
Owen berpikir, mungkin dia sudah gila. Ia yang biasanya bisa menahan diri walaupun dikerumuni banyak wanita, bisa-bisanya tak berdaya hanya karena Aline memanggil namanya dengan begitu indah. Owen bahkan sampai mencium Aline, dan sekarang wanita itu ada di bawah kekangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Owen manarik tangannya.
Aline tertawa, ternyata ia behasil membuat Owen meroma hanya dengan menjilat telapak tangan Owen yang sebelumnya membekap mulutnya.
"Haha ... salah siapa mengejutkanku dan membekapku. Lihat, wajahmu seperti kepiting rebus." kata Aline.
"He-hentikan, Aline." kata Owen.
Aline mengusap perut Owen, "Hentikan, apa? Kita bahkan belum memulainya," kata Aline.
Aline sengaja menggoda Owen. Baginya menggodai Owen itu sangat seru. Aline tidak tahu saja, kalau tindakannya justru memancing gairah Owen. Tangan Owen memegang dan menyatukan dua tangan Aline di atas kepala Aline.
"Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan? jangan membangunkan singa yang sedang tidur," kata Owen.
Aline kaget, "A-ku hanya bergurau. Le-lepaskan," Kata Aline panik.
Owen tersenyum tipis, ia mendekatkan wajahnya dan menciumi leher Aline. Owen membalas perlakuan Aline yang membuatnya bergariah.
"Umhh ... geli ... hhh ..." gumam Aline. Ia memejamkan mata dan menggeliatkan tubuhnya karena kegelian.
Tiba-tiba ponsel Owen berdering. Aline yang kaget langsung membuka mata. Owen segera melepas tangan Aline dan berdiri mengambil ponselnya. Owen mendapatkan panggilan dari Nana. Melihat nama yang tidak disukainya muncul dilayar ponsel, dahi Owen langsung mengerut dan terlihat kesal.
Aline mendekati Owen, ia mengintip siapa yang berani-beraninya membuat singa besar seperti Owen marah. Aline juga ikut mengerutkan dahi begitu melihat Nana menghubungi Owen. Aline pun berpikir, ada hubungan apa antara Owen dan Nana.
"Kenapa wanita licik itu menghubungimu malam-malam begini?" tanya Aline menatap Owen.
"Entahlah ... aku tidak tahu." jawab Owen.
"Bohong. Pasti ada sesuatu, kan? Sudahlah, kamu angkat saja dan berbincang sepuasnya dengan Nana. Aku mau pulang," Kata Aline kesal.
__ADS_1
Aline berbalik dan hendak pergi keluar dari ruang baca Owen, tapi tiba-tiba Owen memeluknya dan meminta Aline untuk tidak pergi meninggalkannya. Aline terdiam, ia tidak menjawab apa-apa. Owen mengeratkan pelukannya, memohon lagi agae Aline tetap tinggal.
"Jangan pergi," bisik Owen.
"Kenapa aku tidak boleh pergi? Apa hakmu menahanku? kamu kan bukan siapa-siapaku," kata Aline. Ia sengaja terang-terangan bicara seperti itu.
"Benar, aku bukan siapa-siapamu beberapa saat lalu, tapi aku mau menjadi satu-satunya milikmu mulai dari sekarang." kata Owen.
Aline kaget, padahal ia hanya asal bicara karena kesal. Ia sengaja bicara sembarangan, berpikir kalau Owen pasti akan diam saja atau menghindari pertanyaannya. Di lur dugaan, Owen mengatakan sesuatu yang mengejutkannya.
Aline melepas tangan kekar Owen yang melingkar di perutnya, ia langsung berbalik dan menatap Owen. Aline bertanya, apa maksud ucapan Owen? Owen pun menjawab, kalau ia juga menyukai Aline. Awalnya memang ia ingin menepis perasaan itu, ia berusaha menghilangan perasaan sukanya pada Aline. Hanya saja setiap ingin melupakan, Aline selalu saja muncul di hadapannya.
"Apa kamu juga menyukaiku sejak saat di rumah sakit?" tanya Aline.
"Ya, karena sejak itu aku mulai memikirkanmu. Terlebih Max membujukku memberinya izin mengunjungimu. Setiap kali bertemu denganmu, setiap kali kamu menyapaku dan tersenyum padaku, semakin aku ingin terus dekat denganmu. Kamu tidak tahu saja, aku sangat berdebar. Bahkan saat ini pun aku berdebar," kata Owen.
