
Aiden sedang bersama dua putranya. Karena tidak tahu lagi harus membahas masalah Aline dengan siapa lagi, mau tak mau ia harus merepotkan dua putra kembarnya. Saat mendengar cerita sang Papa, baik Alwin dan Alvin sama sekali tidak menyangka kalau Adik kesayangan mereka akan melakukan tindakan tak terduga.
"Apa, Pa? Papa bilang apa?" kata Alwin.
"Papa tidak salah dengar, kan? mungkin saja Aline salah menyebut nama. Mungkin juga dia sedang bergurau," sambung Alvin.
Aiden berjalan mendekati sofa, lalu duduk bersandar. Ia memijat lembut panggal hidungnya. Aiden mengatakan kalau ia tidak mungkin salah dengar. Jarak Aline saat berbicara sangatlah dekat, satu meter pun tak sampai.
"Papa tidak tahu lagi harus apa. Bagaimana menurut kalian?" tanya Aiden.
Alwind an Alvin saling bertatapan. Tak beberapa lama mereka menatap Aiden bersamaan. Alwin dan Alvin ternyata memiliki perbedaan pendapat.
Alwin mengatakan, kalau mereka semua hanya harus percaya pada Aline. Aline lah yang merasakan, Aline juga yang menjalani. Sebagai, Papa dan Kakak, mereka tidak boleh juga terlalu ikut campur, meski masih berhak.
Alvin menyayangkan keputusan Aline. Menjadi Sekretaris tidaklah mudah. Ia menilai Aline tidak berpikir panjang dan hanya mementingkan pria yang entah bagaimana perasaannya pada Aline.
"Kita cukup melihat dari jauh saja. Aline bukan lagi anak belasan tahu. Bukankah umurnya juga sudah lebih dari cukup kalaupun ingin menikah?" kata Alwin.
"Aline bilang menyukai pria itu, kan. Lantas, apakah pria itu juga menyukai Aline? Papa tidak lihat sikap dan cara bicaranya yang dingin. Bahkan senyum tipisnya membuat bulu-buluku langsung berdiri." kata Alvin menjelaskan.
Aiden meja, "Jadi?" sambung Aiden.
"Biarkan saja," jawab Alwin.
"Kita harus mencegahnya," jawab Alvin.
Alwin dan Alvin menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Semakin membuat Aiden pusing. Aiden pun bertanya lagi, apakah Alwin dan Alvin menyukai Owen? menurut dua putranya, dari segi pandang pria, apakah Owen pantas untuk Aline atau seperti apa?
__ADS_1
"Kalau pendapat Papa, Papa tidak masalah. Pria itu pemikirannya matang dan tindakannya hati-hati. Cara bicanya teruatur, dan pandangan matanya menatap lekat lawan bicara. Terlihat sekali dia pria yang tegas dan berwibawa. Hanya saja Papa takut kalau Adik kalian itu terlalu mendambakan cinta. Pengusaha seperti Owen itu bisa jadi pria yang tak mau memberikan cinta, karena bagi mereka cinta itu bukan hal penting. Cinta tak bisa menaikkan harga saham. Cinta juga tak bisa diuangkan. Papa ini begini karena dulu Mama kalian sering sekali mendengar keluhan para istri rekan bisnis Papa. Sejak kecil Adik kalian tumbuh dengan cinta dan kasih sayang dari kita dengan berlimpah ruah. Kalau tiba-tiba dia merasa tak disayangi atau tak dicintai? apa jadinya?" jelas Aiden panjang lebar.
Alwin berpikir, apa yang Papanya katakan itu adalah hal yang benar. Aline pasti nantinya akan mencari cara mendapatkan perhatian dan bisa jadi malah membuat Owen kesal dan marah.
Alvin setuju, pemikiran Papanya kurang lebih mirip dengannya. Aline itu manja dan kemauannya harus terpenuhi meski tak segera. Bisa-bisa Aline malah membuat kekacauan.
Aiden, Alwin dan Alvin pun berdiskusi bagaiamana baiknya untuk mengatasi masalah Aline. Mereka pun akhirnya sepakat, akan memberikan waktu bagi Aline hanya selama tiga bulan saja. Jika dalam waktu tiga bulan Aline tak bisa mememikat Owen dan membuat Owen menyatakam cinta, maka Aline akan dinyatakan gagal dan harus kembali ke perusaan sekaligus melupakan Owen untuk selama-lamanya.
