Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Syarat dari Stevent Alexzandra


__ADS_3


Tetaplah genggam tanganku dan kita akan melawan ayahku bersama-sama. ~Jessica Caroline~


****


Malam mulai merangkak naik. Namun, hal itu tak menyurutkan kebahagiaan keduanya. Hampir seharian ini, Rey dan Jessica selalu bersama. Berkeliling ke semua wisata yang berada di Las Vegas.


Lalu kali ini, mereka mendatangi High Roller atau bisa disebut roda observasi. Menurut yang didengar, High Roller ini adalah yang tertinggi di dunia. Namun, entah itu kebenaran ata tidak. Jika melihat secara langsung memang bentuknya super besar.


Tak perlu waktu lama, sepasang kekasih itu langsung memesan tiket dengan harga kurang lebih $37. Harganya memang sedikit berbeda dengan harga di siang hari. Para penumpang akan membayar dengan harga lebih murah yaitu $20 jika matahari sedang tampak.


Dari atas sini. Rey dan Jessica bisa menikmati indahnya malam Kota Las Vegas. Gemerlap lampu menambah kesan cantik yang memanjakan mata. Begitupun didalam Roller. Sepasang kekasih itu tak ada yang mau melepaskan tautan tangan mereka.


Keduanya saling menggenggam dengan erat dan tersenyum lebar.


"Apa kamu bahagia?" tanya Rey menatap wajah cantik gadis yang berada di depannya. 


"Tentu saja," sahut Jessi dengan senyum mengembang.


Matanya terus menatap indahnya lampu yang menempel pada besi yang berputar itu. Bahkan senyumannya tak luntur sama sekali. Angin malam pun tak membuat gadis itu ingin menyudahi aksi penjelajahannya ini. 


"Setelah ini. Kamu mau kemana lagi?" tanya Rey pelan.


"Air mancur."


"Air mancur?" tanya Rey dengan kening berkerut.


Jessi mengangguk. "Aku jamin kamu bakalan suka." 


Rey akhirnya hanya bisa pasrah. Dia tak ingin gadisnya itu bersedih. Hari ini mereka akan mengisinya dengan kebersamaan sebelum esok dia akan melaksanakan rencananya.


Akhirnya, perjalanan mereka akan berakhir Air Mancur Bellagio. Jessica dengan bahagia menggelayut manja di lengan Rey sambil mendekat ke tempat air mancur itu berada. 


Wisata satu ini tak dipungut biaya sepeser pun. Namun, air mancur ini akan beroperasi dari pukul 20.00-00.00 malam. Sebenarnya air mancur yang menari mengikuti lagu sudah banyak, tapi air mancur Bellagio ini sangat besar sekali. Jadi terasa bedanya. Tiap setengah jam selalu ada pertunjukkan. Ketika malam malah bisa 15 menit sekali.


Tak ingin melewatkan momen indah ini. Jessica segera mengabadikan foto keduanya saat air mancur itu keluar dan bergerak. Senyum indah terukir ketika melihat hasil foto mereka begitu bagus. Bahkan rasanya, Jessica tak ingin mengakhiri kebahagiaannya saat ini juga. 


"Ayo kita pulang!" ajak Rey setelah air mancur itu berhenti bergerak.


Jessica menatap wajah Rey dengan lesu. Dia tak mau ditinggal lagi. Dirinya tak mau berpisah. Namun, apa yang harus dia lakukan agar ia bisa bersama Rey malam ini.


"Kenapa?" tanya Rey saat melihat sang kekasih bingung.


"Aku gak mau pisah lagi sama kamu. Aku gak mau pulang." Jessica menggeleng. Matanya sudah merah dan berkedip saja air matanya akan jatuh.


"Usst, jangan menangis." Rey menarik tubuh Jessi ke dalam pelukannya.


"Dengarkan aku dulu, Sayang." Bujuk rayu Rey dan melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


Meraih kedua sisi wajahnya. Rey membuat dirinya dan Jessica saling memandang dan menatap mata mereka begitu lekat. 


"Hanya untuk malam ini. Pulanglah ke rumah nenek dan istirahat. Karena besok, kita akan melakukan perjalanan," ujar Rey yakin dengan senyuman. 


"Perjalanan?" tanya Jessica bingung.


Rey mengangguk dan mencium kening gadis yang sudah memenuhi hatinya itu. Dia tak peduli apa yang akan terjadi besok. Jika dirinya tak selamat, ia akan ikhlas yang penting semua sudah ia perjuangkan. 


"Ya. Besok kita akan kembali ke New York dan menemui Ayahmu bersama-sama."


****


New York.


Rey melajukan mobilnya dengan mantap. Tak ada lagi keraguan dan ketakutan di dalam hatinya. Lelaki itu sepertinya sudah memantapkan hati dan jiwanya untuk melakukan semua ini hari ini.


Akhirnya, mobil yang dikemudikan Rey mulai memasuki pelataran Rumah Stevent Alexzandra. Di teras rumah, ternyata ayah dari sang kekasih sedang membaca berkas bersama Jack dengan ditemani secangkir teh.


