
Chen Xue melompat ke arah panggung arena. Menyapu pandangannya di seluruh penonton serta orang yang hadir dalam aula pergelaran Turnamen Generasi. Setelahnya wanita itu berucap lantang.
"Selamat Datang dan selamat bertemu kembali semuanya. Terima kasih telah hadir kembali untuk menyaksikan turnamen Antar Generasi yang berlokasi khusus di kota pusat kekaisaran Han. Sesaat lagi kita akan menyaksikan penampilan dari para jenius kekaisaran, yang akan berlaga di babak 16 besar Tentunya di babak ini akan semakin terasa seru dibanding dengan babak-babak sebelumnya. Dimana para peserta harus mengeluarkan potensi sedemikian mungkin untuk lolos ke babak 8 besar ... Untuk itu, mari beri tepukan yang gemuruh untuk para peserta kita!!!"
Tepat setelah ucapan lantang itu selesai terdengar, sontak saja tepukan gemuruh terdengar. Namun ada juga orang yang berteriak sehingga membuat suasana di tempat itu semakin ricuh dan ramai.
Selang beberapa saat, Xue Chen memberi kode pada para penonton untuk berhenti. Dengan mengangkat tangan kanannya ke atas. Semula terbuka, tangan itu lalu di kepal sebagai kode untuk berhenti bertepuk tangan.
"Baiklah, semuanya tanpa berlama-lama mari kita mulai saja acaranya. Bagi kedua wasit yang akan bertugas, silahkan untuk memasuki kedua panggung yang telah tersedia!"
Memang dalam babak ini disediakan dua buah panggung arena. Mengetahui bahwa pertarungan peserta akan memakan banyak waktu, sebab yang lolos di babak ini kebanyakan para jenius utama di sekte dan klan besar. Perwakilan sekte menengah dan kerajaan pun masing-masing hanya dua orang. Termasuk dengan Rou Shi sebagai perwakilan dari kerajaan Api.
"Aku jadi penasaran akan siapa lawan yang aku hadapi. Semoga saja kita bertiga belum bertemu hingga partai delapan besar!" ucap Xiao Fu.
"Ingat, apapun dan siapapun lawan kalian nantinya, jangan pernah mengatakan tidak. Lawan mereka dengan penuh keberanian, dan tetap tenang dalam segala situasi!"
Baik Xiao Fu maupun Xiao Mei sama-sama mengangguk mendengar ucapan Xiao Wang tadi.
Selang beberapa saat, pertandingan pun resmi dimulai. Masing-masing wasit memanggil nama yang akan bertanding. Kebetulan nama yang di panggil adalah Xiao Fu dan Xiao Mei. Mereka bertanding dalam satu waktu, tapi berbeda panggung.
Kedua orang itu bangkit. Saling menyemangati satu sama lain, mereka lantas melompat turun di atas arena.
Xiao Fu mendarat tepat empat meter di hadapan lawannya. Wasit telah memulai pertarungan setelah sebelumnya menjelaskan peraturan yang harus dipatuhi oleh peserta ketika bertarung di babak 16 besar ini.
"Xiao Fu, dari klan Xiao. Mohon bimbingannya!" Xiao Fu menangkupkan kedua tangan memberi hormat sebelum bertarung.
"Liu Cao, dari Sekte Tombak Dewa. Mohon bimbingannya juga!"
Setalah sama-sama memberi hormat, kedua orang itu pun mengambil sikap kuda-kuda. Selama 30 detik belum ada yang mengambil tindakan untuk menyerang lebih dulu. Sama-sama mengatur strategi untuk menyerang lawan. Setelahnya mereka maju dan saling menyerang.
Xiao Fu menebas pedang melintang. Menciptakan bayangan energi putih yang mengikuti arah laju pedangnya tersebut.
Sringg...
__ADS_1
Pedang itu bergesekan dengan tombak baja milik Liu Cao. Menimbulkan percikan bunga api serta suara nyeri di gendang telinga orang-orang yang mendengar l.
Selanjutnya bergerak kembali dengan serangan dan laju arah pedang berbeda. Xiao Fu mencari celah untuk menyerang titik buta. Sayangannya dalam kondisi ini, dia belum menemukan momen yang pas. Pasalnya pertahanan Liu Cao ini begitu ketat dan kuat, sehingga sulit untuk di lumpuhkan.
Whush....
Tringg...
Sringg...
Traangg...
Kedua orang itu beradu serangan jarak dekat dengan senjata yang bermain sempurna. Sama-sama lihai dalam memainkan senjata, Xiao Fu dengan teknik berpedang yang sangat baik nan lincah, begitupun juga dengan Liu Cao yang menggunakan tombaknya dengan lihai pula.
