Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (29)


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Kehebohan terjadi diperusahaan. Jika sebelumnya Owen tak bisa memecat Nana karena suatu hal, kini ia bisa melakukannya. Karena Aline sudah membantunya mengatasi masalah Nana. Owen langsung memerintahkan Nana untuk angkat kaki dari perusahaannya. Tentu saja Nana yang sudah tak memiliki bahan untuk mengancam Owen pun tak bisa apa-apa lagi. Ia kaget setengah mati, saat ia tiba-tiba diberhentikan secara tak hormat.


"Kamu tidak bisa melakukan ini, Owen. Apa kamu sudah lupa siapa aku, hm?" kata Nana.


"Aku tidak akan pernah lupa siapa kamu, Nana. Kamu adalah orang yang paling ingin aku singkirkan dari pandanganku saat ini. Enyah kamu dari hadapanku," kata Owen.


"Tapi ... aku ... " kata-kata Nana terhenti oleh Aline.


"Apa kamu tidak punya malu? bisa-bisanya masih di sini setelah diusir." kata Aline.


"Kamu jangan ikut campur! dasar perempuan rendahan yang hina," sentak Nana.


Aline tertawa, "Hahaha .... aku perempuan rendah yang hina? lantas kamu layak disebut apa? bahkan disebut wanita sampah pun itu merupakan pujian untukmu. Aku tak habis pikir, Nana ... apa yang membuatmu begitu tak menyukaiku. Apa karena aku sudah mengusik rencanamu untuk mendekati Owen? bukankah kamu ingin menjadi istrinya? Hm ... apa aku salah?" kata Aline manatap Nana.


Nana kaget, ia mengertukan dahinya. Ia tidak tahu, darimana Aline tahu tentang isi pikirannya. Nana menatap Owen dan terus memohon untuk tidak dikeluarkan. Karena rengekannya tak berhasil, Nana pun mengancam akan menjual saham GoodFood yang ada padanya dengan harga sangat rendah, agar saham GoodFood yang lain ikut hancur. Nana tak peduli dengan reputasi perusahaan.


Owen tersenyum lebar dan mempersilakan Nana melakukan itu. Melihat Owen yang tak khawatir, Nana menjadi panik dan gelisah. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Owen lantas mengeluarkan tiga dokumen dan meletakakannya di atas meja. Begitu tahu dokumen itu adalah dokumen kepemilikan dan pemindahtanganna saham, Nana pun langsung kaget. Ia bertanya bagaimana bisa dokumen ini ada pada Owen? padahal saat itu Nana jelas sudah memastikan kalau saham dibeli orang asing, dan wanita bernama Gisella berkata tak akan menjual pada GoodFood. Nana pun  berpikir kalau Gisella berbohong padanya.


"Apa yang kamu pikirkan sampai termenung seperti itu, Nana? Apa kamu sedanv berpikir, mungkinkah Gisella menjual saham pada Owen?" tanya Aline mendekati Nana.

__ADS_1


"Kamu ... bagaimana bisa kamu tahu isi pikiranku?" tanya Nana.


"Itu tak sulit. Bagaimana ya mengatakannya. Sebenarnya akulah yang membuatmu menjual saham dan aku juga orang yang membelinya. Ya ... meski aku cukup memutar otak merencanakan ini," kata Aline.


Nana kaget. Ia lantas bertanya apa maksud dari ucapan Aline. Aline menjawab, jika Victor adalah Asistennya. Dan Gisella adalah sekretarisnya. Ia akhirnya mengungkapkan identitas aslinya pada Nana. Setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, Nana langsung lemas. Tubuhnya terhuyung. Tidak hanya fakta, ia dibohongi, tapi ia juga sudah dipermainkan oleh Aline.


Aline tersenyum puas. Aline berkata, kalau Nana tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang Nana inginkan. Ia juga memberitahu Nana, kalau ia adalah calon istri dan Ibu Maximilian.


"Awalnya aku masuk untuk menggoda Owen, tapi aku terusik olehmu. Setelah aku mendengar tentangmu dari Owen, aku pun diam-diam menyelidikimu. Dan menyusun rencana sedemikian rupa untuk bisa menghancurkanmu. Bagaiaman rasanya jatuh? enak, tidak?" tanya Aline tersenyum senang.


