
Kembali ke desa Temu Dagang, Xiao Wang tidak sengaja bertemu Xiao Die di jalan. Lelaki itu sendiri tengah mencarinya.
"Kau dari mana?"
Xiao Wang menjawab, "Habis mencari angin segar."
"Di luar Desa?" Xiao Die mengangkat sebelah alisnya.
"Ya ... Penatua, mari kembali ke penginapan. Mataku sudah berat!"
Xiao Die mencurigai Xiao Wang, tapi dia juga tak terlalu mempermasalahkannya.
"Aku harap perkataan mu itu benar. Kau tidak pergi membuat masalah."
"Benar Penatua!"
Keduanya berjalan menuju penginapan. Masuk di lantai bawah, Xiao Wang dan Xiao Die melihat Xiao Lei tengah duduk di salah satu meja makan. Beberapa guci arak tersedia di atas meja. Pria itu meneguk segelas, lalu berkata
"Aahhh... Aku telah lama menunggu kedatangan kalian. Mengapa sangat lama?"
"Ada sedikit kendala dalam perjalanan." Xiao Wang menjawab perkataan Xiao Lei tadi. Setelahnya dia dan dua penatua memasuki kamar masing-masing.
Xiao Wang satu kamar dengan Xiao Fu. Tampak rekan kamarnya telah tidur nyenyak. Dibanding tidur, Xiao Wang memilih untuk berlatih. Dia duduk bersila di atas kursi, dan mulai melakukan latihannya.
Selang dua jam, Xiao Wang membuka kedua matanya. Aura merah tipis yang mengelilingi dirinya sedari tadi kini telah menghilang.
"Sepertinya akan menerobos. Tapi aku juga tidak bisa melakukan terobosan di sini. Bisa-bisa kultivasi–ku di ketahui oleh mereka," ucap Xiao Wang. Dia melihat ke arah Xiao Fu, yang masih tertidur nyenyak.
"Apakah dia sedang tertidur?" gumamnya kembali, kali ini suaranya sedikit dia besarkan.
Seringai miring terukir di bibir Xiao Wang. "Oh, dia masih tertidur rupanya!" Xiao Wang bangkit berjalan keluar dari kamar.
Sementara itu, Xiao Fu sebenarnya sudah bangun dari tadi saat merasakan adanya aura kuat di sekitarnya. Dia kaget kala mendapati aura kuat itu ternyata berasal dari Xiao Wang. Kini taulah dia sampai di mana Kultivasi Xiao Wang saat ini.
Tapi Xiao Fu juga tidak berani beranjak dari tempat tidurnya tadi sebab takut ketahuan oleh Xiao Wang. Sayangnya, anggapannya itu salah.
Xiao Wang sengaja mengatakan kalimat tadi, hanya sekedar memancing Xiao Fu sendiri. Dia tahu Xiao Fu sudah bangun dan telah menyadari akan kultivasinya.
Mengetahui bahwa Xiao Wang telah pergi, Xiao Fu mengubah posisinya dari baring ke duduk.
"Apakah dia masih Xiao Wang?'' ucapnya pelan pada dirinya sendiri.
"Ehemm!"
Suara deheman Xiao Wang langsung mengagetkan Xiao Fu. Hampir saja dia melompat dan berlari pergi dari sana.
"Kau, mengagetkanku!" gerutunya.
Xiao Wang memasang senyum miring. "Apakah kau bisa menjamin untuk menjaga rahasia, dan tidak membocorkan apa yang kau lihat tadi pada siapapun?" tanya Xiao Wang dengan intonasi sedikit di tekan.
__ADS_1
"E–eh—!" Xiao Fu tak bisa berkata sebab suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Keringat dingin pun juga telah mengucur di pelipis serta jidatnya.
***
Besoknya, orang-orang ramai akan membicarakan masalah terkait dengan ditemukannya mayat dari satu kelompok. Tergeletak berjumlah tiga puluh satu orang.
