Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Aku benci Daddy


__ADS_3


Perasaanku sakit saat mengetahui apa yang sedang terjadi pada kekasihku. Tapi aku kecewa, karena disaat seperti ini. Aku tak bisa menjadi sandaran dan memeluknya. ~Jessica Caroline~


****


Keesokan harinya, Haura langsung terbang menggunakan pesawat kerajaan. Dia tak ingin menunda dan mengakibatkan semuanya semakin merosot. Biarlah, melupakan rasa lelah di tubuhnya. Dia hanya ingin membantu seseorang yang sudah dianggap kakaknya sendiri. 


Semenjak keduanya mengenal, Rey memang selalu bertanya tentang hal-hal penting pada Haura. Bahkan dia juga bertanya bagaimana memahami seorang wanita. Haura pun memaklumi akan hal itu, dia menyadari jika pria yang sudah dianggap kakak sudah lama tak mendekati wanita. Jadi, dia mewajarkan semua tingkah laku yang menurutnya aneh.


Setelah melakukan perjalanan dari Brunei ke Indonesia. Akhirnya Haura sampailah ke tanah air. Dengan gamis berwarna maroon dan khimar berwarna senada, dia segera memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Haki, asistennya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Haura sambil membuka tabletnya. 


"Sudah, Putri." 


"Bagus. Bagaimana dengan Asisten Bima?"


"Tuan Rey mengabarkan, jika Tuan Bima sudah berada di Bandara."


Haura tak menjawab lagi, dia hanya mengangguk dan kembali fokus dengan tablet yang ada di tangannya. Mencari titik masalah yang sebenarnya di perusahaan. Tak lama, senyum licik terbit di bibirnya.


"Ahh karena wanita dan perasaan," ucap Haura dalam hati.


Tak beberapa lama, mobil mulai memasuki Perusahaan Pratama. Haura sampai menahan napas, karena disana sudah banyak wartawan yang entah sejak kapan mengerubungi pintu masuk.


"Bereskan semuanya!" titahnya pada Haki.


Tak mungkin jika dirinya turun saat ini, karena jika musuh melihat sudah pasti semuanya akan berantakan. Biarlah, Haura menyelesaikannya dengan sembunyi namun cepat. Bisa dia lihat, di depan sana satpam perusahaan berkumpul dan mengusir semua wartawan yang berada di depan. 


Kemudian, salah satu satpam mendatangi mobil yang ditumpangi Haura dan mengetuk kaca samping tempat Sopir berada. 


"Ya?" Sopir membuka kaca jendelanya sedikit.


"Lebih baik mobil berhenti di tempat parkir Tuan Rey saja. Disana ada pintu terobosan menuju ruangan CEO.


"Baik, terima kasih." 


Tanpa banyak kata, segera sopir melajukan mobilnya dan mulai memasuki ruangan luas yang berisi mobil-mobil milik karyawan perusahaan. Kendaraan yang membawanya masih berjalan dan mengikuti instruksi dimana tempat mobil petinggi berada.

__ADS_1


"Belok kanan!" tunjuk Haki pada sebuah tulisan di depan sana.


Sopir mengangguk. Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya mobil mereka telah sampai di parkiran para petinggi. Haura dengan cepat membawa tablet dan tas berisi beberapa dokumen yang akan membantunya.


Tujuan mereka hanya satu, ruangan Rey sendiri. Mereka berdua segera masuk dan meletakkan semua berkas di meja tamu yang berada di dekat lemari buku.


Tak ada yang berbicara, Haura dan Haki sama-sama bergelut dengan berkas yang berisi nama klien yang sudah memutus kerjasama dengan Perusahaan Pratama. Dia mencoba mengingat satu persatu orang yang sepertinya akan ia temui. 


"Cari tentang mereka semua dan sedetail mungkin!" perintahnya lagi pada Haki. 


****


New York, pukul 18.25 


Kepala Rey benar-benar sakit. Dia tak bisa tidur dan istirahat sama sekali. Pikirannya melayang memikirkan dua perusahaan yang sedang ditangani. Namun, jika boleh jujur, pikiran Rey lebih terpusat di Perusahaan Pratama. 


