Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Rey Diculik?


__ADS_3


Aku tak percaya jika ada seorang wanita yang memiliki hati yang jahat pada wanita yang lain. Bahkan mereka sama-sama dari kaum hawa hingga begitu kejam melakukan segala hal hanya karena obsesi. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Hati Jessica semakin tak karuan. Dia membutuhkan sang suami sekarang. Ingin dia meminta maaf dan mencium tangan Rey untuk menenangkan prianya itu. Matanya yang basah menatap pintu masuk hingga membuat Maria yang duduk di depannya juga ikut menoleh.


"Apa kamu ingin bertemu dengan suamimu?" 


"Iya, Nenek. Aku ingin meminta maaf pada Rey. Aku sudah meragukan kesetiaan dan kepercayaannya, Nenek," ucap Jessica sambil menangis.


"Tidak apa, Nak. Lain kali ingatlah pesan, Nenek. Jangan pernah menghakimi suamimu terlebih dahulu sebelum dia menjelaskan semuanya dengan baik."


"Iya, Nenek." 


"Baiklah sebentar, Nenek akan menghubungi Daddy mu untuk menyuruh Rey masuk," kata Maria sambil menekan ponsel yang ada di genggaman tangannya.


Tak berlangsung lama setelah panggilan di matikan. Pintu ruangan Jessica terbuka lebar. Disana terdapat Jack, Daddy Stevent, Mama Maria dan Bima yang mulai masuk.


Wajah mereka semua terlihat tegang hingga membuat Jessica heran. Bahkan mata wanita itu berkeliling namun keberadaan sang suami tak ada. 


"Kemana suamiku, Ma?" tanya Jessica kepada Mama Ria. 


Namun mertuanya itu hanya diam dan menunduk. Tak lama isak tangis lolos di bibirnya hingga membuat tubuh Jessica ketakutan. 


Dalam kepala Jessica banyak pertanyaan yang bersarang hingga membuatnya semakin takut akan hal-hal buruk yang terjadi. 


"Mama ku mohon, Ma. Dimana suamiku?" 


"Rey sedang ke rumah pelaku yang mengirim foto kepadamu, Nak." Itu suara Daddy Stevent.


Pria yang hanya memiliki satu orang putri itu menatap sedih ke arah Jessica. Dirinya tak mau berbohong atau menutupi semuanya. Biarlah putrinya itu mengerti dan belajar dari sini agar tak menyesal di kemudian hari.

__ADS_1


"Siapa yang mengirim fotonya, Dad? Apa aku mengenalnya?" 


"Ya, Nak. Kamu sangat mengenalnya." 


Kening Jessica berkerut. Hingga dia menatap sebuah lembaran foto yang disodorkan Daddynya dengan tangan tangan gemetar. Dari jauh saja dia bisa melihat dua orang sedang duduk berhadapan meski wajahnya belum Jesica lihat. 


Hingga tepat di depan matanya. Tubuh Jessica mematung. Nafasnya tersengal seperti telah melihat hantu. Matanya mulai meneteskan air mata tak percaya. 


"Ternyata yang berada di balik semua kejadian ini adalah Marlena?" gumamnya tak percaya hingga tak lama penglihatannya mengabur dan Jessica mulai tak sadarkan diri. 


****


Sedangkan di suatu tempat. Seorang pria mengendarai mobilnya dengan begitu kencang. Tangannya mencengkram erat setir kemudi karena emosinya sudah sampai di titik batas. 


Matanya berkilat marah tak menyangka jika ini semua dilakukan oleh wanita gila itu. Tanpa ampun, setelah mendapatkan semua informasi dari Bima, dia segera mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah wanita penghancur rumah tangannya itu. 


Setelah melakukan perjalanan hampir 30 menit akhirnya Rey sudah sampai di depan rumah mewah keluarga Sanoci. Tanpa banyak kata dan menunda dia segera turun dan berjalan menuju pintu utama. 


"Hallo Sayang. Kau merindukanku?" tanya Marlena saat membuka pintu rumahnya.


Gadis itu tanpa malu hanya memakai pakaian bathrobe yang menunjukkan belahan dadanya begitu jelas. Namun hal itu bukan membuat Rey menginginkannya melainkan semakin merasa jijik.


"Jangan harap aku akan merindukanmu," ujar Rey sarkas. "Karena kau wanita gila, istriku masuk rumah sakit dan calok bayiku terancam." 


"Bagus dong. Sekalian saja mereka mati."


Mendengar hal itu sontak wajah Rey memerah. Dia segera mencekik leher marlena dan mendorongnya sampai masuk ke dalam.


Otot-otot tangan Rey begitu terlihat karena begitu marahnya diri pria itu. Dia tak sadar jika di belakangnya sudah ada dua pria yang mendekatinya panik karena melihat nona mudanya tercekik.


Bugh.


"Agjhh!" Rey memegang kepala bagian belakangnya dan tak lama dia langsung terjatuh ke lantai.

__ADS_1


Benar-benar mereka memukul bagian tengkuk Rey agar pria itu langsung pingsan. Hal itu tentu saja membuat senyuman terbit di bibir Marlena meski dia merasakan lehernya begitu sakit.


"Bawa dia ke Mansion! Aku sudah tak sabar untuk memilikinya!" ucapnya memberikan perintah. 


Sepeninggal mereka tawa menggelegar begitu jelas terdengar hingga membuat siapa saja yang mendengar pasti merinding.


"Akhirnya kau ada di genggamanku, Sayang. Tunggulah aku diranjang dan aku akan menikmatimu."


~Bersambung~


Woo kan kan pen nyakar si Mar Mar.


Ini aku kasih dua bab karena satu babnya emang pendek dan outlinenga emang begini. Jadi nanti sore bakalan ada bab lagi oke. Aku mau tidur dulu byee.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2