Xiao Wang yang saat itu baru selesai mandi, ikut bergabung dengan Xiao Lei, Xiao Die, Xiao Mei serta Xiao Fu di restauran penginapan. Mereka akan sarapan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
"Eh, apakah kau mendengar kabar yang ramai dan masih hangat di perbincangkan oleh banyak orang?!" ucap salah seorang pengunjung kepada pengunjung lain.
Sontak saja perkataan pria tadi menarik perhatian Xiao Wang serta empat orang itu.
"Tentu saja aku mengetahuinya. Kabarnya, mereka meninggal dalam kondisi yang sama semua. Lokasinya tidak jauh dari sini!"
Xiao Lei dan Xiao Die melirik ke arah Xiao Wang sesaat.
"Nak, apakah benar kau tidak melakukan apapun semalam? Mengapa aku merasa bahwa orang yang membunuh kelompok itu adalah kau!" Xiao Die mulai menginterogasi Xiao Wang.
"Hmm, aku bahkan belum dan tidak pernah memiliki pengalaman membunuh seseorang sebelumnya. Bagaimana bisa aku membunuh begitu banyak orang sekaligus dalam satu waktu. Lagipula, jika aku memang yang membunuhnya, tentunya aku akan kembali ke penginapan saat menjelang pagi. Mengingat kekuatan dan kondisiku sekarang tidak mencukupi." Xiao Wang mencoba membela diri.
"Hmm, cukup masuk akal," ucap Xiao Die yang merasa sedikit percaya dengan perkataan Xiao Wang.
"Cih, Mengapa kau memercayainya begitu saja. Aku yakin Xiao Wang menyimpan banyak kekuatan bersamanya. Bukan tidak mungkin dia tidak bisa membunuh mereka semua dalam waktu singkat." Xiao Lei angkat bicara.
Sementara itu, Xiao Wang, Xiao Die, Xiao Fu dan Xiao Mei sepakat menatap satu arah ke arah Xiao Lei.
Namun Xiao Wang tidak menunjukkan ekspresi wajah panik sama sekali. "Jika mereka merupakan kelompok Pembunuh terkenal, bukankah seharusnya mereka sangat kejam dan terkenal ganas dalam melakukan pembunuhan. Lantas, jika mereka mati di tanganku dengan jumlah yang terbilang banyak dalam satu malam, apakah itu masuk akal?"
Hening sejenak tak ada pembicaraan yang berlangsung.
"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. ... Ingat, jangan mencari masalah dengan kelompok itu. Mereka merupakan salah satu kelompok dari aliran hitam sadis bergerak di bawah pimpinan seorang Kultivator Ranah Raja. Meski demikian kekuatan mereka tidak bisa di anggap remeh. Anggota yang di milikinya pun juga tidak sedikit. Kelompok ini biasanya akan menerima pekerjaan terkait dengan pembunuhan, dan lain sebaginya." Panjang lebar Xiao Die berucap.
Di sisi lain, Xiao Wang hanya mendengar tanpa berniat kembali mengeluarkan suara. Sedikit memikirkan tentang Kelompok tersebut.
***
Perjalanan kembali di lanjutkan. Berlari kencang dalam satu hari penuh, hingga akhirnya mereka sampai di ibukota kekaisaran.
Baru memasuki kota, terlebih dahulu mereka menunjukkan lencana pengenal.
"Dari Klan Xiao. Selamat datang, di kota kekaisaran." Salah seorang penjaga Gerbang, berpakaian prajurit lengkap menyambut mereka.
Tak lama setelahnya, datang seorang pria lain yang di utus untuk mengantar rombongan dari klan Xiao. Mereka pun mengikutinya.
Memasuki istana Kekaisaran, tiga orang jenius klan Xiao sedikit dibuat kagum oleh pemandangan istana Kekaisaran Han. Seumur-umur mereka hidup, bangunan di tempat ini adalah bangunan termegah yang pernah mereka lihat.
Tapi, kali ini istana kekaisaran lebih rame dari biasanya. Sebab banyak orang dari perwakilan berbagai kelompok telah sampai dan siap untuk mengikuti turnamen.
