
Pengorbanan sang istri itu begitu besar. Maka dari itu jangan pernah menyakiti hatinya jika kamu sudah tahu bagaimana dia bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati kalian. ~JBlack~
****
"Nama yang cantik seperti wajahnya," ucap Mama Ria menatap cucunya yang sedang meminum asi.
"Terima kasih, Ma," ujar Rey membuat Mama Ria mengelus pipi putranya itu
"Mama gak nyangka kamu udah dewasa dan punya anak, Rey. Semoga kamu sehat terus dan lancar rezekinya."
Rey menatap sendu mamanya. Orang tua tunggal yang begitu mensupportnya selama ini. Tak pernah sekalipun Mama Ria memaksakan kehendaknya setelah kejadian masa lalu. Wanita paruh baya itu benar-benar berubah dan akan berusaha melakukan apapun untuk kebahagiaan putranya.
"Makasih ya, Ma. Mama selama ini ada buat Rey."
"Sama-sama, Nak. Yaudah Mama duduk dulu. Dilihat anakmu itu takutnya masuk hidung yah!" nasehatnya membuat Jessica mengangguk.
Bagaimanapun terkadang ibu menyusui yang tak memperhatikan putra putrinya yang sedang menyusu, tak akan tahu jika bibir kecilnya melepas puncak penghasil asi itu dan bisa membuatnya meluber kemana-mana.
Maka dari itu, nasehat dari mertuanya ini akan menjadi ilmu pertamanya untuk ibu menyusui. Dengan hati-hati baik Rey maupun Jessi sama-sama memperhatikan bagaimana putri kecilnya minum dengan lahap.
"Dia haus banget kayaknya, Yang," ujar Jessi sambil mengelus pipi sang putri.
__ADS_1
"Iya, Yang. Kamu bener," sahut Rey lalu beralih pada putrinya. "Jangan dihabiskan, Sayang. Sisakan untuk Papa yah, Papa juga mau."
"Aduh," seru Rey ketika istrinya tiba-tiba mencubit lengannya.
"Mesum banget sih sama anaknya," kesal Jessi dengan bibir yang cemberut.
"Kan bercanda, Yang." Goda Rey sambil mencium pipi sang putri hingga membuat bocah kecil itu menangis.
"Sayang," tegur Jessi melihat suaminya malah asyik menggoda putrinya hingga Lashira menangis kencang.
"Ust ust, Nak. Papa nakal yah. Pala minta cubit," ujar Jessi menimang putrinya dan perlahan tangisannya reda.
Sungguh pemandangan ini membuat Daddy Stevent dan Mama Ria yang duduk di sofa sama-sama merasakan kebahagiaan. Mereka tak menyangka jika putra dan putri yang dulunya mereka gendong saat ini sudah memiliki anak bayi sendiri.
Kedua orang yang sudah tak muda lagi itu hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan anak dan cucunya agar mereka selalu dilindungi oleh Allah. Agar keluarga mereka dijauhkan dari orang yang ingin merusaknya.
"Ya benar. Semoga mereka dijauhkan dari orang-orang yang berniat merusak hubungan mereka.!
"Aamiin."
****
Setelah dirasa putrinya itu tertidur pulas. Rey mengambil Lashira begitu pelan dan membaringkan putrinya itu di dalam box bayi. Sungguh bayi mungil itu kembali terlelap dengan nyaman sehingga siapapun yang melihat begitu gemas.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak putri, Papa."
Rey kemudian membenarkan selimut sang putri lalu berlalu kembali ke ranjang sang istri.
"Kamu gak tidur?" tanya Rey lembut ketika kedua mata mereka saling bertatapan.
Jessi menggeleng lalu dia menggenggam tangan sang suami.
"Makasih sudah mau nemenin aku, Sayang. Makasih udah mau jadi pelampiasan sakit aku. Aku minta maaf yah kalau tindakanku tadi menyakiti kamu," ujarnya dengan menangis lalu mencium kedua tangan sang suami.
"Ust jangan menangis, Sayang. Seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah mau mengandung anak kita. Menyayanginya selama 9 bulan. Bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Sakit yang kamu berikan tak sebanding dengan sakit yang kamu rasakan. Jadi aku terimakasih banyak, Sayang. I love you."
Kedua suami istri itu saling berpelukan dengan senyum terkembang. Mereka seakan melupakan adanya kedua orang tua mereka yang masih ada disana.
Baik Rey dan Jessica seakan terbawa suasana sehingga keduanya hanyut akan ciuman yang menandakan seberapa besar cinta mereka. Tak ada nafsu didalamnya, hanya sebuah rasa untuk menyalurkan bahwa mereka saling mencintai dan menyayangi antara satu dengan yang lain.
~Bersambung~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
__ADS_1
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.