Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Kau Harus Menjadi Pasanganku!


__ADS_3


Jika boleh jujur, ini adalah perasaan yang baru kali ini aku rasakan. Debaran, degupan, gugup, dan tanpa sadar tersenyum dengan hanya berada di dekat gadis itu, Amanda." ~Bima Mahendra~


****


Keempat orang itu saling berpisah ketika sudah berada di depan Restaurant. Mama Ria segera masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh sopir pribadinya. Sedangkan Bima, pria itu kembali ke kantor dengan mengendarai mobil sendirian karena masih ada banyak pekerjaan.


Tinggallah sepasang kekasih itu yang masih menebarkan senyuman di bibirnya.


"Kita mau kemana, Rey?" Tanya Jessi ketika melihat kekasihnya belum beranjak dari tempatnya.


"Ke suatu tempat. Ayo!" Rey mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Jessi dengan pelan.


Segera dua anak manusia itu memasuki mobil dan mulai meninggalkan Restaurant menuju tempat yang sudah direncanakan oleh Rey. Sepanjang perjalanan, Jessi menatap dari kaca jendela mobil mereka melalui jalanan yang sudah sangat dia hafal.


"Kita mau pulang, Rey?" Tanya Jessi ketika menyadari jika ini adalah jalan pulang ke rumah Rey.


Tapi pria itu hanya tersenyum dan diam. Hal itu tentu saja semakin membuat jantung Jessi berdebar. Dia paham betul sikap calon suaminya itu yang terkadang banyak hal-hal kejutan yang sudah disiapkan olehnya. 


"Mungkin memang pulang," gumam Jessi dalam hati saat mobil yang membawanya hampir sampai di Rumah Rey.


Tapi, Jessi menjadi bingung. Kenapa mobilnya berbelok ke kiri dan memasuki sebuah rumah yang berdiri dengan kokoh di samping rumah Rey. Banyak pertanyaan muncul di kepala Jessi yang hendak dia lontarkan.


Rumah siapa ini?


Kenapa kita kesini?


Semua itu masih tertelan dalam pikirannya. Dia hanya akan menunggu kekasihnya yang akan angkat bicara.


"Ayo!" Ajak Rey saat mobil sudah berhenti manis di depan rumah itu.


Jessi segera turun dan kembali bergandengan tangan dengan Rey. Mereka menjejaki lantai tiap lantai hingga tak lama pintu utama terbuka dan muncul seorang wanita paruh baya dari dalam sana.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya."


"Selamat datang, Bibi. Apa semua sudah siap?" Tanya Rey menatap ke dalam mencari bagaimana keadaan rumah tersebut.


"Sudah, Tuan."


"Baiklah. Saya akan berkeliling."


Jessi masih linglung. Apa maksud dari semua ini. Berkeliling? Memang ini rumah siapa, kenapa harus berkeliling dengan bebas. Saat Rey menarik tangan sang calon istri untuk mengikutinya. Jessi menahan hingga membuat pria itu bingung.


"Kenapa?" Tanya Rey berbalik.


"Ini rumah siapa, Rey? Pemilik rumahnya mana?" Tanya Jessi menatap wajah kekasihnya penuh harap. 


Rey memangkas jarak keduanya. Dia mengelus pipi Jessi dengan senyum tipis.


"Ini rumah kita, Sayang."


"Apa!" Mata Jessi membelalak lebar. "Rumah kita?" Ulangnya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Ya. Aku membeli rumah ini untuk hadiah pernikahan kita." 


Jessi menatap Rey dengan mata berkaca-kaca. Dia menahan sekuat betul agar tak menangis. Namun, kalimat lanjutan yang dilontarkan oleh kekasihnya mampu membuatnya terharu hingga ia tak peduli jika air mata itu mengalir bebas. 


"Aku membeli rumah ini dan sebelah untuk kita tinggal."


"Sebelah?" Rey mengangguk.


"Bukankah Daddy akan tinggal di Indonesia?" 


Jessi terdiam. Dia terlihat berpikir dan benar juga yang dikatakan oleh Rey. Dirinya harus bisa membuat sang Daddy mau tinggal dengannya. Karena bagaimanapun siapa yang akan menjaga Stevent jika bukan dirinya.


"Kau benar, Rey. Tapi bagaimana dengan maksud rumah sebelah."


"Ayo ikut!"


Kedua anak adam dan hawa itu bergandengan untuk jalan lebih masuk ke dalam rumah yang begitu mewah. Bisa Jessi lihat sudah banyak furniture yang terpajang serta dekorasi antara ruang tamu dan ruang keluarga begitu hangat. 


Mereka terus berjalan hingga sampai di ruang keluarga, Rey berbelok. Mereka kembali jalan menuju sebuah pintu yang tertutup. Segera pria itu membuka nya dan berjalan hingga membuat mata Jessi membulat.


"Apa ini, Rey?" tanya Jessi ketika melihat sebuah lorong dan di ujungnya terdapat sebuah pintu.


Jesai berhenti berjalan. Disana hanya ada mereka berdua. Rey ikut berhenti dan berdiri di depan sang kekasih yang sepertinya menunggu jawaban.


"Ini adalah lorong menuju rumah sebelah, Sayang. Aku menyiapkan semuanya agar kita bisa menjaga dan merawat Daddy serta Mama ku." 


