
Tak ada seorang pun yang mampu menggantikan kehadirannya di hatiku meski jarak kita menjadi pemisah. Karena apapun itu, hatiku selalu milik dia yaitu Reynaldi Johan Pratama. ~Jessica Caroline~
****
Hari ini, Bima meninggalkan Indonesia untuk memenuhi permintaan dari bos sekaligus sahabatnya. Dia harus benar-benar pergi ke New York untuk membantu Rey yang sedang mengalami kesulitan.
Perusahaan di Indonesia untuk sementara waktu, akan diurus oleh Mama Ria sendiri dengan bantuan Rey dan Bima dari jarak jauh. Meski umur beliau sudah paruh baya, tapi kepandaiannya dalam berbisnis masih tetap sama.
Tak ada yang berubah sedikitpun. Mungkin, hanya dalam waktu dan kelincahan saja yang berubah. Jika dulu saat masih muda Mama Ria begitu cepat dan tanggap. Sekarang, memasuki umur hampir 60 tahun membuatnya tak bisa bergerak lincah. Dia harus serba hati-hati untuk kesehatannya.
Bima sendiri, setelah melakukan perjalanan panjang. Akhirnya pria itu sampai di Bandara Udara John F. Kennedy. Menyeret koper hitam miliknya, dia segera menelpon David yang sudah ia kabari jika dirinya akan datang.
"Selamat datang, Tuan." Sambut David dengan bahagia.
Kedua pria itu saling memeluk satu dengan yang lain sebagai pelukan seorang kakak dengan adik. Memang semenjak kehadiran David, Bima sendiri sudah menganggap pria itu seperti adik kandungnya. Maka tak khayal jika tingkah mereka terlihat begitu akrab dan dekat sekali.
"Kita langsung ke apartemen Tuan Rey ya, David!" pinta Bima saat lelaki yang lebih muda dengannya itu memasukkan koper ke dalam bagasi.
"Siap, Tuan."
"Jangan memanggilku seperti itu, jika kita sedang berdua," pinta Bima dengan tersenyum.
Kedua lelaki itu mulai membelah jalanan New York di siang hari dengan David yang menjadi supir. Mereka yang jarang sekali bertemu, akhirnya saling bertukar pengalaman dan cerita hidup mereka. Sungguh, Bima menjadi lelaki berbeda jika bersama David. Entahlah, dirinya merasa memiliki adik kandung sungguhan jika bersama David.
Tak lama, mobil yang dikemudikan David mulai memasuki area parkir apartemen Rey. Kedua lelaki itu turun dan mengambil koper yang dibawa oleh Bima.
"Apakah Tuan Rey sangat merepotkanmu disini, David?"
"Enggak, Kak. Malahan Tuan Rey begitu baik disini." Bima mengangguk.
Ia sudah berpikir jika lelaki itu akan sangat merepotkan David. Namun, mendengar ucapan pria di sampingnya sedikit membuat beban pikirannya lega. Segera mereka memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dimana tempat Apartemen Rey berada.
Ketukan pintu dan diiringi suara bel, mulai terdengar saat Bima berdiri di depan pintu berwarna hitam. Tak lama, benda itu bergerak dan munculnya sang sahabat dari balik pintu itu.
"Astaga," pekik Bima tanpa sadar.
__ADS_1
Lelaki itu menelisik penampilan dan wajah Rey yang berubah. Dia menatap dari atas sampai bawah dan menggeleng pelan.
"Ini anda, Tuan?"
"Jangan menghinaku disini. Ayo masuk!"
Rey membuka pintu apartemen dan meminta Bima serta David masuk ke dalam. Dirinya menyambut kehadiran sang asisten kebangaannya dengan wajah bahagia. Entah kenapa, kehadiran Bima membuatnya memiliki semangat hidup untuk menyelesaikan semua permasalahan ini.
Berbeda dengan Rey. Bima sendiri sekali lagi menatap dengan mata terbelalak melihat bagaimana keadaan Apartemen yang ditinggali bosnya itu. Seingatnya saat dulu dia meminta David untuk mengambil gambar, keadaannya tak seperti ini.
