Kultivator Dewa Xiao Wang

Kultivator Dewa Xiao Wang
Ch. 61 ~ Babak 8 Besar IV


__ADS_3

Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Xiao Fu yang biasanya menyambut Xiao Wang dengan wajah sumringah kala laki-laki itu memenangkan pertarungan, namun untuk kali ini tampak berbeda. Dimana Xiao Fu hanya terdiam saja.


Xiao Wang duduk di sebelahnya.


"E–eh... Sa–saudara Wang. Kau memenangkan pertandingan dengan mudah, Selamat!" Xiao Fu berkata dengan penuh kecanggungan, sekaligus dia tampak menjaga bicaranya, takut menyinggung perasaan Xiao Wang.


"Saudara Fu, aku tau kau tidak seperti mereka. Bersikap lah seperti biasa," ucap Xiao Wang, mencoba mencairkan suasana.


Xiao Fu sedikit meragukan pernyataan laki-laki itu. Namun melihat mata Xiao Wang, dia tidak menemukan adanya hal-hal aneh. Maka dia memilih untuk memercayainya.


"Baiklah, saudara Wang. Aku percaya padamu. Kau pasti memiliki alasan tersendiri dalam mempelajari keterampilan Ilusi itu," Xiao Fu menepuk-nepuk pundak Xiao Wang. Keduanya sama-sama memasang sunggingan kecil di bibir mereka.


Selang beberapa saat, pertandingan pun kembali dimulai. Wasit mulai mengacak kembali nama-nama peserta yang tertera di papan nama terbuat dari hologram.


"Pan Ye Lin dari sekte Tebing Persik, melawan Xiao Fu dari klan Xiao."


Mendengar nama Xiao Fu yang di panggil, Xiao Wang lantas berucap, "Semangat, Saudara Fu. Tunjukan yang terbaik!"


"Saudara tenang saja. Aku pasti akan menunjukkan yang terbaik, untuk klan kita!"


Kedua peserta yang di sebutkan namanya bangkit dari tempat duduknya. Pan Ye Lin melompat lebih dulu ke panggung Arena. Setelah itu Xiao Fu juga mengikutinya.


Sampai di atas panggung arena, wasit menjelaskan terkait dengan peraturan yang harus di jalankan oleh para peserta.


Kedua orang itu sama-sama mengangguk.


"Dua peserta, Siap?! ... Pertarungan mulai!"


Setelah di persilahkan, Xiao Fu dan Pan Ye Lin sama-sama menangkupkan tangan memberi hormat. Baru setelah itu, keduanya memulai pertarungan.


Xiao Fu serta Pan Ye Lin ini merupakan Kultivator pengguna pedang. Sehingga sejak awal pertarungan, mereka telah beradu orang dengan lihai nan lincah.


Pan Ye Lin menyerang dengan teknik berpedang yang sangat baik dan gesit. Sementara itu, Xiao Fu menggunakan pedangnya dengan tidak kalah lihai dengan wanita itu. Kultivasi mereka yang berbeda satu tahapan, tapi keduanya bertarung seolah berada di ranah Kultivasi yang sama, saja.


Setelah setengah jam berlari-lari dan saling menyerang, kedua peserta melepaskan serangan energi yang cukup efektif.


Pan Ye Lin memainkan pedangnya. Meskipun gerakan yang dia peragakan begitu indah di pandang oleh orang-orang, tapi setiap pergerakan serta gerakan pedang yang di lakukan oleh Pan Ye Lin sangatlah tajam. Bersamaan dengan gerakan Pa Ye Lin, muncul kelopak-kelopak bunga persik yang berterbangan, mengikuti setiap arah pedangnya.


"Pedang Persik Musim Gugur!"


Persik berterbangan membentuk sebuah pusaran kelopak persik. Meskipun terlihat sangat indah, namun tidak ada yang berani menyentuh langsung persik-persik itu.


"Elang Api Langit!"

__ADS_1


Whush...


