
Masing-masing dari mereka bertarung dan membunuh para belatung. Namun mereka tidak membutuhkan waktu yang mudah, melainkan harus berjuang untuk bisa membunuh satu belatung. Sedangkan bagi Xiao Feng sendiri tidak ada rasa kesulitan, sebab Kultivasinya berada di ranah raja. Sebenarnya Xiao Feng tidak terlalu ikut andil, melainkan hanya untuk mengawasi murid-muridnya tersebut.
Sementara Xiao Wang belum menunjukkan suatu pergerakan pun. Dia masih menunggu lima ekor Belatung dengan kekuatan setara ranah raja menunjukkan pergerakan. Namun sepertinya itu tidak mungkin.
Masing-masing dari rekan Xiao Wang telah berhasil membunuh tiga sampai lima ekor Belatung. Sebelum akhirnya pemimpin Belatung tadi kembali memunculkan diri.
"Maaf, Tuan... Tolong jangan bunuh kami lagi!" ucap pemimpin Belatung dalam bahasa manusia.
Xiao Feng dan yang lainnya berhenti, begitupun juga dengan para belatung.
"Mengapa kami tidak harus membunuh Kalian?" Xiao Ming mengangkat sebelah alisnya.
\=\=\=
Pemimpin Belatung menjelaskan pada Xiao Wang serta rekan-rekannya akan alasan mereka mejadikan Desa Runtuh ini menjadi wilayah yang rapuh. Dimana hal ini ternyata berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh para warga desa Runtuh sendiri.
"Apa yang mereka lakukan terhadap kalian?" tanya Xiao Fu kepada pimpinan Belatung.
"Dua puluh tahun yang lalu, seorang bayi lahir dari desa ini. Namun bayi tersebut memiliki rupa yang aneh, dia memiliki tanda lahir besar di punggungnya yang menyerupai belatung. Warga desa pun merasa resah dengan kelahiran bayi tersebut. Menganggapnya sebagai kutukan dan pembawa sial sehingga saat umurnya sebelas tahun mereka berencana untuk membunuhnya. Namun kami dari suku belatung mengetahui bawa calon pemimpin kami telah dilahirkan kami pun segera pergi untuk menjemputnya saat itu juga. Oleh sebab perlakuan buruk dari para warga terhadap anak tersebut maka mereka mendapat batunya. Bahkan orang tua dari anak itu telah di bunuh oleh warga desa. Atas perintah dari pemimpin kami, maka kami pun membuat desain menjadi desa yang rapuh. Meskipun sudah direnovasi selama berulang-ulang kali namun tetap saja akan tetap akan kami buat rapuh!" jelas panjang lebar pemimpin Belatung.
"Hmm, dari ceritamu itu aku menyimpulkan bahwa anak yang kau maksud itu yang menginginkan kesengsaraan dari desa ini," tanggap Xiao Feng.
Belatung yang memiliki kultivasi lebih tinggi dari yang lainnya itu bukanlah pemimpin dari ras belatung, melainkan pemimpin dari kelompok belatung yang di bawanya ini.
Belatung tersebut menjawab dengan anggukan kepalan.
"Hmm, jadi seperti itu..." Xiao Wang mengangguk kecil. Lalu dia kembali melanjutkan kalimatnya, "Baik aku akan menemui Pemimpin kalian. Dan mengenai warga desa, aku harap sudah sampai di sini kalian menganggu mereka!" ucap Xiao Wang dengan intonasi dibuat dingin.
Setelah itu, Xiao Wang menunjuk tanah yang telah Runtuh dengan jari telunjuknya. Menggerakkan ke atas jari telunjuk tersebut. Tak lama setelahnya tanah bergetar sesaat, memunculkan tanah yang telah terbelah tadi bersama dengan warga desa Runtuh.
Tampak ekspresi wajah senang dari para warga desa Runtuh setelah di selamatkan. Mereka berlari cepat ke arah Xiao Wang yang mereka yakini sebagai penyelamat itu.
Seorang Kultivator ranah raja yang merupakan pemimpin Desa Runtuh segera berlutut. "Terima kasih, Tuan! Karena telah menolong kami...," ucapnya dengan tulus.
Warga di belakangnya juga ikut berlutut.
"Terima kasih, Tuan...!" Mereka berucap serempak.
__ADS_1
Xiao Wang mengangguk. "Umm, aku telah mengetahui apa permasalah kalian. Terkait dengan desa Runtuh dengan para belatung ini. Tentunya, kalian juga menyadari ini, bukan?"
Pemimpin desa Runtuh menunduk. Sempat terdiam sama beberapa detik sebelum dia menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Xiao Wang tadi.
"Aku harap setelah ini kalian akan bisa lebih bijak dalam mengambil tindakan. Sebab, setiap tindakan yang diambil akan memberikan dampak tertentu baik di masa sekarang maupun yang akan datang!"
"Aku mengerti, Tuan... Maafkan aku!" ucapnya penuh penyesalan.
"Jangan minta maaf padaku. Kau harus meminta maaf sendiri kepada anak yang belasan tahun kalian buang itu," kata Xiao Wang.
Setelah itu, Xiao Wang lantas meminta Belatung untuk mengantarnya ke sarang mereka. Tanpa menolak, para belatung itu segera mengantar Xiao Wang.
