
Shin Kung yang memulai pertarungan lebih dulu. Maju dengan dua buah belati panjang sebagai senjata. Sementara Xiao Wang sendiri tidak menggunakan senjata, sebab pedang yang dia pinjam dari Xiao Fu telah dia kembalikan ke pemiliknya.
Hunjaman belati datang dari arah yang bisa dilihat oleh Xiao Wang. Lelaki itu dengan cepat menggunakan kakinya untuk menendang tangan Shin Kung untuk menepis. Shin Kung tidak diam saja dan kembali melancarkan hunjaman belati dari arah lain.
Kedua orang itu bertarung dengan cepat dan tangkas. Meskipun hanya pemanasan, namun telah berhasil menyita perhatian semua orang dan memberikan kesan terhadap mereka.
"Babak delapan besar memang sangat berbeda dengan babak-babak lainnya. Bahkan hanya pemanasan sebelum mencapai puncak pertarungan saja sudah sangat menakjubkan," ucap salah satu penonton antusias, kepada orang yang ada di sebelahnya.
"Ya, kau benar. Aku jadi tidak sabar melihat mereka bertarung serius." Salah satunya juga ikut berkata dengan nada semangat.
Keduanya kembali memfokuskan perhatian pada pertarungan di arena. Tak ingin lagi berbicara guna semakin mendalami dan akan terasa menarik dan seru saat menonton.
Xiao Wang dan Shin Kung sama-sama mengatur jarak. Shin Kung langsung melempar dua buah belati di tangannya. Melesat tajam, lurus ke arah Xiao Wang.
Hendak menepis, namun belati tersebut malah berubah menjadi ular raksasa yang mengeluarkan tekanan seorang ranah Ahli tahap 9. Ular tersebut menukik, nyaris mematuk Xiao Wang. Beruntung refleks yang dikeluarkan oleh laki-laki itu cepat sehingga dia bisa menghindari patukan dari ular tersebut.
Xiao Wang berlari, sedangkan ular tersebut mengejar dari belakang. Ular tidak berhenti mematuk, memburu Xiao Wang, tapi lelaki itu dengan sangat gesit menghindar. Melompat berpindah tempat dengan cepat, begitupun juga dengan ular tersebut yang mematuk tanpa jeda. Cap kali kepalanya terbenam ke dalam panggung lantai arena, sehingga kerusakan pada lantai semakin banyak oleh ular itu.
Xiao Wang melompat dan tepat mendarat di kepala ular.
Bukkk!!
Lelaki itu langsung melancarkan tinju telak yang dipenuhi oleh energi ke punggung kepala ular. Sontak saja hal itu langsung membuat kepala ular merosot turun dan membentur lantai arena dengan keras.
__ADS_1
Xiao Wang mengatur jarak. Sementara ular itu kini kembali bangkit, berniat mengejar dan menyerangnya.
Kyaakk....
Ular berteriak, mulut yang terbuka lebar mengeluarkan percikan ludah yang menyebar. Setelah itu, si ular kembali melesat, mengejar Xiao Wang.
"Tidak ada jalan lain, sepertinya aku harus mengeluarkan kemampuan Ilusi untuk memblokir ilusi ini pula. Meskipun nanti akan diketahui oleh banyak orang. Tapi mungkin inilah waktunya bagi ku untuk menunjukkan kemampuan-kemampuan ku satu per satu." Xiao Wang bergumam perlahan.
Setelah memantapkan hatinya, Xiao Wang menghadang ular yang saat itu bergerak semakin dekat dengannya.
Sejenak, Xiao Wang memejamkan kedua matanya, setelah beberapa saat dia menatap kembali membuka serentak.
Whush...
Pupil mata yang berubah menjadi merah darah itu melepaskan suatu energi tak kasat mata ke arah ular. Tak lama setelah itu, si ular berubah menjadi debu merah yang melayang dan menghilang menyatu dengan angin. Tersisa sebuah belati yang terjatuh dar bekas keberadaan ular itu. Sementara panggung arena sendiri kini telah kembali normal seperti sediakala, tanpa kerusakan yang diakibatkan oleh ular ilusi tadi.
"Kau juga bisa menggunakan ilusi!? Sebenarnya berasal dari mana kau ini? Aku curiga bahwa kau bukan berasal dari klan Xiao." Shin Kung berkata lantang.
"Bahkan ayahku dahulu adalah seorang kepala klan Xiao. Bagaimana mungkin aku ini orang lain selain dari klan Xiao sendiri!" Jawab Xiao Wang tenang.
"Cih, aku tidak peduli. Yang aku tahu, di klan Xiao tidak ada yang bisa menguasai keterampilan ilusi..." Shin Kung menghentikan sejenak perkataannya kala memikirkan suatu hal. "Atau jangan-jangan, klan Xiao sekarang telah berpaling dari aliran. Dalam kata lain selama ini mereka diam-diam mempelajari ilmu terlarang!"