"Dasar wanita sialan!" kata Nana.


Owen kaget, dan bertanya apa maksdunya? dan siapa orang yang dibunuh Nana? Seseorang masuk ke dalam ruangan, dan memberitahu apa yang terjadi pada Owen. Itu adalah pelayan yang menyaksikan Nana mencampur racun ke dalam minuman Amanda sebelum tiba-tiba Amanda kontraksi saat itu. Tidak hanya Emma, Vivi dan Neneknya pun datang untuk mengungkap kejahatan Nana. Nenek Vivi mengaku, jika Nana lah orang yang sudah mendorongnya.


Owen sangat kaget. Ia tidak sangka Nana adalah orang sekeji dan sejahat itu. Tidak hanya membuat Amanda menyerahkan saham, tetapi juga mencelakai Amanda. Owen sampai kehabisan kata untuk bicara. Ia sudah tak sanggup lagi melihat Nana di hadapannya, dan meminta petugas polisi membawa Nana pergi. Owen tidak peduli, Nana harus membayar semua perbuatan jahatnya. Kedua polisi lantas membawa Nana secara paksa keluar dari ruang kerja Owen.


Hans diminta Owen mengurus, Emma, Vivi dan Neneknya. Owen menyampaikan  rasa terima kasihnya, juga permintaan maaf. Pikiranya langsung kacau, dan ia tidak tahu harus apa lagi. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Emma dan Nenek Vivi mengerti, mereka lantas pergi bersama Hans. Vivi juga ikut pergi. Terisa Aline dan Owen di dalam ruangan.


Aline meletakan botol air mineral di atas meja, meminta Owen meminumnya. Owen menatap botol air, lalu mengambil dan membukanya. Owen meminum habis air dalam botol dengan sekali minum. Aline mengerutkan dahi, meminta Owen untuk pelan-pelan minum. Owen menjawab, kalau ia sangat haus.


"Kamu duduk dan tenangkan pikiranmu dulu. Ini pasti sulit untukmu, setelah kamu tahu apa yang sebenarya terjadi. Aku akan keluar," kata Aline.

__ADS_1


Aline berbalik, hendak pergi meninggalkan ruangan. Tangan Aline ditarik Owen, hingga Aline jatuh dalam dekapan Owen.


"Kamu mau meninggalkanku?" tanya Owen dengan wajah memelas.


"I-itu ... aku mau kembali ke mejaku. Ka-kamu kan ... " kata-kata Aline dipotong Owen.


"Jangan ke mana-mana. Di sini saja temani aku, ok." pinta Owen.


Aline menganggukkan kepala. Ia pun meminta Owen untuk istirahat sejenak. Menggandeng tangan Owen ke sofa untuk duduk bersamanya. Aline duduk,  dan tiba-tiba Owen berbaring dipangkuan Aline. Owen berkata ingin seperti itu sebentar. Aline diam dan membelai rambut Owen. Aline tidak tahu apa yang sedang Owen pikirkan, dan ia pun penasaran.


"Maaf ... apa aku membuatmu tidak nyaman?" tanya Aline.


"Kamu tidak bersalah, Aline. Aku hanya terkejut, dan tidak apa-apa." kata Owen.


Tiba-tiba Owen menutup matanya dengan  lengannya. Aline melihat wajah Owen basah, dan menarik tangan Owen. Aline tahu tak mungkin Owen baik-baik saja setelah tahu apa yang sebenarnya dialami  Amanda sesaat sebelum melahirkan Maximilian.


Aline menyeka air mata Owen, "Maafkan aku ... " kata Aline menangis.


Aline sedih. Ia serasa memberikan pukulan berat untuk Owen karena telah menguak kebenaran tentang Amanda yang dicelakai Nana. Owen menatap Aline yang menunduk dan memejamkan mata, ia mengusap wajah Aline lembut.


"Jangan menyalahkan diri. Ini bukan salahmu, sayang. Jangan menangis ... " kata Owen.

__ADS_1


__ADS_2