
Entah sudah percobaan yang ke berapa kalinya, namun Xiao Wang masih belum juga berhasil menggabungkan dua unsur berlawanan sifat tersebut.
Banyak tenaganya juga telah dia kerahkan untuk itu, namun sejauh ini dia hanya bisa menggabungkan seperempatnya saja.
Xiao Wang memilih untuk menghentikan aksinya.
Membiarkan Xiao Long dan Yin untuk kembali ke wujud asli mereka.
Energi putih yang berkobar itu perlahan berubah menjadi seekor Naga Hitam sementara untuk energi hitam yang menyerupai api hitam tadi membentuk sosok Yin.
"Hmm, Nak sepertinya memang butuh waktu yang banyak untuk bisa menggabungkan kami berdua!" ujar Xiao Long kala telah kembali ke wujud aslinya.
"Umm, sepertinya memang sulit. Aku butuh kembali pencerahan terkait ini!"
"Ya, namun ada satu hal yang baru aku sadari! Dari yang telah kau lakukan tadi, energi Yin dan Yang memang bisa menyatu. Meskipun itu akan membutuhkan pengorbanan kekuatan serta waktu yang tidak sedikit!" Yin berkata dengan serius sembari menoleh ke arah Xiao Long.
__ADS_1
Naga Magma itu menganggukkan kepalanya.
"Ya, makanya itu. Setelah berusaha keras untuk menyatukan kalian tadi, aku telah menghabiskan banyak waktu serta tenaga dalam melakukan banyak sekali percobaan. Sebaiknya aku berkultivasi terlebih dahulu, mengumpulkan kembali kekuatanku sembari memperdalam pencerahan."
"Begitu juga baik! Sembari menunggu kau selesai, aku dan Xiao Long juga akan membantu mencoba untuk mencari pencerahannya," timpal Yin.
Xiao Wang kemudian mulai kembali berkultivasi. Mengumpulkan kembali kekuatannya yang semula telah terkuras oleh penyatuan tadi.
Setelah merasa cukup dan mendapat sebuah pencerahan Xiao Wang kemudian kembali melakukan aksinya.
***
Seorang wanita cantik berujar kepada wanita cantik lain dalam sebuah goa.
Wanita cantik yang ditanya itu tidak langsung menjawab. Terdiam tanpa suara, dia tampak melamun saat ini.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan? Apakah masih memikirkan tentang pemuda itu? Jika memang demikian sebaiknya kau temui saja dia!" ujar kembali wanita tersebut. Kali ini dia memegangi pundak wanita itu untuk berbicara. Dan itu berhasil membuyarkan lamunan si wanita.
Menoleh sejenak ke arah wanita yang berbicara tersebut, dia kemudian kembali mengalihkan pandangannya.
"Aku malas kembali berurusan dengannya, ibu!" Wanita itu adalah Ratu Semut Penelan. Bersama dengan wanita yang mengajaknya bicara tadi adalah ibunya.
"Biar bagaimanapun, dia tetap orang yang telah membantu kamu dalam menerobos ke ranah Alam Langit. Kau tahu, dulu ayahmu juga melakukan hal itu pada ibu."
Ratu Semut Penelan menoleh ke arah ibunya dengan ekspresi terkejut. Dengan ekspresi yang menuntut meminta kejelasan, Ratu Semut Penelan kemudian bertanya kepada Ibunya yang merupakan Dewi Penelan itu.
"Maksud ibu, dulu ibu juga mengalami hambatan sama seperti ku, namun ayah melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan dengan manusia itu?" tanya Ratu Semut Penelan.
"Umm, sudahlah Nak! Ibu harus kembali ke alam Atas. Aku harap, kau bisa kembali bertemu dengannya. Aku yakin dengan bersamanya, maka kau bisa naik pergi ke alam Atas tanpa khawatir akan kesengsaraan petir yang akan menimpamu!"
Ratu Semut Penelan tidak menanggapi akan hal itu. Dia memilih untuk mengalihkan muka sembari terdiam dan kembali sibuk denah pikirannya. Sementara Dewi Penelan sendiri hanya tersenyum kecil melihat tingkah anaknya.
__ADS_1
Setelah itu Dewi Penelan mulai dikelilingi oleh aura merah darah pekat yang telah bercampur dengan perak. Energi itu langsung menelan Ibu Ratu Semut Penelan tersebut sebelum menghilang bak tak pernah ada di sana.
"Bahkan jika aku kembali bertemu dengannya, bukannya mengikuti justru aku akan langsung membunuh anak itu!" gumam Ratu Semut Penelan pelan namun terdengar sangat dingin.