Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Haura dengan Kak Mario saja!


__ADS_3


Entah perasaan apa ini. Tapi dalam hati memang aku berharap apa yang dikatakan olehnya itu menjadi kenyataan. ~Mario Sanoci~


****


Di Rumah Sakit.


Seorang pria tampan berwajah bule itu, dengan setia selalu menunggu kabar baik dari Dokter yang menjaga sang Papa. Dia adalah Mario Sanoci. Sampai detik ini, Papanya belum ada tanda-tanda untuk membuka mata. 


Tapi bagaimanapun, dalam hati terbesarnya. Dia selalu berusaha dan berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Papanya itu. Dirinya menyadari jika seburuk-buruknya Sanoci selama ini. Ia tetap sangat menyayangi dan tak siap untuk ditinggalkan.


Mario terkadang merenung.


Bolehkah seorang pendosa sepertinya meminta pada Tuhan agar Papanya cepat sadar?


Bolehkah ia meminta pada Tuhan agar sang papa diberi umur panjang?


Memikirkan semua itu sungguh membuat Mario menangis dalam diam. Dia menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang dikepal erat. Dirinya berusaha menjadi lelaki yang kuat 


Tapi apa daya, seorang anak tetap akan menjadi lemah hanya karena orang tuanya. Belum lagi memikirkan sang adik yang ada di rumah sakit jiwa. Obsesi yang ada dalam diri Marlena membuat wanita itu melupakan akal sehat.


Hingga setiap kali Mario mendatangi sang adik. Pasti dia akan bertanya tentang Rey. Jika ia tak menjawab maka Marlena akan mara-marah dan berakhir di suntik penenang. Memikirkan semua itu sendirian sungguh membuatnya tak kuat.


Ingin sekali dalam dirinya mengabari pada sang Mama. Tapi kembali lagi ia berpikir Apakah mamanya akan menerima? Apakah mamanya akan sanggup? Melihat suami dan anaknya sama-sama terbaring lemah seperti ini. 


Menghela nafas berat. Mario menatap pintu ruangan ICU yang selalu tertutup rapat. Sungguh ingin sekali dia menggoyang bahu sang papa dan membuatnya tersadar.


"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" gumamnya sambil memejamkan matanya.


Saat dirinya sedang kalut. Tak lama terdapat elusan di pundaknya hingga membuatnya mendongakkan kepalanya.


"Jessi?" 


Wanita yang sedang hamil 4 bulan itu tersenyum. Dia memang dengan sengaja datang ke rumah sakit bersama seorang perempuan yang ia anggap teman. Karena bujukan dan rayuan dua orang itu, hingga akhirnya Rey mengizinkan sang istri datang bersama wanita yang sangat ia percayai itu. 


"Bagaimana kabar Papa, Kak?" tanya Jessi sambil berdiri.


Di belakangnya masih setia seorang wanita yang memakai gamis hitam dan kerudung syari menutupi dadanya.


"Baik," sahut Mario sambil menatap sebagian tubuh seseorang yang ada di belakang wanita yang pernah ia cintai itu.


"Kamu sama siapa?" tanya Mario.


Jessica menepuk kening. Dia sampai hampir melupakan keberadaan teman sekaligus wanita yang sudah dianggap saudaranya itu. Bergeser sedikit dan terlihatlah wajah wanita yang begitu cantik hingga membuat Maruo membelalakkan matanya. 

__ADS_1


Gadis yang menghantui pikirannya saat inj berada di depannya. Berpenampilan begitu menawan bahkan rona merah di wajahnya begitu membuat Mario terpesona. Siapa lagi jika bukan Khadijah Haura.


Gadis itu memang ke Indonesia dan datang dua hari yang lalu. Dia kali ini datang memang sengaja untuk menemani istri dari Reynaldi Johan Pratama. 


"Aku sama Haura, Kak," ucap Jessi menoleh ke arah Haura.


Mario terdiam. Matanya hanya terfokus pada gadis itu hingga membuat Haura begitu risih. Bukan karena jual mahal. Tetapi menang wanita itu begitu menjaga pandangannya dan paling malas ditatap intens dengan pria yang tak begitu ia kenal. 


"Kak." Jessi menggerakkan bahu Mario hingga pria itu tersentak.


