
Aku tak tahu apa yang sudah terjadi kepadamu. Tapi sebagai seorang sahabat, melihat sahabatnya menangis dalam diam tentu membuat sudut hatiku juga merasakan sakit. ~Amanda Gandari~
****
Kau tahu, kapan seorang pria merasa gagal selama dirinya hidup? Ketika dia melihat air mata yang keluar dari mata istri karena kesalahannya. Itulah yang dirasakan oleh seorang Reynaldi Johan Pratama.
Dia menyesal? Tentu saja.
Jika boleh memilih, lebih baik dia jujur sedari awal. Tapi bukankah dia menutupi semuanya karena takut sang istri akan kepikiran? Rey juga takut jika Jessica lebih percaya pada Marlena daripada dirinya. Maka dari itu dia menyembunyikan semuanya.
Tanpa banyak kata dan pembelaan. Rey menatap sekilas wajah Jessica yang enggan menatapnya. Menghembuskan nafas berat dia memilih menuruti keinginan istri yang begitu dia cintai.
"Baiklah aku akan keluar. Kamu istirahatlah, Sayang. Jika perlu sesuatu aku ada didepan," ucap Rey dengan pelan.
Dia segera membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan ruang rawat Jessica tanpa menoleh ke belakang kembali. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan berlinang air mata.
Siapa lagi jika bukan Jessica. Sejujurnya dia tak mau mengusir sang suami. Tapi, melihat Rey ternyata membuatnya mengingat foto-foto yang terakhir dia lihat. Mengingat itu tentu saja membuat dadanya terasa sesak. Namun, semua itu tak membuat Jessica membenci sang suami seutuhnya.
Setelah pintu tertutup sempurna. Jessica memilih memiringkan tubuhnya hingga menatap gedung-gedung tinggi yang terlihat dari jendela. Air matanya kembali luruh dan isak tangisnya memenuhi semua ruangan. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Hormon kehamilannya sungguh membuatnya menjadi Jessica yang lemah dan cengeng.
"Apa yang harus kulakukan, Ya Allah," gumamnya dengan memejamkan kedua matanya.
Dia terus meringkuk di dalam selimut dan menangisi takdir apa yang akan dia jalani. Tangannya terulur mengelus perutnya yang masih rata dan mengusapnya dengan lembut.
"Kuatkan Mama, Dek. Kita akan melalui ini bersama dengan Papa."
****
Perusahaan Pratama.
Bima yang saat itu menggantikan bosnya segera meninggalkan ruangannya setelah mendapatkan kabar yang menggegerkan itu. Dia sedikit tergesa berlari menuju keluar hingga tak sadar menabrak seseorang sampai dia terjatuh.
"Aduhh," siara gadis mengaduh terdengar hingga membuat Bima membalikkan tubuhnya.
Matanya membulat sempurna ketika melihat siapa orang yang dia tabrak. Gadis yang dia cintai sedang duduk dengan mengusap bagian roknya yang kotor.
"Kalau jalan pakai…," Amanda melototkan matanya ketika mendongak dan menyadari jika kekasihnya yang berjalan dengan terburu-buru.
"Maafkan aku," ucap Bima menyesal.
__ADS_1
Dia membantu gadisnya itu sampai berdiri dan mengecek takut ada bagian lain yang lecet.
"Kamu kenapa sih buru-buru. Sakit tau," sungut Amanda sampai memonyongkan bibirnya.
"Aku harus ke rumah sakit." Dari nada bicara Bima, Amanda bisa melihat kekhawatiran disana.
"Memang siapa yang sakit?" tanya Amanda menegakkan tubuhnya dan melupakan pantatnya yang masih berdenyut sakit.
"Nona…,"
"Jessica?" tebak Amanda membuat Bima mengangguk.
"Ya udah sana pergi!" suruh Amanda dengan wajah yang tak kalah panik.
Dia sebenarnya ingin sekali ikut dengan sang kekasih. Tapi mengingat dia disini bekerja, mengurungkan segala niat nya dan memilih sepulang kerja dia akan ikut.
"Nanti pulang kerja aku akan menyusul dan membawamu bertemu Nona Muda."
"Iya, Kekasihku. Sana pergi!"
