Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Direstui atau tidak?


__ADS_3


Status manusia tak ada yang boleh menghinanya jika dia sama-sama dari segumpal darah. ~Jessica Caroline~


****


Disinilah saat ini mereka berada. Di rumah besar milik Reynaldi Johan Pratama. Rey mengajak lelaki yang baru dia tahu jika beliau ayah dari kekasih hatinya untuk bercengkrama atau bertanya tentang semua yang terjadi.


Jujur Rey shock bukan main. Pertama kali bertemu lelaki yang pernah dia lihat di majalah bisnis. Pria keturunan darah biru, raja dari bisnis terbesar kedua setelah Khali Mateen. 


Namun siapa yang tak mengenal Stevent Alexzandra di Benua Amerika. Pria dingin dan kejam yang memiliki Perusahaan serta anak perusahaan banyak hampir diseluruh dunia. Dia juga banyak menanamkan bisnis di perusahaan yang berbeda bidang dari miliknya.


Tentu saja hal itu mampu membuat seorang Rey kaget bukan main. Apalagi, ditambah dia baru tahu jika kekasihnya, Jessica Caroline, adalah putri semata wayang dari Stevent Alexzandra. Tentu membuat pria itu menelan salivanya.


Jika uang tabungannya dibanding dengan uang milik Stevent. Ya tak ada tandingannya. Mungkin seampas tempe aja uang miliknya.


Ruang tamu yang biasanya terasa hangat dengan canda tawa, berubah menjadi dingin dan hening. Tak ada yang berani bersuara selama beberapa menit. Bahkan Jessi sendiri, hanya bisa berada di samping ayahnya dengan menunduk.


Dia memang rindu pada sang ayah. Namun, Jessi sendiri sudah tahu betul tabiat ayahnya jika dikecewakan ataupun sedang marah.


"Jessi." 


"Ya, Daddy," sahut Jessi dengan menunduk.


"Don't you miss Daddy?" 


Jessi mengangkat kepalanya pelan. Matanya sudah berkaca-kaca. Siapa yang tak merindukan sosok jagoan di kehidupannya. Semua anak jika jauh dari ayahnya, pasti akan merasakan rindu yang menyiksa. Begitupun yang dirasakan oleh Jessica. 


"I miss you so much, Daddy." 


"But, why are you looking down?" (tetapi, kenapa kamu menunduk?)


"I'm afraid." (aku takut)


"Don't be princess." Stevent duduk menyamping, tangannya mengusap rambut sang anak yang memang sedang takut padanya. "Hug Daddy, Honey." 


Segera Jessi menghambur ke pelukan sang Daddy. Berkali-kali dia menangis dengan mengatakan kata minta maaf. Pelukan ini belum mengurangi kerinduannya selama ini. Padahal, Jessi pergi masih dalam waktu beberapa bulan. Akan tetapi, rindu dan sayangnya dengan orang tua tunggalnya ini, mampu membuat gadis itu merasa bersalah telah meninggalkannya.


Rey bisa melihat bagaimana lelaki yang dikenal kejam itu begitu menyayangi putrinya. Tanpa sadar lelaki itu juga tersenyum, membayangkan jika sang papa yang sudah meninggal masih hidup. Dia juga akan selalu meminta pelukan untuk penyemangat. Namun sayang, itu hanya bisa dia lakukan di alam mimpi. Ketika rindu, Rey hanya bisa datang ke makam sang papa dan mendoakannya. 


Hingga tanpa Rey sadari, dua pasang mata sedang menatapnya dengan bingung. Jessi ingin sekali membuyarkan lamunan sang kekasih. Namun dia takut sang papa akan marah. Jujur dia bisa melihat mata Rey sudah tergenang air mata. Hingga membuatnya dipenuhi banyak tanda tanya di pikirannya. 


"Tuan Pratama." Panggil Stevent membuyarkan lamunan Rey. 


Lelaki itu mengusap sudut matanya yang basah. Lalu perlahan dia menatap ayah dan anak yang duduk di depannya.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan?" tanya Stevent dengan bahasa yang begitu lancar.

__ADS_1


Rey tersenyum dalam hati. Dia tak terkejut jika seorang Stevent di depannya begitu lancar menggunakan bahasa Indonesia. Bisa ditebak, ayah anak satu ini bisa beberapa bahasa di kehidupan sehari-harinya.


Buktinya ya Jessica sendiri. Gadis itu bahkan begitu fasih ketika pertama kali Rey bertemu dengannya. Meski dulu pertama kali dirinya bingung menatap gadis bule yang pandai Bahasa Indonesia. Tak ada kata kaku dan bingung ketika menatapnya berbicara saat itu. 


Rey berdehem sebentar. Lalu dia membenarkan dudukannya. Sepertinya, pembahasan kali ini akan berakhir lama dan panjang lebar. 


"Jadi Jessica ini, Putri Anda?" 


"Ya, betul." Stev menjawabnya dengan tegas. 


"Lalu, bagaimana bisa dia sampai disini?" tanya Rey penasaran.


