Kultivator Dewa Xiao Wang

Kultivator Dewa Xiao Wang
Ch. 96 ~ Pembantaian di Bukit Rumput Harapan


__ADS_3

"Aku ingin bekerja sama denganmu!" ungkapan Xiao Wang itu dihiraukan begitu saja oleh Ratu Semut Penelan.


"Cih, kau tidak memenuhi syarat untuk membangun kerjasama dengan ku!" ucap sinis Ratu Semut Penelan.


Dia lantas terbang, beranjak pergi dari sana. Xiao Wang dan Xiao Long sedikit tidak tinggal dan segera mengikutinya.


"Dia bahkan memiliki kekuatan yang lebih hebat semenjak terakhir kali kami bertemu!" gumam Xiao Wang membatin.


"Ratu Semut Penelan ini memiliki kemampuan dalam pengendalian waktu dalam diri. Tubuhnya bisa merespons dua kali lipat saat dia berkultivasi. Artinya saat dia akan menyerap energi alam, maka kemampuannya akan langsung merespon, dengan melipatgandakan energi yang dia serap itu." balas Xiao Long. Tentu saja dia juga melalui batin.


Baik Xiao Long dan Xiao Wang saat ini saling terhubung, jadi mereka bisa berkomunikasi meski dalam batin. Tentunya ini dibatasi oleh jarak dan waktu.


"Hmm, apakah dia akan tetap seperti itu?" tanya Xiao Wang.


"Tentu saja tidak. Tubuhnya akan merespons dua kali lipat kecuali dalam kasus tertentu. Namun dalam kasus tertentu pula tubuhnya akan berhenti merespons dua kali pula. Aku ada ide supaya wanita semut itu tidak menolak kerjasama mu!"


"Baiklah, aku akan menunggu kau mengatakan itu!"


Xiao Wang dan Xiao Long terus mengikuti laju terbang Ratu Semut Penelan. Menyusuri setiap lorong-lorong gelap namun tampak langit samat di atas sana yang tertutupi oleh kabut.


Selang beberapa saat, mereka sampai di sebuah ruang bawah tanah. Di sana terdapat beberapa pilar yang terbuat dari krista giok terang sebagai sumber pencahayaan.


"Ratu Semur Penelan!" Xiao Wang menghampiri wanita tersebut setelah mendarat.


"Ada apa?" Ratu Semut Penelan membalikkan badan menghadap Xiao Wang.


"Hm, mengenai tawaran itu?" Mengangkat alisnya sembari mengatakan hal tersebut. "Aku akan membantumu menyelesaikan permasalahan yang kau alami dalam hal peningkatan Kultivasi!"


Ratu Semut Penelan terdiam sejenak. "Kau— kau mengetahui masalah ku?" bertanya dengan tidak percaya.


"Tentu saja!" Xiao Wang kemudian menjelaskan permasalahan yang dialami oleh Ratu semut, seperti halnya yang dijelaskan oleh Xiao Long padanya.


"Meskipun kau bisa meningkatkan kultivasi–mu dengan cepat, namun pada akhirnya kau akan tetap mendapatkan hambat bukan. Aku bisa membantumu menangani hambatan itu dengan syarat kau mau membantuku!" Xiao Wang berkata sembari berjalan-jalan pelan, menjauh dan mendekati Ratu Semut Penelan.


Ratu Semut Penelan terdiam sejenak. Memikirkan perkataan Xiao Wang tadi, lantas dia menjawab.


"Aku tak membutuhkan bantuan–mu. Aku memiliki caraku sendiri untuk mengatasi hambatan tersebut. Pergilah!" ucap Ratu Semut Penelan.


Xiao Wang menatap Xiao Long sejenak. Bisa dia lihat Naga Magma itu menganggukkan kepalanya pelan.


"Baiklah, namun jika kau berubah pikiran maka carilah aku. Aku tidak akan jauh dari Hutan Binatang Buas."


Ratu Semut Penelan tidak memberikan tanggapannya, bahkan menoleh Xiao Wang pun enggan dia lakukan.


Sementara Xiao Wang menaiki punggung Naga Magma itu, setelahnya melesat dengan kecepatan diluar nalar.

__ADS_1


Dalam waktu singkat kedua orang itu menghilang dari pandangan Ratu Semut Penelan.


***


Keluar dari sarang semut Penelan, Xiao Wang meminta Xiao Long untuk tidak kembali ke klan.


