
Kabut merah tebal yang semula memenuhi satu ruangan luas kini telah menipis. Terbentuk dua sosok bayangan yang semakin jelas terlihat diantara menepisnya kabut merah tersebut.
Raja Rou yang melihat dua bayangan tersebut begitu tersentak. Dia tahu betul akan siapa sebenarnya dua sosok itu. Tidak lain dan tidak bukan mereka adalah utusan kelompok Naga Merah yang datang untuk menagih keputusan raja Api.
Whush...
Kabut merah tersebut kini telah tersapu oleh energi kuat yang tiba-tiba saja dikeluarkan oleh dua orang itu. Bahkan energi tersebut mampu menciptakan angin yang bergerak cepat membentuk lingkaran meluas satu ruangan.
Raja Rou melindungi penglihatannya dengan lengan dari angin tersebut sejenak, lalu dia menurunkannya setelah dirasa Angin tersebut telah melewatinya.
Para prajurit yang bertugas berjaga di ruangan itu segera mengacungkan pedang dengan sigap, mengelilingi dua orang itu.
Meskipun telah dikelilingi oleh banyak pasang pedang, namun tak terlihat ekspresi takut dari raut wajah kedua orang itu. Mereka malah menyunggingkan seringai sinis yang tampak menyeramkan.
Jenderal tertinggi menyuruh para prajurit untuk maju dan menyerang dua orang itu.
Semuanya bergerak dengan pedang yang siap dilayangkan ke arah dua orang tersebut, sayangnya para prajurit itu malah terlempar berhamburan saat salah satu diantara dua orang itu melibaskan sebelah tangan.
Melihat hal itu, jenderal pertama dan jenderal kedua segera mengambil tindakan. Kedua jendral tersebut melesat maju menyerang dua orang yang masih berdiri santai di tengah-tengah ruangan.
Jenderal pertama mengayunkan pedang kuat ke arah leher salah satu dari dua orang tersebut. Akan tetapi secepat apapun dia bergerak, tetap pedangnya hanya mampu menembus udara kosong tanpa mampu menembus kulit target.
Setelah menghindari santai libasan pedang dari jenderal pertama orang tersebut lantas mengangkat tangan kirinya tepat pada dada jenderal pertama.
Whush....
Langsung saja terlempar jauh hingga menabrak dinding ruangan.
Jenderal kedua pun mengalami nasib tidak bedah jauh dengan jenderal pertama. Juga terlempar hingga menghantam suatu benda dengan keras pula.
Raja Rou yang melihat para pengawalnya begitu dibuat tidak berkutik kini berkeringat dingin. Namun sebisa mungkin dia tetap memasang wajah tegap agar tidak terlihat lemah dan menunjukkan kelemahannya pada dua orang perwakilan kelompok Naga Merah itu.
"Hihihi... Sepertinya lelaki tua ini memang tidak berniat ikut menjadi bawahan kelompok Naga Merah. Bahkan dia berani melaporkan permasalahannya kepada pihak kekaisaran!" ujar salah seorang perwakilan kelompok Naga Merah yang mengenakan tudung menutupi mukanya. Dari suara dan gaya bicaranya, sepertinya dia adalah seorang wanita.
__ADS_1
"Benar... Memang benar hukum hitam, bahwa mengajak seseorang tidak akan mempan dengan cara yang lembut!" Salah seorang nya lagi ikut berkata. Kali ini suaranya berat pertanda dia seorang lelaki. Memang kedua orang itu mengenakan pakaian yang sama, sehingga terbilang sulit untuk membedakan mereka dari segi penampilan fisik.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak pernah berurusan dengan pihak Kekaisaran beberapa bulan ini," cetus Raja Rou. Dia berkata jujur soal ini.
Memang benar selama kedatangan dua orang ini beberapa hari yang lalu, Raja Rou tidak lagi memiliki komunikasi dengan pihak Kekaisaran. Seolah dia sengaja menyembunyikan masalah penyakit kerajaan api terhadap dunia.
Ini sendiri juga berkaitan dengan ancaman yang dikeluarkan oleh dua perwakilan kelompok Naga Merah tersebut sebelum pergi meninggalkan kerajaan Api beberapa hari lalu. Makanya kedua orang itu menciptakan suatu array ilusi yang mengurung kerajaan Api.
