
Aura yang dilepaskan oleh Chen Xue hanya sesaat. Dia menarik kembali auranya, lalu bersuara lantang.
"Baiklah semuanya, selamat datang kembali di turnamen Antar Generasi Kekaisaran Han. Setelah beberapa hari diselenggarakan, akhirnya sampai pula kita pada hari puncak Turnamen ini!" Chen Xue berkata sembari menekan setiap kalimatnya. Seolah menegaskan kepada orang-orang yang melepaskan niat membunuh itu untuk tidak macam-macam dan mengganggu jalannya turnamen.
"Kepada empat finalis kita, diharapkan untuk segera memasuki panggung arena!"
Mendengar panggilan Chen Xue, empat finalis segera melompat dan mendarat di panggung arena. Mereka memancarkan aura penuh percaya diri dan siap untuk bertarung.
"Selamat bagi kalian yang lolos di babak ini. Di sini kalian akan bertarung dua kali. Dimana pertarungan pertama adalah babak semi final dan yang kedua adalah babak final. Mereka yang kalah di babak semifinal akan kembali bertarung untuk memperebutkan juara tiga. Peraturannya masih tetap sama seperti babak-babak sebelumnya. Maka untuk mempersingkat waktu, langsung saja kita mulai acara ini!" Lantang dalam berkata, Chen Xue langsung disambut dengan tepukan tangan meriah dari bangku penonton.
Setelah tepukan gemuruh mulai reda, Chen Xue kembali mengeluarkan suaranya.
"Bagi keempat peserta, silahkan memilih masing-masing satu dari empat gulungan kertas ini secara acak, sebagai nomor tampil kalian."
Chen Xue memperlihatkan empat gulungan kertas kecil yang melayang di udara kepada empat peserta. Mereka lantas memilih masing-masing gulungan kertas mereka.
"Silahkan melihat diurutan berapa kalian akan tampil?! Setelah itu, bagi yang mendapatkan kesempatan tampil kedua, silahkan meninggalkan panggung untuk menunggu giliran kalian, sementara untuk yang mendapatkan giliran tampil pertama tetap di tempat."
"Nomor 2!" gumam pelan Xiao Wang. Setelahnya dia melompat dan kemudian duduk di bangku khusus peserta semifinal. Bersama dengan Bing Xue Li, sementara yang tersisa di panggung arena adalah Pan Ye Lin dan Song Cai.
Kali ini tidak ada wasit yang turun. Pertarungan akan dipandu langsung oleh Chen Xue.
"Kedua peserta bersiap! Pertarungan mulai..."
Chen Xue mempersilahkan keduanya untuk bertarung, namun dua orang itu belum menunjukkan suatu pergerakan pun. Saling menatap, Song Cai menatap Pan Ye Lin dengan tatapan remeh. Berbeda hal dengan Pan Ye Lin yang tampak begitu mewaspadai lawannya ini.
Memang dalam setiap babak, keduanya dapat dengan mudah memenangkan pertarungan, sehingga dua orang ini bisa dibilang sama-sama kuat.
"Aku akan berbaik hati padamu dengan memberimu pilihan. Antara menyerah dari awal, atau tunggu salah satu tulang–mu aku patahkan! Meskipun kau adalah seorang gadis yang cantik namun aku tidak peduli." Song Cai berkata dengan nada dingin, aura yang terpancar dari tubuhnya begitu gelap, hingga membuat orang yang memiliki mental kacang akan langsung ketakutan dibuatnya.
"Sombong... Kita bahkan belum melangsungkan pertarungan, mengapa
kau sudah begitu sombong seolah-olah telah mengetahui siapa pemenangnya?!" balas Pan Ye Lin.
"Karena kau bukanlah lawan ku... Kecuali posisimu digantikan oleh lelaki yang bermarga Xiao itu!" Pandangannya mengarah ke Xiao Wang yang tengah duduk, lelaki itu sendiri juga balas menatapnya.
"Kalau begitu, mari aku tunjukkan kepada mu, akan siapa yang lebih lemah."
Setelah mengatakan itu, Pan Ye Lin menyiapkan pedangnya. Lantas melesat maju ke arah lawan. Namun sebelum itu dia menggunakan trik pengecoh dengan menghilang dan dalam sekejap muncul di beberapa tempat.
__ADS_1
Meski demikian, Song Cai masih tetap bersikap tenang.
Pan Ye Lin menebas keras pedangnya dari arah tak terduga pada leher Song Cai. Namun dengan sangat mudah, lelaki itu menghindar. Dia menggelengkan pelan kepalanya, sehingga libasan pedang itu hanya mengenai udara kosong.
Pan Ye Lin tidak berhenti dan terus menebas dengan kecepatan tinggi. Gerakan yang lincah diimbangi oleh libasan pedang tanpa henti, sehingga gadis itu berhasil mendorong mundur Song Cai. Meski demikian, belum dia torehkan goresan pedang pada tubuh lelaki itu.
Sejenak, pertarungan terhenti.
"Hahaha... kau cukup gesit, Nona. Karena kau sudah selesai, maka sekarang adalah giliran ku!"
Song Cai menguatkan otot-ototnya.
Whush...
Energi gelap merembes keluar dari tubuh Song Cai dan menyebar lalu menghilang dan menyatu dengan udara. Bersamaan dengan. menghilangnya energi gelap tersebut, lelaki itu juga menghilang dari tempatnya.
Dalam sepersekian detik telah muncul tepat di belakang Pan Ye Lin. Melangsungkan tinju telak ke arah gadis itu. Sedangkan Pan Ye Lin dengan tenang menghindarinya, sehingga tinju telak tersebut hanya mengenai udara kosong.
Song Cai menyunggingkan seringai sinis. "Kau sangat lincah, nona. Aku suka itu!"