Arah laju terbang Xiao Long ini begitu berbanding terbalik dengan arah menuju klan Xiao. Tujuan Xiao Wang sendiri adalah menuju ke bukit Rumput Harapan.


Dari informasi yang dia dapatkan dari empat orang penyusup klan, Xiao Wang mengetahui kalau Sekte Tombak Dewa telah melakukan perjalanan menuju klan Xiao, dan mereka akan melewati bukit Rumput Harapan. Xiao Wang berniat menyambut mereka di sana.


Xiao Long mendarat tepat di hamparan rumput halus yang tingginya seukuran pinggang Xiao Wang.


"Baiklah, mari kita tunggu mereka di sini!"


Xiao Wang menyentuh tanah, lalu tampak tumbuhan yang tumbuh dari atas tanah. Tumbuhan itu sendiri semakin membesar hingga membentuk pohon dengan banyak cabang.


Melompat, Xiao Wang lantas berbaring di cabang pohon yang lebih besar.


"Sebenarnya ada berapa unsur elemen yang kau kuasai?" tanya Xiao Long yang penasaran dengan penguasaan Xiao Wang terhadap unsur elemen.


Akhir-akhir ini Xiao Wang memang suka menggunakan unsur elemen berbeda. Dimulai dari petir, batu, dan tumbuhan.


"Hmm, ada 6. Tapi Lin Yun Mei bilang aku bisa menguasai lebih dari itu!" jawab Xiao Wang.


"Benarkah? Ini adalah kasus langka. Namun sebab akibat itu pasti ada. Jika kau memiliki banyak penguasaan unsur elemen, berarti harus ada sebab dan akibatnya."


Tak terasa senja telah datang, namun tak lama setelahnya pergi digantikan oleh malam. Bulan Purnama pun juga telah mengeluarkan sinar peraknya. Dari atas bukit, bisa Xiao Wang lihat rombongan orang-orang tengah berjalan ke arahnya. Jumlahnya pun mencapai ratusan. Lampu obor juga terlihat banyak tersebar di orang-orang dalam rombongan tersebut.


"Mereka sudah datang," ucap Xiao Long.


"Hmm, mengingat betapa besarnya sekte Tombak Dewa, tapi mereka hanya mengirim sepertiga dari jumlah aslinya. Cih, tampaknya Sekte Tombak Dewa begitu percaya diri dan meremehkan klan Xiao."


-


Kelompok sekte Tombak Dewa berjalan mengikuti jalanan lebar yang mengarah ke puncak bukit.


"Semuanya lanjutkan perjalanan. Sampai di puncak bukit Rumput Harapan kita akan istirahat. Setelah Fajar menyingsing baru kita akan memulai penyerangan." Seseorang yang memiliki kultivasi Ranah Suci Tahap 2 berseru lantang. Memberi info pada rombongan untuk teruskan perjalanan hingga puncak bukit Rumput Harapan.


"Baik, Tetua!"


Mereka terus berjalan. Tetua yang berseru tadi memacu sedikit cepat kuda yang dia tunggangi hingga sejajar dengan tetua lain yang memiliki kultivasi Ranah Suci tahap 3.


"Tetua Lin, sekte Tebing Persik juga telah melakukan perjalanan menuju klan Xiao. Apakah tidak lebih baik kita melakukan perjalanan lebih dulu, sehingga kita yang berpeluang besar mendapatkan Senjata Tanpa Tanding itu. Mengingat lima orang ranah Suci yang kita kirim serta puluhan ranah Raja, ini sudah cukup bagi kita untuk meruntuhkan klan Xiao!"


Tetua Lin menoleh ke arah tetua tersebut sejenak, setelahnya dia kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan. "Jangan senang dulu. Menurut informasi dari pengintai kita, klan Xiao memiliki delapan orang ranah Suci bersama mereka. Apakah kau yakin kita akan bisa menang dengan jumlah kekuatan yang di kirimkan ini?" tanya Tetua Lin. Lalu dia kembali melanjutkan. "Untuk itu kita perlu menunggu Sekte Tebing Persik, baru setelah itu menyerang klan Xiao bersama dengan mereka!"

__ADS_1


"Hmm, apakah ini tidak merugikan pihak kita. Bagaimana nanti jika mereka berlaku curang dan malah menjebak kita?"


"Itu menjadi urusan belakangan!" jawab Tetua Lin singkat.


Perjalanan terus berlanjut, hingga mereka hampir mencapai puncak bukit Rumput Harapan.