Kultivasi setara di ranah Ahli tahap 1, membuat keduanya imbang. Menciptakan pertunjukan seru dan sangat sulit untuk memalingkan perhatian dari pertarungan kedua orang itu.
Sejenak keduanya mengambil jarak. Lalu sama-sama mengumpulkan energi pada senjata lalu melakukan suatu gerakan tertentu.
"Hunjaman Senjata Dewa...!" Liu Cao berkata lantang. Energi yang yang telah terkumpul, melesat lurus ke depan. Membentuk bayangan senjata tombak dengan ujung lancip.
Kedua serangan energi itu bertemu di titik tengah.
Baamm...
Whush...
Ledakan terjadi, sedikit menggetarkan lantai arena. Hembusan angin menyebar membentuk sebuah lingkaran yang menyebar luas, membawa serta tekanan bersamanya.
Kedua orang itu kembali maju dan beradu serangan dari jarak dekat setelah serangan jarak jauh tidak terlalu efektif.
Cukup lama kedua orang itu bermain tanpa henti. Sekitar satu jam mereka beradu serangan jarak dekat, tapi tidak membuat yang menonton bosan. Malahan seiring dengan pertarungan keduanya, semakin membuat penonton tertarik pula. Mereka semakin penasaran akan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Keduanya bergerak cepat, langkah kaki yang diposisikan sedemikian mungkin, hingga sama memiliki pertahanan kuat.
__ADS_1
"Amukan Senjata Dewa!!!"
"Pedang Api Pembuncah Dunia!!!"
Untuk kedua kalinya mereka melepaskan serangan energi. Kali ini memiliki kekuatan yang dua kali lebih besar dari sebelumnya.
Baamm....
Ledakan yang tercipta pun juga semakin menjadi-jadi. Menimbulkan dampak energi yang menyebar, dan mengenai kedua orang itu.
Baik Xiao Fu, maupun Liu Cao terdorong mundur. Mereka sama-sama merasakan dadanya yang sesak.
Selang sepuluh detik tak bergerak, Xiao Fu lantas memulai kembali pertarungan. Liu Cao menyambut dengan tombaknya.
Dalam pertarungan kali ini, Xiao Fu tampaknya telah lebih mendominasi pertarungan. Beberapa kali dia memaksa Liu Cao dalam posisi terdesak. Hal ini sendiri terjadi karena Xiao Fu menggunakan keterampilan Klan Xiao dengan sangat sempurna.
Memang pertarungan di awal tadi dia juga sempat menggunakan keterampilan Tempur Klan Xiao. Tapi dia menggunakan keterampilan itu dengan tidak sempurna. Dalam kata lain, sebelumnya Xiao Fu hanya mengandalkan keterampilan yang dia pelajari dari sekte. Sementara untuk sekarang dia menggunakan keterampilan yang dia pelajari dari Xiao Wang.
Banyak tatapan kagum melihat keterampilan Klan Xiao yang di pertunjukan oleh Xiao Fu tadi. Semuanya terkesiap, dan tak ingin mengalihkan perhatian dari Xiao Fu.
"Ini benar-benar luar biasa. Bahkan bisa memaksa permainan tombak Sekte Tombak Dewa tak berkutik oleh keterampilan klan Xiao." Salah satu dari penonton tidak bisa untuk tidak berkata melihat itu.
"Ya, sekarang klan Xiao semakin maju saja. Bahkan keterampilan tarung mereka juga semakin baik dan kuat!"
"Ya, aku yakin. Setalah ini klan Xiao akan di pandang lebih khusus oleh Kekaisaran."
Sin beralih pada pertarungan di atas arena. Xiao Fu telah berhasil melumpuhkan Liu Cao.
Liu Cao terdorong jauh dengan tinju telak yang menghantam dadanya.
Tubuh Liu Cao sendiri tidak terlepas dari luka-luka sayatan yang diciptakan oleh Xiao Fu.
Tak ingin menyerah, Liu Cao berniat bangkit dan hendak kembali menyerang, namun Liu Cao segera mengentikan aksinya saat pedang Xiao Fu telah bertempat di lehernya. Nyaris menyentuh kulti leher Liu Cao, membuat lelaki itu terpaksa mengucapkan kata menyerah.
__ADS_1
Xiao Fu tersenyum senang. Lalu membatu Liu Cao berdiri. Kedua orang itu memberi hormat.
Lolos ke babak 8 besar tidak masuk dalam targetnya sebelumnya. Sehingga Xiao Fu tidak bisa untuk tidak senang. Dia turun di arena dan menghampiri Xiao Wang. Menunggu Xiao Mei selesai bertarung, dengan tak henti-hentinya berbicara. Mungkin karena terlalu senang hingga lupa untuk mengunci mulutnya.