***
Aline pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia melihat Papa dan dua Kakak kembarnya duduk di sofa ruang tengah. Seolah sedang menunggu sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Aline menatap Papa dan dua Kakak kembarnya bergantian.
"Sudah pulang? duduklah. Ada yang ingin Papa sampaikan," kata Aiden menatap Aline serius.
"Begini. Papa, Alwin dan Alvin baru saja berdiskusi. Kami akan menyetujui kamu masuk ke GoodFood, dengan dua syarat." kata Aiden.
"Maksudnya? aku boleh masuk dan menyukai Owen begitu? Papa dan dua Kakak tidak akan menentang atau kesal, kan?" kata Aline menyakinkan apa yang didengarnya.
"Ya, kurang lebih begitu. Itu juga kalau kamu mau memenuhi dua syarat dari kami," jawab Aiden.
Aline setuju dan lansgung minta Papanya mengatakan dua syarat apa yang harus ia penuhi. Aiden pun menjawab, yang pertama Aline harus bisa membuat Owen jatuh cinta atau membalas perasaan Aline. Kedua waktu yang berikan hanya tiga bulan saja. Jika dalam waktu itu Owen sama sekali tak memiliki ketertarikan pada Aline, maka Aline harus kembali ke perusahaan sekaligus menghapus jejak Owen selamanya.
"Bagaimana?" tanya Aiden.
Aline diam berpikir. Ia mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Papa dan dua Kakaknya memberikan syarat seperti itu? memang mereka serasa ingin membuat Aline menyerah sebelum memulai. Karena Aline itu wanita yang penuh tekad, maka ia pun mengiakan dua syarat yang ditentukan. Aline yakin, ia bisa membuat Owen jatuh cinta padanya. Sebelum-sebelumnya saja ia bisa dengan mudah menerima banyak pernyataan cinta dari pria. Tentu saja merayu Owen juga tidak akan sulit.
__ADS_1
"Bukankah pria saja?" batin Aline tersenyum.
"Baiklah. Aku terima dua syaratnya. Kalau aku berhasil maka aku akan melanjutkannya, maksudku aku mau menikah dengan pria itu. Papa dan dua Kakak mengerti kan?" kata Aline.
Aiden, Alwin dan Alvin tercengang. Ia tidak menyangka Aline akan begitu berambisi. Padahal bisa saja hal sebaliknya yang akan terjadi.
***
Keesokan harinya ....
Aline keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati meja makan untuk sarapan dengan Papanya. Aline sudah berpakian rapi, mengenakan stelan clana panjang dan blazer dengan warna senada. Aline juga mengikat rambutnya ekor kuda, dan mengenakan make up tipis.
"Pagi, Papaku tersayang." sapa Aline tersenyum cantik.
"Oh, selamat pagi, Bu Sekretaris. Hari ini sudah mulai kerja, ya?" kata Aiden menggoda Aline.
"Papa ... jangan menggodaku." kata Aline. Ia menarik kursi di samping Aiden, lalu duduk
Aiden menatap Aline, "Apa tak sebaiknya kamu mengenakan rok daripada celana? Sesekali rubahlah gayamu, sayang." Kata Aiden.
"Tidak mau. Aku nyaman sepeti ini. Gaya pakaian ini sudah seperti jati diriku. Memangnya hanya rok yang bisa wanita kenakan?" jawab Aline.
Aiden menganggukkan kepala, "Ya, ya, ya. Pakai apa saja putriku tetap adalah yang paling cantik." puji Aiden.
Aline tersenyum. Ia menjawab, ia tidak akan secantik ini kalau bukan putri Papanya. Aline memuji Papanya yang memang tampan, ditambah Mamanya yang sangatlah cantik. Hasil dari pria tampan dan wanita cantik adalah anak yang rupawan. Sepertinya, seperti dua Kakak kembarnya. Aiden mengangguk lagi, ia menyetujui apa yang putrinya itu katakan.
__ADS_1