Ini seperti bukan milik Reynaldi Johan Pratama. Apartemen yang biasanya bersih dan rapi, sekarang sudah seperti kapal pecah. Tempelan kertas yang berisi 'semangat' 'jangan menyerah' 'Rey bisa!' satu persatu dibaca oleh Bima.
Lelaki itu menggeleng tak percaya bisa melihat seberapa bucin bosnya itu pada wanita yang baru saja mereka temui.
"Ini berantakan sekali, Tuan?" tanya Bima mengejek.
"Jangan mengejek terus, Bim. Ayo bantu aku membereskan semua ini dan jangan bicara formal padaku sekarang!" titahnya tak mau terbantahkan.
Bima hanya mengangguk sambil menahan tawa. Akhirnya mereka mulai membereskan semua kekacauan ini dengan bantuan David yang ikut serta.
Tak lupa juga, Rey memesan makanan serta minuman untuk mereka bertiga. Memilih menyegarkan tubuh yang berkeringat dengan segelas jus jeruk. Hingga akhirnya Rey meminta Bima dan David membersihkan dirinya.
"Lebih baik kalian tidur disini, dan bantu aku untuk mengerjakan ini!"
****
New York, Rumah Stevent Alexzandra.
Sebuah gadis tengah duduk sambil bersandar di kursi yang ia duduki. Tatapan matanya tengah mengarah ke depan melihat taman yang dulu menjadi temannya bermain. Senyum kecil mulai terbit di bibir tipisnya, saat mengingat disini ia pernah berlari bersama sang Mama dan Papa.
Ingatan dan kenangan ini membuatnya lebih memilih memejamkan mata. Menikmati keindahan dan merenungi wajah sang Mama yang masih teringat jelas setiap pahatan di wajahnya dalam pikiran Jessica.
Tak lama, gadis itu membuka matanya karena sudah tak bisa menahan laju air matanya. Ia usap kedua matanya secara perlahan agar tak menimbulkan kesan merah pada kulit. Setelah sedikit tenang, akhirnya Jessi memilih beranjak dari kursi dan berjalan menuju kolam ikan yang ada di taman belakang rumahnya.
Tangannya mulai melambai di dalam air menyapa ikan mas yang hidup disana. Senyum mengembang terpancar di wajahnya saat ikan-ikan itu menyambut kehadiran tangannya dengan berenang kesana kemari. Namun tak lama, sebuah langkah kaki terdengar dan berhenti di sampingnya.
"Hy, Jessi."
__ADS_1
Jessi menoleh. Ia sedikit mendongak dan mendapati Jackson, pria kepercayaan sang papa yang telah bekerja sekian lama berdiri di sampingnya.
"Hy, Kak. Ada apa?" tanya Jessi tanpa basa basi.
Gadis itu tak lagi menatap kehadiran Jackson. Ia lebih asyik bermain dengan ikan karena sedikit mampu mengobati kerinduan pada sang kekasih hatinya.
"Aku ingin berbicara sesuatu hal denganmu." Jessi mengangguk.
Ia mengajak pria yang sudah dirinya anggap kakak menuju sebuah meja yang dihalangi meja bulat ditengahnya. Beberapa saat keduanya sama-sama hening. Entah kenapa Jessi bisa menangkap ketidakberesan dalam tingkah laku Jackson pagi ini.
"Kakak mau bilang apa?"
"Jessi sebenarnya….sebenarnya…."
"Ya sebenarnya apa, Kak?" tanya Jessi tak sabaran. Semoga apa yang ada di pikirannya tak menjadi kenyataan. Karena sungguh ia takut, ia takut menghancurkan hubungan yang selama ini ia bangun dengan pria disampingnya itu.
"Sebenarnya selama ini, aku menaruh hati padamu, Jess."
~Bersambung
Loh loh gimana ini? Wah wah Bule Jackson gak mau ngalah loh.
Gimana nih? Apa Jessi akan berpaling atau nggak yah?
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1