
Kebahagiaan itu tak perlu mahal. Hal sederhana saja sudah cukup membuatmu bisa tertawa bahagia. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Tak ada yang mampu mengukur kebahagiaan keduanya saat ini. Senyum mengembang terpancar dari wajah keduanya. Bahkan pertanyaan Stevent seperti angin segar bagi keduanya.
"Daddy benar merestui kami?" tanya Jessica lagi.
Dia ingin meyakinkan jika telinga dan otaknya tak salah mendengar serta mencerna. Jessica ingin sang Daddy mengatakan dalam keadaan sadar. Dia seperti perempuan linglung yang masih tak percaya jika sang ayah merestuinya.
"Daddy merestui kalian," ucap Stevent. Lalu dia beralih menatap Rey dan menggenggam tangannya.
"Tolong jaga putri semata wayangku, Rey."
"Jangan seperti itu, Tuan. Kita akan menjaganya bersama."
Stevent menggeleng, "tolong berjanjilah padaku. Jaga putriku dan sayangilah dia."
Reye terdiam, jujur dia tak ingin berjanji jika hanya untuk diingkari. Namun, melihat raut wajah penuh harap dari sosok pria yang dulu tak menyukainya. Membuat Rey ingin membuktikan jika dirinya benar-benar akan menjaga Jessica sepenuh hati.
"Aku berjanji."
"Bagus. Aku pegang janjimu, Nak."
"Baik, Tuan."
"Jangan memanggilku Tuan lagi. Panggil aku Daddy seperti Jessica."
Rey tersenyum kikuk. Tapi dia tak menolak, dirinya hanya memberikan jawaban dengan anggukan kepala agar pria paruh baya di depannya ini bahagia.
"Baiklah, Daddy. Sekarang istirahat!" perintah Jessica lagi.
"Daddy sudah lelah untuk berbaring, Princess."
"Tapi Daddy harus!"
"Baiklah-baiklah. Daddy akan menurut."
****
Akhirnya, selama beberapa hari Stevent dirawat di rumah sakit sampai dirinya sembuh total. Bahkan Jessica tak sekalipun beranjak meninggalkan sang Daddy. Dia ingin menebus kesalahannya dengan menjaga ayahnya disaat terpuruk seperti ini.
Perkataan Dokter dan mengingat keadaan sang Daddy. Sungguh membuat hati terdalam Jessica takut setengah mati. Dia tak mau ditinggalkan lagi oleh orang yang ia sayangi. Cukup mamanya saja yang pernah meninggalkannya. Dia masih tak sanggup jika harus kehilangan untuk kedua kalinya.
Dia akan berjuang untuk pengobatan sang ayah. Jessi akan selalu berada didekat Stevent apapun alasannya. Dia tak ingin kabur lagi. Dirinya berjanji untuk berada didekat Stevent apapun yang terjadi.
Selama Jessica menjaga Stevent. Disaat itu pula Rey ikut serta sang kekasih di rumah sakit. Hubungan dirinya dengan Stevent pun semakin membaik. Bahkan pria itu terlihat begitu terbuka dan menerima Rey lapang dada.
__ADS_1
Rey bersyukur atas semua yang Allah limpahkan padanya. Tanpanya, mungkin dia akan pulang seorang diri ke Indonesia. Tapi apa yang didapat saat ini sungguh mengejutkan hatinya. Ternyata Allah masih berbaik hati pada dirinya. Rey menyadari bila Allah akan mengabulkan segalanya jika dirinya berusaha dan bertawakal.
Saat ini adalah hari dimana kepulangan Stevent yang sudah dijadwal. Melakukan pengobatan teratur. Membuat tubuh Stevent membaik. Bahkan, wajahnya sudah kembali normal. Tak ada kepucatan dan kelemahan lagi. Stevent yang tegas dan garang itu kembali. Namun, Jessica menyadari jika sang ayah terlihat menakutkan di luar hanya untuk menjaganya dari bahaya di luar sana.
Jessica bersyukur, memiliki ayah seperti Stevent Alexzandra. Dia masih diberi kesempatan tahu apa yang terjadi pada sang Daddy. Dirinya juga bahagia ketika Tuhan masih memberikan kesempatan agar Jessi bisa merawat ayahnya sampai sembuh.
"Istirahatlah, Dad." pinta Jessi setelah membantu sang Daddy berbaring di ranjang kamarnya.
"Daddy tak mengantuk, Princess," sahut Stevent pelan. "Bolehkah Daddy meminta tolong padamu?"
"Sure, Dad."
"Panggilkan Rey, Sayang. Daddy ingin berbicara berdua dengannya," pinta Stevent dengan pandangan memohon.
