
Xiao Wang menggendong kakek tua. Saat ini mereka telah berada di luar istana kekaisaran tapi masih dalam wilayah kota pusat.
"Kakek, tempat tinggal kakek sebelah mana?" tanya Xiao Wang kepada kakek tersebut.
"Di sana.. Teruslah berjalan lurus, sampai kau menemukan bangunan tua!" jawab si kakek.
Xiao Wang mengikuti instruksi dari kakek itu. Hingga sampai di ujung kota, banyak ditemukan bangunan-bangunan tua tampak reot dan rusak. Namun Xiao Wang bisa melihat para penghuni dari bangunan-bangunan tersebut. Tentunya tampilan mereka juga sangat kumuh.
"Sepertinya wilayah ini begitu terbengkalai. Bahkan meskipun letaknya yang berada di pinggir kota pusat Kekaisaran, tapi sangatlah diluar perhatian kekaisaran sendiri!" gumam Xiao Wang. Pandangannya tidak berhenti mengarah kiri dan kanannya, memperhatikan bangunan-bangunan kumuh itu
"Jangan salah Nak. Apakah kau pernah mendengar kualitas buku tidak dilihat dari sampulnya?" ucap Xiao Long.
"Hmm, baik aku mengerti. Orang-orang yang ada di wilayah ini tidak sesederhana yang di lihat!"
Xiao Wang melanjutkan perjalanan.
"Kita sudah sampai di pinggir kota pusat. Banyak bangunan tua di sini, kakek. Arah mana yang harus aku tuju!" tanya Xiao Wang meminta kejelasan alamat rumah kakek tua itu.
"Hmm, ini tampak asing, tapi kau bisa menurunkan aku di sini!"
Xiao Wang mengernyit mendengar jawaban dari kakek itu. "Apakah kakek yakin? Bukankah tempat ini asing bagimu, lalu mengapa kau mau turun di sini?"
"Sebenarnya kita sudah sampai. Rumah tua yang sebentar lagi akan roboh di sebelah kamu itu adalah rumah ku!" ucap si kakek.
"Hmm, baiklah!" Xiao Wang menurunkan kakek tersebut, setelahnya dia meminta izin untuk pamit, kembali ke kediaman khusus klan Xiao.
"Eh, tunggu dulu nak. Mari mampir dulu di rumahku. Ada sesuatu yang hendak aku bicara kepadamu!" Kakek tua segera menghentikan Xiao Wang.
Xiao Wang tidak langsung menjawab. Dia memperhatikan kakek itu sejenak, baru setelah memantapkan hatinya, dia pun menyetujuinya.
"Baik!"
"Hari masih sedikit terang. Tidak ada salahnya menemui orang tua ini dahulu. Masalah berlatih akan aku tunda sebentar malam!" gumam Xiao Wang dalam hati.
__ADS_1
Xiao Wang berjalan mengikuti langkah kakek tua tersebut, membawanya masuk pada bangunan yang sedikit lagi akan roboh.
"Silahkan duduk dulu. Aku akan menyiapkan teh untukmu!"
"Sepertinya tidak perlu, kakek. Lagipula ada urusan yang musti aku selesaikan secepatnya." Xiao Wang menolak secara halus.
"Tidak perlu terburu-buru, nak! Kau pasti kelelahan setelah bertarung tadi. Maka teh buatan ku ini akan langsung menghilangkan rasa lelah itu seketika."
Kakek Tua tetap membuatkan teh untuk Xiao Wang.
Setalah menuggu selama beberapa menit, kakek datang bersama dengan dua cangkir teh.
Pembicaraan pun dimulai saat itu juga. Kakek tua itu memperhatikan Xiao Wang sejenak, baru setelahnya dia mulai berbicara.
"Nak, aku dengar kau adalah putra dari kepala klan Xiao terdahulu dari pertarungan mu melawan perwakilan dari sekte Mata Malam. Apakah benar?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh kakek tua membuat Xiao Wang merasa tertarik. Dia yang semula berniat untuk cepat-cepat pulang, kini memilih untuk memilih untuk menetap sedikit lebih lama saat mendengar kakek tua menyinggung tentang kedua orang tuanya.
"Benar Kakek. Aku adalah putra dari kepala klan Xiao terdahulu. Apakah kakek mengetahui sesuatu tentang ayah ku?" tanya Xiao Wang.
"Maksud kakek, kontribusi seperti apa itu?"
"Hmm ... Sejak kejadian belasan tahun lalu, tepatnya saat Kelompok Naga Merah melakukan pemberontakan besar-besaran. Mereka menyerang Kekaisaran Han dengan di dukung oleh aliran hitam. Sedangkan aliran putih berada di pihak kekaisaran, sementara untuk aliran netral di sini terbagi menjadi dua bagian yaitu pendukung kekaisaran Han serta pendukung kelompok naga merah.
"Pertempuran yang tak bisa terelakkan itu, memakan banyak korban jiwa. Banyak orang-orang tak berdosa yang menjadi korban oleh peperangan dua kubu ini. Hingga nyaris tak terhenti meskipun dua kubu semakin kehilangan anggotanya. Dua sepasang suami istri pun turun tangan untuk menangani masalah ini. Mereka adalah ayah serta ibumu. Keduanya rela mengorbankan diri demi terwujudnya sebuah kedamaian."
