
Xiao Wang saat ini tengah melesat dengan kecepatan tinggi. Bersama dengan empat orang yang tidak lain adalah dua penatua klan Xiao serta dua jenius klan Xiao.
Penatua tersebut adalah Xiao Die dan Xiao Lei. Sementara untuk dua jenius tersebut adalah Xiao Fu dan seorang gadis cantik bernama Xiao Mei.
Masih dalam keadaan berlari, Xiao Fu mendekati Xiao Die dan berucap, "Penatua ... hari telah menggelap. Apakah tidak sebaiknya kita berhenti dulu?"
"Di depan ada sebuah desa. Kita bisa bermalam di sana," balas Xiao Die.
"Baik, penatua!"
Sehari mereka melakukan perjalanan tanpa henti, ataupun sekedar beristirahat. Ini mereka lakukan agar sampai di kota pusat kekaisaran pas-pas dua hari. Selain itu, mereka tidak ketinggalan pendaftaran nantinya.
Senja telah berganti malam sepenuhnya, Xiao Wang serta yang lainnya telah sampai di sebuah desa.
Meskipun terbilang cukup kecil, namun nyatanya Xiao Wang serta yang lainnya harus membayar uang masuk terlebih dahulu sebelum memasuki desa tersebut.
"Lima keping perunggu untuk bea masuk," ucap pria berbadan besar, namun bukanlah otot melainkan lemak yang membuat tubuhnya gembul.
Xiao Wang memperhatikan tampilan dari pria gembul yang berbicara itu. Tampilannya begitu berandalan. Kultivasinya pun hanya berada di ranah Awal tahap 2.
"Cih, kau petugas keamanan tapi sangatlah lemah. Bagaimana bisa menjamin desa ini akan aman?" ucap Xiao Lei.
"Kau tidak perlu banyak bicara, cepat berikan uang masuknya. Kalau tidak ada uang, lebih baik pergi dari desa ini!" bentak kasar pria kurus.
"Mulutmu sangatlah bau dan kasar... Mau aku patahkan gigimu itu!" Kini giliran Xiao Fu yang berbicara. Dia tampak kesal nan geram oleh pria kurus itu.
"Huuh,, kau bisa apa?" Salah seorang lagi yang berbadan normal berucap sembari memamerkan goloknya yang tajam.
Bukkk....
Tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya tadi, pria yang memegang golok ten kehilangan semua giginya saat tinju di layangkan oleh Xiao Fu.
"Tentu saja aku bisa melakukannya!" sinis Xiao Fu. Selepas itu, dia lantas mengeluarkan aura miliknya. Menekan tiga orang penjaga berandalan tersebut.
Sontak saja hal itu langsung membuat ketiga orang itu bergetar hebat. Pria gembul tadi bahkan sampai tak bisa menopang tubuhnya lagi dan berakhir dengan jatuh terguling-guling di tanah.
__ADS_1
"Nah, begitu lebih baik!" ucap Xiao Fu menarik kembali auranya. Setelah itu, dia mempersilahkan Xiao Die dan Xiao Lei untuk memasuki desa itu lebih dulu.
Mereka berjalan santai, meninggalkan tiga orang yang masih belum bisa melupakan akan aura yang di lepaskan oleh Xiao Fu tadi. Sehingga belum bisa mengontrol diri.
Mencari sebuah penginapan. Meskipun desa tersebut terbilang kecil, namun n nyatanya masih banyak orang yang berkeliaran di mala hari. Bahkan tampak ramai, di banding dengan desa kecil pada umumnya.
"Hmm, sebenarnya ini sebuah desa ataukah kota kecil?" Xiao Wang bertanya sembari pandangannya dia lempar ke arah Lampion-lampion yang berjejer rapi memenuhi jalanan. Banyak anak-anak serta orang tua berkeliaran, pedagang-pedagang pun tidak henti-hentinya menawarkan barang dagang mereka. Sangat ramai.
"Ini adalah Desa Temu Dagang. Sesuai namanya, semua pedagang dari berbagai pelosok akan bertemu di sini. Bisa di bilang, desa ini sudah menjadi sebuah pasar umum sekarang," jelas Xiao Die.
Xiao Wang mengangguk. "Pantas saja ada penjagaan di gerbang tadi!"
Mereka terus berjalan, mencari sebuah penginapan, tapi tak butuh waktu lama mereka telah mendapatkannya.
Masuk. Kelima orang itu langsung di sambut oleh seorang wanita yang merupakan pelayan.
"Silahkan, Tuan-tuan!" Wanita Pelayan mempersilakan mereka untuk masuk.
