
Aku begitu percaya dengan takdir Tuhan untuk kita. Maka dari itu aku selalu menerima dan mencoba mengejar apa yang bisa aku lakukan apapun untuk bertemu denganmu. ~Reynaldi Johan Pratama~
New York, pukul 12.25 waktu setempat.
Suasana canggung mulai terasa di sekitar dua orang manusia berbeda jenis dan umur. Keduanya seperti banyak menyimpan pertanyaan di benak mereka masing-masing. Bahkan banyak dugaan-dugaan yang ingin disampaikan hingga membuat suasana yang harusnya hangat entah kenapa menjadi hening dan kaku.
"Anda siapa?" tanya pria yang mengenakan kemeja navy dengan celana jeans hitam.
Pakaiannya siang ini begitu santai. Dia sendiri pun datang kesini dengan bermodalkan sebuah pesan singkat yang menunjukkan bahwa ada seseorang yang akan membantunya untuk bertemu sang kekasih.
Disinilah Rey berada. Duduk di depan seorang wanita paruh baya, yang memiliki sedikit kemiripan dengan sang kekasih, Jessica. Hal itu yang membuatnya semakin penasaran dan ingin menyampaikan hal-hal yang begitu membuat benaknya banyak tanda tanya.
"Pasti kamu ingin tahu, siapa saya?" tanya wanita paruh baya yang memakai dress berwarna navy disertai syal yang melilit di lehernya.
Cuaca di New York memang sedikit lebih dingin. Mungkin karena pergantian musim yang ingin menuju musim dingin hingga cuaca mulai terasa menusuk kulit.
"Ya, Nyonya," jawab Rey dengan menunduk.
Maria mengulurkan tangannya dengan bibir tersenyum, "saya, Maria. Nenek dari Jessica Alexzandra Caroline."
Mata Rey seketika terbelalak lebar. Dia tak menyangka akan bertemu salah satu anggota keluarga Jessi yang lain. Entah kenapa, tiba-tiba degup jantungnya berdegup begitu cepat. Pemikiran-pemikiran mulai menyusup tentang apa tujuan nenek dari kekasihnya itu mengajaknya bertemu.
Apa hubungan mereka akan ditolak kembali? Atau dia akan diminta pergi dari negara ini? Jika itu keinginan wanita di depannya, sampai matipun Rey tak akan pergi. Dirinya akan pergi jika sudah menjemput cintanya disini. Tak ada kata menyerah untuk kali ini. Bagaimanapun susahnya, dia akan terus mengejar Jessi agar kembali ke pelukannya.
"Saya Rey, kekasih cucu anda di Indonesia," sahutnya tegas dengan menerima uluran tangan itu dan menciumnya.
Jika di Indonesia tragedi seperti itu memang adatnya untuk memberikan hormat bagi yang muda ke tua. Namun jika di luar, hal itu terlihat begitu manis. Namun, di mata Maria. Tetap saja, dia yang dulunya sering keluar masuk Indonesia New York, sudah begitu paham dengan adat istiadat disana. Dia mengulum senyuman ketika satu poin penting kembali terlihat pada diri Rey yaitu, sopan.
"Baiklah, pesan lah makanan atau minuman terlebih dahulu. Mungkin, percakapan kita memerlukan banyak tenaga," canda Maria dengan bibir tak berhenti tersenyum.
Rey merasa wanita di depannya begitu hangat. Dari tatapannya, senyumnya, intonasinya, cara bicaranya semua terlihat normal. Hingga membuat pikiran lelaki yang sedang dipenuhi rindu itu sedikit lega. Semoga apa yang dia inginkan bisa terwujud melalui nenek dari kekasihnya itu.
"Baiklah." Rey membuka buku menu yang tersedia di meja depannya.
Sebuah Caffe yang berada 119 MacDougal st menjadi pilihan Maria untuk bertemu pria di depannya ini. Caffe yang bernuansa coklat dengan hiasan dinding serta pigura yang menempel menambah kesan estetic di dalamnya. Jangan lupakan, meja yang berbentuk kotak dengan bangku dari palazzo keluarga Florentine Medici yang terkenal di zaman Renaisans menambah kesan kagum di mata pembeli yang mampir di caffe tersebut. Bangku yang tidak bertali dan para tamu dapat duduk di atasnya dan mengagumi lukisan dari seniman sekolah Caravaggio sungguh terekam jelas di pikiran Rey yang pertama kali datang kesini.
__ADS_1
Hot Chocolate With whipped cream menjadi pilihan Rey untuk menemaninya mengobrol bersama Maria. Harga segelas minuman ini seharga US$4,50 atau 63041.01 IDR Rupiah Indonesia. Setelah waitress meninggalkan meja mereka. Maria mulai membetulkan duduknya agar lebih enak ketika membuka pembicaraan lagi.
