Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Meminta Bantuan Pada Masa Lalu


__ADS_3


Apapun jalan yang akan aku lewati. Jika kita melakukan bersama. Maka, aku yakin Tuhan akan membantu kita untuk semua masalah ini. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Rey terdiam. Dirinya menjadi tahu jika papa dari sang kekasih sedang mengujinya. Namun kenapa harus dengan perusahaan? Apakah Stevent ingin melihat apakah dia bisa bekerja dengan dua perusahaan sekaligus. Menarik nafasnya dengan kuat, lalu Rey menerima jabat tangan Stevent dengan mantap. 


"Saya bersedia," ucapnya tegas tanpa keraguan.


Jessica menoleh, dia menangkap perkataan kekasihnya yang begitu mantap. Bahkan gadis itu tak menangkap celah keraguan sedikitpun. Di satu sisi dia bahagia, karena Rey mau memperjuangkan dirinya, tetapi disisi lain. Jessica khawatir sang kekasih gagal melaksanakan syarat dari sang papa.


"Nggak apa-apa, aku yakin kita bisa." Rey menggenggam tangan Jessi dengan erat.


Saat ini keduanya berada di teras rumah Stevent. Gadis itu mengantarkan sang kekasih untuk pergi meninggalkan rumahnya.


"Aku takut, Rey." 


"Kita harus yakin, Jess." 


Melihat tatapan mata sang kekasih. Jessi mengangguk dan segera menghambur ke pelukan Rey. Meyakinkan hati dan pikirannya. Jika dia percaya dan yakin bahwa mereka bisa melalui semua ini bersama-sama.


Pria itu segera pamit meninggakan rumah sang kekasih. Dia meminta David segera melajukan mobilnya dan kembali ke apartemen. Pikirannya sudah berkeliaran kesana kemari. Bagaimana caranya dia harus memulai sebuah perusahaan yang saat ini sedang bangkrut. Lalu, mendapatkan keuntungan sebanyak itu.


David yang melihat bosnya itu hanya bisa diam. Dia merasa ada yang tak beres pada Tuannya. Namun, mau dikata apa? Jika dirinya bertanya, takutnya ia akan dianggap tak sopan. Lebih baik dirinya diam terlebih dahulu sampai Rey yang akan cerita pada dirinya.


Menjatuhkan bobot tubuhnya diatas ranjang adalah opsi terbaik untuknya saat ini. Entah kemana otak pintar yang biasa dia dapatkan. Saat ini, dirinya hanya dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Apalagi, ditambah dia tak akan bisa bertemu sang kekasih sampai dirinya membuktikan syarat dari Stevent bisa dipenuhi.


Memejamkan matanya sejenak. Dia ingin melupakan sejenak masalah yang akhir-akhir ini menimpanya. Semoga setelah ia bangun, Rey berharap ada keajaiban di otak kecilnya untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi.


****


Meja yang seharusnya menjadi tempat makanan dan minuman, saat ini harus berganti menjadi tumpukan berkas dan map. Dari ujung kanan sampai kiri semuanya terpenuhi oleh lembaran-lembaran putih yang entah berisi apa. 


Laptop yang menyala dengan ponsel yang berada di tangannya, semakin menandakan jika lelaki itu sedang banyak pekerjaan. Beberapa menit yang lalu, saat dirinya asyik tertidur. Suara bunyi bel apartemen membangunkannya. Rey berfikir sejenak siapa yang datang.


Toh apartemen ini yang tahu hanya dia, David dan Bima saja. Tetapi sekarang, kenapa bisa ada tamu. Tak ingin banyak kata dia membukakan pintu dan menatap tajam pria yang baru beberapa jam mereka bertemu.


"Ada apa?" tanya Rey menatap lawan di depannya.


"Saya kesini untuk mengantarkan berkas perusahaan Stevent," ujar Jack dengan wajah tak kalah tinggi.


Membuka sedikit pintunya. Rey meminta sang tamu untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Tak perlu. Saya hanya mengantar saja." 


"Baiklah." Rey terdiam. Dia menatap Jack yang tak membawa apa-apa.


Tak lama, bunyi lift membuat Rey menatap ke sumber suara. Sungguh pemandangan ini membuatnya menelan ludahnya paksa. Dua bodyguard Stevent mengantarkan banyak berkas perusahaan yang akan dikerjakan oleh Rey. Maka dari itu, dirinya sudah dipusingkan oleh banyak berkas meski waktu masih menunjukkan pukul 6 sore.


"Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu, Bim," ujar Rey sambil mengotak-atik ponselnya. 


Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 18.25 maka di Jakarta pukul 10.25 di hari berbeda pastinya. Karena New York lebih lambat daripada Ibu Kota Tanah Air.


Perbedaan waktu antara New York dan Jakarta adalah 12 jam (antara pertengahan bulan November dan Maret) atau 11 jam (antara pertengahan bulan Maret hingga November).


Hal ini karena adanya Waktu Musim Panas atau Daylight Savings Time yang memajukan zona waktu di New York lebih cepat satu jam antara pertengahan bulan Maret hingga November.


Segera, Rey menekan layar ponselnya kembali saat tak mendapatkan jawaban dari Asistennya itu. 


"Halo, Bim," panggil Rey langsung.


"Ya, Tuan?" 


"Kenapa lama sekali? tanya rey tak sabaran. 


"Maaf, Tuan. Saya sedang melaksanakan meeting tadi."


"Maafin aku, Bim. Aku terlalu banyak pikiran."


"Santai saja. Ada apa menghubungiku?" tanya Bima santai karena suasana mereka berupa teman. 


"Bolehkan aku meminta saran padamu?"


"Boleh."


Perlahan Rey mulai menjelaskan keadaannya pada Bima. Lelaki itu mengatakan semuanya tanpa ditutupi. Bahkan sesekali ia membuang napas kasar untuk meringankan beban dalam pikirannya. Harapannya saat ini ya hanya Bima. Karena lelaki itu selalu bisa menjadi teman curhat dan pemberi solusi terbaik selama ini. 


"Jadi kamu perlu investor yah?" 


"Iya, Bim. Apakah Ayah Jessi memang sengaja melakukan ini karena aku memiliki perusahaan juga?" 


"Mungkin. Bisa jadi Calon Mertuamu itu ingin mengetes apakah kamu siap lahir batin untuk menghadapi 2 perusahaan dalam keadaan yang berbeda."


Menghembuskan nafas beratnya entah keberapa kali. Rey menyandarkan punggungnya di kursi makan. Memijat pelipisnya untuk mengurangi pusing yang mendera. Ia sudah tak tahu harus melakukan apa. 


"Hanya ada satu cara, Rey?" 

__ADS_1


Rey spontan menegakkan tubuhnya. Ucapan Bima seperti angin segar untuknya 


"Bagaimana, Bim"? 


"Kamu hilang Stevent adalah orang terkaya nomor dua. Berarti, hanya yang nomor 1 yang bisa membantu kamu," uca Bima pelan berharap bosnya ini mengetahui tujuan ucapannya. 


"Jadi maksudmu…." 


"Ya." Bima menyahut, "hanya dengan bantuan Prince Khali kamu bisa melewati semua ini."


Perkataan Bima sungguh mampu membuat tubuh Rey mematung. Apa dia tak salah dengar? Meminta bantuan Khali? Saat ini? Apakah mereka mau membantunya?


Pikiran-pikiran itu mulai memenuhi pikirannya saat panggilannya dengan Bima ia tutup. Pikirannya kembali menerawang kejadian masa lalu dan sukses membuat hatinya sakit kembali.


Namun, demi Jessica? Apakah dia berani, meminta bantuan pada masa lalunya?


****


Bima menatap ponsel yang tiba-tiba mati itu. Dia menghembuskan nafas lelah menghadapi permasalahan sahabatnya itu. Didepannya saat ini, terdapat tumpukan berkas tak kalah banyak dari milik Rey. 


Tugas yang seharusnya cepat selesai harus tertunda karena ketidakhadiran Rey. Jadwal yang sudah dia atur rapi harus kembali ia jadwal ulang secepat mungkin selama bosnya tidak ada.


Rasa lelah sering menghinggapi dirinya tatkala ia harus begadang malam hari mengerjakan semua ini. Namun, entah kenapa ketika dia bertemu Amanda. Ada perasaan hangat dan semangat jika ia ingin berangkat ke kantor. 


Memegang dadanya perlahan. Ia selalu merasakan debaran ini jika pikirannya mengingat akan Amanda.


"Apakah aku sedang jatuh cinta?" 


~Bersambung~


Abang Dude beneran minta tolong ke My Prince gak yah?


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)

__ADS_1


__ADS_2