
Tak ada yang tahu betapa hancurnya hatiku, ketika melihat pesawat yang ditumpangi dia sudah pergi meninggalkannya. Meninggalkan dirinya sendiri dan entah sampai kapan. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Kehadiran Bima segera membuat pria itu membantu Rey untuk berdiri. Dia hanya pasrah dengan pandangan kosong. Bahkan, ketika Asisten Bima membawanya ke mobil, dia hanya menerima dan duduk dengan tenang.
Tak ada lagi senyuman indah yang akan dia dapatkan dari Jessica. Tak akan ada bekal pagi yang akan dia makan dari wanitanya itu. Tak akan ada hal kocak yang akan membuatnya bisa tertawa bahagia. Semua itu ikut hanyut dengan kepergian Jessi hari ini.
Sesampainya di Rumah Rey. Bima tetap membantu bosnya itu dan memapahnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Astagfirullah." Mama Ria segera mendekat dan ikut membantu sang putra yang terlihat sedang kacau balau.
Wanita yang tahu jika sang anak sedang tak baik-baik saja, segera mengambil air putih dan memberikannya pada Rey. Dia berharap semoga sang putra merasa lebih baik setelah menghabiskan segelas air putih itu.
Benar saja, tak lama setelah meletakkan gelas itu. Rey segera menghambur ke pelukan sang Mama. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Hanya ada tetes-tetes air mata yang mewakili semuanya.
"Masuklah ke kamar! Lalu istirahat!"
Rey hanya menurut, menghapus air matanya dia mulai melepaskan pelukannya dengan sang Mama. Tanpa pamit pada Bima, lelaki yang biasanya kuat itu segera menuju kamar yang akan menemani kesendiriannya ini.
Selepas kepergian Rey, Mama Ria menatap Bima dan menggeser tubuhnya agar semakin dekat.
"Ada apa, Bim?" tanya Mama Ria yang sudah terlanjur penasaran.
Bima menggeleng, "Jessi sudah pergi, Ma."
Mama Ria menunduk. Dia mengusap wajahnya dan menatap ke arah depan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Pulanglah! Biar Mama yang akan menjaga Rey."
"Baik, Ma. Bima pulang dulu yah," pamitnya dan mencium punggung tangan Mama Ria.
Mengantarkan Asisten sekaligus Sahabat putranya itu. Mama Ria menunggu sampai mobil Bima menghilang lalu segera masuk dan menutup pintu rumahnya.
Perlahan, Mama Ria mulai melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia tak akan mengganggu Rey untuk hari ini. Biarlah putranya itu bersedih dan merasa tenang keesokan harinya jika dia sudah mengeluarkan semuanya hari ini. Bukankah, menenangkan pikiran itu perlu?
__ADS_1
Bukan perlu lagi, melainkan harus. Semua orang pasti menginginkan ketenangan dan kenyamanan dalam dirinya sendiri. Itu semua juga perlu dilakukan untuk kewarasan kehidupannya selama ini.
Perlahan Mama Ria mulai memasuki kamarnya segera mengunci pintu. Tak akan ada yang tahu apa yang dilakukan ibu anak satu itu. Namun, yang perlu kita tahu. Sesakit apapun yang anak rasakan, lebih sakit orang tua yang melihat anaknya bersedih hanya karena cemoohan orang lain.
****
Kedatangannya di New York, sungguh membuat Mansion Besar itu kembali merasa bahagia. Bahkan, semua pelayan perempuan atau bisa dibilang teman Jessi selama ini menjadi begitu antusias. Mereka menyambut dengan begitu semangat kedatangan wanita yang tak ada pancaran kebahagiaan sama sekali di wajahnya.
Malahan, tanpa peduli apapun. Jessi segera berjalan meninggalkan semua orang menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, Jessi mulai mengunci pintunya agar tak ada satu orang pun yang mengganggunya.
Gadis itu segera berjalan menuju ranjang dan menjatuhkan tubuhnya hingga tengkurap. Tak lama, suara isak tangis mulai terdengar ke seluruh penjuru kamar bernuansa putih dan emas itu.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Jessi dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi bantal miliknya.
