
Aline tidak bisa tidur. Ia gelisah menunggu hasil wawancaranya. Pikirannya menerka-menerka, apakah ia bisa lulus atau tidak?
Aline langsung sedih, saat membayangkan ia tidak lulus. Ia kecewa, karena ia tidak akan bisa melihat wajah Owen secara langsung. Padahal itu adalah sesuatu yang ia inginkan. Bahkan untuk mewujudkan keinginanya itu, ia sampai susah payah mencari informasi sampai akhirnya bisa mendaftar sebagai Sekretaris. Aline sangat berusaha.
Aline menutup mata dan berdoa. Memohon agar keinginannya terwujud. Ia tidak minta apa-apa lagi, baginya bisa melihat Owen dari dekat saja sudah cukup. Selesai memanjatkan keinginannya, Aline berbaring dan mencoba untuk tidur. Ia berharap akan datang kabar esok hari. Dan tidak beberapa lama, Aline pun terlelap tidur.
***
Keesokan harinya ....
Hans menghubungi Aline dan memberitahukan kalau Aline diterima bekerja sebagai Sekretaris pribadi CEO. Aline diminta datang keesokan harinya dan bisa mulai bekerja. Setelah memberitahu Hans pun mengakhiri panggilannya.
Mendengar kabar baik, Aline langsung melompat dari tempat tidurnya dan berteriak kegirangan. Cepat-cepat ia berlari keluar kamar dan memberitahu Papanya.
Aiden yang sedang sarapan terkejut, saat tiba-tiba Aline berlari menghampirinya dan memanggilnya.
"Papa ... " panggil Aline berteriak.
Aiden menatap Aline, "Ada apa, sayang? jalan saja, kenapa harus berlari dan berteriak?" kata Aiden.
Aline langsung memeluk Papanya. Tak lama pelukan terlepas, ia mencium pipi Papanya kemudian menarik kursi dan duduk. Aline pun menceritakan, kalau ia diterima bekerja diperusahaan GoodFood. Mendengar itu, Aiden terkejut dan langsung bertanya apa maksud dari ucapan Aline.
Aline pun mengungkapkan alasannya ingin bekerja di GoodFood. Aline mengakui kalau ia jatuh cinta pada Owen sejak pandangan pertama dan itu langsung membuat Aiden kaget sampai terbatuk saat sedang minum.
Melihat Papanya batuk, Aline segera berdiri dan menepuk-nepuk punggung Papanya. Aline meminta sang Papa untuk minum pelan-pelan saja dan hati-hati.
Aiden berdehem untuk meredakan batuknya. Setelah batuknya reda, Aiden pun meminta putri kesayangannya mengatakan ulang apa yang baru saja dikatakan.
"Katakan lagi. Kamu bilang apa tadi?" tanya Owen.
Aline bingung akan maksud sang Papa. Ia pun bertanya, apa yang harus diulangi?
"Maksud Papa apa? Aku harus mengatakan apa?" tanya Aline.
__ADS_1
"Ulangi, yang baru saja kamu katakan soal Owen." kata Aiden.
Aline tersenyum, "Oh, soal itu. Hmm ... aku akan katakan, kalau aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Dan alasanku melamar kerja di perusahaannya adalah karena ingin mengejarnya." jelas Aline mendetail.
"Hah? a-apa? Me-apa ?" sahut Papanya syok.
"Mengejarnya Papa. Aku mau dia jadi priaku. Bukan, bukan saja pria, tapi suamiku." jawab Aline.
Aiden langsung lemas. Ia tidak percaya putrinya akan mengejar cinta seorang duda beranak satu. Bahkan terang-terangan mengakui telah jatuh cinta pada duda itu.
Aline menatap Papanya bingung. Papanya hanya diam tanpa ekspresi. Aline tidak bisa tahu, apa yang sedang Papanya itu pikirkan. Ia pun mencoba bertanya, apa yang Papanya pikirkan.
"Pa, apa Papa baik-baik saja?" tanya Aline khawatir.
Aiden memijat pangkal hidungnya dan menggelengkan kepala pelan. Ia mengatakan, kalau ia tidak bisa baik-baik saja setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Aline.
"Papa marah?" tanya Aline.