"Dia kabur dari rumah." Jawaban papanya membuat Jessi tak berani menatap Rey. Dirinya merasa takut, kekasihnya itu akan kecewa pada dirinya.


Rey mengangguk. Dia tak tahu harus bertanya apalagi. Namun sama sekali dia tak bisa bertanya jika keadaannya sekaku ini. Sungguh Rey ingin mencairkan keadaan ini, tetapi entah kenapa rasa santainya hilang setiap kali menatap wajah Stevent yang tak ada senyuman.


"Kamu sudah tahu, saya berasal dari mana?" tanya Stevent.


Rey mengangguk, "New York."


"Betul, jadi saya kesini ingin membawa Jessi pulang."


"Apa!" Dua orang itu langsung menoleh.


Jessi sendiri sampai menatap daddynya dengan tatapan tak percaya. Apa secepat ini dia harus kembali dikurung di rumah mewah dan besar itu.


"Tetapi, Putri anda bekerja…." 


"Saya tahu semua tentang Jessica selama berada disini." 


Spontan Jessi dan Rey meneguk ludahnya kasar. Jika semua yang dilakukan Jessi beliau tahu. Berarti, hubungan mereka juga diketahui.


"Itu tandanya…." 


"Ya saya tahu, jika kalian berdua memiliki hubungan." 


Jessi langsung menunduk. Jika begini dia tak tahu harus bilang apa lagi. Sifat posesif sang Daddy sungguh sangat dikenali oleh dia. Namun Jessi hanya bisa berdoa semoga sang Daddy mengizinkannya untuk tinggal disini beberapa bulan lagi.


"Maafkan saya, Tuan." Rey berkata dengan sopan. "Namun saya benar-benar mencintai putri, Anda. "


"Tolong restui saya bersama Jessi." 


Stevent tersenyum miring. Menatap lelaki di depannya ini dari atas sampai bawah. Entah apa yang sedang dipikirannya. Namun sungguh, tak ada orang yang akan tahu apa arti tatapan dan ekspresi ayah bule anak satu itu saat ini. 


"Kamu meminta restu saya?" 


Rey mengangguk cepat. "Sayangnya restuku lebih kuberikan pada Jack bersama Jessica, daripada putriku bersama kamu."

__ADS_1


Deg.


Rey mematung. Apa maksud dari ucapan ayah sang gadisnya ini. Apa itu tandanya dia ditolak? Tak direstui? 


"Saya sudah tahu siapa kamu?" tunjuknya pada Rey, "lelaki dengan status duda yang ditinggal meninggal istri sekaligus mencintai sahabat dari istrinya sendiri." 


"Daddy!" Jika begini Jessi tak terima.


Semua orang memiliki masa lalu. Begitupun kekasihnya, Rey. Jessi tahu betul bagaimana kejadian sesungguhnya dan dia tak menyangka sang Daddy akan begini 


"Diam." 


"No, Daddy. Kalau ini Jessi harus angkat bicara," ujarnya sambil berdiri. 


Jessi sungguh tak habis pikir jika sang Daddy memandang seseorang dari statusnya. Apalagi hanya karena kekasihnya ini seorang duda. 


"Caroline."


Jessi menggeleng. Dia pasti lemah jika dipanggil seperti ini. Namun dirinya tak boleh kalah karena ini salah menurutnya.


"Daddy tak berhak menilai seseorang hanya dari masa lalunya. Daddy bukan Tuhan yang berhak menilai orang dari statusnya. Karena sesama manusia semua sama Daddy. Hanya bedanya, Tuhan masih menutup aib orang itu dari mereka." Tuturnya dengan air mata.


"Jack!" Stev sudah tak tahan. Dia tak ingin anaknya menangis hanya karena membela pria didepannya ini. Apalagi keadaannya sudah memanas seperti ini.


"Iya, Tuan." Jack maju mendekat.


"Bawa Jessica pulang!"


Segera Jack melaksanakan tugas. Dia menarik tangan Jessi namun gadis itu memberontak.


"Lepaskan, Jack!" tangannya digerakkan agar terlepas dari cengkraman asisten sekaligus bodyguard papanya itu.


"Sakit, lepas!" teriaknya.


"Aku mohon, Tuan Stev. Jangan kasar pada putrimu." 


"Ini semua gara-gara kamu, anakku menjadi membangkang." Stevent maju beberapa langkah hingga berdiri di depan pria yang dicintai putrinya itu. 


"Tinggalkan anakku, jauhi dia dan satu lagi. Saya tidak akan merestui hubungan kalian!"


~Bersambung~


Yah yah gimana jadinya ini, huhu.


Mohon maaf baru update. Gara-gara enka esmeralda tuh aku jadinya gagal ngetik. Terus ada masalah dengan author tambal sulam geng. Alhasil moodku anjlokk. Belum lagi anak tadi posyandu dan imunisasi.


sorry yah, tapi tetep up dua bab kok.

__ADS_1



__ADS_2