Kultivator Dewa Xiao Wang

Kultivator Dewa Xiao Wang
Ch. 144 ~ Burung Phoenix Es


__ADS_3

Bing Xue Li mulai kesulitan dalam melangkah. Pundaknya terasa berat. Meskipun tekanan yang dia rasakan ini merupakan tekanan yang hanya bisa di tahan oleh seorang Kultivator ranah Suci, namun dikarenakan basis kultivasinya yang berada di ranah Suci tahap 1, sehingga dia hanya bisa bertahan hanya pada awal-awal saja. Semakin dia melangkah, maka tingkatan tekanan yang dirasa juga semakin besar.


Namun gadis itu tidak menyerah. Membiarkan tubuhnya terbiasa dengan tekanan yang dirasa, sembari itu Bing Xue Li juga mengumpulkan energi alam yang ada di sana, untuk meningkatkan kekuatannya.


Ini mungkin terbilang sulit, dihadapkan oleh tekanan yang besar. Dia dipaksa untuk tetap konsentrasi dalam menyerap energi alam dan merubahnya menjadi energi murni. Meski demikian, hasil yang diperoleh saat dia telah berhasil sangatlah memuaskan.


Lautan energi dalam dantian–nya begitu cepat terisi, bahkan berpotensi penuh dalam beberapa jam saja. Sehingga Bing Xue Li bisa menerobos ke ranah selanjutnya dalam waktu singkat. Apalagi tekanan yang dirasa ternyata memberikan efek tertentu dalam peningkatan kekuatan.


Masih di satu array yang memiliki tekanan sama dengan gadis itu, Xiao Feng saat ini juga tengah berusaha untuk melangkahkan kakinya lebih jauh. Dia telah berada beberapa puluh meter di depan Bing Xue Li.


Lelaki itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Bing Xue Li. Berjalan selangkah demi selangkah, membiasakan tubuhnya dengan tekanan sembari mengumpulkan energi alam.


Xiao Feng juga tidak lupa mengonsumsi pil yang diberikan Xiao Wang padanya.


Sementara itu, Xiao Wang dan Qu Zheng telah berada di hadapan array yang memiliki tekanan tingkat Langit di depan mereka.


Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, sebelum mulai melangkahkan kaki memasuki array tersebut.


Whush....


Tekanan yang dirasakan juga semakin terasa berat dibanding dengan sebelumnya. Bahkan terasa berkali-kali lipat beban yang dirasakan.


Namun keduanya masih tetap berjalan. Bagi Xiao Wang, dia masih tidak merasa kesulitan sama sekali. Namun berbeda hal dengan Qu Zheng, wajahnya terlihat berubah sedikit tegang. Namun dia masih bisa mempertahankan tubuhnya.


Hingga dalam dua puluh langkah kaki, Qu Zheng mulai merasakan tekanan. Bahkan tekanan yang dirasa ibarat gelombang yang datang dari arah atas itu, menghantam secara terus-menerus.


Langkah kaki yang tertatih, Qu Zheng pada akhirnya ambruk, namun sebelum tubuhnya dibuat terlutut oleh tekanan tersebut, Xiao Wang segera membantu memapah tubuhnya.


Qu Zheng menoleh wajah Xiao Wang, lalu memberikan sunggingan kecil.


"Terima Kasih!" ucap Qu Zheng.


Xiao Wang membalas senyum tersebut sembari menganggukkan kepalanya. Setelah membantu Qu Zheng berdiri, Xiao Wang segera melepaskan tangannya saat Qu Zheng meminta untuk tidak ditopang.


Berhasil berdiri sempurna, tapi saat menggerakkan kaki untuk kembali melangkah, dia malah kembali dibuat terjatuh oleh tekanan yang kian memberat itu.


Xiao Wang refleks membantu Qu Zheng, tapi kali ini ditolak oleh lelaki tersebut.


"Saudara Xiao, sebaiknya kau lanjutkan saja perjalanan mu. Aku akan menyusul–mu nanti!" ucap Qu Zheng.


Xiao Wang menatap Qu Zheng sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! Kau berjuanglah!"


Setelah mengatakan itu, Xiao Wang lantas pergi meninggalkan Qu Zheng.


Terus melangkah, meskipun tekanan yang ada dalam lingkup array tersebut memberikan sensasi menyesakkan pada seorang Kultivator ranah Langit, namun bagi Xiao Wang masih bisa bersikap biasa saja.