Aline mengerutkan dahi, "Papa ini bicara apa? aku ini Aline ... Aline Michaela putri Papa. Kerasukan apa? Aline tidak kerasukan atau apapun Papa. Aline baik-baik saja," kata Aline.
Aiden menghela napas berulang-ulang. Ia tidak bisa marah, tapi juga tidak bisa untuk diam saja. Ia tidak tahu apa yang putrinya pikirkan sampai-sampai membuatnya pusing.
"Duduklah dan katakan pada Papa, kamu bekerja sebagai apa di GoodFood?" tanya Aiden penasaran.
"Hmm ... Sekretaris CEO." jawab Aline langsung.
"Se-Sekretaris CEO? kamu melamar pekerjaan jadi Sekretaris? Apa kamu sudah hilang kesadaran karena cinta, Aline? Astaga ... kepalaku langsung sakit." kata Aiden.
Aiden berdiri dari duduknya dan tak jadi menyantap sarapan. Ia berjalan perlahan meninggalkan Aline menuju ruang kerjanya.
Aline menatap kepergian Papanya. Ia berjalan menyusul Papanya dan bertanya kenapa Papanya tidak makan dan malah pergi?
"Papa tidak lapar. Kamu makanlah sendiri," kata Aiden.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Papa sakit? Papa harus makan," kata Aline.
Aiden menghentikan langkah dan menatap Aline. Aiden dengan jujud mengatakan, kalau ia butuh ketenangan saat itu. Meminta Aline untuk tidak menemuinya dulu. Aiden menegaskan, kalau ia tidak marah pada Aline. Ia hanya belum bisa mencerna apa yang Aline sampaikan padanya.
"Bisa kan beri waktu Papa berpikir sebentar?" tanya Aiden.
Aline menganggukkan kepala. Ia tidak tahu harus bicara apa. Ia merasa sedih melihat Papanya yang seolah menjauhinya, meskipun Papanya bilang kalau tidak marah. Hati Aline jadi tidak tenang.
Aiden kembali melangkah pelan menuju ruang kerjanya. Aline diam melihat Papanya sampai Papanya membuka pintu dan masuk ke ruang kerjanya.
Aline berjalan cepat menuju kamarnya. Di kamar ia segera menghubungi Yuna dan mengajak Yuna bertemu. Aline dan Yuna janjian di Caffe langganan mereka satu jam lagi.
Aline duduk diam. Ia terlihat seperti sedang merenung. Aline bingung, kenapa Papanya sesedih itu. Ia berpikir, apakah sala kalau ia menyukai Owen? apa karena Owen seorang duda dan sudah memiliki anak? apa karena itu Papanya seperti tidak setuju, tapi menentang pun enggan?
"Dipikir ssperti apapun aku tidak mengerti apa yang Papa pikirkan. Papa terlibat tidak senang, tetapi enggan untuk menentangnya. Bagaimana ini? aku harus apa?" batin Aline bingung.
Setelah cukup lama diam. Aline melihat jam dinding di kamarnya dan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Yuna. Ia berharap Yuna bisa memberika saran dan solusi untuk masalahnya.
***
Di Caffe ....
Aline datang lebih awal dari waktu janjian. Ia menunggu kedatangan Yuna. Tidak berselang lama Yuna datang. Terliha Yuna memasuki pintu Caffe dan berjalan menghampiri Aline. Ia langsung duduk di samping Aline.
"Wahh ... akhirnya sampai. Aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanku. Untungnya bisa cepat selesai dan tidak ada masalah. Huhh
... " Kata Yuna membuang napas.
Aline menatap Yuna dengan lekat. Merasa ane dilihat Aline, Yuna pun bertanya apa hal yang terjadi? kenapa Aline mengajaknya bertemu?
"Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu, Yuna. Aku tidak sangka, aku akan merepotknmu. Jujur aku butuh sekali saran dan solusi di saat seperti ini." kat Aline.
Yuna yang melihat Aline gelisah pun segera menenangkan sahabat baiknya itu. Yuna meminta Aline untuk tenang dan bicara pelan-pelan saja, karena ia akan mendengarka semuanya dan apapun yang akan Aline ceritakan.
__ADS_1