Stevent memperhatikan mobil yang berhenti di depannya. Sungguh dia belum bisa menebak mobil siapa yang berhenti dan bisa masuk ke rumahnya dengan mudah. Seketika ia bangkit dari duduknya, saat melihat seseorang yang baru saja keluar dari pintu kemudi mobil itu.


Jack yang penasaran dengan apa yang dilihat oleh Tuannya itu segera berdiri. Matanya melotot tajam karena tak menyangka akan kehadiran pria di depannya itu.


"Selamat Siang, Tuan," salam Rey ramah. 


Stevent berdecak sinis. Dia segera berjalan mendekat ke arah dua anak muda yang saling jatuh cinta itu. 


"Saya masih ingat, Tuan." 


"Lalu kenapa kamu melanggarnya?" 


"Karena saya ingin, Tuan bisa melihat kami yang memang saling mencintai." 


"Cinta? Hahahaha." Stevent tertawa meremehkan.


"Di dunia ini tak ada orang yang uidup hanya dengan cinta. Semua tetap kembali pada uang." Sindiran pedas keluar dari bibir ayah anak satu itu.


"Saya mengerti, Tuan. Lalu bagaimana saya bisa mendapatkan restu, Tuan?" tanya Rey dengan suara yang pelan namun tegas. 


Stevent masih menatap marah lelaki di depannya. Namun melihat ucapan Rey yang pelan dengan sorot mata tegas, membuat lelaki paruh baya itu berpikir. 


Tanpa kata, Stevent berbalik dan masuk ke dalam rumah. Jackson yang sedari tadi diam hanya bisa membuka pintu lebih lebar dengan perasaan campur aduk.


"Masuklah." Perintah Jack.


Rey mengangguk, lalu dia mengulas senyuman tipis ketika wajahnya saling berpandangan dengan sang kekasih. Mempererat genggaman keduanya, segera Jessi dan Rey melangkahkan kaki mengikuti Stevent di depannya. Keduanya segera duduk di sofa yang berada di ruangan tamu Rumah Jessi. 


Lelaki paruh baya itu masih dengan wajah angkuh, namun emosinya sudah tak setinggi tadi.


"Apa kamu yakin ingin mendapatkan restu saya?" tanya Stevent dengan senyum meremehkan.

__ADS_1


"Saya yakin, Tuan. Saya akan melakukan apapun untuk mendapatkan restu dari, Tuan." 


"Saya ingin kamu melanjutkan perusahaan saya yang saat ini sedang ada masalah." Stevent menyodorkan tablet berisi identitas perusahaan miliknya. 


"Saya ingin kamu membangun kembali anak perusahaan saya yang bangkrut. Merekrut karyawan dan memperbaiki keuangan perusahaan.


Rey masih diam mematung. Dia menunggu dan mencerna dengan baik perkataan sang Papa dari Jessi, Stevent. Tentu saja hal itu membuat jantung Jessi berdegup kencang. Dia tak menyangka sang papa akan memberikan syarat yang sangat sulit.. 


Tetapi, kepintaran dan prestasi Rey itulah. Yang membuat Jessica semakin jatuh cinta pada lelaki tampan di sampingnya ini. Namun, Jessica harus menelan pil pahit. Ketika sang papa memberikan syarat seperti ini. Gadis itu menyadari bagaimana kekasihnya bekerja dan berpenghasilan di bawahnya gaji sang papa.


Namun saat ini, dia hanya bisa diam dan berdoa, semoga kekasihnya tak mundur dan meninggalkannya hanya karena sang papa. Pikiran Jessica pecah, saat dia mendengar ucapan papanya lagi.


"Satu lagi. Saya beri kamu waktu 40 hari untuk memperbaiki semuanya dan wajib mendapatkan keuntungan bersih sebanyak 400 juta."


Mata Jessica membulat. Saat dirinya hendak berdiri dan bersuara. Genggaman tangan yang semakin kuat menyadarkan dia jika ia tak sendiri. 


"Kalau kamu bisa dan berhasil, restu saya akan kamu dapatkan," sambung Stevent.


"Tetapi…." Stevent menggantung.


Jessica sudah ketar-ketir. Dia takut ucapan selanjutnya dari bibir sang papa membuat mereka harus merasakan sakit hati kembali.


"Jika kamu gagal, kamu harus meninggalkan putri saya," ucapnya tegas.


"Dan juga, jika kamu menerima syarat dari saya, kamu dilarang bertemu Jessica sampai kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa membuat perusahaan itu kembali beroperasi dan memenuhi target keuntungan."


"Kamu bersedia?" Stevent mengulurkan tangannya dengan tegas.


Rey terdiam. Dirinya menjadi tahu jika papa dari sang kekasih sedang mengujinya. Namun kenapa harus dengan perusahaan? Apakah Stevent ingin melihat apakah dia bisa bekerja dengan dua perusahaan sekaligus. Menarik nafasnya dengan kuat, lalu Rey menerima jabat tangan Stevent dengan mantap. 


"Saya bersedia."


~Bersambung~


Ahh semangat ya abang dudeku. Aku mendukungmu selalu.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)


__ADS_1


__ADS_2