Beberapa kali mereka harus berhenti berjalan dikarenakan Xiao Die dan Xiao Lei yang menyapa dan bercengkerama dengan orang-orang dari sekte lain yang di kenalnya. Tentunya mereka juga akan memilih-milih teman bercengkrama.
__ADS_1
Banyak pula anggota kelompok lain yang mendatangi mereka. Dalam hal ini, membangun hubungan dengan kelompok lain sangatlah di perlukan. Apalagi dengan klan Xiao yang merupakan 5 klan terbesar Kekaisaran Han.
Mereka sampai di kediaman khusus klan Xiao.
"Aahh.. akhirnya kita sampai juga. Aku ingin berendam, kulitku terasa lengket sekarang!" ucap Xiao Mei. Dia lantas memasuki kamarnya dan melakukan apa yang dia katakan tadi.
Begitupun juga dengan Xiao Die dan Xiao Lei. Mereka juga memasuki kamar masing-masing. Dan kini tinggal Xiao Fu dan Xiao Wang.
"Apakah kau mau ikut dengan ku?" ajaknya.
Xiao Fu tampak ragu, namun dia juga tidak menolak.
"Umm..."
Mereka kemudian berjalan keluar kediaman. Berkeliling di halaman istana Kekaisaran yang luasnya mencapai ratusan meter.
"Sepertinya ada hal menarik di sana. Mari kita ke sana!" ajak Xiao Wang kala melihat kerumunan orang-orang muda. Tengah berkumpul dan menonton sesuatu.
Baamm...
Baamm...
Baamm..
Pertarungan tengah terjadi di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Tampak yang satunya menggunakan tongkat sementara yang satunya lagi menggunakan Golok.
"Zhen Dong memang kuat. Terlepas dari posisinya yang berada di urutan kedua Sekte Tongkat Dewa, serta Kultivasinya yang berada di ranah Lanjutan tahap 9, tapi di berani memaksa Jun jirui yang berada di ranah Ahli tahap 1. Ini benar-benar jenius!" ucap salah seorang penonton.
"Ya, keduanya sama-sama kuat. Mereka belum menggunakan kekuatan aslinya dalam pertarungan ini. sekitaran 40 persen ke bawah. Tapi lihatlah kerusakan yang di timbulkan oleh serangan mereka sudah terbilang besar. Aku yakin tidak akan bisa lolos dalam beberapa serangan saja jika bertarung menggunakan persentase kekuatan yang setara dengan mereka!" ucap lagi yang lainnya menanggapi.
Xiao Wang dan Xiao Fu ikut memperhatikan pertarungan mereka. Kedua orang ini merupakan jenius dari sekte besar.
Melihat pergerakan dari kedua orang itu yang begitu hati-hati dan penuh perhitungan. Serta ketepatan sasaran dan ketangkasan dalam menepis dalam menyerang, membuat Xiao Fu sedikit merasa pesimis. Namun dia mencoba untuk menepis rasa itu sebab yakin dengan kemampuannya.
"Aku lihat, kau takut kalah saat berhadapan dengan mereka." Xiao Wang berucap pelan.
Xiao Fu menoleh. "Cih, aku adalah jenius nomor satu klan Xiao. Untuk apa aku harus takut sama mereka," balasnya dengan penuh keyakinan.
"Apakah kau mau menang. Setidaknya lolos ke delapan besar dalam turnamen besok!"
Tawaran Xiao Wang langsung melebarkan mata Xiao Fu. Tapi itu hanya sesaat.
"Selama tiga sekte besar masih memproduksi jenius-jenius mereka, masih sulit bagiku untuk menembus posisi Delapan besar. Tapi kalau 16 besar aku yakin bisa mendapatkannya!"
"Ck, belum apa-apa sudah pesimis. Pantas saja kau tidak pernah maju."
Xiao Fu merasa terpukul mendengar itu. Tapi memang di banding Xiao Wang, Xiao Fu sadar bahwa dia kalah jauh.
"Tenang saja. Aku akan membantumu hingga aku mencapai delapan besar. Tapi ingat, jangan kau katakan kepada siapapun terkait dengan apa yang kau lihat malam itu.
__ADS_1