Sekitar sepuluh meter dari siluet satu pohon yang tumbuh di puncak Bukit Rumput Harapan, rombongan yang berada di depan lantas menghentikan langkah. Tentu saja itu begitu tiba-tiba bahkan tanpa ada komando, sehingga membuat orang yang berada di belakang bertanya-tanya. Apakah mereka sudah tiba di tempat peristirahatan?


Tentu saja bukan karena waktu untuk istirahat yang membuat orang-orang yang berada di barisan terdepan menghentikan langkahnya, melainkan karena siluet makhluk aneh terlihat di samping siluet pohon tersebut.


Mata merah menyala dari makhluk tersebut, sontak membuat mereka yang berada di depan sedikit bergetar, apalagi aura intimidasi yang terpancar darinya.


Tak lama setelahnya, seseorang bergerak bagaikan bayangan dari pohon tersebut menuju ke arah punggung makhluk itu. Berdiri tegap, dengan dua buah pedang yang memancarkan aura kuat di tangan orang tersebut.


"Aku sudah menunggu kalian dari tadi. Tak perlu sampai di klan Xiao dan juga tak perlu menunggu sekte Tebing Persik untuk mencari–ku!" ucap Xiao Wang.


Tetua Lin memicingkan matanya sejenak. mencoba mengingat kembali wajah seorang lelaki dalam insiden beberapa bulan lalu serta wajah seorang lelaki yang berdiri di hadapannya ini. Memang saat itu dia juga turut hadir dalam pertempuran, meskipun saat itu dia hadir terlambat dan berperan sebagai bala bantuan, tapi sejenak dia masih bisa melihat wajah Xiao Wang saat itu.


"Semuanya, angkat senjata!! Orang yang kita cari ada di depan kita!" Seru Tetua Lin.


Tanpa ada yang membantah, semua orang dari rombongan itu segera mengangkat senjata.


Tetua Lin kemudian menyuruh murid-murid Sekte Tombak Dewa untuk menyerang Xiao Wang.


Sontak saja anggota Sekte Tombak Dewa itu segera bergerak mengelilingi Xiao Wang serta Xiao Long.


Di sisi lain, Xiao Wang memasang seringai miring dari mulutnya.


"Bersiaplah, Long. Tingkatkan kekuatan mu dengan memakan tubuh orang-orang ini... Hari ini aku akan melupakan statusku sebagai aliran Netral–putih, dan beralih ke aliran hitam," gumam Xiao Wang dengan intonasi yang rada aneh.


"Tentu saja dengan senang hati aku akan menyambut malam ini. Tubuh ku sudah lama tidak bermandikan darah. Dan beberapa detik ke depan aku akan kembali merasakannya!" ucap Xiao Long.


Entah mengapa dua orang itu seperti tengah dirasuki oleh sesuatu, sehingga tingkah mereka juga berbeda dari biasanya. Keduanya tampak begitu menginginkan melihat darah dari orang-orang yang mengelilinginya.


"Mulai..." ucapan Xiao Wang tenggelam begitu saja. Dalam sekejap dia telah menghilang dari tempatnya. Sementara anggota Sekte Tombak Dewa juga telah bergerak maju lebih dulu.


Slash...


Slash...


Slash...


Dalam hitungan detik, dua pedang Xiao Wang telah menelan banyak nyawa. Libasan pedang yang sangat tajam bergerak dengan kecepatan tinggi, membunuh lima sampai sepuluh orang dalam sekali gerakan. Hal ini sendiri diimbangi dengan kecepatan gerakan Xiao Wang yang sangat sulit untuk di ikuti.


Apalagi yang menyerang ini tidak lebih dari sekumpulan orang-orang yang berada di ranah Lanjutan sampai ranah Raja. Tentunya bukan perkara yang sulit bagi Xiao Wang untuk membantai mereka. Sementara para tetua yang memiliki kultivasi Ranah Suci masih diam menunggu giliran. Tapi sepertinya mereka akan maju setelah melihat anggota mereka dibantai habis-habisan tanpa ada perlawanan sama sekali.

__ADS_1


Di sisi lain, Xiao Long menyemburkan Magma panasnya. Dan sekali semburan itu bisa membunuh belasan hingga dua puluhan Kultivator. Setelah jiwa mereka telah terpisah dari raga, tubuh orang yang dia bunuh itu akan langsung di serap oleh tubuhnya. Dan saat itu pula kekuatannya semakin bertambah seiring dengan jumlah korban yang dia serap tubuhnya.


__ADS_2