Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Pertemuan Kembali


__ADS_3


Cinta yang sesungguhnya adalah ketika melihatnya bahagia dengan orang lain dan mengikhlaskannya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. ~Mario Sanoci~


****


Sebuah jalan mulai terlewati oleh sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh pria tampan di dalamnya. Hingga akhirnya menekan tombol rem, mobil mulai berhenti secara perlahan di dekat sebuah rumah besar yang menjadi tempat favoritnya selama di Indonesia.


Mata tajamnya menatap bangun mewah itu dengan sebuah titik sendu. Ada rasa cemburu ketika menerima kenyataan jika wanita yang dicintai harus tinggal satu rumah dengan lelaki lain. Ada perasaan cemburu ketika melihat wanita yang dia jaga sejak dulu harus bersama dan berada dalam pelukan pria lain.


Tapi apa mau dikata? Takdir Tuhan sudah seperti ini. Yang bisa dilakukan oleh seorang Mario Sanoci hanya menerimanya. Betul bukan?


Dia hanyalah manusia biasa. Yang tugasnya menerima dan menjalani apa yang menjadi jalan cerita hidup yang sudah diatur oleh Allah. Dia tak bisa menolaknya ataupun merubahnya. Karena memang itu sudah menjadi hal yang diridhoi oleh Allah. 


Dari sini Mario semakin belajar apa arti sebuah mencintai. Cinta memang indah, namun tak bisa dipaksakan. Cinta memang suci, namun tak bisa dinodai. Cinta itu begitu membahagiakan, namun tak bisa dia menahan seseorang yang memang bukan untuknya.


Mata tajam bak elang menatap sekeliling rumah itu. Terlihat sepi memang dan dirinya menunggu saat dimana gadis yang memenuhi hatinya akan keluar ke teras rumahnya.


Tak berlangsung lama, apa yang diincar dan targetkan ternyata benar ada. Sebuah gadis yang memakai gamis dengan sebuah nampan di tangannya baru saja keluar dari dalam rumah. Dia berjalan dengan begitu enggan menuju pos satpam yang sudah begitu dihafal oleh Mario selama beberapa hari disini.


Senyuman tipis mendarat di bibir Mario tatkala melihat betapa tulusnya gadis itu memberikan minuman bagi pekerjanya. 


"Kamu memang gadis berhati malaikat. Aku tak mau siapapun merusak senyuman itu. Dari sini, Mario akan menjagamu, Sayang. Meski kita tak bisa bersama, aku masih bisa menjadi bayanganmu dari sini." 


****


Pagi mulai menjelang datang. Segarnya embun di pagi hari begitu menusuk hidung ketika jendela kamar di buka oleh seorang wanita cantik. Senyumnya mengembang tatkala melihat suaminya masih bergelut dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Mendaratkan dirinya di samping sang suami. Jessi mencium kening Rey hingga membuat pria itu menggeliat.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Jessi dengan mengusap wajah sang suami.


"Pagi, Istriku," sahut Rey dengan menggeliatkan tubuhnya.


"Ayo bangun! Katanya kamu mau ada meeting hari ini," ucap Jessi mengingatkan.


Meeting? 


Rey hampir melupakan jika hari ini dia akan bertemu dengan gadis gila itu. Menghembuskan nafas berat, Rey bergerak untuk duduk dan menyandarkan dirinya di sandaran ranjang.


"Kenapa kamu kelihatan males banget, Sayang?" tanya Jessi bingung, "biasanya juga kamu semangat kalau ada meeting." 


Iya kalau yang meeting seperti biasanya. Tapi ini wanita gila, batin Rey menjerit.


"Aku hanya lelah, Sayang."

__ADS_1


"Baiklah, lelah bukan artinya suamiku harus bermalas-malasan bukan?" 


Rey tersenyum. Dia mendekat ke arah suami dan menghadiahi banyak kecupan di seluruh wajah istrinya itu. 


"Terima kasih, Sayang. Doakan suamimu ini, yah," pinta Rey menatap wajah teduh sang istri.


"Tentu, Sayang. Doaku menyertaimu."


Setelah mengatakan itu, segera Rey beranjak dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Sedangkan Jessica, gadis itu membereskan tempat tidur hingga rapi dan tak lupa menyiapkan pakaian kerja sang suami tercinta.


Pilihannya jatuh pada kemeja berwarna putih dan jas hitam yang menurutnya akan menambah kadar ketampanan suaminya itu.


"Perfect." 


Setelah semuanya rapi dan siap. Jessi segera turun ke bawah dan menyiapkan sarapan untuk Rey. Mengingat jika suaminya sedang malas, dia memiliki ide untuk membuatkan sebuah menu makanan yang menurutnya akan membangkitkan semangat dalam diri suaminya itu.