Mereka memasuki ke dalam tanah, Xiao Wang sendiri menaiki punggung Belatung yang memiliki kultivasi tertinggi dari mereka. Sedangkan Xiao Fu serta yang lainnya hanya menunggu, termasuk juga dengan pemimpin desa Runtuh.
Menunggu selama setengah jam, akhirnya Xiao Wang muncul kembali bersama dari beberapa belatung. Xiao Wang turun dari punggung Belatung, bersama dengan seorang lelaki yang memiliki paras tampan namun memiliki tanda di bagian punggungnya. Lelaki itu sendiri tidak mengenakan pakaian, sehingga tanda tersebut terlihat jelas.
Setelah itu, Xiao Wang memanggil pemimpi dari desa Runtuh.
Tanpa diberitahu lebih lanjut, pemimpin dari desa Runtuh yang tau diri segera melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Xiao Wang sebelumnya. Berlutut sembari meminta maaf kepada pemuda tampan yang memilik tanda itu.
Menatap tajam, pemuda itu enggan membuka suara. Tampaknya selalu terkait dengan perlakuan orang-orang Desa runtuh membuatnya untuk memberikan maaf.
Menoleh ke arah Xiao Wang dengan tatapan malas sejenak, Qu Zheng kemudian beralih pada pemimpin dari desa Runtuh.
"Sudahlah, aku Ingin bersantai." Qu Zheng langsung membalikan badan dan beranjak dari sana.
"Eh, kau mau kemana?" Xiao Wang segera menahannya Qu Zheng.
"Aku tidak ada lagi urusan dengan mereka. Mengenai masalah ku dengan desa Runtuh, aku sudah tidak peduli lagi. Anggap saja sebagai angin lalu"
Setelah itu, Qu Zheng menaiki punggung salah satu belatung lalu menghilang dari sana. Begitupun juga dengan para belatung yang turut hadir juga ikut menghilang dan masuk ke dalam tanah.
Pemimpin dari desa Runtuh kemudian beralih mendekati Xiao Wang.
"Tuan...," ucapnya dengan takut-takut.
Xiao Wang menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Umm!" jawab Xiao Wang.
"Mengenai —!"
Belum juga selesai dengan kalimatnya, Xiao Wang telah lebih dulu memotong. "Kau tidak perlu khawatir lagi. Qu Zheng telah memaafkan kalian, dan juga kalian tidak perlu khawatir soal wilayah ini. Para Belatung tidak akan lagi mengganggu kalian!"
Para warga desa Runtuh langsung memasang wajah sumringah.
"Terima kasih, Tuan... Aku tidak tahu lagi dengan apa harus membalas Tuan. Jika perlu, kami bisa memberi Tuan semua harta kami yang berada di goa di bawah bukit!" ucap pemimpin dari desa Runtuh.
"Hmm, tidak perlu. Gunakan saja harta itu untuk membantu memperbaiki bangunan-bangunan kalian yang telah hancur."
Mendengar kemurahan hati Xiao Wang, para warga Desa Runtuh langsung melontarkan ribuan pujian terhadap Xiao Wang, begitupun juga dengan Xiao Feng dengan rekan Xiao Wang juga ikut mendapat pujian.
"Tuan, jika tuan bersedia, apakah tuan mau menjadikan kami sebagai pengikut mu? Meskipun dengan kekuatan yang tuan miliki itu itu sudah terbilang sangat hebat, tapi aku yakin Tuan pasti akan membutuhkan kekuatan pendukung di masa mendatang."
Xiao Wang memikirkan perkataan dari pemimpin Desa Runtuh..
"Apa yang dikatakan oleh pemimpin desa Runtuh ini memang benar. Suatu saat aku akan membutuhkan mereka untuk mendukung!"
"Baiklah, itu tidak buruk." balas Xiao Wang singkat.
"Jika tuan membutuhkan sesuatu, maka datanglah ke mari. Kami akan dengan senang hati menyambut Tuan!" ujar Pemimpin dari Desa Runtuh.
"Umm... Jika nanti saatnya telah tiba, maka aku akan kembali datang kemari dan membawa serta kalian bersama ku. Dan jika saat itu tiba, aku harap kalian para Desa Runtuh harus bertambah kuat, bahkan bisa dua sampai tiga kali lipat dari kekuatan kalian yang ini!" ucap Xiao Wang.
"Tentu saja Tuan... Tuan Kami saja sangat hebat, bagaimana bisa kami sebagai pendukung serta pengikutnya tidak kuat?!"
"Omong-omong, siapa namamu?" tanya Xiao Wang.
"Aku Cun Dao, Tuan," ujar Cun Dao membalas cepat.
"Umm, baik... Marga ku adalah Xiao. Jika suatu saat kau mendapatkan masalah dengan Wilayah Desa Runtuh, kau bisa menemui ku di klan Xiao!"
Xiao Wang memberikan lencana pengenalnya kepada Cun Dao. "Dengan Lencana ini, seharusnya kau tidak akan mengalami kesulitan sedikit pun saat datang ke klan!"
"Terima kasih, Tuan." Cun Dao menerima lencana tersebut dengan senang hati.
__ADS_1
Setelah itu, Xiao Wang serta rekan-rekannya lantas pergi dari sana. Tujuan mereka saat ini adalah kembali menemui Qu Zheng di sarang Belatung.
N/A: Untuk hari ini dan besok, author belum bisa melakukan revisi. Nanti revisinya akan dilakukan setelah tggl satu. Sehingga, mohon maaf apabila ada yang tidak jelas ataupun typo.