__ADS_1


Xiao Wang telah berada di depan array yang mengandung tekanan lebih tinggi lagi. Lelaki itu menghela nafas sejenak, sebelum mulai melangkahkan kakinya memasuki array tersebut.


Brukk...


Xiao Wang langsung dibuat berlutut. Ini begitu diluar naluri. Bahkan tekanan yang dirasakannya kali ini lebih besar lima kali lipat dari wilayah sebelumnya.


Mencoba bangkit berdiri, Xiao Wang berjalan tertatih dibawah tekanan tersebut.


Empat m langkah, dia mulai berhenti. Tekanan tersebut seperti tidak ingin membiarkan nya melangkah lagi. Mereka semakin kuat dan ganas saja seiring dengan Senti yang terlewati.


Membiasakan diri, bertahan dibawah tekanan. Selama lima menit, Xiao Wang kemudian mencoba untuk kembali melangkahkan kakinya.


Berasil menggerakkan dua langkah, Xiao Wang dipaksa untuk berlutut.


"Sial, ini melebihi yang aku bayangkan. Jika begini, maka akan butuh waktu yang lama untuk sampai pada jarak sepuluh meter saja!" gumam Xiao Wang.


Tidak ada jalan lain, jika dalam beberapa menit saja dia baru berhasil mencapai beberapa Senti, bukankah akan banyak waktu yang dia butuhkan untuk sampai di puncak? Bahkan tekanan ini semakin bertambah beberapa kali lipat setelah melewati beberapa Senti pula.


Xiao Wang duduk bersila dibawa tekanan. Dia mengumpulkan energi alam untuk dijadikan energi murni dalam tubuhnya.


Whush...


Kali ini dia menggunakan kekuatannya untuk berjalan. Ini cukup membawanya hingga jarak setengah meter dalam sekali gerakan. Namun lagi dan lagi dia dipaksa untuk berlutut.


Menelan pil sembari pula meningkatkan energi dalam tubuhnya.


Whush...


Ruang geraknya sedikit terhambat oleh tekanan tersebut. Saat itu Xiao Wang mengetahui akan siapa yang menyerangnya tadi.


Ini bukanlah manusia, melainkan Seekor Phoenix yang memiliki bulu indah berwarna biru. Burung ini berada di tingkat siluman biasa, tapi mengapa dia bisa bergerak dibawah tekanan luar biasa ini? Apakah karena sudah terbiasa, ataukah memiliki kemampuan khusus?


Kyaakk...


Burung itu kembali menyerang. Kali ini dengan menyemburkan nafas es yang membeku kan udara. Xiao Wang segera menciptakan perisai energi di hadapannya untuk menghalau serangan energi es tersebut


Kraakk....


Perisai membeku. Namun sesaat terlihat retakan saat perisai tersebut dihantam oleh benda lain.


Brukkk...


Craksstt...


Seketika pecah. Dan saat ini kaki yang mengelurkan cakar tajam nan mengkilap datang setelah hancurnya perisai energi yang telah membeku tadi.


Tringgg....

__ADS_1


Xiao Wang menghalau dengan Pedang Dewa Siluman. Terjadi percikan bunga api saat cakar dari siluman Phoenix es bertemu dengan pedang Dewa Siluman.


Kontak mata keduanya sama-sama saling menatap tajam. Tapi tatapan mata dari siluman Burung Phoenix Es lebih tajam dari apapun. Seolah-olah mengandung pedang tajam yang mampu merobek mata orang yang memandanginya.


Sringg....


Gerakan kembali dilakukan dengan libasan cakar tajam nan kuat. Xiao Wang menghindari dengan mengangkat pedang. Namun, dibawah tekanan yang semakin menjadi-jadi itu, pedang Siluman Dewa yang notabenenya memiliki berat ratusan ribu kilo itu kini bertambah berkali-kali lipat. Xiao Wang sendiri dibuat kesusahan dalam mengangkat dan menggerakkannya.


Beruntungnya meskipun Siluman Phoenix Es ini yang terbilang bisa bergerak dibawah tekanan, namun gerakkannya juga tampak terhambat.


"Nak, kau bisa menggunakan Mutiara Siluman Murni untuk menundukkan Burung Phoenix Es itu!" ucap Xiao Long dalam kepalanya.


"Hmm, sepertinya tidak perlu. Meskipun ini sangat sulit, namun yakin dan percaya ini juga akan membaut aku semakin meningkat. Anggap saja sebagai tambahan latihan–ku kali ini!" balas Xiao Wang.