Jika boleh jujur, Jessi memang melihat kedatangan Rey di area lepas landas. Bahkan gadis itu masih bisa melihat bagaimana sang kekasih mengejarnya hingga jatuh terduduk.
Mengingat itu semua, membuat hati Jessi semakin sakit. Rasanya seperti ditusuk ribuan duri di hatinya. Memejamkan matanya, Jessi tetap menenggelamkan wajahnya pada bantal yang sudah basah oleh air matanya itu.
"I miss you, Honey," teriaknya tertahan oleh bantal.
****
Kedatangan Jessica tentu menjadi kabar cepat yang sampai di telinga Maria. Wanita paruh baya yang berjalan dibantu oleh tongkat itu, segera menyuruh pengasuhnya untuk mengantar dirinya menuju rumah sang cucu.
Maria ingin melihat bagaimana keadaan cucunya. Apa Jessica semakin kurus atau semakin gemuk. Lebih-lebih, ada kabar jika cucunya itu mendapatkan jodoh. Uhh, pasti dirinya adalah orang pertama yang akan bahagia jika tahu apa yang terjadi.
Tok tok tok.
Entah sudah keberapa kalinya. Ketukan pintu diberikan oleh Nenek Maria di depan pintu kamarnya.
"Buka, Sayang," ujarnya lembut dengan perasaan campur aduk.
Sudah hampir 10 menit mereka menunggu di depan pintu kamar Jessi. Namun, tak ada tanda-tanda jika anak itu akan berhenti.
Tak mendapatkan jawaban, tentu saja membuat semua orang semakin kacau. Hal itu membuat mereka cemas bukan main. Akhirnya atas inisiatif Oma Maria. Dia meminta Jackson untuk mendobrak pintu itu sekarang juga.
Semua orang nampak setuju. Jacks mulai mengambil kuda-kuda dan bersiap mendorong pintu coklat itu dengan paksa. Dalam hitungan detik, akhirnya pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis cantik yang sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.
__ADS_1
Maria segera berjalan dibantu oleh pengasuhnya menuju sang cucu. Dia menepis anak rambut yang menutupi wajah Jessi dan mendadak matanya terbelalak lebar.
"Ya Allah, Nak. Kamu pucat banget," teriaknya heboh.
Dengan segera, Maria menempelkan punggung tangannya di dahi sang cucu dan dia semakin khawatir.
"Panas dia, Ret," ujarnya pada Margaret sang pengasuh.
"Oma butuh apa?" tanya Margaret mencoba tenang.
"Ambilkan obat dan pakaian yah. Ganti baju dia. "
"Siap, Oma."
Setelah kepergian Margaret. Ayah anak satu itu membantu mamanya membalikkan tubuh Jessi yang sudah menggigil.
Bahkan gumaman-gumaman kecil di mulutnya begitu amat kentara jelas. Stevent sampai mengepalkan tangannya saat nama pria lain yang disebut oleh sang putri.
"Kenapa kamu begitu mencintainya, Nak. Diluar sana bahkan masih banyak pria yang rela mengemis cintamu. Tanpa perlu menangis dan berjauhan seperti ini," gumamnya dalam hati.
Tak beberapa lama, Margaret datang dengan ember dan sapu tangan di tangannya. Dia menyuruh semua orang keluar dan meninggalkan Oma Maria saja di dalam kamar.
Dengan telaten, Margaret membuka pakaian nona mudanya itu. Mengusap semua tubuhnya dengan lap hangat dan terakhir mengompres panasnya agar sedikit turun.
Hati oma mana yang tak mencelos. Ketika melihat tubuh cucu kesayangannya hanya bisa diam di atas ranjang dengan kulit putih dan wajah pucat pasi.Dia mengusap ujung kepalanya dengan banyak ribuan pertanyaan atas apa yang sedang terjadi pada cucunya itu.
~Bersambung~
Kasihan mereka berdua. Sama sakitnya, aku pun juga merasa sakit. Huhuhu.
Jahat banget diriku sama dirimu Bang Dude, tapi boong. Hehehe.
Jangan lupa yah, di like geng. Like gratis loh. Ada yang belum like bab atas, kuy tekan like.
Terima kasih.
__ADS_1