Perkataan Shin Kung sontak saja menjadi perbincangan dari orang-orang yang hadir di sana. Terbagi ke dalam kedua kelompok, yaitu kontra dan pro, ada yang membela namun ada juga yang justru ternak omongan lelaki itu. Bahkan Xiao Die dan Xiao Lei untuk kesekian kalinya di datangi oleh orang-orang khusus itu, yang hendak menanyai dan mempertanyakan perkataan Shin Kung.
__ADS_1
Kedua ketua yang juga tidak tau apa-apa tidak bisa menjawab. Pertanyaan demi pertanyaan yang datang secara bersamaan membuat kedua pena tua itu semakin kesal.
"Aku juga tidak tahu menahu dari mana dia mempelajari keterampilan Ilusi itu. Jika kalian ingin mengetahuinya, maka tanyakan langsung padanya." ucap kesal Penatua Xiao Die. Dia tidak senagaja membocorkan auranya. Ranah Raja tahap 5. Sontak saja hal itu langsung membuat orang-orang yang semula mengelilinginya langsung bubar. Bukannya takut melainkan tidak ingin mencari masalah lebih jauh. Apalagi sampai menjadi musuh dari klan Xiao.
Terlepas banyak yang membicarakan Xiao Wang dengan dugaan-dugaan buruk terhadapnya dan Klan Xiao, namun Xiao Wang tetap tenang.
Menghela napas dalam sesaat, dia lantas menjawab. "Kau tidak tahu bagaimana proses aku mendapatkan kekuatan ini. Tapi satu hal yang harus kau ingat, aku mendapatkan keterampilan ilusi ini bukan berasal dari klan Xiao!" ucapnya dengan intonasi dingin.
"Dalam kata lain, kau yang menyimpang dan berkhianat?. Ckckck... bahkan katanya ayahmu adalah kepala klan Xiao terdahulu. Tapi kau bahkan berani berkhianat dari klan mu sendiri!" Shin Kung kembali berbicara dengan sengaja mengeraskan volume suaranya. Tentu saja setelah mendengar itu, pandangan orang-orang terhadap Xiao Wang semakin memburuk. Yang tadinya seimbang antara pro dan kontra, kini para pihak kontra telah lebih banyak. Hal itu sendiri tidak terlepas dari peran orang-orang berpakaian hitam itu.
Xiao Wang sendiri masih terdiam belum mau menjawab. Sebagai aliran hitam, Xiao Wang tahu betul Shin Kung ini sengaja memancing emosinya. Sebab seseorang yang telah terbuai dalam jurang emosi, akan sangat sulit untuk berpikir lurus. Biarlah dia menjadi bahan pembicaraan orang-orang, terpenting saat ini adalah membereskan terlebih dahulu lelaki yang menjadi lawannya itu. Setelah itu, Xiao Wang akan memikirkan cara untuk memperbaiki namanya.
"Terserah kamu mau mengatakan apa. Aku tidak peduli. Dan ya, kau yang mengundang masalah ini, maka jangan salahkan aku untuk apa yang akan aku lakukan padamu!" Setelah mengatakan itu, Xiao Wang lantas mengaktifkan keterampilan ilusi miliknya.
"Alam Ilusi..." Berkata sangat pelan, sembari pandangannya tertuju pada Shin Kung.
Ekspresi yang di tunjukkan oleh lelaki yang menjadi lawan Xiao Wang itu memburuk. Garis wajahnya seketika suram, setelahnya terdiam mematung. Hal itu sendiri menimbulkan banyak pertanyaan di benak orang-orang yang ada di sana. Terkait dengan apa yang dilakukan oleh Xiao Wang dan apa yang tengah menimpa Shin Kung.
"Lihatlah, anak itu sepertinya akan membunuh Shin Kung. Dia melakukan ilusi tingkat tinggi untuk membunuh Shin Kung!" Seorang pria berbaju hitam berkata lantang sembari menunjuk arah panggung arena.
Sama seperti sebelumnya, aula pertandingan pun ramai oleh orang-orang yang menyerang Xiao Wang dengan perkataan pedas dan tidak mengenakan saat di dengar. Tidak hanya itu, perkataan orang-orang semakin menjadi janda Dengan mengatakan kepada Xiao Wang untuk segera menyerah. Dan berhenti melanjutkan pertarungan. Mereka juga meneriaki pihak Kekaisaran, untuk segera mendiskualifikasi Xiao Wang dan menghukumnya karena telah melakukan pelanggaran-pelanggaran.
Tanpa mereka sadari bahwasanya laki-laki yang berteriak tadi memang sengaja untuk membangkitkan kekesalan orang-orang pada Xiao Wang. Dia menyunggingkan seringai penuh kemenangan. Pandangannya menatap lurus ke arah bangku khusus para penatua dan tetua sekte dan klan. Dia memberi kode pada seseorang di sana.
__ADS_1
Xiao Lei yang melihat kode itu menyunggingkan senyum puas. Rencananya nyaris mendekati kesempurnaan, untuk hari ini ³
Sementara itu, Xiao Wang bukannya tidak mendengar perkataan-perkataan kasar dari orang-orang di sekelilingnya. Namun memilih untuk mengacuhkan mereka sejenak, meskipun ada rasa tidak terima dihatinya.