Dia kembali menghindar. Gerakan yang melambat, tidak menyurutkan semangat Xiao Wang dalam menahan dan menepis setiap pergerakan yang mengandung serangan dari burung Phoenix Es ini.


"Iblis Api!"


Xiao Wang mencoba menggunakan serangan energi di bawah tekanan ini.


Energi api yang terbilang besar awalnya, menghilang dan muncul kembali tepat di tubuh burung Phoenix Es. Tapi, intensitas yang terkandung juga bertambah kecil.


Baamm...


Meskipun energi yang terkandung dalam api tersebut banyak yang berkurang, namun tetap saja menimbulkan ledakan yang membuat burung itu terpental setegah meter.


Sayangnya tubuh dingin dari burung tersebut berhasil menekan serangan Iblis api yang dilancarkan oleh Xiao Wang. Api Xiao Wang hanya terlihat sejenak sebelum menghilang sepenuhnya oleh hawa dingin ekstrem.


Selama satu jam, Xiao Wang mulai terbiasa. Pedang yang semula terasa sangat berat, kini mulai bisa di gerakan cepat, meskipun kecepatan gerakan pedang tidak melebihi tujuh persen dari gerakan pedang saat Xiao Wang menggunakannya dalam kondisi normal. Tapi setidaknya telah ada kemajuan saat ini.


Begitupun juga dengan kakinya yang semula terasa berat, kini mulai bisa sedikit demi sedikit bergerak. Hingga kini Xiao Wang bisa menggerakkan tubuhnya sekitar sebelas persen dari gerakan normal.


Tekanan ini sebenarnya hanya bisa di tahan oleh seorang Kultivator ranah Alam Langit. Bagi seorang Kultivator ranah Langit yang bisa bergerak di atas sepuluh persen dari gerakan normal adalah hal yang luar biasa.


Setelah bertarung selama dua jam dengan burung tersebut, terlihat burung Phoenix Es itu yang mulai menjauh. Memang saat pertarungan, baik dirinya dan Xiao Wang sama-sama imbang. Xiao Wang berhasil menorehkan luka pada Burng Phoenix, begitupun juga dengan burung itu yang berhasil menorehkan luka cakaran pada tubuh Xiao Wang pula.


Xiao Wang melihat burung itu yang bergerak menjauh. Lalu pandangannya dia alihkan pada luka bekas cakaran dari burung itu di bagian lengannya.


"Haish, selama dua jam bertarung, kau bahkan baru berhasil berjalan selama satu setengah meter saja," Yin berucap dalam kepala Xiao Wang. Di tampak meremehkan Xiao Wang.


"Setidaknya ada kemajuan. Di ranah Langit saja aku sudah berhasil mencapai satu setengah meter dalam beberapa puluh menit. Apalagi juga dibuat bertarung dengan burung Phoenix Es tadi!" Xiao Wang membalas perkataan Yin sekaligus melontarkan pujian terhadap dirinya sendiri.


Ya, kalau bukan kita yang memuji diri kita sendiri, terus siapa lagi? Intinya pola pikir di sini sangat berguna dan dibutuhkan.


Jika di awal-awal saja sudah menanamkan pola pikir tidak mampu, maka hasil yang didapat juga seperti yang kita pikirkan. Makanya Xiao Wang selalu menggunakan pola pikir positif terhadap dirinya sendiri. Baik lambat ataupun cepat, setidaknya itu adalah sebuah usaha yang patut diberi apresiasi.


Kembali lagi, terlepas dari apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadapnya, namun dia tidak mengambil pusing. Sebab yang merasakan dan lebih mengetahui terkait dirinya adalah Xiao Wang sendiri. Orang lain mungkin hanya melihat di luar, tanpa mengetahui sejauh mana dan sekeras apa yang telah dia lakukan. Maka apapun itu, nikmati prosesnya, hasil akhir adalah urusan belakangan.

__ADS_1


"Gagal ataupun berhasil itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah menikmati prosesnya. Saat ini yang perlu aku pikirkan adalah bagaimana cara dan menikmati apa yang aku kerjakan sekarang. Berandai-andai terkait dengan hasil akhir malah akan membuat aku jatuh sendiri. Kalau prosesnya sudah dinikmati tanpa dikeluhkan, maka hasil pasti juga akan ikut baik nantinya!" gumam Xiao Wang.


Lalu memutuskan untuk kembali berkultivasi.


__ADS_2