Dengan tangan cekatan. Dia bergerak kesana kemari untuk membuatkan sarapan nasi goreng yang menjadi menu favorit suaminya itu. 


Bau harum nasi dan bumbu-bumbu mulai menyeruak di seluruh ruang dapur hingga tercium sampai ke ruang makan. Rey yang baru saja sampai langsung disuguhi bau harum yang membangkitkan cacing-cacing di perutnya.


Tak lama, muncullah istri tercinta dengan membawa dua piring nasi di tangannya dengan tatapan meneduhkan.


"Selamat makan, Suamiku." Jessi menghadiahi kecupan singkat di pipi Rey saat pria itu sudah duduk rapi di depan nasi goreng yang sudah disajikan. 


"Dasar gombal! Ayo sana makan!" 


"Baiklah, Sayang. Aku akan menghabiskannya untukmu," ujar Rey dengan memegang sendok dan garpu. 


"Tentu dan harus habis." 


****


Sebuah mobil hitam mulai memasuki pelataran Restaurant yang beberapa hari lalu pernah ia kunjungi. Tak lama, setelah kendaraan roda empat itu berhenti di tempat yang tepat, sepasang kaki berbalut sepatu pantofel mengkilap mulai turun dan menjejakkan kakinya di sana. 


Kedatangannya tentu saja menarik atensi banyaknya pengunjung yang ada di sana. Siapa yang tidak mengenal seorang Reynaldi Johan Pratama? 


Wajah tampan yang sering berkeliaran di majalah bisnis serta kekayaan yang melimpah tentu saja membuat semua orang begitu tahu betul akan sosoknya. Baru saja dirinya turun dan berjalan, sudah banyak para wanita yang menggigit jari ketika melihat bidadari tampan lewat didepannya.


Tak ada seorang pun yang berani mendekat. Karena semua wanita begitu tahu bahwa duda tampan itu sudah menikah kembali dan mempunyai istri yang begitu cantik. 


Berjalan dengan langkah tegapnya. Bima mengikuti setiap langkah tuannya itu menuju sebuah ruangan VIP yang tersedia. Sesampainya di sebuah pintu yang dituju, sebelum menyuruh Bima membukanya. Rey menarik nafasnya terlebih dahulu untuk menyiapkan mental dan menyurutkan amarah yang mungkin akan meledak ketika berada didekat wanita itu. 


"Tenang saja, Tuan. Saya akan menjaga anda dengan baik," ucap Bima sungguh-sungguh. 


Bertahun-tahun kerja bersama sahabatnya ini. Bima begitu tahu bagaimana sikap Rey sampai keseluruhannya. Dia tahu betul yang dialami bosnia sekarang bukan karena gugup atau gagal. Melainkan Rey sedang mengusahakan agar dia tak terpancing emosi dan tidak dipegang oleh gadis gila itu. 

__ADS_1


Setelah menetralkan semuanya. Bima mulai mendorong pintu kayu itu dan menyuruh temannya masuk ke dalam. 


"Selamat datang, Tuan Pratama," sapa gadis yang sudah sangat dihindari oleh Rey itu.


Marlena, gadis itu memang berniat untuk datang lebih awal. Memakai pakaian yang super seksi untuk menarik atensi dari seorang Rey. Dia juga sudah menyiapkan sesuatu yang membuatnya mulai menjalankan dari misi pertamanya disini. 


Sedangkan Rey sendiri? Dia menatap jengah ke arah lawan bicaranya ini. Tubuh yang begitu diumbar bukan menarik gairahnya. Melainkan sebuah perasaan jijik selalu tumbuh dimatanya itu.


"Terima kasih, Nona Marlena Sanoci. Maaf saya terlambat," ucap Rey berbicara formal.


Mereka berempat segera duduk dengan dihalangi sebuah meja kotak yang berada di tengah. Bima dengan sigap menyiapkan semua berkas yang ada dan Rey juga memegang tablet yang berisi hal-hal yang ingin dibicarakan. 


"Lebih baik Anda memesan makanan dan minuman dulu, Tuan Rey," tawar Marlena dengan senyum centilnya. 


Rey mendongak sejenak dengan sumpah cacian didalam hatinya.


"Tidak perlu, Nona. Saya kesini hanya untuk membicarakan tentang kerja sama kita. Bukan untuk berkencan!" 


Telak


~Bersambung~


Mulai yah, duh pen bikin isi part selanjutnya yang bikin orang geregetan ah hehe.


Sabar yah, jangan gemes sama Mar Mar hahaha.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2