
Aku akan membela adikku jika dia berada di jalan kebenaran. Namun sayangnya, disini adikku menjadi wanita yang ingin merusak kebahagiaan orang lain. Hingga akhirnya aku sebagai kakak memilih jalan untuk menghentikan aksi gila adik perempuanku sendiri. ~Mario Sanoci~
****
Mobil yang membawa mereka berhenti ketika jarak menuju mansion sekitar lima ratus meter. Semua orang mulai turun secara perlahan dan saling menjaga. Jack dan Bima sama-sama berjalan mengapit Stevent untuk menjaga keselamatan orang yang disayanginya itu.
"Hati-hati!" nasehat Mario yang memimpin jalan.
Semua anak buah yang dibawah Mario sudah menyebar luas di seluruh area hutan. Bahkan mereka saling memegang senapan yang berisi peluru bius agar bisa menyelinap dengan mudah.
Ketika Mario sudah berada di ujung hutan. Tampak mansion mewah itu mulai terlihat. Baik Jack, Stevent maupun Bima menatap tak percaya jika di daerah seperti ini ada sebuah mansion mewah yang begitu megah. Mengingat ini juga adalah bukit dan langsung menembus hamparan laut membuat angin yang semakin malam semakin menusuk.
"Aku akan maju duluan dan kalian menunggu isyarat dariku. Oke?"
Ketiga orang itu mengangguk dan melihat pergerakan Mario yang begitu hati-hati. Dengan langkah penuh hati-hati dan tangan memegang pistol berisi peluru bius membuatnya sedikit lebih tenang.
Dengan langkah lihai. Mario menyelinap di dekat pagar yang menjulang dan menunggu beberapa penjaga yang akan keluar setiap jamnya untuk mengecek keadaan.
Jangan lupakan selama masa tahanan Rey. Mario mempelajari semua hal yang terjadi di mansion dengan teliti. Dia tak mau meleset dan membuat semua orang terancam mengingat dia melawan adiknya sendiri membuat Mario berpikir seribu kali lipat dari biasanya.
Dugaan Mario tak meleset. Tak lama seorang penjaga keluar dan dengan sigap dia menembak penjaga itu di bagian tangannya.
Suttt jleb!
Bugh.
Dengan sekali tembak orang itu sudah jatuh dan tergeletak di rerumputan. Anak buah Mario begitu cekatan menarik dan membawa tubuh penjaga itu ke posisi awal. Dia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian penjaga itu lalu tak lupa memakai masker.
"Aku akan membukakan jalan untuk kalian," ucap Mario dengan tatapan tulus.
"Terima kasih banyak, Nak. Aku andalkan dirimu." Perkataan Stevent yang notabene nya seorang ayah membuatnya terharu. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca merasakan bagaimana sayangnya pria itu pada menantu dan anaknya sendiri.
Seandainya Papa seperti dia. Pasti aku akan menjadi anak paling beruntung, batinnya.
__ADS_1
Mario segera masuk melalui jalan yang dipakai pegawai itu. Dia menembak semua penjaga yang ada di pintu depan dan segera memanggil anak buah serta Jack, Bima dan Stevent.
Rencana yang matang dan pemikiran yang cerdas membuat mereka berhasil melumpuhkan penjaga yang mereka lewati. Semua sesuai dengan rencana. Aman dan mulus tanpa diketahui siapapun.
Hingga akhirnya mereka mulai berjalan masuk melalui pintu belakang tanpa menimbulkan suara apapun.
"Kita langsung ke kamar utama tempat Rey berada."
Para anak buah Mario memimpin jalan hingga mereka sampai di lantai atas. Dengan begitu pelan, Jack membuka pintu yang mereka yakini kamar dimana Rey disekap.
Kosong?
Jack mengedarkan pandangannya. Di kamar ini benar-benar kosong. Hingga membuat semua orang meminta masuk dan saling menatap satu sama lain.
Tak ingin waktu mereka habis. Segera mereka semua keluar dan mencari ke seluruh lantai atas. Tapi ada yang aneh.
Kenapa sepi sekali disini?
Hingga tak lama Mario menyadari ketidak beresan yang terjadi disini. Saat Mario dan Stevent turun ke bawah tak lama lampu besar di bawah menyala dan membuat semua rumah terang dan jelas.
"Wah aku kedatangan begitu banyak tamu," ucapnya dengan nada meledek dan menatap mereka dengan sinis.
"Oh ada Kakakku juga disana. Aku tak menyangka jika dia ada di pihak kalian," serunya dengan senyum sinis.
"Kembalikan Rey pada mereka, Mar," pinta Mario menatap adiknya tajam.
"Hahahaha enak sekali kau mengatakan itu, Kakakku tersayang," ujarnya dengan senyum menghina.
"Dia bukan untukmu, Mar. Dia suami sahabatmu sendiri."
"Diam!" serunya menatap marah ke arah sang kakak. "Kenapa kakak tega mengkhianati adik Kakak sendiri?"
"Karena yang kamu lakukan memang salah, Mar."
"Aku tak peduli! Aku sangat membenci kakak!" serunya sambil menodongkan pistol ke arah Mario.
__ADS_1
"Seharusnya kau berada disampingku. Membantuku untuk mendapatkan Rey. Bukan malah membela mereka dan melawanku," ucapnya dengan berjalan sambil pistol berada di genggamannya.
Kedua adik kakak itu saling bersitatap hingga membuat seorang pria menyadari ada kesempatan untuk membebaskan Rey yang posisinya sudah berada jauh dari Marlena.
Dengan gerakan cepat dia melangkahkan kakinya namun naas. Marlena yang mengetahui hal itu langsung melesatkan pistolnya dan,
Dor!
Aghhhh!
~Bersambung~
Huaa siapa kena tembak itu, huaaa.
Mau kabur aja, aku ada update lagi loh nanti kurang satu bab, bye mau bobok.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1