"Umm!"
"Kami akan menyewa empat buah kamar. Berapa harga satu malamnya?" tanya Xiao Die.
"Harga kamar semalam Dua perak per satu buah kamar."
"Umm!" Xiao Die mengangguk. Setelah lelaki itu memberikan delapan buah koin perak. Mereka lantas mengarah ke salah satu meja kosong, dan juga memesan makanan.
Pesanan datang, mereka lantas menyantap hidangan yang di sajikan.
Aktivitas makan Xiao Wang sempat terhenti kala melihat kedatangan beberapa orang. Berpakaian seragam dengan pedang terselip di pinggang.
Xiao Wang mengenali salah seorang dari mereka. Pria yang dia temui memimpin rombongan sekte Menengah, saat berada di hutan Binatang Buas dan melawan Singa Emas waktu itu.
Sejenak, Xiao Wang menyunggingkan seringai kecil. Entah mengapa dia merasa lucu kala kembali mengingat kejadian itu. Dimana sekte Pedang Halilintar yang berjuang keras, malah Xiao Wang yang mendapatkan Singa Emas tersebut. Bahkan korban yang mati di pihak mereka cukup banyak.
Wang En bersama dengan sepuluh orang anggota Sekte Pedang Halilintar di belakangnya berjalan memasuki penginapan. Melewati meja tempat Xiao Wang serta yang lainya duduk, Wang En menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Eh, Penatua Xiao Die ... Penatua Xiao Lei!" ucapnya dengan intonasi dibuat ramah.
"Tetua Wang En... Mari bergabung bersama kami!" ajak Xiao Die.
"Umm!" Wang En lantas duduk bergabung bersama rombongan Klan Xiao, begitupun juga dengan dua orang tetua lainnya. Sementara anggota dari sekte Pedang Halilintar yang di bawanya dia suruh untuk mencari tempat duduk.
Hidangan kembali datang untuk Anggota sekte Pedang Halilintar, termasuk dengan Wang En dan dua tetapi tersebut.
"Penatua Xiao, apakah kalian hendak menuju ke kota pusat Kekaisaran?" tanya Wang En.
"Ya... Aku menebak, kalian juga demikian!" balas Xiao Die.
Wang En mengangguk membenarkan. Dia memperhatikan Xiao Fu, Xiao Mei dan terakhir pada Xiao Wang. Beruntung dia tidak mengenali wajah Xiao Wang, karena waktu itu situasinya begitu mendukung Xiao Wang untuk merebut Singa Api Emas.
"Mohon maaf Penatua. Apakah klan Xiao sekarang mengalami sebuah penurunan drastis hingga mengirim Seorang yang tidak berkultivasi?" ucap Wang En, membicarakan Xiao Wang.
Mendengar itu, Xiao Die tampak tidak terima. "Aku pikir, tetua terlalu memandang remeh klan Kami," ucapnya dengan intonasi tak senang.
"Hohoho,,, Penatua Xiao Die terlalu sensitif. Aku hanya bermaksud bertanya ... tanpa ada maksud lain!" Wang En menjawab santai, tanpa ada rasa takut sedikitpun setelah menyinggung rombongan klan Xiao itu.
Sementara yang lain merasa tak terima dengan omongan Wang En tadi, di sisi lain, Xiao Wang dan Xiao Lei justru bereaksi lain. Mereka tampak santai, terlepas dari Xiao Wang yang bodoh amat dengan anggapan tersebut, Xiao Lei justru merasa senang, ada yang mengata-ngatai Xiao Wang.
"Sudahlah, jangan sampai masalah kecil itu mengganggu waktu makan kita," ucap Xiao Lei.
Suasana yang mulai panas tadi kini telah kembali normal. Mereka melanjutkan aksi makan mereka. Namun kali ini tampak hening, tanpa ada yang berbicara.
Selesai makan, Xiao Wang meminta izin untuk keluar sebentar. Sementara Xiao Fu, Xiao Mei dan dua penatua Xiao itu memilih untuk beristirahat saja.
Malam yang kian larut, perlahan keramaian yang terjadi juga mulai memudar. Xiao Wang berjalan memilih berkeliling desa tersebut, sebab dia penasaran dengan desa ini.
Tapi tak ada keanehan sedikitpun yang dia dapatkan. Akhirnya Xiao Wang memilih untuk kembali ke penginapan.
Whush....
Tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari cepat melewati Xiao Wang. Meskipun terbilang cepat, namun Xiao Wang masih bisa mengikuti pergerakannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Xiao Wang lantas berlari mengejarnya.