Song Cai kembali melancarkan serangannya. Meninju keras dengan kepalan yang penuh akan energi. Tapi Pan Ye Lin masih bisa menghindar untuk kedua kalinya.
Saat tinju kembali mendatanginya, Pan Ye Lin terlambat untuk mengambil gerakan menghindar. Sehingga gadis itu berinsiatif untuk menggunakan pedang dalam menepisnya.
Bukk....
Whush...
Sontak saja Pan Ye Lin langsung dibuat terdorong sangat jauh. Tangannya terasa sedikit kebas oleh gagang pedang yang tiba-tiba mengeluarkan getaran dahsyat tadi.
Song Cai tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Menghilang, dalam watu singkat kembali muncul tepat di belakang gadis itu.
Whush...
Tendangan keras datang dari belakang itu nyaris menghantam Pan Ye Lin. Beruntung gadis itu segera megambil refleks cepat dengan segera menghindar.
Pan Ye Lin melakukan suatu gerakan, bunga-bunga persik muncul dan mengelilinginya.
Pedang yang dia tebas–kan secara horizontal.
__ADS_1
Whush...
Bunga-bunga persik itu langsung mengarah ke Song Cai. Sangat tajam, namun di halau oleh Song Cai dengan kedua tangan yang membentuk silang, hingga menimbulkan perisai gelap transparan di hadapannya.
Kedua orang itu masih bertukar serangan. Terhitung sudah satu jam lebih mereka bertarung.
Song Cai menguatkan otot-ototnya dan kembali berlari ke arah Pan Ye Lin. Keduanya saling serang dan menepis dengan pedang dan tinju tak berhenti beradu.
Dalam tempo yang semakin cepat, Song Cai berhasil memaksa Pan Ye Lin ke dalam posisi bertahan setelah saling imbang pada awalnya. "Sepertinya nona Lin harus menggunakan kekuatan penuhnya jika tidak ingin kalah lebih cepat!" ujar Song Cai sambil menyunggingkan seringai miring.
Pan Ye Lin tidak langsung menanggapi karena fokusnya terpusat pada upaya menahan serangan yang dilancarkan Song Cai terus menerus. Namun, ia akhirnya melepaskan lonjakan energi besar-besaran dalam tubuhnya dan memaksa Song Cai berhenti melancarkan tinjunya.
Bunga-bunga persik menyebar keluar dari tubuh Pan Ye Lin, hingga memenuhi panggung arena. Ikat rambutnya terlepas. Terkibar, rambut gadis itu terurai sempurna. Tubuh nya dikelilingi oleh aura berwarna merah muda, yang memberikan hipnotis tertentu pada orang-orang yang melihatnya. Gaun–nya pun juga terjadi sedikit perubahan.
"Waah, gadis itu sangat cantik. Dia ibarat Dewi yang baru turun dari khayangan." salah satu dari penonton memuji kecantikan Pan Ye Lin dalam mode perubahan ini.
"Ini adalah keterampilan sekte Tebing Persik. Tampaknya, setelah satu jam bertarung, mereka akan segera mencapai puncak pertarungan!" Salah satunya juga ikut berkata. Namun yang sebenarnya terjadi adalah bukan hanya kedua orang itu yang berkata, namun juga hampir semua penonton membicarakan jurus yang dikeluarkan oleh Pan Ye Lin
Ribuan Persik melayang dan berkumpul di belakang Pan Ye Lin. Lalu persik tersebut membentuk bayangan gadis itu dalam ukuran dua kali lipat dari tubuhnya.
Pan Ye Lin menggerakkan pedang di tangannya, untuk menebas Song Cai. Begitupun bayangan persik di belakangnya itu melaksanakan hal yang sama.
Song Cai tidak diam saja. Dia juga melakukan suatu gerakan tertentu, menciptakan bayangan merah dengan aura hitam pekat di belakangnya. Hampir menyerupai wujud Song Cai, namun bayangan ini memiliki dua pasang tanduk di kepalanya. Bayangan itu juga memegang pedang. Lalu pedang tersebut terlibas lambat dan bertemu dengan pedang bayangan persik wujud Pan Ye Lin.
Whush...
Duaarr...
Ledakan yang sangat besar langsung tercipta. Menggetarkan aula pertandingan. Begitu besar kekuatan dari dua bayangan tersebut, sampai menciptakan arus angin kencang dan tekan yang menyebar sesaat.
Dua bayangan di belakang dua peserta telah menghilang. Kabut tercipta sesaat. Kala kabut tersebut menipis, tampaklah dinas panggung, kondisi Pan Ye Lin yang tidak baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan kondisi Song Cai.
Melihat gadis dari sekte Tebing Persik tidak memiliki kekuatan untuk bertarung kembali, maka Chen Xue mengumumkan Song Cai sebagai pemenang.
Sontak saja Hura-hura terdengar dari bangku penonton. Song Cai kemudian menatap ke arah Xiao Wang. Dia menarik seringai miring. Menunjuk Xiao Wang, lelah menggerakkan jempol di lehernya dengan gerakan memotong.
Xiao Wang sendiri hanya berwajah datar. Tak ada rasa takut, ataupun khawatir dengan ancaman itu.
Di sisi lain, para penatua dan Tetua dari aliran putih yang melihat Song Cai atau perwakilan dari aliran hitam itu menang dengan mudah memasang wajah muram. Kini dia hanya berharap pada Bing Xue Li dan Xiao Wang bisa mengalahkannya. Pasalnya setiap turnamen yang diadakan, selalunya aliran putih yang mendominasi. Jika saja aliran hitam sampai memenangkan pertandingan, maka sudah bisa di pastikan bahwa aliran putih mengalami penurunan. Tentunya akan berdampak besar bagi aliran putih kedepannya.
__ADS_1