Owen meraih tangan Aline dan meletakkan tangan Aline di dadanya. Aline bisa merasakan dada Owen yang bergemuruh.
"Aline, kenapa menangis?" tanya Owen.
Aline menyeka air matanya, dan mengatakan kalau ia menangis karena senang. Merasa bahagia dan tak sia-sia berjuang. Aline pun mengakui kalau ia masuk dan mendaftar sebagai Sektretaris itu juga demi bisa mendekati Owen. Bahkan Aline menceritakan kalau ia sempat berdebat dengan Papanya saat ingin pindah kerja ke GoodFood. Dan pada akhirnya ia bisa pergi dengan dua syarat. Kalau tidak Aline diminta kembali.
"Apa maksudmu, kalian sedang melakukan taruhan?" tanya Owen.
"Entahlah. Papa bilang kalau aku tidak bisa membuatmu menyukaiku atau kertarikanmu dalam tiga bulan, maka aku harus mundur. Dan yang lebih menyakitkan lagi, aku diminta melupakanmu selamanya." jawab Aline.
"Tidak perlu berbulan-bulan. Bahkan dalam sehari saja kamu sudah membuatku mengakuinya, kan?" sahut Owen.
Aline melebarkan mata, "Ah, iya. Benar juga. Aku kan barus sehari kerja. Wahh ... aku menang." kata Aline senang.
"Lantas apa yang kamu dapat, kalau memenangkan taruhan?" tanya Owen.
__ADS_1
Aline berkata kalau ia menang. Baik itu Papanya atau dua kakaknya tidak boleh menentang hubungamnya dengan Owen. Karena Aline mau menikahi Owen.
"A-apa? Kamu mau menikahiku?" tanya Owen terkejut.
Aline merasa malu. Ia berkata kalau itu hanya keinginannya saja. Aline berkata ia tahu, Owen pasti sulit untuk bisa menerima wanita lain sebagai istri.
"Tidak perlu buru-buru. Setidaknya kita sudah saling mengakui perasaan satu sama lain. Kalau kamu masih ragu, aku akan berusaha menyakinkanmu. Kalau kamu bingung, aku akan mengarahkanmu. Kamu juga boleh berlari, agar aku bisa mengejarmu." kata Aline.
Owen tersenyum, "Kenapa kamu begitu manis? membuatku ingin lebih serakah." kata Owen.
Aline tersenyum, "Jadi, apa kita sekarang kita sedang berpacaran?" tanya Aline tersipu malu.
"Ehemmm ... sepertinya begitu." jawab Owen yang juga malu-malu.
Aline langsung memeluk Owen. Ia memendamkan wajahnya ke dalam pelukan Owen. Aline mengatakan, ia sangat bahagia. Aline tiba-tiba ingat pada Papanya, ia segera melepas pelukan dan berkata harus menghubungi Papanya kalau tidak bisa pulang.
Owen meminjami ponselnya. Meminta Aline menghubungi Papanya dengan ponselnya. Aline menolak, Papa dan dua kakaknya tidak boleh tahu kalau ia sudah berhasil. Aline mengatakan akan mengambil ponselnya di kamar Maximilian dan akan segera kembali setelah mengirim pesan pada Papanya.
***
Owen berbaring di sofa ruang baca sambil memeluk Aline. Keduanya sedang bicara serius soal pekerjaan.
"Jangan khawatir. Aku akan membantumu. Aku melamar menjadi Sekretarismu memang awalnya untuk mendekatimu, tapi sekarang aku sedikit banyak tahu kalau ada serangga yang perlu aku musnahkan." Kata Aline.
Owen mengusap kepala Aline, "Apa ada sesuatu yang ingin kamu ketahui dariku? karena rasanya sejak tadi hanya aku yang ingin tahu tentangmu."
"Apa aku boleh bertanya apa saja?" tanya Aline menatap Owen.
"Ya, tanyakan semua yang ingin kamu tanyakan." jawab Owen.
"Apa ada alasan, kamu tidak menikah lagi? Maaf, kalau tiba-tiba aku bertanya hal yang tak seharusnya. Aku hanya ingin tahu," kata Aline.
__ADS_1
"Seperti kata Papa dari seseorang. Kalau aku menikah, istriku bisa saja hanya mencintaiku, tapi tidak dengan putraku. Kalau seperti itu, bukakah lebih baik membesarkan putraku seorang diri?" jawab Owen.