"Aku tau Haura cantik. Gak perlu sampai melotot gitu matanya," goda Jessi sambil terkekeh.


Mario salah tingkah. Pria itu menggaruk kepalanya dan hanya diam tak membalas.


"Pegel nih. Masak iya suruh berdiri doang," ujar Jessica sambil cemberut.


Biasa ibu hamil itu gak betah berdiri lama. Pasti kakinya gampang pegal dan pinggang sakit.


"Eh iya lupa. Ayo duduk, Jess." Mario bergeser. 


Lalu kedua wanita itu duduk di kursi rumah sakit dengan tenang. Lalu Jessica menyerahkan rantang makanan yang ia bawa dan diterima oleh Mario dengan bingung.


"Tadi aku masak sama Haura. Terus karena mau kesini aku juga sengaja bawain buat, Kakak."


Penjelasan Jessica sungguh membuat hati Mario tersentuh. Dia semakin salut pada wanita yang sudah disakiti oleh adiknya ini. Betapa mulia dan besarnya hati Jessica menerima maaf untuk adiknya meski Marlena tak pernah mengatakan kata itu.


"Kenapa, Kak?" tanya Jessica. "Apa aku menyakitimu?" 


Maruo menggeleng. "Kamu sudah terlalu baik padaku, Jess. Bahkan disaat adikku sudah menyakitimu." 


"Kita lupakan semua itu, Kak. Lebih baik kita lihat kedepan dan jadikan semuanya sebagai pelajaran." 


Mario mengangguk. Benar yang dikatakan oleh Jessica. Kita sebagai manusia tak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Tapi bukankah kita masih bisa menata masa depan kita. Belajar dari masa lalu agar kedepannya menjadi lebih baik. 


"Aku akan membawa Marlena kembali pulang setelah Papa sadar, Jess."


Jessica mengerti pasti apa yang dimaksud rumah oleh Mario. Tapi ia tak membantah. Semua itu juga hak Mario sendiri. Yang pasti Jessica akan selalu mendukung dan berdoa semoga Marlena segera sadar dan sembuh. 


"Ya sudah. Sekarang Kakak makan. Masakan Haura enak banget loh. Ini termasuk masakan dia sih, soalnya aku bantuin icip-icip doang," ujar Jessica tertawa geli.


Memang benar adanya. Jika makanan itu adalah masakan Haura. Dia hanya membantu memotong dan mencicipi saja makanan-makanan itu. 


Sedari tadi Haura hanya diam. Gadis itu tak tahu harus mengatakan apa. Karena memang dia akan menjadi wanita pendiam ketika ada orang baru di dekatnya. Bukan ia menjaga image, tapi memang Haura seperti itu jika sudah ada orang lain.


Mario segera melahap makanan yang dibawa Jessi. Satu suap masuk ke dalam mulutnya. Dia benar-benar takjub. Masakan ini begitu enak dan nikmat.

__ADS_1


Bahkan tanpa sadar pria itu memakan dengan lahap dan cepat hingga membuat Jessica senang.


"Enak, 'kan?" 


"Bener, Jess. Ini enak banget." 


"Iya dong. Nah Ra bener, 'kan? Masakan kamu itu enak loh," ucap Jessi pada Haura.


"Itu udah biasa loh. Sama aja kayak yang lain." 


"Merendah pasti," ujar Jessi pada sang sahabat. Lalu dia kembali menatap Mario.


"Haura udah cocok kan buat nikah, Kak?" 


"Tentu saja. Dia pandai memasak." 


"Ya sudah. Nikah sama Kak Mario saja. Biar Kakak ada yang masakin," celetuk Jessi tanpa sadar. 


Deg.


Mario mematung. Bahkan rasanya ia begitu sulit mengunyah makanan yang ada di mulutnya hingga ia mengambil sebotol minuman dan meneguknya.


"Kok diam, Kak. Katanya dah cocok. Ya sudah sama Kakak saja. Kak Mario kan jomblo."


Perkataan Jessica itu membuat baik Mario dan Haura tanpa sadar saling memandang. Kedua mata itu seperti saling berbicara dan menyelami hingga tak ada yang tahu apa maksud tatapan keduanya itu.


~Bersambung~


Hayoo duh Abang Mario dapat satu suara tuh, hehe.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di ****)



__ADS_2