Bima segera meninggalkan kekasihnya setelah meminta maaf kembali karena telah menabraknya. Pria itu dengan cepat memasuki mobil dan mengendarai dengan kecepatan tinggi. Untung saja keadaan jalanan yang lengang membuat Bima cepat sampai di Rumah sakit.
Pria itu segera berlari masuk dan mencari keberadaan sahabat sekaligus bosnya itu. Dia tahu sekali bagaimana keadaan Rey saat ini. Pasti pria itu akan kecewa ketika menyadari jika nasihat yang pernah Bima katakan tak didengar.
Bima bisa melihat jika pria itu begitu rapuh. Terdapat tetesan air mata di sudut mata dan pipinya. Hidungnya memerah serta penampilan yang acak-acakan. Dia segera mengajak Rey ke kantin Rumah Sakit untuk menenangkan pikirannya.
****
Sampai menjelang sore, tak satupun orang yang berhasil membujuk Jessica untuk makan. Gadis itu benar-benar berubah menjadi pendiam dan hanya menatap indahnya gedung dari balik jendela.
Stevent sendiri sudah berulang kali membujuknya. Bahkan dia sampai memohon dan merayu namun tak membawa hasil. Jessica hanya duduk diam atau berbaring tanpa ada air mata yang menetes di kedua matanya. Semua orang menatap khawatir padanya begitupun Rey.
Dia hanya bisa menatap Jessica dari balik pintu saja. Karena ia takut kedatangannya akan membuat gadis itu semakin sakit dan kecewa.
"Kumohon bujuklah lagi, Ma. Aku tak mau Jessi semakin sakit dan anak kita menjadi taruhannya."
"Mama sudah membujuknya, Sayang. Tapi dia tetep kekeh menutup mulutnya," ucap Mama Ria terdengar putus asa.
Saat semua orang kalut dengan pemikirannya. Tiba-tiba seorang gadis datang dengan membawa parcel buah. Kedatangannya begitu membawa binar bahagia di mata semua orang sehingga membuat Amanda bingung.
"Amanda," panggil Rey mendekat ke arah gadis yang begitu dekat dengan istrinya.
__ADS_1
"Ya, Tuan," sahutnya dengan menunduk.
"Tolong masuklah ke dalam dan bujuk istriku untuk makan." Spontan ucapan Rey membuat Amanda awalnya menunduk langsung mendongak.
Dia bisa melihat harapan yang besar di matanya. Amanda mengedarkan pandangannya dan semua orang menatapnya dengan lekat. Pandangannya terakhir jatuh ke arah sang kekasih dan membuatnya mengangguk ketika Bima juga menatapnya dengan anggukan.
"Saya akan mencobanya, Tuan."
Meski banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya tapi dia hanya memilih diam. Sakitnya sang sahabat yang mendadak masuk ke rumah sakit saja membuat banyak kebingungan di otak Amanda. Tapi dia menyingkirkan semua itu dan mencoba merayu Jessica untuk makan agar semua orang tak panik lagi.
Memasang senyuman di wajahnya. Amanda mendorong pintu ruang rawat dimana sang sahabat berbaring. Pemandangan pertama yang dilihat olehnya membuat Amanda mendadak mematung.
Jessica sedang berdiri di dekat jendela dengan penyangga infus di sampingnya. Namun bukan itu yang membuatnya diam, melainkan sang sahabat yang menangis dalam diam dab hanya terlihat air mata mengalir deras di kedua pipinya.
Amanda menguatkan hatinya mendekat dan meletakkan percel buah tanpa menimbulkan suara. Dia berjalan begitu perlahan kemudian mengusap bahu Jessica hingga sang empunya menoleh.
Kedua mata wanita yang bersahabat itu saling menatap lekat. Bisa Amanda lihat sahabatnya begitu terluka. Dia segera menarik tubuh Jessi dan mendekapnya erat.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Hanya isak tangis dari bibir Jessica yang semakin keras dan Amanda hanya diam sambil mengelus punggung istri bosnya itu dengan lembut.
"Menangislah jika hal itu membuatmu tenang, tapi setelah itu marilah kita bercerita dan berbagi duka sahabatku."
~Bersambung~
Pelukan sahabat itu pelukan kedua setelah orang tua. Sama-sama membuat tenang dan nyaman.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)