Curiga? Tentu saja ada di hati Jessica. Tapi gadis itu mencoba meyakinkan hati jika sang Daddy hanya ingin berbicara hal biasa bukan hal penting. Meski itu bertolak belakang sekali dengan sikap Stevent yang to the point sekali.
"Siap, Daddyku sayang."
Jessica segera berjalan keluar setelah membantu sang ayah duduk bersandar di ranjang. Dia melangkah kakinya dengan teliti namun setengah berlari.
"Rey," panggil Jessi ketika melihat kekasihnya duduk sambil memegang tablet ditangannya.
"Ya!" Rey menoleh. Namun dia belum melepaskan tablet yang berada di pangkuannya.
"Temuilah, Daddy. Dia ingin berbicara berdua denganmu."
"Berdua?" tanya Rey bingung.
"Halo, Dad. Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Rey sambil duduk disamping ranjang Stevent.
"Baik, Rey."
"Alhamdulillah." Rey bersyukur.
Dia masih teringat betul bagaimana keadaan sang kekasih ketika melihat sang ayah tak sadarkan diri. Rey juga bisa melihat betapa menyesalnya seorang Jessica kemarin ketika ayahnya sakit. Dirinya juga masih ingat betul bagaimana air mata itu jatuh mengalir di kedua pipi Jessica tanpa henti.
Sontak hal itu membuat Rey tak mau lagi. Dia tak ingin kekasihnya menangis kembali. Maka dari itu, Rey akan membantu mencari dokter yang menangani tentang hal itu lagi.
"Maafkan Daddy, Rey."
Spontan Rey mendongak. Dia tak percaya jika pria yang kaku ingin bisa mengatakan maaf apa adanya. Hanya padanya seorang loh seorang Stevent meminta maaf.
"Sebelum Daddy meminta, aku sudah memaafkan semua perbuatan Daddy selama ini."
Terharu? Tentu saja. Rey bahkan tak percaya jika ayah dari kekasihnya begitu baik. Selama beberapa hari ikut tidur di rumah sakit dan menjaga Stevent. Membuat Rey dan ayah dari kekasihnya itu semakin akrab.
Bahkan tak jarang Rey ikut terhanyut dalam canda tawa yang dimainkan oleh sepasang ayah dan anak itu. Sesaat keadaan kamar Stevent terasa hening. Tak ada yang mampu mengeluarkan suara di antara mereka. Baik Rey dan Stevent, sama-sama terhanyut akan indahnya masa lalu.
Hingga berakhir, pertanyaan yang dilontarkan oleh Rey membuat Stevent tersadar akan lamunannya.
__ADS_1
"Bolehkah aku bertanya, Daddy?"
"Tentu saja, Nak. Ada apa?" tanya Stevent menatap kedua mata pria yang menatapnya balik.
"Bagaimana bisa Daddy menerimaku secepat itu? Bukankah di awal-awal Daddy begitu membenciku?"
"Daddy tak pernah membencimu, Rey. Jujur yang Daddy lakukan selama ini hanya ingin mengetesmu saja. Aku ingin kamu berlatih dan menyiapkan diri untuk apa yang akan terjadi dimasa depan pada kalian berdua."
"Benarkah, Dad?"
"Ya tentu saja. Tapi, sepertinya pemikiran Daddy dipatahkan oleh seseorang," ungkap Stevent menatap ke arah depan.
"Maksud Daddy."
"Karena kejadian itu, Mamamu, Ria, meminta bertemu Daddy, Rey."
"Apa!"
Rey terkejut bukan main. Dia sampai membelalakkan matanya tak percaya. Apa yang dikatakannya tadi? Bertemu? Berarti itu tandanya sang mama berada di negara yang sama dengannya.
"Ya, Sayang. Mamamu menceritakan semuanya hingga membuatku semakin yakin padamu."
"Menceritakan apa mamaku, Dad?"
"Tanya saja padanya. Dia pasti akan menjawab."
Menanyakannya langsung? Jika seperti itu berarti dirinya harus pulang ke Indonesia? Berarti itu tandanya….
"Jika aku pulang ke Indonesia maka…." Rey menjeda. Dia menatap Stevent sambil menunduk saat menyadari pria itu menatapnya balik.
"Ya, Rey. Bawalah Jessica ke Indonesia dan segera selesaikan semua urusanmu lalu secepatnya nikahi Anak Daddy."
~Bersambung~
Wahhh detik detik mau tamat nih Season 1 hehehe. hayoo mau season dua gak? atau sampai mereka nikah aja? wajib komen yah.
Biar aku tahu seberapa banyak orang yang mau baca karya ini.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1