
Sungguh dirinya begitu cantik dan pesonanya selalu membuatku terpana dan terhipnotis. ~Bima Mahendra~
****
Kabar bahagia tentang lamaran tak resmi yang dilakukan oleh Bima pada Amanda akhirnya sampai di telinga Jessica. Ibu hamil itu menjadi wanita paling bahagia mendengar kabar dari sahabatnya itu. Dia begitu bahagia, ketika melihat sahabatnya akan menyusul dirinya ke jenjang pernikahan.
"Selamat yah, Man. Aku doakan semuanya lancar sampai hari H," ucap Jessica memeluk sahabatnya itu.
"Aamiin."
Kedua gadis itu sedang berada di dalam ruangan Jessica. Sejak ibu hamil itu datang, dia segera memonopoli Amanda sendiri, mengajak gadis itu masuk dan meminta Amanda bercerita bagaimana si kulkas melamarnya.
Sungguh Jessica tertawa terbahak mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia tak bisa membayangkan wajah Bima yang biasanya kaku harus berubah menjadi lembut.
"Kamu ngetawain apa, Jess?"
"Aku gak bisa bayangin wajah calon suami kamu, Man. Hahahaha, kayaknya lucu banget yak," ucapnya sambil tertawa.
"Ya begitulah. Tapi gantengnya dia gak berkurang," ujar Amanda sambil membayangkan bagaimana tampannya wajah sang kekasih.
"Yayaya gantengan pacar kamu deh," sindir Jessi membuat keduanya tertawa.
Ya beginilah mereka jika bersama. Tak pernah ada pertengkaran diantara keduanya karena memang baik Jessi maupun Amanda selalu bisa mensupport dan mengalah antara satu dengan yang lain.
"Aku balik dulu ke depan yah. Pekerjaan banyak, Jess."
"Udahlah tenang. Gak bakal ada yang marah," ucap Jessi merayu sang sahabat sambil memegang lengan tangannya.
"Iya kalau kamu. Lah aku, bisa-bisa dipecat sama pihak HRD," cibir Amanda sambil mencebik.
"Gak bakal ada yang berani. Kamu gak tau, suami ada yang punya perusahaan ini," ujarnya sambil membusungkan dadanya.
Sungguh pemandangan ini begitu membuat Amanda tak bisa menahan tawa. Ibu hamil satu itu selalu bisa melakukan hal kocak dan membuat mereka tertawa terbahak tanpa beban.
__ADS_1
"Oh oke, Ratu. Hamba baru ingat kalau hamba kerja pada suami anda yang seorang pemilik perusahaan," ujar Amanda sambil pura-pura menunduk hormat.
Jessica menepuk lengan gadis itu dan diakhiri oleh tawa bebas tanpa merasa malu ataupun menjaga image.
Persahabatan keduanya memang begitu terbuka. Tak ada yang berubah menjadi orang lain, karena baik Jessi maupun Amanda sama-sama bersikap apa adanya.
Itulah yang membuat mereka saling menyukai satu dengan yang lain. Menyukai dalam artian menyayangi sebagai sahabat. Dan menyukai sikap mereka yang selalu tampil sesuai dengan karakteristik mereka sendiri.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Amanda yang saat itu baru saja selesai mengemasi barangnya dikejutkan dengan kehadiran sang kekasih. Dia memberikan senyuman manis dan melanjutkan pekerjaannya.
"Sudah selesai?" tanya Bima sambil mendekat.
Amanda menggeleng, "masih beresin ini yah. Sebentar kok," pamitnya.
"Ayo kubantu!"
Tanpa menolak, Amanda hanya mengangguk. Segera meja yang berantakan serta laptop yang masih menyala mulai dimatikan. Berkas yang berserakan mulai kembali rapi. Oh sungguh kehadiran kekasihnya begitu membantu dirinya saat seperti ini.
"Sama-sama."
Bima mengulurkan tangannya dan segera diterima oleh Amanda. Mereka berjalan bergandengan tangan sampai berada di lantai bawah. Semua karyawan juga mulai sepi karena waktu jam pulang sudah lewat.
"Kita mau kemana?" tanya Amanda saat melihat mobil yang membawa sang kekasih berbelok ke arah yang bukan tempat kosnya.
"Kita cari gaun pernikahan."
"Sekarang?"
"Tentu saja. Aku sudah mulai menyiapkan semuanya."
Yang dikatakan oleh Bima memang benar adanya. Jika dirinya sudah menyiapkan sebagian persiapan pernikahan mereka. Dari wo serta beberapa undangan tentu saja sudah mulai dia bereskan.
Mengetahui sang kekasih meminta akad yang sederhana dan sakral. Membuat Bima begitu bangga. Sungguh Amanda berbeda dari wanita di luar sana. Jika para gadis menginginkan pernikahan yang mewah. Tapi tidak dengan Amanda, gadis itu meminta pernikahan yangs sederhana dan tanpa resepsi.
__ADS_1
"Ayo!" Bima menggandeng tangan sang kekasih untuk masuk ke dalam.
Disana mereka sudah disambut oleh pemilik butik. Segera Amanda dibawa untuk melihat beberapa contoh gaun pernikahan yang sesuai dengan keinginannya.
Sungguh Amanda ingin gaun yang dipakai akada adalah gaun sederhana. Matanya meneliti kain-kain yang terpajang di sana dan didominasi warna putih. Matanya begitu berbinar ketika melihat surga dunia gaun seperti ini.
Hingga tak lama, matanya menatap salah satu gaun simpel namun terkesan mewah. Menunjukkan aoda pemilik butik, segera dia digiring ke ruang ganti. Para pelayan mulai membantu Amanda berganti dan akhirnya selesai.
Saat gadis itu baru saja keluar dari ruang ganti. Bima begitu terpana. Sungguh gadisnya begitu sangat cantik hingga membuatnya tanpa sadar mendekat. Amanda hanya berani menunduk karena dia sungguh begitu pemalu.
Namun, rona merah semakin semburat di wajahnya ketika Bima mendongakkan wajahnya. Wajah mereka berdekatan dan Bima membisikkan sesuatu yang semakin membuat Amanda begitu mencintainya.
"Kamu begitu cantik, Calon Istriku dan Calon ibu dari anak-anakku."
~Bersambung~
Aduh abang, adek aja klepek-klepek suwer. Hahaha
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1