yang terbilang cukup besar itu mendadak hancur. Bersamaan dengan bangunan lantai dua dari tiang itu juga ikut runtuh.


Brukk...


Brukk...


Brukk...


Satu per satu bangunan yang berada di dekat bangunan tersebut ikutan runtuh. Warga-warga dari desa itu keluar dengan panik. Mereka berlarian satu arah menjauhi Xiao Wang dan yang lainnya.


Bangunan-bangunan itu semakin runtuh dan menjalar ke bangunan yang lain. Xiao Wang serta yang lainya segera melompat untuk mengindari reruntuhan.

__ADS_1


Mengikuti langkah kaki orang-orang desa yang tengah berlari menjauh itu.


Sebuah gua dibangun di bawah bukit kecil, itu menyerupai sebuah ruang bawah tanah. Para warga dari desa itu segera memasuki Goa tersebut untuk berlindung. Sementara Xiao Wang serta rekan-rekannya hanya memantau mereka dari jauh.


Bangunan runtuh telah mencapai setengah dari bangunan yang ada di desa itu. Sementara Xiao Wang dan yang lainnya telah berada di luar wilayah pedesaan, dan memperhatikan itu semua dari ketinggian.


"Apakah ini semua salahku? Jalannya


terlalu sempit, dan aku juga hanya menabrak satu tiang. Mengapa yang hancur malah semuanya?" ucap Xiao Ming, dan menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Ini ada yang salah dengan desa ini!"


Xiao Feng mengeluarkan lipatan kertas dan membukanya. Sebenarnya ini merupakan lembaran sebuah buku yang telah di sobek.


"Hmm, kita berada di kawasan Desa Rapuh," ujar Xiao Feng menunjukkan gambar sebuah wilayah pada lembaran itu. "Seperti namanya, Desa Rapuh ini sangatlah Rapuh, tidak hanya dari bangunannya saja yang rapuh, bahkan tanah pun juga sangat rapuh!" jelas Xiao Feng.


"Hmm, lalu apakah kita harus membantu mereka?" tanya Xiao Yin.


"Orang-orang dari desa ini bukan orang biasa. Sebenarnya ada cerita dibalik dengan rapuhnya kawasan sini, dan itu berkaitan dengan ulah penduduk desa ini sendiri!"


Mereka semua sama-sama menoleh satu arah. Dimana bangunan yang telah berhenti runtuh. Tampak sepertiga dari bangunan desa telah rata oleh tanah. Dan berhenti tepat di bagian seberang bukit dimana orang-orang desa berlindung.


"Mari kita ke sana. Dan lihat apa yang akan dilakukan oleh mereka!"


Xiao Wang dan rekan-rekannya mengangguk kecil dengan perkataan Xiao Feng tadi. Lantas mereka sama-sama menuju ke bagian yg tidak terkena reruntuhan.


Benar dugaan Xiao Feng. Penduduk warga desa Runtuh langsung berlari kencang diantara reruntuhan. Bahkan runtuhan bangunan yang terbilang cukup sulit untuk dilewati oleh orang-orang biasa itu tidak menjadi hambatan berarti bagi mereka. Menandakan kalau orang-orang desa juga merupakan Kultivator.


Xiao Feng yang melihat itu menyunggingkan seringai kecil.


"Mari percepat langkah kita. Dan lihat apa yang ada di balik wilayah yang bangunannya masih utuh!" ujar Xiao Feng. Yang lainnya mengangguk dan mempercepat langkah.

__ADS_1


Di sisi lain, terlihat ekspresi dari warga desa Runtuh begitu panik dan tidak senang saat melihat Xiao Wang dan yang lainnya telah hampir sampai di wilayah tersebut.


Beberapa diantara mereka segera mengeluarkan panah dan memanah Xiao Wang, Xiao Feng, Xiao Yin, Xiao Ming, Xiao Fu dan Xiao Mei.


__ADS_2