Mereka berbicara bahasa inggris.
"Tujuan kamu kesini untuk apa?" tanya Maria dengan menyilangkan kaki dan tangan di atas paha. Penampilan anggun serta tingkah laku yang begitu berwibawa sungguh membuat Rey begitu hati-hati.
"Saya kemari, ingin menjemput Jessica, Nyonya."
"Jangan panggil saya nyonya. Itu terlalu tua buat saya."
Astaga.
Sekuat tenaga Rey menahan tawanya karena merasa lucu dengan ucapan Maria barusan. Bukankah memang wanita itu sudah berumur lanjut. Jalannya saja memakai tongkat. Namun, satu yang Rey tebak, ternyata sikap Jessi yang terkadang gila dan kocak menurun dari neneknya ini.
"Baiklah…."
"Nenek," potong Maria cepat.
"Iya, Nenek."
Mari tersenyum. Dia menatap sekelilingnya sebentar untuk melihat seberapa banyak orang yang berada di dalam caffe tersebut. Ternyata hanya segelintir. Jika dihitung mungkin ada 6 orang disana.
Rey spontan mengangguk. Dia membenarkan ucapan Maria karena memang itulah tujuannya. Selain itu, dia juga ingin memenangkan hati Stevent agar mendapatkan restu bagi hubungan keduanya.
"Iya, Nek. Saya sangat ingin bertemu dengan cucu anda," sahut Rey.
"Tapi selain itu, saya juga ingin bertemu dengan Tuan Stevent."
"Untuk apa?" tanya Maria penuh selidik.
"Saya ingin bertemu dengannya agar bisa membicarakan perihal bagaimana beliau mau merestui hubungan kami," ujar Rey dengan tatapan penuh pengharapn.
Maria tersenyum, ternyata dia tak salah pikih jalan. Lelaki di depannya betul-betul pria baik dan Rey juga bisa dipastikan olehnya, bisa menjaga Maria menggantikan anak lelakinya, Stevent.
"Baiklah, Nenek akan membantumu untuk bertemu dengan cucuku."
"Serius, Nenek?"
__ADS_1
"Ya serius. Besok, datanglah ke alamat yang Nenek kirim di Las Vegas. Tapi, tunggulah kabar dariku dulu."
****
Dibelahan bumi yang lain di waktu yang sama, Indonesia pukul 03.25 pagi.
Seorang lelaki baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Kantung mata hitam serta wajah kusut begitu kentara jika ia kurang istirahat. Meninggalkan laptopnya dimeja kerjanya, segera dia berjalan dengan sempoyongan menahan kantuk menuju ranjang tidurnya.
Mungkin dia akan tidur sejenak sekitar 2 jam sebelum dirinya harus memulai pekerjaannya hari ini. Sungguh pekerjaan tanpa bosnya Rey begifu menguras tenaga. Tak perlu waktu lama, lelaki yang tak lain Bima sudah mulai menyelami alam mimpi dengan mata terpejam erat.
Baru saja dia terbuai dengan keindahan alam mimpi dan enaknya kasur empuk di rumah bosnya, Rey. Suara ketukan pintu disusul dengan panggilan dari orang yang begitu dia hafal, membuat Bima mau tak mau harus keluar dari jalur mimpinya. Mengerjapkan matanya, dia menguceknya pelan dan merasa jika kantung matanya semakin menebal.
"Aku masih ngantuk," gerutunya sambil beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Dibukanya pintu itu perlahan dan terlihat Mama Ria yang sedang terkejut dengan wajah berantakan Bima.
"Astagfirullah, Nak." Mama Ria memekik melihat kantung mata Bima yang menebal.
Yang dipandang hanya tertawa hambar dan mengusap rambutnya yang sudah tak karuan.
"Kamu baru tidur?" tanya Mama Ria menatap wajah kusut di depannya.
Bima mengangguk, "banyak pekerjaan, Ma. Jadi aku baru saja tertidur."
Lelaki yang sudah dianggap anak olehnya, membuat Mama Ria iba. Dia menyayangi asisten anaknya ini seperti menyayangi Rey. Oleh karena itu, dirinya sendiri yang menyuruh Bima agar memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti Rey yaitu mama.
"Maafin mama yang bangunin kamu. Tapi ini sudah jam 5 dan kamu pasti belum sholat."
Bima mengangguk, "makasih ya, Ma. Aku sholat dulu."
~Bersambung~
Bab selanjutnya tentang Bima yah. Kasihan dia udah kerja keras masak iya jadi sampingan tak berguna, hihihi.
Jadi harus gantian ya geng tiap babnya. Yuhuuuu~~~
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
__ADS_1
Ada yang belum bisa cara vote dan beri hadiah? Kalau belum aku kasih tutornya nih.