Xiao Wang mengerutkan keningnya. "Mengapa mereka harus turun tangan, apalagi sampai harus mengorbankan diri mereka demi sebuah kedamaian kekaisaran Han? Bukankah itu tanggung jawab pihak kekaisaran. Dan juga, apa motif utama bagi Kelompok Naga Merah dalam melakukan pemberontakan tersebut!" Xiao Wang berucap dengan intonasi sedikit meninggi. Meskipun dia mengetahui apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu baik, tapi tetap saja tidak adil. Mengapa harus mereka yang kena sementara yang lain tidak.
"Ini sangat sulit untuk di jelaskan." Kakek tua menghela napas sejenak, lalu mulai kembali berbicara.
"Ada beberapa alasan yang aku ketahui terkait masalah itu. Yang pertama adalah kepala klan Xiao terdahulu merupakan sahabat dekat Kaisar Han. Selanjutnya karena Kepala klan Xiao merupakan Kultivator nomor satu di kekaisaran Han ini. Yang terakhir, masalah Kekaisaran Wei yang memanfaatkan momen pertempuran tersebut untuk menyerang kekaisaran Han. Sehingga Kepala klan Xiao harus turun dan mengorbankan dirinya. Oleh karena kekuatannya yang saat itu berada di ranah Langit, sehingga Ayahmu berhasil menyurutkan konflik antara kelompok Naga Merah dan Kekaisaran Han. Adapun Kekaisaran Wei yang merasa terancam oleh kehadiran ayahmu, sehingga mereka menjamin untuk tidak menyerang Kekaisaran Han yang saat itu masih dalam tahap pemulihan diri dengan catatan membawa Ayahmu ke Kekaisaran mereka. Akan tetapi ini hanyalah alasan yang aku ketahui, adapun informasi yang lebih jelasnya, aku tidak tahu.
"Sedangkan motif kelompok Naga Merah melakukan pemberontakan adalah untuk memperluas pengaruh mereka. Memulai dari kekaisaran Han sendiri, lalu mungkin akan menyebar di kekaisaran lain."
__ADS_1
Mendengar itu, Xiao Wang hendak kembali menentang pernyataan terkait dengan apa yang dilakukan oleh ayah serta ibunya itu. Tapi, dia juga sadar tidak ada gunanya meng–komplain kepada kakek tua di hadapannya ini.
"Baiklah, terima kasih atas informasi yang kakek berikan padaku!" ucapnya pelan.
"Uhukk... Uhukk... Tidak masalah Nak." Terbatuk sebelum kembali berbicara. "Kau tunggu di sini sebentar!"
Lalu si kakek bangkit, dengan langkah pelan meninggalkan Xiao Wang. Memasuki kamarnya. Meski terdapat dinding pembatas antar ruang kamar dan ruang tamu, tapi tetap Xiao Wang masih bisa melihat pergerakan kakek tua oleh sebab dinding yang bolong.
Sembari menunggu kakek tua kembali, Xiao Wang menyeruput teh yang tersedia di atas meja bambu. Memang dia mengakui kualitas dari teh ini yang tak main-main. Bahkan sekali seruput saja, langsung membuat masalah yang mengganggu pikirannya langsung menghilang.
Kakek tua telah datang.
"Nak, ini adalah cincin ruang pemberian ayahmu. Sehari sebelum dia
berangkat untuk menghentikan pertempuran antara kelompok Naga Merah dan pihak Kekaisaran, dia mendatangiku dan menitipkan cincin ini padaku untuk diberikan padamu. Entah apa yang ada di dalamnya, tapi sangatlah berbahaya pun bisa berharga. Beliau juga berpesan padamu untuk menjaga baik-baik benda di dalam cincin itu, sebab bisa menjadi pemicu terjadinya perkelahian."
Xiao Wang menerima cincin tersebut, memperhatikannya sesaat, dia menemukan adanya keistimewaan pada cincin tersebut.
"Baiklah, terima kasih kakek."
"Umm!"
"Hari sudah malam, kau perlu pulang dan berlatih untuk persiapan besok. Aku yakin kau telah menyadari keganjalan yang terjadi. Dan tentunya besok bukan hanya bertarung dengan lawan peserta mu, melainkan banyak orang!" Kakek tua itu tiba-tiba menyinggung masalah itu.
Sejenak Xiao Wang menganggukkan kepalanya. "Baik, aku mengerti."
Setelah itu, Xiao Wang beranjak pergi dari sana.
Setelah kepergian Xiao Wang, beberapa orang mulai muncul. Masing-masing dari mereka memancarkan aura kuat dari tubuh mereka.
"Aku harap, anak itu bisa membawa kembali ayahnya kembali ke Kekaisaran kita." Salah seorang dari orang yang baru datang itu berkata sembari menatap lurus ke arah perginya Xiao Wang.
"Aku yakin dia bisa melakukannya."
__ADS_1
"Sudahlah, mari kita persiapkan perlengkapan untuk perang besok!" ucap Kakek tua.