"Cih, kau pikir kami bodoh. Tentu saja kau telah melaporkan ini kepada pihak kekaisaran. Itulah mengapa penyakit itu telah berhasil diatasi sekarang... Tapi itu tidak penting lagi. Pihak Kekaisaran pun tidak akan bisa menghentikan aku dan saudariku untuk menghancurkan kerajaan api saat ini juga!" ucap si lelaki dengan dingin, pun terkandung ancaman terhadap Raja Rou.
Semula ekspresi Raja Rou mengernyitkan kala mendengar pernyataan penyakit jiwa yang diderita oleh rakyat kerajaan Api yang ada di ibukota sembuh karena tindakan dari pihak kekaisaran, padahal yang melakukan itu semua adalah Xiao Wang. Namun sata mendengar kalian terakhir dari lelaki tersebut ekspresi Raja Rou kini berubah memburuk.
"Jangan pikir aku akan membiarkan kalian berdua berhasil melakukannya." Rou Shi tiba-tiba muncul dan memancarkan aura bertarung hebat.
Lelaki itu datang bersama dengan pedang di cengkeramannya.
Setelahnya Rou Shi maju menyerang dua orang itu.
Rou Shi tidak tinggal diam. Kembali bergerak lincah dan sigap, sayangnya hanya lima gerakan yang dapat dilakukan oleh Rou Shi sebelum pemuda itu benar-benar ditumbangkan.
Brukk...
Tubuh Rou Shi terbanting keras pada lantai, hingga membuat lantai tersebut retak karenanya.
Ringisan kesakitan terdengar dari mulut lelaki itu. Sedangkan raja Rou yang melihat putranya dalam kondisi seperti itu langsung membulatkan matanya.
"Shi'er!" Dia bergerak cepat menghampiri putranya.
"Ayah..." Roh Shi tampak kesakitan. Dia merasakan sesak di dadanya sebab sesangan yang terlihat pelan tadi nyatanya mengandung energi Qi yang sangat besar. Yakin jika saja lelaki itu serius dalam melancarkan serangan itu mungkin dadanya akan remuk saat itu juga.
"Kalian berani sekali menyakiti putraku!" Raja Rou tampak geram. Dia bangkit berdiri dan meletakkan kepala Rou Shi ke lantai dengan perlahan yang semula dia papah di pangkuannya.
Whush....
__ADS_1
Raja Rou tiba-tiba saja melepaskan kekuatan hebat dari dalam tubuhnya. Melepaskan aura kuat hingga menyebar memenuhi satu ruangan. Para prajurit, jenderal pertama dan jenderal kedua tertegun kala melihat kekuatan dari Raja mereka itu.
Selama ini memang tidak pernah raja Rou itu memperlihatkan atau menunjukkan kekuatannya pada orang lain. Bahkan orang terdekat Raja Rou sendiri tidak tau kalau selama ini Raja Rou memiliki kekuatan besar yang dia simpan rapat.
"Ranah Suci tahap 1 yah... Hmm, menarik!" gumam lelaki bertudung sembari memasang seringai khasnya.
Raja Rou menciptakan pedang dari energi Qi miliknya. Setelah itu lantas maju menyerang dia orang bertudung yang tidak lain adalah perwakilan dari kelompok Naga Merah.
Whush...
Dengan cepat pedang tersebut bergerak. Selang beberapa detik, wanita bertudung langsung mengambil jarak. Membiarkan lelaki bertudung yang bertarung sendiri melawan Raja Rou.
Benar saja, Raja Rou tidak mengejar si wanita. Malahan dia sibuk mengurusi pria bertudung yang tampaknya sangat merepotkan.
Terlihat dari pertarungan mereka berdua, Raja Rou yang tidak pernah berhasil mencapai tubuh lawan. Meskipun dia begitu lihai dalam bergerak serta cepat mengambil tindakan, namun tetap saja tidak bisa menyentuh lawan. Bahkan pria bertudung itu tampak bermain-main dengannya.
Ini menandakan bahwa kultivasi keduanya masih terpaut jauh.
Bukkk....
Bukkk....
Whush...
Beberapa pukulan telak kini telah mendarat di dada Raja Rou. Itu membuat Raja Api itu nyaris terdorong mundur dan terjatuh. Tapi lelaki bertudung malah tidak membiarkannya begitu saja. Malah menahan dan melancarkan rentetan tapak telak di tubuhnya namun dalam sisi berbeda-beda.
Hingga satu tinju telak sebagai penutup di bagian perutnya.
Whush....
Baammm...
Raja Rou terlempar jauh dan tertahan oleh dinding ruangan. Dinding tersebut telah retak, Raja Rou jatuh dalam keadaan berlutut. sebelah tangannya memegangi dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1