Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (23)


__ADS_3

Aline kaget, saat tiba-tiba ia dipeluk. Ia tidak tahu ia harus apa, karena tubuh Owen terasa begitu nempel padanya. Sampai Aline merasakan sesuatu yang menonjol di belakangnya.


"O-owen ... bisa lepaskan dulu? rasanya ada yang menonjol," kata Aline.


Owen semakin mengeratkan pelukannya karena malu. Wajahnya memerah, ia merasa tak sanggup menatap wajah Aline karena sangat malu.


"Siapa yang membuatnya begitu? itu kan karena kamu yang tiba-tiba masuk dan mau lari begitu saja. Setidaknya kamu harus bertanggung jawab," kata Owen berbisik.


Owen memiliki ide menggoda Aline. Ia menghisap dan menggigit lembut daun telinga Aline. Ia ingin Aline bisa merasakan apa yang dirasakannya saat melihat Aline masuk ke kamar mandi.


"Apa kamu tahu, apa yang aku pikirkan begitu melihatmu?" tanya Owen.


"Memangnya ... mmmhh ... a-apa yang kamu pikirkan? hhh ... hentikan, Owen. Jangan terus mengigit telingaku." kata Aline merengek.


Owen mengatakan, kalau ia ingin menerkam Aline dan tak akan membiarkan Aline lari begitu saja. Owen mengaku sangat kaget, sampai ia tak bisa berkata-kata. Ia lantas bertanya, apa yang sesungguhnya Aline pikirkan sampai masuk ke kamar mandi? padahal tahu kalau di kamar mandi ada dirinya yang sedang mandi. Aline akhirnya mengaku dan berkata jujur, kalau ia mau menggoda Owen. Ia juga ingin mandi berdua dengan Owen.


Owen kaget, ia tidak sangka Aline memiliki pikiran yang sedikit mesum. Mandi bersama? bukankah kalau mandi harus membuka baju seperti yang ia lakukan saat ini? kalau Aline buka baju? Wajah Owen yang sudah merah karena malu, semakin merah karena pikiran tak senonoh yang dipikirkan Owen.


"Dasar gadis nakal! bisa-bisanya kamu memikirkan itu, hm ..." bisik Owen mencium pipi Aline.


"E-entahlah. Tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mandi bersama. Ta-tapi tidak jadi, dan lepaskan tanganmu ini." kata Aline mencoba melepas tangan besar dan kekar milik Owen yang melingkar diperutnya.


Owen pun berkata, tak semudah itu lepas dari genggamannya. Ia menyalahkan Aline yang masuk ke sarang singa, dan membangunkan singa yang sedang tidur. Hal itu dimanfaatkan Owen untuk menggoda Aline lebih lagi. Owen membuat Aline semakin tak nyaman karena Owen sengaja terus menciumi dan menyentuh yang tak seharusnya disentuh. Aline panik, ia terus memohon ampun dan mengaku salah. Aline berkata, kalau ia tidak akan bepikiran mesum dan menggoda Owen lagi.

__ADS_1


Owen tersenyum, "Baiklah, aku tak akan menggodamu lagi. Kamu bilang mau mandi bersama, kan? ayo, kita mandi bersama. Jangan takut, aku tak akan macam-macam atau melakukan sesuatu padamu," kata Owen, sambil melepas pelukannya.


Aline terdiam. Ia merasa aneh dan ragu-ragu. Apa benar hanya akan mandi bersama? atau jangan-jangan Owen berbohong dan nanti justru akan memggodanya lebih lagi.


"Kenapa diam saja? mau mandi atau tidak?" tanya Owen.


"Tidak, tidak! aku menunggumu selesai mandi dan mandi sendiri saja. Aku tak percaya kamu hanya akan diam. Mandilah, aku tunggu di luar." kata Aline yang segera berlari keluar dari kamar mandi.


Aline menutup pintu dan bersadar pintu. Napasnya terengah-enggah. Sungguh ia tidak menyangka kalau pikirannya hampir membuatnya tak bisa keluar dari sarang singa. Aline bahkan mengutuki pikiran mesumnya dan tindakannya yang tak terkendali.


"Dasar bodoh! bagaimana bisa kamu langsung berlari ke dalam sana, sedangkan di dalam ada Owen yang sedang mandi. Untungnya Owen mau melepaskanmu, Aline. Bagaimana kalau pria itu tak melepaskanmu dan memakanmu? ohhhh tidaaak! aku bisa gila. Minum, minum, aku mau minum." kata Aline.