Bayangan burung elang Api melesat dengan cepat, mengarah langsung ke arah pusaran bunga persik yang bergerak ibarat bor dengan pusat terkecil mengarah ke arah elang yang di lepaskan oleh Xiao Fu tadi.


Whush...


Sringgg....


Sejenak dua energi itu saling berbenturan, menciptakan angin kencang disertai dengan tekanan udara yang terjadi.


Duaarr...


Ledakan timbul sebagai puncak dari dua energi tersebut. Bunga persik menyebar bersamaan dengan energi api dari elang juga menyebar. Xiao Fu dan Pan Ye Lin sama-sama dibuat terdorong mundur.


Meski hasilnya tidak cukup untuk menentukan pemenang, tetapi pertarungan terus berlangsung.


Mereka kembali bertempur dengan senjata mereka. Pan Ye Lin di setiap pergerakannya di sertai dengan bunga persik tajam yang mengiringinya. Begitu juga dengan Xiao Fu yang di kelilingi energi panas.


Pertarungan jarak dekat yang berlangsung cukup seru. Beberapa kali juga kedua orang itu akan mengambil jarak untuk menciptakan serangan energi. Baik itu secara di sadari lawan, atau tidak di sadari lawan serangan mereka. Meski demikian, hasilnya tetap sama.


Setelah sekitar satu jam, Pan Ye Lin tampaknya telah lebih mendominasi pertarungan. Beberapa kali dia memaksa Xiao Fu untuk terdesak.


Xiao Fu bahkan juga telah menggunakan keterampilan Tempur Klan Xiao yang di ajari oleh Xiao Wang. Tapi tetap Pan Ye Lin ini masih sulit untuk di lumpuhkan. Pantas sejak awal wanita ini di gadang-gadang sebagai pemenang.


Ya, pertarungan antara Xiao Fu dan Pan Ye Lin telah berlangsung selama dua jam. Xiao Fu telah dibuat semakin di sudutkan oleh Pan Ye Lin. Wanita ini begitu berhati-hati dalam bertindak. Setiap langkah yang di ambilnya juga selalu tepat, Xiao Fu menyadari kalau Pan Ye Lin ini bukanlah lawannya. Tapi setidaknya dia harus berusaha semaksimal mungkin. Setidaknya kalah dengan terhormat.


Awan tiba-tiba berkumpul di atas sana. Angin panas berputar ganas di sekitar Xiao Fu. Setelahnya berubah menjadi api lalu terkumpul menjadi satu dan membentuk seekor Elang Api. Memiliki mata tajam layaknya mata pedang, disertai dengan aura yang dibawa serta oleh elang tersebut mengintimidasi.


"Api Elang Raja!"


Xiao Fu mengarahkan elang tersebut ke arah Pan Ye Lin yang saat itu juga tengah menyiapkan sebuah serangan energi untuknya.


"Pedang Persik Musim Semi!!!"


Whush...


Duaarr..


Guncangan tercipta. Xiao Fu terhempas oleh angin kencang yang ditimbulkan oleh ledakan sangat besar tadi. Tak bisa memposisikan dirinya dengan baik, akhirnya Xiao Fu keluar arena.


Sedangkan Pan Ye Lin hanya terdorong mundur beberapa langkah saja. Melihat lawannya telah keluar arena, dia menarik nafas dalam.


Sementara itu wasit mengumumkan Pan Ye Lin sebagai pemenang,. Gadis itu sendiri berjalan ke pinggir, setelah itu menangkupkan kedua tangannya, memberi hormat pada Xiao Fu.

__ADS_1


Meskipun tubuhnya terasa sakit oleh pertukaran jurus tadi, namun Xiao Fu tetap membalas hormat dari gadis tersebut dengan hanya mengangguk pelan.


Beberapa orang segera turun dan mengamankan Xiao Fu. Membawa lelaki itu menuju ruang medis.


Setelah pertandingan antara Xiao Fu dan Pan Ye Lin selesai, kembali pertarungan selanjutnya berlangsung. Xiao Wang dari bangku peserta, bukannya memperhatikan dan mempelajari pertarungan dua peserta yang tengah bertarung itu, perhatiannya malah terfokus ke tempat lain.