Dia sayang sayang pada perusahaan itu. Meski dirinya hanya meneruskan perjuangan sang papa. Namun, mamanya selalu mengatakan jika perusahaan itu sangat penting bagi keduanya. Dari kerja keras kedua orang tuanya yang tak peduli siang dan malam. Akhirnya bisa terbangunlah perusahaan itu hingga sebesar ini. 


Rey memijat pelipisnya yang sudah berdenyut sakit. Sepertinya ia butuh hiburan, dan pria itu lebih memilih menyalakan televisi untuk mencari apa yang bisa membuat moodnya membaik.


Saat mengganti channel-channel itu bergantian. Rey dengan kilat menekan tombol untuk mencari hal-hal berbau komedi. Saat ini dirinya hanya membutuhkan itu saja, namun sepertinya takdir berkata lain. Matanya tak sengaja melihat tayangan tentang dunia bisnis dan lebih mengejutkan lagi, disana yang dibahas adalah perusahaannya sendiri. 


"Ya tuhan, sudah sampai sini." Batin Rey meronta. Dia menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan untuk menahan air mata yang rasanya ingin keluar.


"Semoga Haura bisa menyelesaikan ini semua secepatnya," gumam Rey dengan menyandarkan punggung di sandaran sofa.


Terdengar helaan nafas teratur menandakan seberapa Rey sudah mengantuk dan lelah, hingga dirinya tanpa sadar memejamkan matanya dan tertidur di sofa.


****


Mata merah, nafas menderu dan tangan yang mengepal erat, menandakan jika gadis yang sedang berjalan itu sedang tak baik-baik saja. Jessica, yang sejak tadi menonton berita di televisi tanpa sengaja melihat tentang Perusahaan sang kekasih yang sedang di ambang kehancuran. 


Itulah pemicu yang membuatnya kesini dengan keadaan marah. Tanpa bertanya pada siapapun, dirinya sudah tahu betul siapa yang bisa melakukan ini dengan begitu cepat dan rapi. Bahkan, Jessica tak menyangka jika orang yang begitu ia sayang akan melakukan semua ini.


Tanpa permisi, Jessica segera masuk ke dalam ruang kerja papanya dengan langkah cepat.


"Daddy!" teriak Jessi marah.


Stevent yang sudah mendengar pintu terbuka keras dengan langkah kaki hanya diam tak menjawab. Dia sudah bisa menebak jika putrinya mengetahui semua yang telah terjadi.

__ADS_1


"Apa yang sudah Daddy lakukan?" tanyanya dengan berdiri tepat di depan meja sang Daddy.


Tak memperdulikan lagi jika disana ada dua bawahan ayahnya yang sedang mengamati tingkah dirinya saat ini.


"Pergilah dan kembalilah nanti!" titahnya pada dua pria yang memakai pakaian hitam rapi.


"Baik Tuan, permisi." 


Setelah pintu ruang kerja Stevent ditutup. Pria itu segera mendongak dan menatap sang putri yang masih menatapnya dengan nyalang.


"Apa kau tak ingin berbicara dengan Daddy sambil duduk?" Suara Stevent masih lembut. Dia tak peduli jika Jessica sedang marah padanya. 


"Gak perlu. Aku hanya ingin tahu, apa yang sudah Daddy lakukan pada Perusahaan kekasihku?" 


"Daddy tak melakukan apapun," sahut Stevent dengan enteng.


"Cih! Daddy kira Jessi akan percaya," jawab gadis itu dengan mengejek. "Melakukan semuanya dengan cepat dan tanpa sisa, itu sudah menjadi hal biasa bagimu, Dad." 


"Daddy sudah jujur padamu. Itu semua bukan Daddy yang melakukan." Bela Stevent.


"Masih mau mengelak?" ejek Jessi. "Aku hanya tak habis pikir, memiliki Daddy yang bisa melakukan hal rendahan seperti ini." sambungnya dengan mata berkilat marah.


Stevent mendongak. Matanya bersirobok dengan mata sang putri yang sudah tergenangi air mata. Dia bisa melihat luka di kedua mata putrinya. Saat dirinya hendak beranjak, perkataan Jessica yang lantang membuat tubuhnya seketika mematung. 


"Aku benci Daddy."


~Bersambung~


Part ini bikin sesek juga ternyata. Gimana perasaan Stevent denger anaknya bilang gini yah, huhu.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2