Aline pun segera pergi meninggalkan kamar. Ia berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil air minum dalam lamari pendingin. Saat minum, Aline terbayang-bayang sesuatu, pikirannya tak bisa lepas dari itu.


"Aku tak melihatnya. Ya, aku tak melihatnya ... " gumam Aline.


"Nyonya melihat apa?" tanya salah seorang pelayan. Itu adalah Pelayan muda yang pernah mendapat teguran dari Aline saat pertama kali datang ke rumah Owen.


"Huaaa ... " sentak Aline kaget, sampai ia hampir menumpahkan air dalam botol yang dipegangnya.


"Ke-kenapa tiba-tiba muncul begitu? Membuatku kaget saja," kata Aline.


"Oh, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mengejutkan Anda, Nyonya." jawab pelayan itu.

__ADS_1


Aline tersenyum. Ia berkata tidak apa-apa. Ia lantas bertanya pada pelayan muda itu, kenapa belum istirahat? Pelayan itupun berkata kalau ia harus mengumpul pakaian kotor Maximilian untuk dicuci besok. Aline mengatakan pada pelayan muda itu agar lebih menghargai waktu. Semua hal sudah ditetapkan waktunya. Mulai bekerja pukul berapa, dan selesai pukul berapa.


"Bekerjalah sesuai waktu yang diberikan. Hargai waktu luang dan istirshatmu. Mengerti?" kata Aline menepuk bahu pelayan itu.


Pelayan muda itu menganggukkan kepala. Ia senang kembali diperhatikan. Pelayan itu awalnya mengira kalau Aline adalah wanita jahat yang berhati dingin, tapi ia akhirnya tahu bagaimana sifat Aline sesungguhnya karena sering bertemu Aline. Ia sekarang menjadi penggemar berat Aline nomor satu.


Aline senang pelayan muda itu mau menerima nasihatnya dengan baik. Ia tahu rasanya diperlakukan tidak baik, karena itu ia tak mau memperlakukan orang serupa dengan orang yang menjahatinya. Ia selalu menekankan semua pekerjany untuk berangkat dan pulang tepat waktu, waktu lembur bahkan jarang terjadi, kalau tak tersedak.


"Apa terjadi sesuatu pada Anda, Nyonya? wajah Anda merah. Anda sakit?" tanya pelayan itu.


"Oh, mungkin karena aku sedang flu. Aku merasa pusing, makadari itu aku mau mandi, lalu tidur." jawab Aline.


Aline pun tiba-tiba ingat sesuatu ia bertanya pada pelayan itu. Siapa pelayan yang paling lama bekerja di rumah Owen dan berapa lama? karena Aline ingin menggali lebih dalam tentang sosok Nana. Pelayan itu menyampaikan, jika pelayan itu sudah pensiun karena cidera. Pelayan itu adalah Nenek dari pelayan muda itu. Karena Neneknya Cidera tanpa kepastian dan hanya dikatakan jatuh, makanya pelayan itu ingin memastikan penyebabnya. Denga kata lain pelayan itu ingin menyelidiki diam-diam bagaimana bisa Neneknya jatuh. Padahal ia yakin rumah ini tak berbahaya, bahkan jauh dari kata bahaya.


Aline lantas membawa pelayan muda itu berjalan-jalan di taman belakang. Ia tak mau ada orang lain yang menguping dengar, dan juga ia ingin pelayan muda itu berbicara santai tanpa rasa takut. Keduanya lantas berjalan perlahab mengelilingi taman.


"Siapa namamu?" tanya Aline.


"Oh, saya Vivi, Nyonya." jawab pelayan muda itu.


"Vivi, apa kamu pernah bertemu atau pernah dengar seseorang beranama Nana? kalau tidak salah dia ... " kata-kata Aline dipotong oleh Vivi.


"Dia adalah sepupu mendiang Nyonya. Dan dia adalah wanita jahat," kata Vivi.

__ADS_1


Aline mengerutkan dahi. Ia meminta Vivi menjelaskan apa maksud perkataannya dan kenapa Vivi bilang Nana jahat? apa Vivi tahu sesuatu, atau Vivi pernah berbuat salah dan dimarahi? Aline bertanya-tanya karena penasaran.


__ADS_2