Dia merasakan adanya sedikit kejanggalan pada aula pertandingan ini. Orang-orang yang mengenakan pakaian hitam serta aura gelap samar terpancar dari tubuh mereka terlihat menyebar di bangku-bangku penonton. Memang dalam turnamen umum ini, hal itu wajar-wajar saja. Akan tetapi yang menjadi masalah bagi Xiao Wang adalah, orang-orang ini memiliki niat membunuh sangat besar.


"Nak, besok adalah partai final. Aku yakin tidak akan berakhir dengan baik!" gumam Xiao Long dalam pikirannya.


"Ya, aku juga merasakan yang demikian. Besok pasti akan ada serangan besar-besaran di tempat ini. Pertumpahan darah tidak bisa untuk di hindari!" balas Xiao Wang.


"Setidaknya kau harus memiliki persiapan untuk ini."


"umm, aku mengerti!"


Xiao Wang kembali fokus memperhatikan dua peserta yang bertarung. Kedua orang itu sendiri sama-sama kuat. Saling anti-menganti serangan, hingga setelah dua jam pertarungan tampak pula siapa pemenangnya.


"Pemenangnya adalah Song Cai, dari sekte Tengkorak Iblis!" ucap wasit lantang.


Lawan dari Song Cai ini sendiri adalah Hua Ai yang merupakan jenius dari sekte Tombak Dewa, sekaligus pemilik tubuh Khusus.


"Lelaki dari aliran hitam ini sangat kuat,, bahkan pemilik tubuh khusus saj bisa dia kalahkan dengan mudah!" gumam Xiao Wang pelan, mengakui kehebatan dari Song Cai.


Setelah itu, pertarungan peserta terakhir pun dimulai. Lu Jia dari klan Lu melawan Bing Xue Li dari sekte Lotus Es.


Tidak seperti pertarungan antara Song Cai dan Hua Ai yang memakan waktu dua jam, pertarungan antara Bing Xue Li serta Lu Jia ini tidak berlangsung lama. Sebab dari awal pertarungan, telah terlihat Bing Xue Li mendominasi. Bahkan dia tidak memberikan lelaki itu kesempatan untuk menyerang.


Puncaknya, Hua Ai dibuat terpental jauh dan menabrak dinding pembatas antara bangku penonton serta lapangan luas arena.


Seperti biasa, setelah pertarungannya Bing Xue Li akan menengok ke arah Xiao Wang. Menantang lelaki itu dengan tatapan sinisnya, setelah itu gadis tersebut segera melompat turun dari arena.


Pertarungan telah selesai, Xiao Wang berjalan hendak menunggu dua penatua serta Xue Mei. Meskipun dia merasa lain untuk menemui mereka, namun tetap dia melakukannya.


Saat tengah berjalan diantara ramainya orang-orang yang berdesakan, tidak sengaja Xiao Wang menabrak seorang kakek tua berpakaian compang camping.


"Maaf, kakek. Aku tidak sengaja!" ucap Xiao Wang merasa bersalah.


"Uhuk... Nak, bisa kah kau mengantarku sampai ke rumahku?! Orang-orang terlalu banyak, lututku terasa sakit jika berjalan di tempat seperti ini!" ucap Kakek tersebut dengan suara paraunya.


Tampak berpikir sejenak, Xiao Wang juga menoleh ke arah lain dimana Xiao Die, Xiao Mei dan Xiao Fu tengah berjalan kearahnya. Tentunya mereka juga berjalan sangat pelan karena ramai Orang-orang. Dan seperti bisa, Xiao Lei tidak terlihat di sana.


"Hmm, baiklah. Mari naik ke punggung ku. Aku akan mengantar hingga ke rumah kakek!" tawar Xiao Wang. Dia mengambil posisi jongkok untuk memberi kemudahan kakek tua itu menaiki punggungnya.

__ADS_1


"Terima kasih, nak. Kau memang benar-benar baik!"


Setelah itu, kedua orang tersebut pergi dari sana.


__ADS_2