Air matanya menetes. Dia tak pernah menyangka Rey akan menyiapkan semua ini. Segera gadis itu berhambur ke pelukan sang kekasih hingga membuat perasaan pria itu menghangat 


"Tapi ini semua tidak gratis," ujar Rey yang membuat tangisan Jessi berhenti. Dia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rey itu.


"Lalu?"


"Kau harus membayarnya dengan selalu berada di dekatku. Berdiri disampingku, menguatkan aku dan menjadi ibu dari anak-anakku." 


****


Suasana begitu berbeda dengan yang dirasakan oleh Bima. Sedari tadi pria itu tak bisa melanjutkan pekerjaan karena terus terbayang oleh perkataan Rey dan Mamanya.


Harus membawa pasangan? Siapa yang akan dia bawa? 


Selama ini dirinya menyadari jika terlalu banyak bekerja hingga Bima tak memikirkan pasangan. Tapi Bima tak menyesal, dia sudah bersumpah untuk selalu berada didekat Rey, membantunya dan menjadi kawan akrab disaat bekerja ataupun tidak.


Bima yang saat ini tengah memejamkan matanya sambil menyandar pada kursi kebesarannya harus terganggu dengan sebuah ketukan pintu dari luar.


"Masuk!"


Bima masih asyik memejamkan matanya. Dia mendengar sebuah ketukan heels dengan lantai di ruangannya.


"Selamat siang, Tuan." 


Suara ini? Suara yang begitu familiar hingga membuat Bima tanpa sadar membuka matanya. 


Disana seorang gadis yang beberapa waktu lalu selalu muncul di benaknya. Gadis yang dengan beraninya selalu datang dan mengobrak-abrik hati dan pikirannya. Tapi, tetap saja Bima yang tak pernah berpacaran belum bisa mengerti apa arti jantung yang selalu berdebar ketika bersama Amanda. Perasaan hangat ketika melihat senyumannya. Lalu tingkahnya sendiri yang selalu tersenyum tipis saat bersama Amanda di kala itu.

__ADS_1


"Tuan," panggilan Amanda membuat Bima tersadar.


Dia segera duduk dengan tegap dan memandang wajah Amanda dengan datar.


"Ada apa?" tanya Bima menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan 


"Saya kesini mengantarkan berkas dari Bu Lidya, Tuan," ucap Amanda dan meletakkan berkas itu diatas meja Bima.


"Itu saja?" 


"Aku juga ingin melihat wajah tampanmu, Tuan." Ahh kalimat ini ternyata hanya ada di batin Amanda.


Jujur saja gadis itu merasa kesulitan untuk bertemu dengan Bima. Apalagi ketika ada Haura dan Asisten Haki disini, Amanda bisa melihat bagaimana sibuknya Bima hingga membuat keduanya lama tak berkomunikasi dan berjumpa. Di sudut hati Amanda, ada setitik kerinduan untuk pria kakunya itu. Tapi, gadis itu selalu menahan karena dia begitu sadar akan status dan posisi dirinya disini.


Karena kebanyakan melamun, Amanda sampai tak menyadari jika Bima sudah berdiri tepat di belakang gadis itu. Bahkan pria itu sudah mendekatkan bibirnya dengan telinga Amanda hingga aroma minyak wangi Bima tercium jelas di hidung Manda.


"Memikirkanku, hmm?"


Jessi tersentak hingga membuatnya tanpa sadar terhuyung di belakang dan membuat Bima dengan sigap menahannya. Kedua tubuh mereka menempel seperti orang sedang berpelukan di belakang.


"Eh maaf, Tuan." Amanda tersadar dan dia menjauhkan dirinya dari tubuh atasannya ini.


"Saya tidak menerima permintaan maafmu."


Amanda bingung. Dia tak berani menatap wajah Bima yang saat ini tepat berada di depannya. Kaki gadis itu gemetaran karena begitu gugup dengan posisi mereka ini.


"Lalu saya harus melakukan apa, Tuan. Agar anda bisa memaafkan saya."


Bima tersenyum miring. Dia berjalan semakin dekat dan berdiri tepat di depan tubuh Amanda. Tinggi tubuh yang tak sama, membuat Amanda harus mendongak untuk menatap ekspresi wajah Bima sekarang. 


"Angkat kepalamu!" perintah Bima dan spontan membuat Amanda mendongak.


Deg.


Debaran jantung keduanya saling berdebar kencang. Bahkan terlihat jelas dari dua mata yang saling memandang itu ada gelenyar aneh di dalam tubuhnya hingga membuat mereka ingin sekali saling merengkuh dan mengatakan apa saja yang muncul di dalam pikirannya.


Wajah keduanya semakin dekat hingga membuat mata Amanda yang semula terbuka menjadi tertutup. Hal itu tentu saja membuat Bima menjadi gugup. Dia menatap bibir berwarna pink itu seperti siap untuk dikecup dan dijelajahi. 


Tapi, kewarasannya masih ada hingga membuat otaknya kembali berfungsi ke rencana awal.


"Kau harus menjadi pasanganku di acara pesta pernikahan Tuan Rey dan Nona Jessica."


~Bersambung~


Loh Abang Bima mode maksanya kumat, hehehe.


Maaf yah kemarin aku cuma up satu bab, karena aku habis anterin adik aku ujian Qira'ati jadinya aku kecapekan. Alhasil aku cuma bisanya satu bab kemarin.


Ini sudah 1200 kata bab ini. Semoga aku bisa up Tiga Bab yah hari ini, doakan.


Jangan Lupa likenya yah. Like itu gratis loh. Hehe.


__ADS_1


__ADS_2